Anafilaksis - Penyebab, Gejala, dan Cara Menanganinya
Kesehatan Tubuh

Anafilaksis - Penyebab, Gejala, dan Cara Menanganinya

04 September 2025 4 menit waktu baca
anafilaksis adalah

Table of Contents

Anaphylaxis atau anafilaksis adalah reaksi alergi berat dan dapat berujung pada syok yang dikenal sebagai syok anafilaksis. Syok akibat anafilaksis dapat menyebabkan tekanan darah menurun secara drastis serta penyempitan saluran pernapasan, sehingga perlu mendapatkan penanganan dengan cepat.

 

Anafilaksis dapat terjadi dalam hitungan menit pasca penderita terpapar alergen (penyebab alergi) dan dapat kambuh dalam kurun waktu 12 jam. Maka dari itu, kondisi ini membutuhkan pemantauan dokter. Pahami lebih lanjut tentang anafilaksis pada ulasan berikut.

 

Apa itu Anafilaksis?

 

Anafilaksis adalah reaksi alergi berat dan terjadi secara tiba-tiba setelah tubuh terpapar pemicu alergi. Kondisi ini merupakan kondisi medis darurat karena dapat menyumbat saluran pernapasan bahkan jatuh ke kondisi syok.

 

Perlu diketahui, reaksi setiap orang terhadap alergi cukup bervariasi. Beberapa orang mungkin mengalami reaksi ringan, seperti gatal-gatal, hidung berair, atau kondisi ringan lainnya ketika terpapar alergen.

 

Akan tetapi, beberapa penderita alergi juga dapat mengalami reaksi berat, seperti gatal-gatal di seluruh tubuh, sesak napas, mual, dan muntah, bahkan syok anafilaksis. Saat terjadi anafilaksis, sistem imun akan melepaskan zat-zat kimia yang dapat memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh.

 

Anafilaksis adalah kondisi darurat yang perlu mendapatkan penanganan dengan segera. Jika dibiarkan begitu saja, maka dapat berpotensi menyebabkan kondisi yang lebih serius seperti tekanan darah yang tiba-tiba menurun dan berujung hilangnya kesadaran.

 

Tak cukup sampai di situ, anafilaksis juga berpotensi menyebabkan pembengkakan saluran pernapasan. Penderitanya akan kesulitan bernapas, berbicara, dan menelan sehingga dapat mengancam jiwa apabila tidak ditangani dengan baik.

 

Penyebab Anafilaksis

 

Penyebab anafilaksis adalah reaksi alergi yang parah (hipersensitivitas), di mana reaksi ini dapat menyebabkan sistem imun tubuh memberikan respon abnormal atau berlebihan terhadap pemicu alergi (bahan atau zat tertentu). Syok anafilaksis dapat dipicu oleh beberapa jenis alergen, seperti:

 

  • Makanan dan minuman tertentu, seperti susu, kacang, makanan laut, telur, atau gandum.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat antikejang, pelemas otot, antibiotik, atau obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS).
  • Bahan pengawet makanan.
  • Tanaman, misalnya serbuk sari bunga.
  • Sengatan serangga, seperti tawon, lebah, atau semut merah.
  • Bahan-bahan lainnya, misalnya debu.

 

Anafilaksis juga dapat dipicu oleh olahraga, namun hal ini jarang ditemukan. Bahkan pada beberapa kasus, anafilaksis tidak diketahui penyebabnya (idiopatik).

 

Meskipun begitu, anafilaksis adalah kondisi yang juga bisa dipicu oleh beberapa faktor risiko berikut ini:

 

  • Asma atau alergi.
  • Memiliki keluarga dengan riwayat syok anafilaksis.
  • Pernah mengalami anafilaksis sebelumnya.

 

Gejala Anafilaksis

 

Gejala anafilaksis biasanya muncul secara tiba-tiba dan semakin parah dalam waktu singkat. Pasien anafilaksis perlu ditangani sesegera mungkin dalam waktu 30-60 menit karena reaksi yang ditimbulkan dapat berakibat fatal.

 

Anafilaksis adalah suatu reaksi alergi yang dapat memengaruhi banyak sistem dalam tubuh, sehingga gejala yang ditimbulkan cukup bervariasi. Adapun beberapa gejala umum anafilaksis adalah sebagai berikut:

 

  • Pusing, linglung, dan kehilangan kesadaran.
  • Muncul bercak pada kulit dan terasa gatal.
  • Sesak napas dan mengi.
  • Pembengkakan pada bibir, lidah, dan tenggorokan.
  • Menurunnya tekanan darah.
  • Bersin-bersin, batuk, dan pilek.
  • Nyeri atau sesak dada.
  • Mual, muntah, dan diare.
  • Jantung berdebar namun denyutnya lemah.
  • Sensasi kesemutan di kulit kepala.

 

Kemunculan gejala anafilaksis sering kali berpola. Pasien mungkin akan mengalami satu atau lebih di antara beberapa kondisi berikut:

 

  • Beberapa gejala timbul secara bersamaan, misalnya ruam kulit disertai pembengkakan dan muntah.
  • Sejumlah gejala muncul beberapa menit setelah penderita terpapar atau mengonsumsi alergen (pemicu alergi).
  • Gejala bisa timbul satu per satu selama beberapa jam.
  • Setelah gejala pertama menghilang, gejala mungkin akan kembali dalam jangka waktu 8-72 jam kemudian.

 

Diagnosis Anafilaksis

 

Seperti yang sudah disinggung, gejala anafilaksis dapat berkembang dengan cepat dan membahayakan. Sehingga, biasanya dokter akan melakukan tindakan terlebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

 

Setelah keadaan pasien mulai stabil, barulah dokter melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan lanjutan tersebut dimulai dengan anamnesis, kemudian dilanjutkan dengan mengecek tanda-tanda vital pasien, mulai dari tekanan darah, frekuensi napas, denyut nadi, tingkat kesadaran pasien, dan suhu tubuh.

 

Apabila diperlukan pemeriksaan penunjang, biasanya dokter akan melakukan beberapa tes seperti:

 

  • Tes darah untuk memantau peningkatan kadar histamin dan tryptase.
  • Tes alergi untuk mendeteksi jenis alergen yang menyebabkan reaksi alergi pada pasien.

 

Komplikasi Anafilaksis

 

Apabila tidak segera ditangani, beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat anafilaksi adalah sebagai berikut:

 

 

Pengobatan Anafilaksis

 

Pengobatan anafilaksis dilakukan dengan memberikan obat alergi darurat. Salah satu obat yang digunakan untuk penderita anafilaksis adalah suntikan epinefrin atau adrenalin. Suntikan ini bekerja dengan membalikkan gejala anafilaksis, utamanya meningkatkan tekanan darah dan mengatasi penyempitan saluran pernapasan.

 

Apabila pasien sudah berada di rumah sakit, dokter akan memberikan pertolongan lanjutan dengan melakukan beberapa tindakan berikut ini:

 

  • Menyuntikkan cairan infus.
  • Pemasangan alat bantu pernapasan dengan selang oksigen, ventilator, atau masker oksigen.
  • Resusitasi jantung paru pada pasien yang mengalami henti napas atau jantung.

 

Kemudian dokter juga akan meresepkan beberapa obat-obatan, seperti agonis beta, kortikosteroid, dan antihistamin untuk meredakan gejala dan mengurangi risiko kambuhnya syok anafilaksis sewaktu-waktu.

 

Pada kasus yang berat, dokter mungkin memberikan epipen kepada pasien untuk dibawa pulang. Epipen berfungsi sebagai obat adrenaline yang digunakan jika pasien mengalami serangan anafilaksis di tempat yang sulit menjangkau pertolongan medis.

 

Pencegahan Anafilaksis

 

Anafilaksis adalah kondisi yang cukup serius. Akan tetapi, setidaknya ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya syok anafilaksis, yaitu:

 

  • Mengenali dan menghindari pemicu alergi.
  • Membawa persediaan obat alergi.
  • Mengoleskan lotion anti serangga.
  • Menggunakan alas kaki saat berjalan ke luar rumah.

 

Anafilaksis adalah reaksi alergi parah yang dapat menyebabkan komplikasi serius. Kondisi ini dapat terjadi sewaktu-waktu dan di mana saja sehingga perlu waspadai. Penderita anafilaksis disarankan rutin berkonsultasi dan selalu menyediakan obat darurat.


Apabila Anda merasakan reaksi alergi yang tidak biasa, segera konsultasikan kepada dokter Siloam Hospitals untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan pengobatan secara tepat. Anda dapat membuat janji temu dengan menghubungi call center kami di 1-500-911 atau melalui aplikasi MySiloam. Selalu jaga kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 1

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail