Kembali Sehat, Ini Kisah Inspiratif Survivor Kanker Rektum

Kembali Sehat, Ini Kisah Inspiratif Survivor Kanker Rektum

patient img

Cerita Ibu Dian

Penyakit kanker dikenal sebagai penyakit yang mematikan selain penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Namun, selama ada semangat untuk menjalani pengobatan, maka kemungkinan untuk sembuh dan sehat masih terbuka. Termasuk pada penyakit kanker rektum yang dialami Dian.


Dian Kencana, wanita berusia 39 tahun merupakan salah satu contoh sosok yang berhasil melawan kanker rektum di usia muda. Kanker rektum adalah penyakit yang diakibatkan oleh pertumbuhan sel-sel abnormal pada dinding rektum.


Lantas, bagaimana kisah Dian melewati penyakit kanker rektum? Mari simak kisah selengkapnya dalam artikel berikut ini.


Mengenali Gejala Kanker Rektum

“Saya terdiagnosis kanker rektum pada bulan Agustus tahun 2021. Awalnya saya tidak tau ada gejala kanker rektum, hanya merasa ada perubahan kebiasaan BAB. BAB tidak lancar 3–4 hari sekali, terasa sakit dan berdarah, dan awalnya saya pikir ambeien. Lalu saya pergi ke dokter dan diberi obat antibiotik namun kondisi saya tidak berangsur membaik,” tuturnya.


Menyadari kondisi BAB berdarah adalah hal yang tidak dapat disepelekan, Dian kembali mengunjungi rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Di sanalah ia mendapatkan diagnosa awal yaitu radang usus dengan teraba satu benjolan. 


Dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti kolonoskopi, tes darah, PET scan, dan biopsi atau pengambilan jaringan untuk mengonfirmasi diagnosis. Dari pemeriksaan tersebut, terdeteksi bahwa ia mengidap kanker rektum stadium lanjut.

 

Menjalani Pengobatan Sesuai Arahan Dokter

Setelah terdiagnosis, dokter menyarankan metode pengobatan kemoterapi, operasi, dan radioterapi. Diakuinya, sempat ada keraguan untuk menjalani kemoterapi dan radioterapi sebagai rangkaian pengobatan yang harus dijalani. Pasalnya, salah seorang dari keluarga yang menderita kanker usus hanya ditindak dengan operasi saja tanpa perlu dilanjutkan dengan kemoterapi dan terapi radiasi.


“Saya punya om mengidap penyakit kanker usus, dan penanganan yang dilakukan hanya menggunakan operasi saja tanpa perlu disinar,” jelasnya.


Namun, setelah berkonsultasi dengan dr. Jusef Treser, SpB, KBD., dokter spesialis konsultan bedah digestif Siloam Hospitals, Dian memutuskan untuk mengikuti arahan dokter, dan apapun pengobatan yang disarankan oleh dokter, ia jalani dengan sungguh-sungguh.


“Pengobatan yang saya jalani saat itu mencakup kemoterapi sebanyak 4 kali, operasi, radioterapi 30 kali, dan kemoterapi lagi sebanyak 7 kali. Setelah didiagnosis pertama pada tanggal 16 Agustus, saya langsung memulai kemoterapi di tanggal 31 Agustus. Prosesnya cukup cepat,” ingatnya.


Operasi pertama pun berjalan lancar. Pada bagian usus dipasangkan stoma, yakni pembuatan lubang pada dinding perut yang terhubung ke dalam usus besar sebagai saluran pembuangan feses (tinja). Pemasangan stoma diperlukan agar memberikan waktu pemulihan bagi area di sekitar rektum.


Kondisi Dian pun semakin membaik. Kini, ia dapat menjalani hidup dengan normal dan terus rajin kontrol dokter untuk pemeriksaan rutin setelah stoma dilepaskan.


Di Tengah Penderitaan, Dian: “Jalani saja!”

Dian mengaku bahwa sejak awal dirinya didiagnosis kanker, ia tidak punya rasa ketakutan yang mendalam. Justru, ia percaya bahwa Tuhan punya rencana yang baik meski sampai kini pun ia tidak mengetahui apa sebenarnya penyebab kanker rektum yang dialaminya.


“Saat itu saya justru tidak mau dibuat pusing dan khawatir. Saya percaya Tuhan punya rencana yang terbaik. Keluarga dan anak selalu mendukung, jadi ya sudah saya jalani saja, ga terlalu pikir banyak,” katanya dengan percaya diri.


Namun, perjalanan untuk sembuh bukan tanpa hambatan. Operasi tutup stoma di awal Januari tahun ini, cukup membuatnya perlu beradaptasi kembali dengan sistem pencernaan yang akhirnya kembali seperti semula.


“Sempat diare dan belum bisa mengontrol BAB sehingga saya perlu pakai diapers, tapi ini lebih ke penyesuaian kembali setelah satu tahun ususnya dibantu stoma,” tambahnya.


Adapun saat ini ia hanya perlu kontrol cek darah selama 3 bulan sekali, PET scan 1 tahun sekali, serta meminum obat-obatan untuk mengobati enteritis radiasi (peradangan usus yang terjadi setelah terapi sinar).


Bicara soal perubahan kualitas hidup setelah sembuh dari kanker rektum, Dian kini menjalani pola hidup sehat, seperti:

  • Menjaga pola makan.

  • Rajin mengonsumsi sayur dan buah.

  • Menghindari konsumsi makanan pedas.

  • Menghindari konsumsi masakan yang dibakar menggunakan arang karena arang diketahui mengandung zat karsinogenik.


Menurut Dian, jika Anda mengalami gejala penyakit yang tidak kunjung sembuh atau membaik, maka sesegera mungkin mengunjungi dokter untuk berkonsultasi. Sebab penyakit kanker yang cepat ditemukan tentunya akan membantu pengobatan menjadi lebih cepat dan efektif, sehingga akan semakin besar pula harapan kesembuhannya.


“Jangan takut terdiagnosis kanker. Kemudian, jika sudah pergi ke dokter, ikuti saja apa kata dokter. Nggak perlu percaya sama yang lain-lain. Orang lain mungkin ga butuh operasi karena kondisinya memang bisa disembuhkan tanpa operasi. Namun, penyakit kanker adalah penyakit yang unik, sehingga metode pengobatannya pun akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasiennya. Jadi percaya saja arahan dokter,” tandasnya.


Rektum adalah bagian penting dari sistem pencernaan, yakni bagian akhir dari usus besar yang berfungsi untuk menampung feses sebelum dikeluarkan dari tubuh melalui anus. Jika memiliki gejala atau keluhan kondisi medis yang berkaitan dengan sistem pencernaan, Anda dapat langsung mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan evaluasi, diagnosis, serta saran perawatan yang tepat sesuai kondisi Anda.


Lebih lanjut, guna mengetahui informasi terkait pengobatan sistem pencernaan secara lebih mendalam, Anda dapat mengunjungi Siloam Hospitals Lippo Village sebagai pusat unggulan penanganan penyakit yang berkaitan dengan sistem pencernaan di Siloam Hospitals Group. 


Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait kanker rektum dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien. 


Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

dr-jusef-treser-spb-kbd

dr. Jusef Treser, SpB, KBD

message

PatientStoryDetail