October 07, 2019

Mengenal Meningitis, Penyakit yang Rentan Menyerang Bayi


Menigitis

Penyakit meningitis bisa menyerang siapa saja, termasuk orang dewasa. Namun, American Academy of Pediatrics menyatakan bahwa 50% kasus meningitis justru terjadi pada bayi berumur kurang dari dua bulan. Hal ini membuat Anda sebagai orang tua harus berhati-hati. Ketahui lebih banyak soal meningitis agar bisa melakukan tindakan pencegahan maupun pengobatan tepat bagi bayi.

Penyebab meningitis pada bayi

Meningitis adalah peradangan pada meningens atau lapisan pelindung di sekitar otak. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus ini bisa menyerang siapa saja, terutama bayi.

Berikut jenis virus dan bakteri penyebab meningitis:

  1. Bakteri penyebab meningitis pada bayi
    • Bayi baru lahir (Streptococcus b haemolyticus, escherichia coli, listeria monocytogenes, enterobacter).
    • Bayi dan balita (Hemophilus influenza type B, streptococcus pneumoniae, neisseria meningitides, ecoli, listeria monocytogenes).
    • Bayi > 5 tahun (Streptococcus pneumoniae, neisseria meningitides, hemophilus influenza type B).
  2. TBC (Meningitis tuberkulosis)

    TBC (Meningitis tuberkulosis) merupakan proses inflamasi yang terjadi pada meningens dan disebabkan oleh infeksi bakteri Mycrobacterium tuberculosis. Umumnya, bakteri ini masuk ke dalam paru-paru secara tidak sengaja karena adanya proses inhalasi (dihirup), sehingga menyebar ke seluruh tubuh dan dapat mencapai lapisan meningens.

  3. Virus penyebab meningitis pada bayi
    • Virus Herpes simplex (HSV), jenis virus yang bisa menyebar dengan cepat melalui kontak fisik. Jika ibu yang menderita virus HSV di vagina melahirkan secara normal, maka kemungkinan dapat menularkan kepada bayinya.
    • VirusVaricella zoster, jenis virus menular yang bisa menyebabkan cacar air. Penularan virus ini melalui pernapasan dan komunikasi langsung.
      Campak dan gondong, cara penularan virus ini hampir sama dengan virus influenza.
    • Non-Polio enteroviruses, jenis virus ini seringkali menyebar melalui air liur, tinja, atau lendir dari hidung.

Mikroorganisme tersebut mencapai selaput otak melalui empat rute, yaitu penyebaran langsung melalui darah, penjalaran melalui pleksus koroideus, pecahnya abses otak di daerah korteks otak dan penyebaran secara perkontinuitatum (kontak langsung).

Gejala meningitis pada bayi

Umumnya, gejala awal meningitis memiliki kemiripan dengan gejala penyakit flu. Namun, tetap terdapat perbedaan gejala pada tiap tahapan usia, sebagai berikut:

  1. Usia 0-3 bulan : Demam, malas minum, muntah, perubahan suhu tubuh dan kesadaran menurun, ubun-ubun bayi menonjol, kejang, dan henti nafas.
  2. Usia 3 bulan-2 tahun: Demam, muntah, gelisah, kejang, tangis menjerit seperti kesakitkan, ubun-ubun bayi menonjol, dan tanda rangsang meningeal atau selaput otak sulit dievaluasi. 
  3. Di atas 2 tahun: Demam, menggigil, muntah, nyeri kepala, kejang, gangguan tingkah laku, penurunan kesadaran, dan kaku kuduk (rasa kaku di belakang leher).

Faktor pemicu meningitis

Lingkungan yang kurang sehat memang menjadi pemicu utama terjadinya meningitis. Namun, masih ada faktor pemicu lainnya yang perlu anda ketahui, yakni:

  • Bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan prematur.
  • Ketuban pecah dini, infeksi pada ibu di akhir kehamilan, dan proses kehamilan yang lama.
  • Keganasan seperti leukimia (kanker darah), mieloma ganda, dan penyakit limfoma hodgkin yang menyebabkan penurunan produksi immunoglobulin sehingga mempermudah terjadinya infeksi.
  • Malnutrisi.
  • Pemberian antibiotik yang tidak tepat indikasi, radiasi, dan imunosupresan.

Setelah mengenal meningitis, termasuk faktor pemicunya, orang tua disarankan untuk melakukan langkah pencegahan terutama pada bayi dan anak. Langkahnya mudah, tetapi berdampak besar bagi kesehatan bayi dan anak, antara lain pastikan status gizi anak dalam keadaan baik, jaga kebersihan diri dan lingkungan anak, serta lakukan imunisasi secara teratur pada anak sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Khusus untuk imunisasi meningitis, pastikan Anda mendapatkan imunisasi Hib yang terdapat pada imunisasi kombo dengan DPT, hepatitis, polio, dan PCV (pneumokokus). Cegah sedari diri untuk masa depan anak lebih baik.


dr. Sisca Silvana, M.Ked (Ped), Sp.A(K)
Dokter spesialis anak konsultan neurologi
RS Siloam Dhirga Surya Medan

Related News