Kesehatan Tubuh
Gejala Psikotik pada Parkinson, Halusinasi hingga Waham

Table of Contents
Psikotik merupakan gejala nonmotorik yang sering ditemukan pada penyakit Parkinson. Gejala ini dapat semakin parah seiring dengan perkembangan penyakit serta prognosis yang buruk. Namun, gejala psikotik pada Parkinson relatif memiliki pola berbeda dengan gangguan psikotik lainnya, seperti skizofrenia.
Gejala psikotik menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan penyakit Parkinson. Gejala ini tidak hanya sebatas halusinasi visual yang jelas, tetapi dapat muncul dalam berbagai bentuk. Pahami lebih lanjut mengenai gejala psikotik yang terjadi pada penderita penyakit Parkinson di bawah ini.
Mengenal Gejala Psikotik pada Parkinson
Dalam konteks medis, istilah psikotik digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang mengalami gangguan dalam mempersepsikan realitas, seperti melihat, mendengar, atau meyakini sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Gejala psikosik pada Parkinson atau Parkinson’s disease psychosis (PDP) merupakan komplikasi yang cukup sering ditemukan. Manifestasi sangat beragam tergantung pada derajat keparahan.
Gejala psikotik pada penyakit Parkinson dapat berupa macam-macam halusinasi, seperti:
-
Halusinasi kehadiran, yaitu perasaan seolah ada orang lain di sekitar meskipun tidak terlihat secara nyata.
-
Halusinasi visual yang kompleks, seperti melihat manusia, hewan, atau benda dengan bentuk yang jelas.
-
Halusinasi indra lain, misalnya mendengar suara, merasakan sentuhan, mencium bau, atau merasakan rasa tertentu yang biasanya dapat terjadi bersamaan dengan halusinasi visual.
-
Paranoid (pikiran curiga berlebihan), seperti mencurigai pasangan, anggota keluarga, atau teman, tanpa alasan jelas.
Gejala psikotik biasanya muncul secara bertahap seiring dengan perkembangan penyakit. Pada tahap awal, penderita mungkin menyadari bahwa apa yang dialami tidak nyata. Namun, seiring progresivitas penyakit, kemampuan ini dapat menurun pada kondisi yang lebih berat, dapat muncul waham, yaitu keyakinan yang salah namun sulit dikoreksi meski tidak sesuai kenyataan.
Menurut studi dalam Journal of Neuroscience and Neurological Disorders (2023), halusinasi visual merupakan gejala yang paling sering terjadi, sekitar 65–75% penderita penyakit Parkinson pernah mengalaminya. Selain itu, risiko terjadinya gejala psikotik juga dapat meningkat seiring lamanya seseorang mengalami kondisi Parkinson, yaitu sekitar 50% setelah 15 tahun dan 70% setelah 20 tahun.
Apa yang Menyebabkan Munculnya Gejala Psikotik pada Parkinson?
Selama bertahun-tahun, psikotik pada penyakit Parkinson dianggap sebagai efek samping dari obat dopaminergik yang digunakan untuk mengatasi gejala motorik. Namun, penemuan terbaru menunjukkan bahwa obat bukanlah satu-satunya penyebabnya.
Pada sebagian pasien, psikotik dapat muncul akibat konsekuensi dari penyakit Parkinson, termasuk gangguan pada cara otak memproses informasi visual dan perubahan pola tidur. Selain itu, ketidakseimbangan zat kimia otak seperti dopamin, serotonin, dan asetilkolin juga turut berperan dalam munculnya gejala psikotik.
Sebagai contoh, dopamin berperan penting dalam mengatur gerakan tubuh. Pada penderita penyakit Parkinson, kadar dopamin biasanya lebih rendah dari normal sehingga gerakan menjadi kaku dan melambat. Perubahan keseimbangan zat kimia ini juga bisa memengaruhi cara otak memproses kenyataan sehingga memicu gejala psikotik.
Di sisi lain, obat untuk penyakit Parkinson bekerja dengan cara meningkatkan kadar dopamin untuk memperbaiki kemampuan bergerak. Namun, peningkatan dopamin ini pada sebagian orang dapat menyebabkan halusinasi, dan pada kasus yang lebih jarang, dapat berkembang menjadi psikotik.
Bagaimana Cara Mendiagnosis Gejala Psikotik pada Parkinson?
Dilansir dari studi berjudul Low continuation of antipsychotic therapy in Parkinson disease - intolerance, ineffectiveness, or inertia? (2021), gejala PDP memiliki ciri yang berbeda dengan gangguan psikotik lain. Penting untuk dipahami bahwa kondisi ini tidak sama dengan penyakit skizofrenia atau gangguan suasana hati yang disertai psikotik.
Untuk membantu menilai gejala, kriteria dalam pedoman NINDS dan DSM-5 sering digunakan. Namun, perlu diketahui hingga saat ini belum terdapat satu metode diagnosis tunggal yang dapat menggambarkan seluruh spektrum psikosis pada Parkinson. Oleh karena itu, penilaian biasanya dilakukan secara individual dengan mempertimbangkan riwayat penyakit, obat yang digunakan, serta kondisi mental pasien secara keseluruhan.
Bagaimana Penanganan Gejala Psikotik pada Parkinson?
Penanganan gejala psikotik pada penyakit Parkinson sebaiknya dilakukan secara bertahap, dimulai dengan menyesuaikan pengobatan Parkinson, serta evaluasi kemungkinan penyebab lain yang dapat memperburuk gejala.
Apabila gejala psikotik menetap atau semakin berat, dokter dapat mempertimbangkan pemberian obat tertentu untuk mengendalikan gejala, yaitu:
-
Obat antipsikotik tertentu, yang bekerja dengan memengaruhi keseimbangan zat kimia di otak dan relatif aman bagi penderita Parkinson.
-
Obat yang bekerja melalui sistem serotonin, yang dapat membantu mengurangi halusinasi tanpa banyak memengaruhi kemampuan bergerak.
-
Obat pendukung lainnya, seperti obat yang membantu memperbaiki kualitas tidur atau mengendalikan gejala perilaku tertentu, sesuai dengan kebutuhan klinis pasien. Contohnya ansiolitik (anticemas) dan antidepresan.
Tidak semua penderita memerlukan pengobatan tambahan. Operasi untuk penyakit Parkinson juga dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan terapi. Tindakan ini bertujuan untuk memperbaiki gejala Parkinson sekaligus mengurangi efek samping pengobatan, termasuk yang berkaitan dengan gangguan mental.
Itulah penjelasan mengenai psikotik pada Parkinson yang perlu Anda ketahui. Namun, perlu diingat bahwa informasi di atas hanya bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan diagnosis yang akurat secara medis. Oleh sebab itu, bila Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada PDP, seperti halusinasi berkepanjangan, jangan ragu berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi (Otak dan Saraf) di Siloam Hospitals terdekat.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Anda juga dapat menggunakan aplikasi MySiloam untuk membuat janji temu dengan dokter terkait serta memeriksa riwayat kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
WebMD. Parkinson’s Disease and Hallucinations. Diakses pada 2026 | Healthline. Parkinson’s Psychosis: Understanding the Symptoms and Getting Treatment. Diakses pada 2026 | HSPI. Psychosis in Parkinson’s Disease and Current Management Trends- An Updated Review of Literature. Diakses pada 2026 | BMC Neurology. Low continuation of antipsychotic therapy in Parkinson disease - intolerance, ineffectiveness, or inertia?. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Skrining Kesehatan Otak Basic
Skrining Pria & Wanita
14 Service/Item
Rp1.500.000
Skrining Kesehatan Otak Advanced
Skrining Pria & Wanita
16 Service/Item
Rp4.100.000
Skrining Kesehatan Otak
2 Service/Item
Rp3.000.000
TERPOPULER
CT Head Non-CNTRS / CT Scan Kepala
CT Scan
Rp1.664.000
TERPOPULER
MRI Head Non-CNTRS / MRI Kepala
MRI / MRA
Rp2.870.000






