Ini Tahapan Tes Mantoux dalam Diagnosis Tuberkulosis (TB)
Kesehatan Tubuh

Ini Tahapan Tes Mantoux dalam Diagnosis Tuberkulosis (TB)

30 Mei 2025 5 menit waktu baca
mengenal tes mantoux

Tes mantoux adalah pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi infeksi tuberkulosis (TB) pada seseorang. Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini sangat mudah menular melalui droplet (percikan cairan atau lendir) saat penderita mengalami batuk atau bersin. Oleh karena itu, diperlukan tes mantoux untuk mendeteksi penyakit ini sedini mungkin.

 

Lantas, bagaimana prosedur tes mantoux dilakukan dan apa saja yang perlu diperhatikan? Simak informasinya melalui artikel berikut.

 

Apa itu Tes Mantoux?

 

Tes mantoux adalah metode pemeriksaan untuk mendeteksi keberadaan bakteri penyebab penyakit TB (tuberkulosis). Skrining TB (tuberkulosis) ini dilakukan dengan memasukkan jarum suntik berisi zat khusus yang disebut purified protein derivative (PPD) di kulit lengan.

 

Pemeriksaan ini disebut juga dengan tes kulit tuberkulin atau tuberculin skin test (TST). Tes ini sangat direkomendasikan untuk orang-orang yang sering terlibat kontak langsung dengan penderita TB, misalnya keluarga penderita atau tenaga medis.

 

Tes mantoux bermanfaat untuk mendeteksi dini adanya kuman penyebab infeksi TB, sehingga penderita dapat segera diberikan penanganan dan penularan lebih lanjut pun dapat dicegah. Tes ini biasanya juga dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi TB laten yang tidak memunculkan gejala.

 

Tujuan Tes Mantoux

 

Tujuan tes mantoux adalah salah satu upaya pencegahan penularan tuberkulosis sejak dini. Pasalnya, orang yang terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis tidak hanya bisa berkembang menjadi penderita TB aktif, tetapi juga bisa menjadi penderita TB laten yang tidak menunjukkan gejala apa pun.

 

Pada kasus ini, tes mantoux penting dilakukan untuk mendeteksi adanya bakteri penyebab TB dalam tubuh meski penderita tidak mengalami gejala apa pun. Dengan begitu, dokter bisa melakukan pencegahan lebih cepat supaya kondisi tersebut tidak berkembang menjadi TB aktif.

 

Apabila TB laten sudah berkembang menjadi TB aktif, maka penderita harus menjalani pengobatan TB sesuai dengan panduan tatalaksana pengobatan TB aktif selama 6–9 bulan secara berkala tanpa terputus.

 

Siapa yang Membutuhkan Tes Mantoux?

 

Tes mantoux adalah suatu metode diagnostik yang penting untuk mendeteksi infeksi tuberkulosis (TB) pada seseorang, bahkan jika mereka tidak sedang mengalami gejala penyakit TB. Ada beberapa kondisi di mana seseorang disarankan untuk melakukan tes mantoux adalah:

 

  • Hasil abnormal pada rontgen dada.

  • Memiliki riwayat kontak langsung dengan penderita.

  • Mengalami gejala TB.

  • Tenaga medis yang berisiko terpapar TB saat bekerja.

  • Baru mendapatkan transplantasi organ.

  • Mengalami gangguan medis yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

 

Sementara itu, kelompok orang yang tidak dianjurkan menjalani tes mantoux adalah:

 

  • Telah didiagnosis menderita tuberkulosis.

  • Mengalami ruam kulit yang dapat memengaruhi hasil tes.

  • Mengalami reaksi alergi terhadap zat PPD.

 

Kapan Tes Mantoux Diperlukan?

 

Apabila mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada tuberkulosis, seperti sesak napas, batuk berdarah, nyeri dada, demam, atau kelelahan sebaiknya sesegera mungkin mengunjungi rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.

 

Apabila dokter menduga bahwa pasien terkena tuberkulosis yang gejalanya tidak khas atau mengarah ke infeksi bakteri namun hasil pemeriksaan dahak tidak reaktif, maka akan dilakukan tes mantoux untuk membantu dokter menegakkan diagnosis.

 

Namun, tidak hanya saat seseorang mengalami gejala, skrining TB juga dapat dilakukan pada beberapa kondisi, seperti:

 

  • Orang yang tinggal di negara dengan kasus kejadian TB yang tinggi, seperti negara Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan Afrika.

  • Orang yang bekerja di panti, rumah sakit, klinik, tempat penampungan, atau penjara di mana kemungkinan terdapat penderita TB aktif di dalamnya.

  • Orang yang tinggal dekat dengan penderita TB aktif, misalnya satu rumah.

  • Orang dengan penyakit tertentu yang memengaruhi sistem imun, seperti rheumatoid arthritis dan HIV.

 

Peringatan Tes Mantoux

 

Terdapat beberapa hal yang perlu diinformasikan oleh pasien kepada dokter sebelum menjalani tes mantoux adalah:

 

  • Apakah pasien pernah menjalani skrining TB sebelumnya?

  • Apakah pasien pernah menjalani pengobatan TB?

  • Apakah pasien menderita penyakit yang mengganggu sistem imun tubuh?

  • Apakah pasien menerima vaksin dalam satu bulan terakhir?

  • Apakah pasien mengonsumsi obat-obatan tertentu?

  • Apakah pasien mengalami infeksi virus pada satu minggu terakhir?

  • Apakah pasien memiliki riwayat kontak langsung dengan penderita TB?

  • Apakah pasien memiliki riwayat bepergian ke daerah endemis TB?

 

Selain itu, dokter juga perlu memberikan informasi kepada pasien mengenai reaksi atau efek samping yang dapat muncul saat dilakukan tes mantoux seperti bengkak, nyeri, lenting, rasa gatal, dan kemerahan pada area bekas suntikan.

 

Tahapan Prosedur Tes Mantoux

 

Terdapat dua tahap pada prosedur pemeriksaan ini. Pada tahap pertama, dokter akan menyuntikkan zat PPD di kulit pasien. Setelahnya, akan muncul benjolan kecil yang tampak pucat. Dokter akan memberikan tanda pada area tersebut untuk memantau perubahannya.

 

Pada tahap kedua, dokter akan melakukan pemeriksaan lagi setelah 24–72 jam untuk melihat ada atau tidaknya perubahan pada benjolan sebagai reaksi terhadap zat PPD. Reaksi yang timbul akan menentukan ada atau tidaknya infeksi bakteri penyebab TB. 

 

Lantas, bagaimana jika pasien tidak datang kembali setelah 72 jam? Jika hal ini terjadi, maka pasien harus melakukan tes dari awal. Jika tidak muncul reaksi pada pasien yang baru menjalani pemeriksaan mantoux pertama kali, maka tes perlu diulang dalam 1–3 minggu kemudian.

 

Setelah mendapatkan suntikan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada tes mantoux adalah:

 

  • Hindari mengoleskan salep atau krim apa pun di area bekas suntikan.

  • Hindari menggosok atau menggaruk area bekas suntikan.

  • Hindari menutup area suntikan dengan plester atau perban.

  • Kompres dengan air dingin apabila muncul gelembung berisi air pada kulit.

 

Hasil Tes Mantoux

 

Berdasarkan ukuran indurasinya, CDC membagi hasil tes mantoux menjadi tiga kategori, yaitu:

 

Indurasi ≥ 5 mm dinyatakan positif TB jika pasien memiliki kondisi:

 

  • Baru saja melakukan kontak dekat dengan penderita TB.

  • Menjalani terapi pengobatan kortikosteroid dalam waktu yang lama.

  • Memiliki riwayat penyakit HIV.

  • Pernah melakukan transplantasi organ.

  • Terdapat dugaan penyakit TB dari hasil rontgen dada.

 

Indurasi ≥ 10 mm dinyatakan positif TB jika pasien memiliki kondisi:

 

  • Berusia di bawah lima tahun.

  • Bayi, anak-anak, atau remaja yang melakukan kontak langsung dengan orang dewasa penderita TB.

  • Tinggal atau berada di daerah yang tinggi prevalensi TB (Indonesia salah satunya).

  • Tinggal atau pernah mengunjungi daerah dengan kasus TB yang tinggi.

  • Berat badan jauh di bawah normal.

  • Menderita diabetes, penyakit ginjal kronis, atau kanker.

  • Pernah terlibat penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

 

Indurasi ≥ 15 mm dinyatakan positif TB jika pasien memiliki kondisi:

 

  • Tidak dalam kelompok orang yang berisiko tinggi terkena atau tertular infeksi tuberkulosis.

 

Secara umum, tes mantoux adalah pemeriksaan yang aman dan tidak menimbulkan efek samping serius. Apabila Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang mengarah pada tuberkulosis, segera lakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) di Siloam Hospitals guna mendapatkan penanganan medis yang tepat. Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter dan membuat janji temu dengan dokter terkait. 

 

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 1

Dokter Kami
dr-oka-wijaya-spp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Oka Wijaya, SpP

Pulmonologi (Paru)

Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magdalena-sirait-spp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magdalena Sirait, SpP

Pulmonologi (Paru)

Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-victor-nugroho-wijaya-spp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Victor Nugroho Wijaya, SpP, F. Pulmonologi Intervensional Lanjut

Pulmonologi (Paru)

Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail