Perjuangan Survivor Kanker Payudara, 2 Kali Lawan Kanker!

Cerita Ibu Lily
Terdiagnosis menderita kanker payudara bukan perkara yang mudah diterima. Banyak survivor yang merasakan kesedihan, ketakutan, hingga kehilangan semangat dan harapan untuk sembuh selama menjalani pengobatan.
Namun, bukan berarti penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Pasien kanker bisa sembuh dan mengubah statusnya dari warrior/fighter menjadi survivor kanker.
Lily, seorang ibu dan wanita karir yang dua kali terdiagnosis kanker, kini menjadi survivor kanker payudara yang sangat menginspirasi. Dalam perjuangannya selama 10 tahun terakhir, ia mengakui kanker kedua dirasa lebih menyakitkan dari kanker pertama.
Untuk lebih lanjut mengenal survivor kanker payudara dari kisah Lily, mari ketahui selengkapnya dalam artikel berikut ini.
Lily, Survivor yang Dua Kali Menang Melawan Kanker Payudara
Divonis kanker kala berusia 38 tahun adalah sebuah kabar yang tak pernah terbayangkan oleh Lily. Ia merasa tidak ada gejala, maupun riwayat dari genetik keluarga.
Lily yang saat itu melakukan medical check up rutin, didiagnosis memiliki benjolan padat sebesar 1 sentimeter di payudara kirinya. Temuan ini dikatakan beruntung karena dengan medical check up, bisa terdeteksi sejak dini dan masuk stadium 1b.
Mengetahui hal itu, ia memutuskan untuk berkonsultasi dengan Dr. dr. Samuel Haryono, Sp.B (K) Onk beserta tim medik di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, serta melakukan menjalani pengobatan dengan tindakan operasi dan radioterapi.
“Puji Tuhan saya bisa melalui 25 kali radioterapi. Walau pada saat terapi ke-22 mengalami kulit melepuh karena mengelap keringat dengan waslap. Tapi tim dokter MRCCC sangat membantu untuk memulihkan kulit saya.” tambahnya.
Usai melalui terapi radiasi, Lily tetap melakukan apa yang disaran dokter untuk skrining secara rutin, yakni kontrol 3 bulan sekali dan USG 6 bulan sekali. Namun dari hasil pemeriksaan di tahun kelimanya, Lily mendapati kanker sebesar 0,5 sentimeter yang tidak terasa dan tidak teraba.
Ia mengakui, kanker payudara kedua yang dialaminya ini terasa lebih sulit. Sebab, dari hasil IHK (imunohistokimia) dinyatakan bahwa ada kemungkinan sel kanker yang kambuh dapat menyebar melalui pembuluh darah (invasive limfo vaskular). Sehingga dokter menyarankan untuk melakukan pengobatan kombinasi yakni mastektomi dan kemoterapi.
Selama menjalani kemoterapi, ada masa-masa sulit di mana Lily mengalami infeksi dan harus menghentikan pengobatannya sementara waktu. Akan tetapi, hal tersebut tidak mematahkan semangat Lily untuk melanjutkan pengobatannya kembali.
Setelah 10 tahun menjalani pengobatan dan terus melakukan skrining rutin, kini Lily sudah dapat dikatakan sebagai survivor kanker payudara karena dinyatakan bersih dari kanker.
Hidup Sebagai Survivor Kanker Payudara
Lily mengakui, ada rasa terpukul baik secara psikologis maupun fisik yang ia alami. Perasaan seperti lebih sensitif, tidak menerima diri, dan aktivitas fisik yang kian terbatas juga kerap kali mengambil alih semangatnya.
Namun di tengah tantangan yang dialami, ia menyadari bahwa upaya medis harus didukung dengan semangat hidup yang kuat. Motivasi dari diri sendiri dan orang-orang terdekat pun sangat diperlukan. “Hati yang gembira adalah obat,” katanya.
Pengalaman sembuh dari kanker payudara pada akhirnya membuat Lily tidak pelit berbagi kisah untuk menyemangati para pejuang dan survivor lainnya. Inilah 4 hal yang bisa diteladani dari Lily untuk berjuang melawan kanker.
1. Semangat dari Dalam Diri
Bagi Lily, efek setelah menjalani mastektomi dan kemoterapi memang terasa menyakitkan. Namun, motivasi dari dalam diri untuk menjalani dengan sukacita tetap harus dilakukan. Bahkan Lily tak segan mengganti istilah pengobatan dengan “ngampus” untuk mengalihkan pikiran negatifnya menjadi kegiatan yang menyenangkan.
“Jalani saja dengan happy. Bald is beautiful, kok. Saat sudah mulai botak, belajar bikin alis, juga pakai wig. Yang penting preparation-nya kita sudah siapkan.”
2. Dukungan Orang Terdekat
Harapan untuk sembuh tak bisa dipungkiri harus didukung dengan orang-orang terdekat. Rasa cinta yang besar dari keluarga adalah kekuatan yang sangat berarti bagi penderita kanker.
“Saat weekend, kita makan bareng, ibadah bareng. Kita melakukan aktivitas yang menyenangkan dan (mereka) tidak memperlakukan saya seperti orang sakit. Di situlah saya merasa diperhatikan dan dibutuhkan.” tambahnya.
3. Tergabung dalam Komunitas
“You are not alone!” pengalaman kanker payudara yang dialami Lily membuktikan bahwa semangat untuk sembuh bisa datang dari sesama penyintas. Sejak menjalani perawatan kanker pertama di MRCCC, ia menemui orang-orang yang sama seperti dirinya. Dari situlah ia bersama survivor lain memutuskan untuk membentuk sebuah komunitas survivor kanker bernama Samudera Kasih.
Tak hanya terbatas pada kanker payudara, komunitas ini merangkul penyintas dari semua jenis kanker untuk menyebarkan kasih seluas samudera yang tidak pernah habis.
Lily menegaskan, “Komunitas ini merupakan sebuah wadah yang sangat penting bagi para penyintas kanker agar mereka tidak merasa sendiri. Bahkan dalam komunitas, para survivor bisa mendapatkan edukasi dari dokter, dan mendapatkan informasi yang berguna dari sesama penyintas.”
4. Memastikan Fasilitas Pengobatan dan Perawatan secara Komprehensif
Kemudahan mendapatkan layanan kanker payudara secara menyeluruh sangat dibutuhkan. Dengan hadirnya BCCA, Lily pun merasa akses ini semakin dijangkau untuk siapa saja.
BCCA adalah pusat layanan kanker payudara yang komprehensif. BCCA memungkinkan setiap pasien maupun calon pasien mendapatkan arahan yang jelas dalam menjalani setiap perawatan dan pengobatan. Mulai dari tahap konsultasi awal, evaluasi kesehatan, tindakan pengobatan, hingga monitoring setelah tindakan.
Ke depan, Lily berharap komunitasnya dapat menjalin kerjasama yang lebih banyak dengan BCCA untuk membantu para survivor kanker, khususnya kanker payudara.
Kanker bukanlah suatu hukuman. Potensi kesembuhan pada kanker payudara tergolong tinggi apabila terdeteksi sejak dini. Dengan kata lain, semakin awal diketahui dan ditangani, maka semakin besar pula kemungkinan untuk sembuh.
Seperti yang disebutkan oleh Lily, kanker payudara yang dideritanya tidak menunjukkan gejala di awal dan tidak ada riwayat dari genetik keluarga. Oleh karenanya, sangat penting untuk selalu melakukan pemeriksaan ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan evaluasi, diagnosis sedini mungkin, serta saran perawatan yang tepat sesuai kondisi Anda.
Lebih lanjut, guna mengetahui informasi terkait perawataan kanker payudara secara lebih mendalam, Anda dapat mengunjungi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi sebagai pusat unggulan penanganan penyakit kanker di Siloam Hospitals Group.
Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait kanker payudara dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Dr. dr. Samuel Haryono, SpB (K) Onk