Kesehatan Tubuh
Kenali 8 Faktor Risiko Kanker Otak

Table of Contents
Sekitar 11.725 kasus kanker otak ditemukan sepanjang tahun 2014-2016 di Inggris. Sementara itu, 5.250 orang dinyatakan meninggal. Tak dapat dipungkiri jika kanker otak menjadi salah satu penyakit mematikan. Belum lagi penyebab utama kanker otak masih belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang meningkatkan peluang seseorang untuk terkena penyakit mematikan ini.
Faktor Risiko Kanker Otak
Berikut adalah beberapa faktor risiko kanker otak:
1. Paparan Radiasi
Orang yang terpapar radiasi tinggi dalam jangka waktu yang panjang, baik di kepala maupun bagian tubuh lainnya berisiko lebih tinggi terkena kanker, khususnya kanker otak. Umumnya, sel tumor dan kanker akibat paparan radiasi tinggi baru berkembang sekitar 10-15 tahun setelah terpapar.
Beberapa radiasi yang bisa meningkatkan risiko kanker otak berasal dari radiasi nuklir, ledakan bom atom, dan radioterapi untuk mengobati kanker. Biasanya jenis kanker otak yang muncul akibat faktor risiko ini adalah kanker glioma dan meningioma. Maka itu, pastikan dokter dan petugas medis untuk menggunakan pemeriksaan sinar-X atau CT Scan dengan tingkat radiasi serendah mungkin.
2. Obesitas
Seseorang bisa dibilang obesitas jika indeks massa tubuh (BMI) yang dimilikinya adalah 30 atau lebih tinggi. Namun, apabila BMI Anda berkisar di antara 25 dan 30, Anda sudah termasuk dalam kondisi kelebihan berat badan sehingga harus lebih berhat-hati. Jika tidak dijaga, risiko terkena kanker otak bisa meningkat. Cobalah untuk lebih sering melakukan aktivitas fisik dan makan-makanan sehat.
3. Genetika
Risiko terkena kanker otak akan lebih tinggi terjadi pada seseorang yang keluarganya memiliki riwayat kanker otak. Sekecil apapun proporsinya, riwayat kanker otak pada keluarga baik itu orang tua maupun saudara mampu membuat Anda lebih berisiko terkena kanker otak. Kanker otak yang dipicu oleh faktor genetika seperti ini biasanya ditemukan pada beberapa jenis sindrom, antara lain neurofibromatosis tipe 1 dan 2, sindrom Li-Fraumeni, sindrom Von Hippel-Lindau, sindrom Turner, sindrom Turcot, dan sindrom Gorlin.
4. Infeksi Virus HIV/AIDS
Infeksi virus rentan membuat kerusakan pada sel DNA, sehingga berpotensi memicu pertumbuhan sel kanker. Salah satu jenis virus yang mampu meningkatkan risiko kanker otak adalah HIV/AIDS. Hal ini dikarenakan virus ini menurunkan sistem kekebalan tubuh.
5. Riwayat Kanker
Jika seorang anak pernah menderita kanker sebelumnya, risiko untuk menderita kanker atau tumor otak pada kemudian hari lebih tinggi. Hal serupa juga dialami orang dewasa, terutama yang pernah memiliki riwayat menderita kanker darah (leukemia) dan tumor otak glioma (limfoma non-Hodgkin).
Walaupun hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, tapi sejumlah temuan mengenai pengobatan terhadap jenis kanker lain sebagai pemicu terjadinya kanker otak sudah ada. Contohnya, obat kemoterapi berupa cairan metotreksat intratekal yang disuntik ke sekitar sumsum tulang belakang untuk mengobati leukemia, telah terbuki meningkatkan risiko kanker otak.
6. Kebiasaan Merokok
Kandungan bahan kimia yang terdapat pada rokok mampu merusak sel-sel tubuh, sehingga kebiasaan merokok tidak hanya menyebabkan kanker paru, tetapi juga meningkatkan risiko terkena kanker otak.
7. Lingkungan dengan Pencemaran Tinggi
Paparan bahan kimia seperti pestisida, hebisida (pembasmi gulma), vinil klorida pada produk plastik, timah dan zat kimia pada karet, bahan bakar, serta tekstil dalam jangka waktu yang lama bisa meningkatkan risiko kanker otak. Biasanya, seseorang yang berisiko lebih tinggi terpapar bahan kimia ini adalah mereka yang berprofesi sebagai petani, pekerja kilang minyak, serta karyawan industri plastik, karet dan tekstil.
8. Usia
Terakhir, faktor usia. Kanker otak sesungguhnya mampu menyerang siapa saja dari segala usia. Hanya saja dalam beberapa kasus, kanker otak banyak dialami oleh anak-anak atau orang berusia muda. Oleh karena itu, pola hidup sehat memang perlu dibina sejak dini sekali.
Perlu diketahui juga, bahwa kanker otak mungkin saja dapat terjadi pada seseorang tanpa adanya faktor risiko. Untuk pengobatannya, dokter akan memutuskan tindakan yang tepat berdasarkan jenis kanker yang tumbuh, letak pertumbuhan kanker, ukuran dan penyebaran kanker, sifat dan karakteristiknya, hingga kebugaran tubuh Anda dalam melawan pertumbuhan kanker tersebut.
Beberapa pilihan pengobatan, mulai dari steroid, operasi, radioterapi, hingga kemoterapi tersedia sebagai upaya penyembuhan. Maka itu, senantiasa konsultasikan dengan dokter di Siloam Hospital terdekat untuk memperoleh diagnosis dan penanganan medis secara tepat.
Anda dapat menggunakan fitur Cari Dokter untuk menemukan jadwal dokter, booking, dan buat janji dengan dokter terkait. Atau, gunakan juga aplikasi MySiloam untuk memudahkan Anda berkonsultasi langsung dengan dokter secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan percayakan kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Ambon
Tersedia :
Tersedia hari ini






