Pulih dari Koma 14 Hari Setelah Serangan Jantung Mendadak

Cerita Bapak Wisnu Nugroho
Desember 2022 menjadi bulan yang tak terlupakan bagi Wisnu Nugroho, seorang pria berusia 38 tahun yang menjalani kehidupan normal tanpa tanda-tanda penyakit serius. Namun, serangan jantung mendadak mengubah segalanya. Gejala yang awalnya tampak sepele—nyeri di pundak kiri, muntah, keringat dingin, hingga nyeri dada hebat—ternyata membawa Wisnu ke situasi hidup dan mati.
Koma 14 Hari: Perjuangan dan Harapan Keluarga
Pukul 2 dini hari, dalam sebuah perjalanan, jantung Wisnu berhenti berdetak. Beruntung, keluarga yang mendampinginya segera bertindak. Meski dalam kondisi panik, mereka dapat membawa Wisnu ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Siloam Hospitals Lippo Village.
Di situlah pertemuan pertama dengan Dr. dr. Antonia Anna Lukito, SpJP (K), FIHA terjadi. Dengan cepat dokter menemukan adanya penyumbatan arteri koroner yang memerlukan tindakan darurat Percutaneous Coronary Intervention (PCI) untuk pemasangan stent jantung.
Singkat cerita, PCI berhasil dilakukan. Namun Wisnu memasuki masa koma, meninggalkan keluarganya dalam ketidakpastian. Indah, sang istri, menjadi sosok utama yang mendampinginya. Dalam menghadapi ketakutan besar, ia terus berharap dalam doa, agar suaminya dapat kembali sadar dan pulih secepatnya.
Tantangan besar muncul saat Wisnu mengalami komplikasi trakeostomi, alat bantu napas yang dipasangkan di lehernya. Gumpalan darah yang menyumbat saluran udara, membuat Wisnu kesulitan bernapas dalam kondisi koma. Kondisi ini memaksa tim medis untuk melakukan operasi darurat guna membersihkan sumbatan tersebut. Prosedur ini dilakukan oleh dr. Michael, Sp.THT-KL, dan dr. Sylvia Sagita Siahaan, Sp.P.
Tak sampai di situ, tubuh Wisnu sempat tidak mampu mengeluarkan urine secara normal, sehingga ia harus menjalani cuci darah. Dengan kondisi tersebut, hanya dukungan dari keluarga yang menjadi kekuatan besar dalam melewati masa-masa sulit ini. Proses ini pun tak luput dari tangan Prof. Dr. dr. Parlindungan Siregar, SpPD, KGH yang membantu dalam proses cuci darah.
Mukjizat dan Pemulihan
Tepat di hari ke-14, sebuah mukjizat terjadi. Wisnu membuka matanya, membawa kelegaan dan memecahkan tangis haru bercampur rasa syukur bagi keluarganya yang selama ini tak henti berdoa. Momen itu menjadi titik balik, memberi harapan baru di tengah perjuangan panjang yang mereka jalani bersama.
Namun perjuangan tak henti sampai di situ. Indah masih harus menghadapi tantangan karena suaminya yang mengalami gangguan memori jangka pendek. Gangguan ini membuat Wisnu sulit mengingat kejadian sehari-hari dan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang di rumah sakit.
Setibanya di rumah, ia melanjutkan perawatan dengan menjalani terapi okupasi dan terapi musik dua kali seminggu. Meski sempat tertunda, terapi untuk memperbaiki gangguan memori jangka pendek ini mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan bagi Wisnu. Hingga saat ini, Wisnu masih harus terus melakukan kontrol rutin dengan dokter saraf di Siloam Hospitals bersama dr. Evlyne Erlyana Suryawijaya, M.Biomed, Sp.N.
Perubahan Gaya Hidup untuk Menjaga Kesehatan Jantung
Peristiwa ini pada akhirnya memaksa Wisnu untuk mengubah gaya hidupnya. Kini, ia menjalani pola makan sehat yang seluruhnya diatur oleh sang istri. Makanan instan dan gorengan telah tergantikan oleh masakan rumah bergizi.
Selain itu, Wisnu rutin berjalan kaki selama 30 menit setiap pagi. Hal ini untuk meningkatkan sirkulasi oksigen ke otak, mengikuti saran dari dokter yang menanganinya sejak awal, Dr. dr. Antonia Anna Lukito, SpJP (K), FIHA. Ia juga disiplin menjalani kontrol rutin dan meminum obat sesuai anjuran dokter untuk menjaga kesehatan jantungnya.
Pesan dan Pelajaran Hidup
Kisah ini menjadi pengingat bahwa serangan jantung dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia. Wisnu dan keluarganya menyadari pentingnya menjaga kesehatan sedini mungkin.
"Kesehatan itu sangat mahal. Jangan tunggu terlambat untuk menjaganya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan," pesan Wisnu.
Pengalaman ini tak hanya menjadi pelajaran bagi Wisnu, tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk menjalani hidup dengan lebih bijak. "Tetap semangat dalam kondisi apa pun, percaya pada kuasa Tuhan, dan selalu berpikir positif," tutupnya dengan penuh optimisme.
Penting diingat, pertolongan pada serangan jantung tidak dapat ditunda. Apabila Anda sedang berada di dekat penderita, usahakan untuk tidak panik dan segera hubungi Siloam Hospitals terdekat atau hubungi layanan darurat kami di 1-500-911.
Prosedur PCI hanya direkomendasikan bagi pasien setelah diagnosis terkonfirmasi. Dokter dan seluruh tim medis akan terlebih dahulu mendiskusikan dan mempertimbangkan kondisi pasien, untuk memastikan bahwa prosedur tersebut memang diperlukan dan pasien dapat menjalani tindakan dengan aman. Untuk itu, jika Anda memiliki keluhan terkait kondisi jantung, konsultasikan dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah untuk mendapatkan diagnosis dan saran perawatan yang tepat.
Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi serangan jantung dapat berbeda bergantung pada penyebab dan fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

DR. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP (K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI