Kesehatan Tubuh
Disfagia Pasca Stroke, Kenali Gejala dan Cara Penanganannya

Table of Contents
Stroke dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk kemampuan untuk makan dan minum dengan nyaman. Pada sebagian pasien, proses menelan menjadi lebih sulit setelah serangan stroke. Kondisi ini dikenal sebagai disfagia pasca stroke.
Namun, dengan penanganan yang tepat, kemampuan menelan pada banyak pasien dapat membaik seiring proses pemulihan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali penyebab, gejala, diagnosis, dan pengobatan disfagia pasca stroke sejak dini dalam artikel berikut.
Mengapa Bisa Terjadi Disfagia Pasca Stroke?
Setelah mengalami stroke, banyak pasien menghadapi berbagai perubahan fungsi tubuh. Disfagia, yang berarti kondisi sulit menelan, termasuk salah satu gangguan yang cukup sering dialami setelah stroke. Penelitian berjudul Post-stroke Dysphagia: Identifying the Evidence Missing (2025) menunjukkan bahwa sekitar 50–80% pasien stroke mengalami kesulitan menelan, terutama pada fase awal setelah serangan.
Disfagia dapat terjadi ketika stroke merusak bagian otak yang mengatur koordinasi menelan. Padahal, menelan merupakan proses yang cukup kompleks karena melibatkan kerja sama antara otak, saraf, otot di mulut, tenggorokan, dan kerongkongan. Ketika salah satu bagian sistem ini terganggu akibat stroke, kemampuan menelan pun dapat ikut menurun.
Secara garis besar, proses menelan berlangsung melalui beberapa tahapan berikut:
-
Tahap di mulut (oral): Pada tahap ini, makanan dikunyah di dalam mulut hingga cukup halus, lalu didorong oleh lidah dan diarahkan menuju tenggorokan. Jika mengalami gangguan, makanan bisa tetap berada di mulut dan sulit ditelan.
-
Tahap di faring: Makanan bergerak melalui faring, sementara saluran napas menutup agar makanan tidak masuk ke paru-paru. Jika tahap ini terganggu, pasien berisiko tersedak atau mengalami aspirasi, yaitu makanan masuk ke saluran pernapasan.
-
Tahap di kerongkongan: Makanan didorong melalui kerongkongan menuju lambung dengan bantuan otot peristaltik. Gangguan di tahap ini bisa membuat makanan tersangkut di kerongkongan atau menyebabkan rasa tidak nyaman saat menelan.
Selain itu kelemahan otot wajah, gangguan koordinasi tangan saat makan dan kesulitan menjaga posisi duduk tegak juga dapat membuat proses menelan menjadi lebih sulit. Bahkan dapat meningkatkan risiko makanan masuk ke saluran pernapasan.
Faktor Risiko Disfagia Pasca Stroke
Tidak semua pasien stroke mengalami disfagia. Namun, terdapat faktor-faktor tertentu yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya disfagia pasca stroke. Beberapa di antaranya adalah:
1. Hipertensi
Hipertensi merupakan salah satu faktor utama yang berkaitan dengan stroke, terutama stroke perdarahan (hemorrhagic stroke). Jenis stroke ini sering menimbulkan kerusakan jaringan otak yang lebih luas sehingga risiko gangguan menelan setelah stroke menjadi lebih tinggi.
2. Riwayat Stroke Sebelumnya
Pasien yang pernah mengalami stroke sebelumnya memiliki kemungkinan mengalami stroke dengan tingkat keparahan lebih tinggi. Kerusakan otak yang berulang dapat memperburuk gangguan fungsi saraf, termasuk saraf yang berperan dalam proses menelan.
3. Atrial Fibrilasi
Atrial fibrilasi atau gangguan irama jantung dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah yang dapat memicu stroke. Stroke yang dipicu oleh kondisi ini sering kali lebih berat dan dapat meningkatkan risiko terjadinya disfagia setelahnya.
4. Usia Lanjut
Seiring bertambahnya usia, kemampuan otot dan fungsi saraf cenderung menurun. Pada pasien stroke usia lanjut, pemulihan fungsi menelan biasanya berlangsung lebih lambat sehingga risiko disfagia menjadi lebih besar. Selain itu, kondisi kesehatan yang sering menyertai pada usia lanjut, seperti penyakit jantung, diabetes, atau penurunan kekuatan otot, juga dapat memengaruhi proses pemulihan fungsi menelan.
5. Tingkat Keparahan Stroke
Semakin berat stroke yang dialami, semakin besar pula kemungkinan kerusakan pada area otak yang mengatur koordinasi menelan. Oleh karena itu, pasien dengan stroke berat memiliki risiko disfagia yang lebih tinggi dibandingkan pasien dengan stroke ringan.
Gejala Disfagia Pasca Stroke
Gejala disfagia pasca stroke dapat muncul dalam berbagai bentuk dan tidak selalu mudah dikenali. Pada sebagian pasien, keluhan terlihat jelas saat makan atau minum. Namun, pada kondisi lain, tanda-tandanya muncul secara bertahap sehingga sering dianggap sebagai masalah biasa.
Beberapa tanda yang dapat mengindikasi adanya gangguan menelan, antara lain:
-
Kesulitan mengunyah, makanan sulit dikontrol di dalam mulut, atau makanan tersisa setelah makan.
-
Batuk atau tersedak saat menelan, rasa tidak nyaman ketika makanan atau minuman melewati tenggorokan, makanan masuk ke saluran napas (aspirasi).
-
Makanan seperti tersangkut di dada atau tenggorokan dan sensasi tidak tuntas setelah menelan.
-
Suara menjadi serak atau terdengar basah setelah makan dan minum.
-
Makan menjadi lebih lama, nafsu makan menurun
Apabila kondisi ini berlangsung terus-menerus, pasien dapat mengalami penurunan berat badan, kekurangan nutrisi, dehidrasi, hingga meningkatkan risiko infeksi paru, seperti pneumonia, akibat makanan atau cairan yang masuk ke saluran pernapasan.
Diagnosis Disfagia Pasca Stroke
Diagnosis disfagia pasca stroke dilakukan sedini mungkin setelah pasien mengalami serangan stroke. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan menelan pasien dan memastikan proses makan dan minum dapat dilakukan dengan aman dan normal.
Pada tahap awal, biasanya dilakukan skrining kemampuan menelan di tempat tidur pasien saat dirawat di rumah sakit. Salah satu metode sederhana yang sering digunakan adalah tes menelan air. Dokter akan memperhatikan respons pasien saat menelan, misalnya apakah muncul batuk, tersedak, atau kesulitan menelan cairan.
Pada beberapa kasus, penilaian juga dilakukan dengan memberikan makanan atau minuman dengan tekstur yang berbeda untuk melihat kemampuan menelan secara lebih menyeluruh. Hasil pemeriksaan ini membantu tenaga medis memahami pola gangguan menelan yang dialami pasien.
Pengobatan Disfagia Pasca Stroke
Pengobatan disfagia pasca stroke bertujuan membantu pasien menelan dengan lebih nyaman sekaligus menjaga kecukupan nutrisi dan cairan tubuh. Jenis terapi yang diberikan biasanya disesuaikan dengan kondisi pasien serta tingkat gangguan menelan yang dialami. Beberapa di antaranya mencakup:
1. Penyesuaian Cara Makan dan Minum
Langkah awal yang sering dilakukan adalah menyesuaikan pola makan agar proses menelan lebih aman. Beberapa perubahan yang dapat dilakukan antara lain:
-
Mengubah tekstur makanan menjadi lebih lembut atau dihaluskan.
-
Mengentalkan minuman agar lebih mudah dikendalikan saat ditelan. Cairan yang terlalu encer lebih sulit dikendalikan sehingga lebih mudah masuk ke saluran napas dan meningkatkan risiko aspirasi.
Beberapa tipe kekentalan berdasarkan standar International Dysphagia Diet Standardisation Initiative (IDDSI) yang dipakai secara internasional adalah:
-
Nectar-thick (kekentalan seperti nektar jus), yaitu cairan sedikit lebih kental daripada air, tetapi masih mudah diminum dengan sedotan atau langsung dari gelas. Contohnya seperti jus buah yang agak kental.
-
Honey-thick (kekentalan seperti madu). Cairan lebih kental dan mengalir lebih lambat. Biasanya diminum langsung dari sendok atau gelas tanpa sedotan.
-
Pudding-thick/spoon-thick (kekentalan seperti puding). Cairan sangat kental, hampir seperti bubur atau puding. Biasanya harus dimakan dengan sendok.
-
Mengonsumsi makanan dalam porsi kecil dengan frekuensi lebih sering.
-
Menyesuaikan suhu makanan agar tidak terlalu panas atau terlalu dingin sehingga lebih nyaman saat ditelan.
-
Menjaga posisi duduk tetap tegak saat makan untuk membantu proses menelan.
2. Terapi Menelan
Pasien stroke dengan disfagia biasanya dirujuk ke terapi wicara atau terapi menelan untuk memperbaiki fungsi menelan sekaligus melindungi saluran napas dari masuknya makanan atau minuman. Terapis akan melakukan penilaian terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana proses menelan yang mengalami gangguan. Terapi yang diberikan dapat berupa:
-
Latihan menelan untuk meningkatkan koordinasi otot.
-
Teknik tertentu saat menelan, seperti mengatur posisi kepala atau dagu.
-
Latihan penguatan otot mulut, lidah, dan tenggorokan.
3. Terapi Stimulasi Otot
Pada beberapa kasus, pasien dapat menjalani terapi tambahan, seperti neuromuscular electrical stimulation (NMES). Terapi ini dilakukan menggunakan arus listrik ringan yang diberikan melalui elektroda pada kulit untuk merangsang saraf dan otot yang terlibat dalam proses menelan. Tujuannya adalah membantu memperkuat otot serta memperbaiki koordinasi menelan.
4. Pemberian Nutrisi Melalui Selang Makan
Jika pasien tidak dapat menelan dengan aman atau asupan nutrisi tidak mencukupi, dokter dapat menyarankan pemberian makanan melalui selang makan. Cara ini dilakukan untuk membantu memastikan pasien tetap mendapatkan cairan dan nutrisi yang cukup selama proses pemulihan. Beberapa jenis selang yang sering digunakan antara lain:
-
Nasogastric tube (NGT), yaitu selang yang dimasukkan melalui hidung menuju lambung dan biasanya digunakan sementara.
-
Percutaneous endoscopic gastrostomy (PEG), yaitu selang yang dipasang langsung ke lambung melalui dinding perut untuk penggunaan jangka lebih lama. Akses ini dibuat hanya bila metode lain seperti NGT, terapi menelan, dan modifikasi diet tidak berhasil.
Demikian pembahasan mengenai disfagia pasca stroke, mulai dari penyebab, faktor risiko, gejala yang perlu dikenali, hingga cara diagnosis dan penanganannya. Namun, perlu dipahami bahwa informasi ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun rekomendasi medis langsung dari dokter.
Jika Anda atau anggota keluarga pernah mengalami stroke dan memiliki kesulitan menelan, sering tersedak saat makan atau minum, batuk saat menelan, atau merasa makanan seperti tertahan di tenggorokan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi (Otak dan Saraf) di Siloam Hospitals terdekat.
Penanganan yang tepat dapat membantu memastikan pasien tetap mendapatkan asupan nutrisi yang cukup sekaligus mengurangi risiko komplikasi. Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kemampuan menelan pasien dan menentukan pendekatan terapi yang sesuai, seperti terapi menelan, penyesuaian pola makan, maupun penanganan medis lainnya sesuai kondisi pasien.
Untuk mempermudah akses layanan kesehatan, Anda dapat menggunakan aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda dapat melihat jadwal praktik dokter, membuat janji konsultasi, serta mengakses hasil pemeriksaan medis secara online. Unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
American Stroke Association. Trouble Swallowing After Stroke (Dysphagia). Diakses pada 2026 | American Stroke Association. Let’s Talk About Post-Stroke Dysphagia. Diakses pada 2026 | Frontiers. Prevalence, Risk Factors, and Outcomes of Dysphagia After Stroke: A Systematic Review and Meta-Analysis. Diakses pada 2026 | Frontiers. Post-Stroke Dysphagia: Identifying The Evidence Missing. Diakses pada 2026 | Stroke Association. Swallowing Problems. Diakses pada 2026 | ScienceDirect. The assessment of Dysphagia After Stroke: State of The Art and Future Directions. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini






