Smiling Depression: Gejala, Penyebab, & Cara Mengatasinya
Kesehatan Mental

Smiling Depression: Gejala, Penyebab, & Cara Mengatasinya

22 Oktober 2025 5 menit waktu baca
smiling depression

Smiling depression adalah istilah yang merujuk pada seorang penderita depresi yang tetap tersenyum dan terlihat seperti baik-baik saja dari luar. Kondisi “depresi tersenyum” ini banyak ditemukan di kehidupan nyata, di mana mereka terlihat normal dan bahagia dalam menjalani kehidupan sehari-hari, bahkan meyakinkan orang lain bahwa dirinya baik-baik saja.

 

Meskipun bukan diagnosis medis yang diakui dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition), smiling depression bisa dikategorikan ke dalam gangguan depresi atipikal atau tidak khas (atypical depression). Di mana, gangguan depresi ini ditandai dengan gejala yang tidak biasa seperti peningkatan suasana hati sebagai respons terhadap kejadian positif atau merasa sensitif terhadap penolakan.

 

Mari kenali gejala, penyebab, dan faktor risikonya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Smiling Depression?

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, smiling depression adalah kondisi di mana seseorang tetap tersenyum dan terlihat baik-baik saja saat menjalani kehidupan sehari-hari meskipun sebenarnya sedang mengalami depresi

 

Penderita depresi umumnya merasa sedih, lesu, dan putus asa. Bahkan pada level yang cukup serius, mereka tidak ingin bangun dari tempat tidurnya atau bahkan pergi keluar ruangan. Hal yang sama tidak ditemukan pada penderita smiling depression. Maka dari itu, gangguan depresi ini sulit dideteksi. Bahkan bisa jadi penderitanya sendiri tidak menyadari bahwa ia sedang menderita depresi. Hal inilah yang membuat smiling depression dianggap lebih berbahaya dari depresi pada umumnya.

 

Penyebab Smiling Depression

 

Kondisi smiling depression biasanya diderita oleh orang-orang dengan kepribadian perfeksionis atau ambisius. Selain faktor tersebut, smiling depression bisa disebabkan atau dipicu oleh hal-hal berikut ini:

 

1. Perubahan Gaya Hidup yang Drastis

 

Kondisi smiling depression bisa disebabkan oleh pengalaman traumatis, salah satunya adalah perubahan gaya hidup yang drastis. Pada orang dewasa, hal-hal yang sering kali membuat kondisi mental terguncang dan berujung pada depresi adalah:

 

  • Kehilangan pekerjaan.

  • Kehilangan pasangan, orang terdekat atau anggota keluarga.

  • Perceraian.

  • Kecelakaan.

  • Dan lain-lain.

 

Di sisi lain, kondisi smiling depression juga bisa disebabkan oleh gangguan psikologis lain yang tidak terdeteksi.

 

2. Tuntutan atau Stigma Sosial

 

Setiap orang mungkin memiliki pengalaman yang berbeda ketika menghadapi depresi. Biasanya, tersenyum di masa-masa sulit menjadi respons tubuh yang tidak disadari oleh penderita depresi. Hal ini sering ditemukan baik pada pria maupun wanita dewasa yang diharapkan untuk menanggung beban keluarga tanpa mengeluh.

 

Jadi, tersenyum merupakan suatu bentuk mekanisme pertahanan diri yang secara otomatis dipakai setiap harinya oleh penderita smiling depression. Tanpa sadar, mereka memendam rasa lelah di dalam diri yang bisa memperburuk kesehatan mental.

 

3. Ketergantungan Media Sosial

 

Penggunaan media sosial di era digitalisasi saat ini sudah mencapai angka yang tinggi di berbagai belahan dunia. Tidak jarang, banyak orang akhirnya merasa ketergantungan akan media sosial yang menunjukkan sempurnanya kehidupan orang lain.

 

Tuntutan di media sosial untuk tampil sempurna inilah yang dapat membuat penderita smiling depression termotivasi untuk mengunggah atau membagi momen-momen bahagia mereka untuk ditunjukkan ke publik. Padahal, hal tersebut hanya akan membuat kondisi depresi memburuk seiring waktu.

 

Selain itu, ketergantungan media sosial juga dapat menimbulkan kebiasaan membandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain yang tampak seperti lebih bahagia. Kebiasaan membandingkan kehidupan ini juga berpotensi memperburuk kondisi depresi.

 

4. Ekspektasi yang Tidak Realistis

 

Kondisi smiling depression bisa disebabkan dari ekspektasi tinggi yang dibebankan oleh lingkungan sekitar kepada seseorang. Hal ini umumnya terjadi karena faktor sosial, seperti tuntutan mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi atau tuntutan menikah di usia tertentu.

 

Banyaknya ekspektasi yang dibebankan kepada hidup seseorang dapat membuat mereka terpaksa menyembunyikan depresi yang diderita. Sehingga setiap harinya mereka akan tersenyum dan bersikap seakan-akan semuanya baik-baik saja.

 

Gejala Smiling Depression

 

Adapun beberapa gejala lainnya dari smiling depression yang perlu diperhatikan adalah:

 

  • Merasa sedih.

  • Penurunan nafsu makan dan berat badan.

  • Gangguan tidur.

  • Sulit berkonsentrasi.

  • Hilangnya rasa bahagia.

  • Tidak memiliki banyak teman.

  • Memiliki rasa takut akan dikucilkan atau ditinggalkan sehingga selalu menunjukkan bahwa diri sendiri kuat, optimis, selalu tersenyum.

  • Mengalami gangguan kecemasan.

  • Selalu aktif dalam melakukan berbagai hal.

  • Merasa menjadi beban.

  • Merasa dunia akan lebih baik tanpa dirinya (suicidal thoughts).

 

Cara Mengatasi Smiling Depression

 

Smiling depression perlu diatasi dengan segera agar tidak menyebabkan kondisi yang lebih serius, seperti penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol hingga munculnya keinginan untuk bunuh diri. Untuk itu, dibutuhkan penanganan gangguan depresi yang meliputi:

 

1. Pengobatan Medis

 

Beberapa obat yang biasanya diresepkan dokter untuk mengatasi gangguan depresi adalah:

 

  • Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI).

  • Serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI).

  • Tricyclic antidepressants (TCA).

 

2. Terapi Psikologis

 

Adapun terapi psikologis juga disarankan untuk mengatasi smiling depression, di antaranya:

 

  • Cognitive therapy: Mengenali dan menekan pikiran-pikiran negatif dan emosi yang muncul karena depresi.

  • Talk therapy: Mendiskusikan masalah dengan seorang psikolog atau dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater).

  • Behavioral therapy: Mengidentifikasi dan membantu mengubah perilaku yang tidak sehat dan merusak diri sendiri (self destructive).

  • Cognitive behavioral therapy: Mengubah pola pikir dan perilaku untuk mengatasi masalah.

 

3. Pola Hidup Sehat

 

Smiling depression juga dapat diatasi dengan menerapkan pola hidup yang lebih sehat, yaitu dengan:

 

  • Pola makan sehat dengan nutrisi yang seimbang.

  • Berolahraga secara rutin.

  • Mengelola stres.

  • Melakukan meditasi untuk menenangkan pikiran.

  • Menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan orang sekitar.

  • Tidur yang cukup selama 7–9 jam.

 

Demikian pembahasan seputar smiling depression yang diharapkan dapat menambah wawasan seputar masalah kesehatan mental untuk Anda dan keluarga. Apabila Anda atau anggota keluarga menderita kondisi serupa, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan penanganan langsung dari psikologi atau dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater).

 

Jika tidak bisa datang dan bertemu langsung untuk melakukan konsultasi, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter terkait secara virtual melalui fitur Telekonsultasi di aplikasi MySiloam yang bisa diunduh secara gratis.

 

Dengan fitur Telekonsultasi, dokter dapat memberikan resep obat-obatan yang dapat dikirim langsung ke rumah Anda. Kendati demikian, terdapat beberapa resep seperti obat antipsikotik yang harus diambil sendiri oleh pasien (self pick up). Mari jaga selalu kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail