Pentingnya Uji Histokompatibilitas Sebelum Transplantasi Ginjal
Kesehatan Tubuh

Pentingnya Uji Histokompatibilitas Sebelum Transplantasi Ginjal

22 Januari 2026 5 menit waktu baca
Uji Histokompatibilitas

 

Pemeriksaan uji histokompatibilitas adalah pemeriksaan yang menilai kesesuaian antara organ donor dengan pasien yang membutuhkan transplantasi ginjal (resipien). Pemeriksaan ini berguna untuk menghindari terjadinya penolakan organ setelah proses transplantasi dan meningkatkan keberhasilan transplantasi organ jangka panjang. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai pemeriksaan kecocokan ginjal ini, simak pembahasannya dalam artikel berikut.

 

Apa Itu Uji Histokompatibilitas?

 

Seperti yang sudah disebutkan, uji histokompatibilitas adalah pemeriksaan medis untuk menilai tingkat kecocokan antara organ dari pendonor dan tubuh penerima sebelum dilakukan transplantasi. Pemeriksaan ini penting dilakukan agar sistem kekebalan tubuh penerima tidak menolak organ yang ditransplantasikan, seperti ginjal.

 

Dengan kata lain, histokompatibilitas membantu memastikan bahwa ginjal dari pendonor bisa diterima dengan baik oleh tubuh pasien dan dapat berfungsi optimal dalam jangka panjang. Pemeriksaan ini melibatkan tiga komponen utama, yaitu HLA Typing, HLA Antibody (donor specific antigen), dan crossmatch. Berikut penjelasannya.

 

 

Setiap orang memiliki penanda khusus di dalam tubuh yang disebut HLA (human leukocyte antigen). Penanda ini diturunkan dari orang tua dan berfungsi sebagai "tanda pengenal" bagi sistem kekebalan tubuh untuk membedakan antara sel milik sendiri dan sel asing.

 

HLA terbagi menjadi dua jenis, yaitu HLA class I dan class II, yang terdapat di permukaan sebagian besar sel tubuh. Kombinasi HLA pada setiap individu bersifat unik, sehingga sistem imun dapat mengenalinya sebagai “milik sendiri” dan tidak menyerang sel-sel tersebut.

 

Jika HLA pada ginjal donor tidak cocok dengan penerima (resipien), sistem imun resipien bisa menganggap ginjal tersebut sebagai benda asing, sehingga dapat menyerang dan merusak ginjal donor yang ditransplantasikan. Sistem imun resipien juga dapat membentuk antibodi terhadap protein HLA asing, yang dalam jangka panjang dapat merusak organ donor.

 

Semakin tinggi kecocokan HLA antara donor dan penerima, semakin tinggi pula potensi keberhasilan transplantasi dalam jangka panjang. Kecocokan tertinggi biasanya ditemukan pada saudara kandung, dengan kemungkinan sekitar 25% memiliki HLA yang identik. 

 

Kecocokan juga bisa ditemukan pada anggota keluarga lain atau bahkan pada orang yang tidak memiliki hubungan darah. Apabila hasil HLA tidak sepenuhnya sama persis, tidak menutup kemungkinan untuk tetap dilakukan transplantasi.

 

 

Sistem imun tubuh secara alamiah dapat membentuk antibodi sebagai respons perlindungan terhadap bakteri, virus, atau benda asing lainnya. Dalam konteks transplantasi, tubuh resipien bisa saja membentuk antibodi terhadap HLA asing, yaitu HLA yang tidak dimiliki oleh pasien itu sendiri.

 

Antibodi ini dapat terbentuk sebelum transplantasi, yaitu setelah adanya paparan terhadap non-self HLA selama kehamilan atau transfusi darah. Selain itu, antibodi ini juga dapat muncul setelah transplantasi, yakni apabila terdapat ketidakcocokan HLA resipien dan donor. Pasien yang memiliki antibodi terhadap HLA donor, baik sebelum atau sesudah transplantasi, dapat menyebabkan risiko penolakan ginjal yang ditransplantasikan meningkat.

 

 

Crossmatch adalah pemeriksaan penting yang dilakukan sebelum transplantasi ginjal untuk menilai apakah sistem imun resipien berpotensi menyerang ginjal dari donor. Hasil crossmatch yang negatif menandakan kompatibilitas (kecocokan) antara sistem imun resipien dan ginjal donor. Sebaliknya, crossmatch yang positif menandakan resipien memiliki antibodi terhadap sel donor yang berpotensi menimbulkan proses penolakan.

 

Crossmatch dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu:

 

  1. Virtual Crossmatch

 

Virtual crossmatch adalah tes yang dilakukan sebelum transplantasi untuk mengetahui apakah tubuh penerima memiliki antibodi yang bisa menyerang ginjal donor. Penilaian ini dilakukan dengan menganalisis profil antibodi HLA resipien dengan HLA typing donor menggunakan metode molekuler berbasis DNA, sehingga hasil yang diperoleh sangat akurat. Tes ini membantu dokter untuk penilaian risiko transplantasi sehingga dapat memprediksi hasil pascatransplantasi.

 

  1. Complement-Dependent Cytotoxicity (CDC) Crossmatch

 

CDC crossmatch mirip seperti virtual crossmatch, tetapi CDC crossmatch dilakukan secara langsung di laboratorium. CDC crossmatch merupakan physical crossmatch yang dilakukan dengan cara mereaksikan limfosit (darah putih) dari donor terhadap serum (bagian dari darah) penerima yang mengandung sistem imun untuk melihat adanya antibodi yang reaktif terhadap donor.

 

Hasil CDC crossmatch yang positif menandakan tubuh penerima berpotensi menolak ginjal donor secara cepat dan berat. Karena itu, hasil positif pada tes ini menjadi tanda bahwa transplantasi tidak bisa dilakukan.

 

Prosedur Uji Histokompatibilitas

 

Untuk melakukan uji histokompatibilitas, dokter akan melakukan pengambilan sampel darah dari donor dan penerima. Dari sampel tersebut, akan diperiksa DNA masing-masing untuk mengetahui kecocokan imun.

 

Pemeriksaan HLA typing dan HLA antibody dilakukan dengan menggunakan metode molekuler berbasis DNA sehingga bisa diperoleh HLA type dengan resolusi intermediate. Ada dua jenis HLA yang diperiksa dalam uji ini:

 

  • HLA Class I: HLA-A, HLA-B, dan HLA-C.

  • HLA Class II: HLA-DP, HLA-DQ, dan HLA-DR.

 

Hasil Uji Kompatibilitas

 

Dari hasil uji histokompatibilitas, dokter bisa mengetahui seberapa besar risiko tubuh pasien menolak ginjal dari donor. Risiko ini dikelompokkan berdasarkan HLA typing, HLA antibody, dan CDC crossmatch, yaitu:

 

  • Risiko imunologi tinggi

Menunjukkan tubuh pasien memiliki antibodi dalam jumlah tinggi yang dapat menyerang HLA dari ginjal donor (donor specific antibody-DSA) dan menyebabkan penolakan hiperakut. Pasien dengan risiko imunologi tinggi tidak dapat melanjutkan proses transplantasi. Meskipun demikian, terdapat terapi khusus yang disebut regimen desensitisasi untuk menurunkan kadar antibodi dan mengurangi risiko.  

  • Risiko imunologi sedang (intermediate)

Menunjukkan pasien memiliki jumlah antibodi yang rendah, dan tidak ada riwayat penolakan transplantasi organ sebelumnya. Pasien dengan risiko imunologi intermediate dapat dipertimbangkan untuk dilakukan transplantasi, namun dibarengi dengan pemberian obat imunosupresi dan pemantauan ketat setelah operasi. 

  • Risiko imunologi rendah (standar)

Tidak ditemukan antibodi yang menyerang HLA donor. Ini berarti transplantasi memiliki peluang besar untuk berhasil dan risiko penolakan sangat rendah.

 

Risiko Efek Samping

 

Secara umum, uji histokompatibilitas aman dan tidak menimbulkan efek samping serius. Prosedurnya hanya melibatkan pengambilan sampel darah dari donor dan penerima ginjal. Efek samping yang mungkin dirasakan umumnya hanya rasa nyeri ringan atau memar di area suntikan, seperti saat tes darah pada umumnya.

 

Demikian penjelasan mengenai uji histokompabilitas yang perlu diketahui. Uji histokompatibilitas penting dilakukan sebelum transplantasi ginjal guna menilai kesesuaian imunologis resipien dan donor sehingga dapat mencegah terjadinya penolakan dan meningkatkan keberhasilan transplantasi ginjal.

 

Penting untuk diketahui bahwa pemeriksaan histokompatibiltas akan direkomendasikan setelah dokter mempertimbangkannya dengan seluruh tim medis terkait kondisi pasien. Karenanya, jika memiliki gejala atau keluhan kondisi medis yang berkaitan dengan ginjal, kunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi di Siloam Hospitals terdekat. Dengan rekomendasi dokter, pasien dapat dirujuk kepada Dokter Spesialis Patologi Klinik untuk melakukan uji histokompatibiltas.

 

Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait penyakit ginjal dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Althaf MM et al. Human leukocyte antigen typing and crossmatch: A comprehensive review. World J Transplant. 2017. Diakses pada 2025 | Bhaskaran MC et al. Principles of Virtual Crossmatch Testing for Kidney Transplantation. Kidney Int Rep. 2022. Diakses pada 2025 | Mishra VC et al. Histocompatibility Testing: A Fundamental Aspect of Renal Transplant Workup. Transplantology. 2024. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-anik-widajati-mkes-spmk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anik Widajati, M.Kes, SpMK

Laboratorium Medis

Spesialis Mikrobiologi Klinik


Siloam Hospitals Kebon Jeruk

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-tri-nugraheni-sppa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Tri Nugraheni, SpPA

Laboratorium Medis

Spesialis Patalogi Anatomik


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ida-rahayu-sppa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ida Rahayu, SpPA

Laboratorium Medis

Spesialis Patalogi Anatomik


Siloam Hospitals Surabaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail