Kusta (Leprosy) - Kenali Penyebab, Gejala, hingga Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Kusta (Leprosy) - Kenali Penyebab, Gejala, hingga Pengobatannya

23 Desember 2025 4 menit waktu baca
Kusta adalah

Leprosy atau kusta adalah salah satu jenis penyakit kulit yang dapat menyerang jaringan kulit, saraf tepi, hingga saluran pernapasan. Penyebab kusta adalah infeksi bakteri Mycobacterium leprae dan berbeda dengan cacar air serta herpes yang disebabkan oleh virus.

 

Kusta dapat menular melalui percikan ludah penderitanya, misal saat terbatuk atau bersin. Mari kenali penyebab, gejala, hingga cara mengobati penyakit kusta pada ulasan berikut ini.

 

Apa itu Kusta?

 

Lepra atau kusta adalah gangguan pada kulit akibat infeksi bakteri kronis. Gangguan ini sering kali ditandai dengan mati rasa pada tungkai dan kaki, kemudian disertai timbulnya lesi pada kulit. Penyakit kusta dapat menyebar melalui percikan ludah ketika pengidapnya batuk atau bersin.

 

Di Indonesia sendiri, kusta adalah penyakit yang umum terjadi, bahkan termasuk tertinggi. Berdasarkan data terakhir dari WHO pada tahun 2020, jumlah kasus kusta di Indonesia menduduki peringkat ketiga terbesar di dunia, yaitu sebanyak 8%.

 

Banyak mitos-mitos yang berkembang mengenai sakit kusta. Meski dapat menular, namun kusta adalah jenis penyakit kulit yang dapat ditangani dan jarang menjadi penyebab kematian. Namun, infeksi bakteri ini berisiko mengakibatkan kecacatan pada pengidapnya.

 

Penyebab Kusta

 

Kusta merupakan jenis penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae, di mana bakteri ini dapat menular dari satu orang ke orang lainnya melalui droplet. Seseorang dapat tertular kusta apabila terkena percikan air liur dari penderitanya.

 

Bakteri ini membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak dalam tubuh pengidapnya. Kusta juga memerlukan kontak dalam waktu lama untuk bisa menularkan infeksi. Anda tidak akan dengan mudah tertular hanya dengan bersalaman, duduk bersama, bahkan berhubungan seksual.

 

Selain dari penyebab utama di atas, kusta juga dapat menjangkit orang-orang dengan beberapa faktor, seperti:

 

  • Sistem kekebalan tubuh terganggu
  • Berkunjung atau menetap ke kawasan endemik kusta
  • Bersentuhan dengan hewan yang dapat menyebarkan bakteri kusta, seperti armadillo

 

Jenis-jenis Kusta

 

Kusta terbagi menjadi enam jenis berdasarkan tingkat keparahan gejalanya, berikut masing-masing penjelasannya.

 

1. Lepromatous leprosy

 

Jenis kusta ini ditandai dengan lesi yang tersebar simetris. Lesi yang timbul mengandung banyak bakteri juga disertai rambut rontok, kelemahan otot, dan gangguan saraf.

 

2. Borderline lepromatous leprosy

 

Gejala kusta yang satu ini adalah kemunculan lesi dengan jumlah banyak dan bentuknya datar atau benjolan, biasanya juga disertai gejala mati rasa.

 

3. Mid-borderline leprosy

 

Gejalanya adalah lesi kemerahan yang menyebar secara acak dan tidak simetris, disertai mati rasa dan juga pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar kusta.

 

4. Tuberculoid leprosy

 

Penyakit kusta yang satu ini memunculkan lesi datar berukuran besar, disertai pembesaran saraf dan mati rasa.

 

5. Borderline tuberculoid leprosy

 

Kusta ini ditandai dengan kemunculan lesi berukuran lebih kecil dan lebih banyak dibandingkan lesi pada tuberculoid leprosy.

 

6. Intermediate leprosy

 

Jenis penyakit kusta ini ditandai dengan munculnya lesi datar dengan warna pucat. Apabila sistem imun penderita dalam kondisi yang baik, kemungkinan besar dapat sembuh dengan sendirinya.

 

Gejala Kusta

 

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bakteri kusta memerlukan waktu lama untuk berkembang biak, sehingga gejala yang ditimbulkan biasanya tidak tampak jelas di awal dan akan terlihat secara perlahan.

 

Bahkan, dalam beberapa kasus, gejala kusta baru akan muncul setelah bakteri berkembang biak dalam tubuh pengidapnya selama bertahun-tahun. Adapun gejala kusta adalah sebagai berikut:

 

  • Anhidrosis, yaitu kulit tidak mengeluarkan keringat
  • Luka pada telapak kaki tidak terasa nyeri
  • Kulit menjadi mati rasa, termasuk kehilangan kemampuan untuk merasakan sentuhan, tekanan, suhu, bahkan rasa nyeri
  • Kulit terasa kering dan kaku
  • Saraf membesar, umumnya pada lutut dan siku
  • Alis dan bulu mata rontok permanen
  • Mengalami mimisan
  • Muncul bercak dengan warna lebih terang daripada kulit sekitarnya
  • Terdapat benjolan atau bengkak pada telinga dan wajah
  • Otot kaki dan tangan melemah
  • Mata jarang mengedip dan menjadi kering

 

Diagnosis Kusta

 

Dalam melakukan diagnosis pada pasien kusta, dokter akan menanyakan terlebih dahulu terkait gejala atau keluhan yang dialami pasien, kemudian dilanjutkan dengan memeriksa kulit. Dalam pemeriksaan ini, dokter melakukan pengamatan apakah muncul lesi pada kulit.

 

Selanjutnya, guna memastikan diagnosis secara tepat, dokter akan mengambil sampel kulit dengan cara skin smear (dikerok). Nantinya, sampel ini akan dianalisis di laboratorium untuk mengetahui keberadaan bakteri penyebab kusta.

 

Apabila kusta yang diderita sudah cukup parah, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan pendukung untuk mendeteksi apakah bakteri tersebut sudah menyebar ke organ lain atau belum. Adapun pemeriksaan yang dilakukan untuk kusta adalah:

 

  • Hitung darah lengkap
  • Pemeriksaan fungsi hati atau liver
  • Tes kreatinin
  • Menjalani biopsi saraf

 

Pengobatan Kusta

 

Metode utama yang dilakukan dalam pengobatan kusta adalah menggunakan obat antibiotik. Penderita kusta akan diberikan obat antibiotik yang dikonsumsi selama 1-2 tahun, adapun durasi, jenis, dan dosisnya sendiri akan disesuaikan dengan jenis kusta yang diderita.

 

Di Indonesia sendiri, pengobatan kusta yang paling umum diterapkan adalah metode Multidrug Therapy (MDT), yaitu prosedur pengobatan yang mengkombinasikan dua antibiotik atau lebih. Apabila dibutuhkan penanganan lanjutan, biasanya akan dilakukan operasi dengan tujuan:

 

  • Mengembalikan fungsi anggota tubuh
  • Menormalkan kembali saraf yang rusak
  • Memperbaiki bentuk tubuh yang mengalami kecacatan

 

Penting untuk diketahui bahwa gejala penyakit kusta di atas tidak spesifik mewakili kondisi seperti di atas. Artinya, penyebab tersebut tidak menutup kemungkinan adanya penyakit kulit lain yang serupa. Maka itu, penting untuk mendapatkan diagnosis serta evaluasi yang tepat dan akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Kulit di Siloam Hospital terdekat guna memperoleh pengobatan yang sesuai.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait penyakit kusta dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Anda dapat menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang dan nikmati fitur-fitur untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 3

Dokter Kami
dr-marsia-rusfianti-spkk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-armina-haramaini-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Armina Haramaini, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-epi-panjaitan-msc-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail