Kesehatan Tubuh
Mengenal Apa itu Displasia, Jenis, dan Cara Menanganinya

Table of Contents
Displasia adalah perkembangan sel-sel abnormal dalam jaringan atau organ tubuh, namun masih belum tentu bersifat kanker. Kendati demikian, bila tidak segera ditangani dengan tepat, displasia bisa terus berkembang menjadi sel kanker. Oleh karena itu, displasia juga dikenal sebagai kondisi prakanker.
Untuk mengenal jenis-jenis dan cara menangani displasia selengkapnya, Anda dapat menyimak ulasan di bawah ini sampai tuntas.
Apa itu Displasia?
Istilah displasia merujuk pada pembentukan dan perkembangan sel-sel abnormal dalam jaringan atau organ tubuh tertentu. Bahkan, pertumbuhan sel abnormal tersebut juga dapat terjadi sangat cepat, tidak teratur, bisa tumbuh di bagian tubuh mana saja, dan berjumlah lebih banyak daripada sel sehat.
Seperti yang telah disebutkan di atas, displasia belum tentu berkembang menjadi sel kanker karena sifat dari tahapan perkembangan selnya masih berada di antara sel sehat dan sel kanker. Oleh karena itu, displasia dikaitkan dengan kondisi prakanker yang perlu diwaspadai.
Displasia dapat dibedakan menjadi 2 tipe berdasarkan kondisi pertumbuhan selnya, yaitu:
-
Displasia ringan (low-grade): Pertumbuhan sel abnormal tergolong lambat dan cenderung berisiko lebih rendah untuk berkembang menjadi kanker.
-
Displasia berat (high-grade): Pertumbuhan sel abnormal berlangsung sangat cepat dan berisiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi kanker.
Jenis-Jenis Displasia
Berdasarkan lokasi pertumbuhan selnya, displasia dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, di antaranya sebagai berikut.
1. Displasia Fibrosa
Displasia fibrosa adalah kelainan tulang yang terjadi karena terdapat pertumbuhan jaringan parut di dalam tulang. Belum diketahui secara pasti apa penyebab displasia fibrosa. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini dapat dipicu oleh mutasi gen tertentu.
Umumnya, displasia fibrosa terjadi di sekitar tulang tengkorak, tulang lengan atas, tulang rusuk, panggul, paha, atau tulang kering. Adapun sejumlah gejala umum dari displasia fibrosa adalah sebagai berikut.
-
Nyeri tulang.
-
Pembengkakan pada bagian tubuh yang terdapat displasia fibrosa.
-
Kelainan bentuk dan struktur tulang.
-
Tulang kaki terlihat melengkung atau bengkok.
-
Tulang melemah dan mudah patah, terutama pada tulang kaki dan lengan.
2. Displasia Serviks
Displasia serviks adalah kondisi yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel abnormal di bagian leher rahim (serviks). Kondisi ini biasanya tidak menimbulkan gejala khusus dan baru diketahui saat menjalani pemeriksaan pap smear.
Penyebab displasia serviks adalah infeksi HPV yang kerap ditularkan melalui hubungan seksual. Selain itu, kondisi ini lebih berisiko dialami oleh wanita berusia di bawah 30 tahun, wanita di bawah umur yang sudah aktif melakukan hubungan seksual, sering berganti pasangan seksual, dan melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kondom.
3. Displasia Saluran Pencernaan
Displasia saluran pencernaan adalah jenis displasia yang dapat terjadi pada beberapa organ pencernaan, seperti lambung, usus, dan hati. Kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala tertentu, namun berisiko tinggi untuk berkembang menjadi kanker.
Selain itu, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya displasia saluran pencernaan, di antaranya sebagai berikut.
-
Peradangan lambung dalam jangka waktu panjang.
-
Infeksi bakteri Helicobacter pylori.
-
Perubahan pada sel-sel di lambung.
4. Sindrom Mielodisplasia
Salah satu kondisi medis lainnya yang termasuk ke dalam jenis displasia adalah sindrom mielodisplasia. Kondisi ini ditandai dengan adanya gangguan pembentukan sel darah di dalam tubuh. Jika tidak segera ditangani dengan tepat, sindrom mielodisplasia dapat meningkatkan risiko berkembangnya leukemia atau kanker darah.
Beberapa gejala yang kerap dialami oleh penderita sindrom mielodisplasia adalah sebagai berikut.
-
Tubuh terasa lemas.
-
Muncul bintik-bintik merah di permukaan kulit.
-
Sering mengalami infeksi karena rendahnya jumlah sel darah putih.
-
Tubuh terlihat pucat karena anemia.
-
Sering muncul memar atau mudah berdarah karena rendahnya kadar trombosit di dalam tubuh.
5. Displasia Fibromuskular
Displasia fibromuskular adalah kondisi yang terjadi karena pertumbuhan sel abnormal di dinding arteri. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya penyempitan (stenosis) atau pelebaran (aneurisma) pembuluh darah arteri, terutama pembuluh darah arteri di otak dan ginjal.
Kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah gejala, mulai dari tekanan darah tinggi (hipertensi), kerusakan ginjal, transient ischemic attack (serangan iskemik transien), hingga gagal ginjal.
Secara umum, displasia fibromuskular adalah jenis displasia yang cenderung ringan dan berisiko lebih rendah untuk berkembang menjadi kanker. Kendati demikian, penting untuk tetap mewaspadai kondisi ini karena berpotensi menyebabkan sejumlah komplikasi, seperti stroke dan diseksi aorta.
Cara Menangani Displasia
Pada dasarnya, displasia adalah kondisi yang perlu ditangani sesuai dengan jenis dan gejala yang menyertainya. Namun, sejumlah tindakan medis yang umum dilakukan untuk menangani displasia adalah sebagai berikut.
-
Displasia serviks: Tindakan operasi laser untuk menghilangkan dan menghancurkan sel atau jaringan abnormal, loop electrosurgical excision (LEEP), dan cryocauterization.
-
Sindrom mielodisplasia: Transfusi darah dan faktor pertumbuhan sel darah atau transplantasi sel induk (stem cell transplantation).
-
Displasia fibrosa: Penggunaan obat-obatan untuk membantu meringankan nyeri tulang dan meminimalkan risiko pengeroposan tulang. Selain itu, displasia fibrosa juga dapat ditangani dengan tindakan pembedahan.
Dapat disimpulkan, displasia adalah kondisi yang harus segera mendapatkan penanganan yang tepat guna mencegah sel abnormal tersebut berkembang menjadi kanker. Bila memiliki keluhan seperti ulasan di atas, sebaiknya segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat di kota Anda untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat dari dokter kami.
Praktis, Anda dapat mencari informasi jadwal praktik dokter dan membuat appointment dengan dokter melalui fitur Cari Dokter atau menggunakan aplikasi MySiloam. Aplikasi tersebut dapat diunduh melalui App Store atau Play Store. Download MySiloam sekarang dan nikmati kemudahan akses layanan kesehatan Anda #BersamaSiloam!




