Kesehatan Tubuh
Mengenal Prosedur Endovascular Coiling untuk Aneurisma Otak

Table of Contents
Aneurisma otak adalah kondisi terbentuknya pembengkakan atau penonjolan pada dinding pembuluh darah di otak. Kondisi ini perlu mendapatkan penanganan dengan cepat guna mencegah komplikasi yang dapat mengancam nyawa serta meningkatkan peluang kesembuhannya.
Salah satu pilihan pengobatan aneurisma otak adalah endovascular coiling. Prosedur ini dinilai memiliki risiko infeksi yang lebih rendah dan proses pemulihannya pun lebih cepat. Mari ketahui lebih lanjut tentang prosedur endovascular coiling di sini.
Apa Itu Endovascular Coiling?
Endovascular coiling adalah prosedur yang dilakukan untuk mencegah aliran darah ke aneurisma dan mencegah terjadinya perdarahan masif serta kerusakan otak pada pasien akibat ruptur aneurisma. Prosedur ini pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 90-an.
Endovascular coiling juga disebut sebagai prosedur minimal invasif karena tidak memerlukan pembedahan terbuka pada tempurung kepala, melainkan hanya memerlukan sayatan kecil di paha. Prosedur ini dilakukan di dalam ruangan khusus yang dikenal sebagai cath lab.
Kapan Endovascular Coiling Dilakukan?
Endovascular coiling biasanya dilakukan pada pasien yang berisiko mengalami aneurisma otak pecah atau ruptur. Mengingat bahwa otak merupakan organ yang vital, dapat dipahami jika pasien merasa membutuhkan second opinion sebelum operasi aneurisma untuk mengevaluasi kembali rencana terapinya.
Namun, perlu diketahui bahwa semakin cepat prosedur dilakukan, maka semakin kecil pula risiko aneurisma otak pecah yang dapat mengancam nyawa. Karenanya, konsultasi second opinion sebaiknya dilakukan dalam jangka waktu yang aman, sesuai anjuran dokter.
Kelebihan Endovascular Coiling
Beberapa kelebihan dari prosedur endovascular coiling sebagai penanganan aneurisma otak adalah:
-
Minimal invasif.
-
Prognosis pada penderita lanjut usia lebih baik.
-
Prognosis pada kasus aneurisma pembuluh darah otak belakang lebih baik.
-
Pemulihan lebih cepat dibandingkan pembedahan terbuka untuk aneurisma.
-
Risiko gangguan fungsi kognitif dan kejang lebih rendah.
Persiapan Endovascular Coiling
Sebelum prosedur endovascular coiling, pasien biasanya akan menandatangani formulir persetujuan. Kemudian, pasien akan diarahkan untuk melakukan beberapa persiapan berikut:
-
Menginformasikan tim medis terkait riwayat alergi, obat-obatan yang dikonsumsi, dan riwayat gangguan penyakit.
-
Menjalani tes darah, terutama untuk mengetahui waktu pembekuan darah (clotting time) dan waktu perdarahan (bleeding time).
-
Berpuasa selama jangka waktu tertentu sebelum prosedur dilakukan, tergantung dari anjuran dokter.
-
Menghentikan sementara pemakaian obat pengencer darah bagi pasien yang memiliki riwayat penggunaan obat tersebut.
-
Pasien mungkin akan diminta untuk mengosongkan kandung kemih atau dipasangkan kateter urine sebelum prosedur dilakukan.
-
Tidak menutup kemungkinan akan dibutuhkan persiapan preoperatif lain, tergantung dari kondisi pasien.
Prosedur Endovascular Coiling
Meski termasuk dalam tindakan minimal invasif, namun endovascular coiling adalah prosedur yang terbilang rumit. Jadi, untuk mencegah timbulnya komplikasi selama prosedur berlangsung, dokter akan memberikan anestesi umum (bius total) agar pasien tertidur.
Pertama-tama, dokter akan membuat sayatan kecil pada paha pasien sebagai jalan masuknya kateter (tabung plastik berongga) ke dalam pembuluh darah di paha. Kateter tersebut kemudian diarahkan menuju pembuluh darah otak dengan bantuan fluoroskopi.
Ketika kateter sudah mencapai lokasi aneurisma otak, dokter akan memasukkan kawat coil ke dalamnya. Kawat ini akan terus didorong hingga membentuk lingkaran dan memenuhi kantong aneurisma. Ketika kantong aneurisma telah dipenuhi kawat coil, maka aliran darah tidak bisa mengalir ke dalam aneurisma. Alhasil, risiko pembesaran dan ruptur aneurisma bisa dicegah. Kawat coil tersebut akan ditinggalkan secara permanen di dalam kantong aneurisma.
Setelah Prosedur Endovascular Coiling
Setelah prosedur selesai dilakukan, pasien yang menjalani endovascular coiling akibat aneurisma otak akan dipindahkan ke ruang ICU atau unit perawatan intensif untuk dilakukan observasi. Biasanya, pasien akan diminta untuk berbaring telentang selama 1–2 hari setelah operasi.
Selama masa observasi, perawat akan mengawasi tanda-tanda vital pasien ataupun gejala-gejala lainnya. Pasien mungkin juga diberikan obat antinyeri untuk mengurangi ketidaknyamanan atau nyeri pascatindakan.
Apabila pasien sudah diperbolehkan pulang, maka perhatikan anjuran dokter mengenai langkah perawatan aneurisma otak di rumah. Dokter biasanya akan menentukan kapan pasien bisa kembali beraktivitas dengan normal sesuai dengan kondisinya.
Pasien diharapkan segera memberitahu dokter apabila selama masa pemulihan mengalami beberapa gejala, seperti:
-
Menggigil/demam.
-
Peningkatan rasa nyeri, kemerahan, bengkak, atau perdarahan pada area tempat masuknya kateter.
-
Kesemutan atau mati rasa.
-
Perubahan fungsi neurologis, seperti sakit kepala hebat hingga kehilangan kesadaran.
Risiko Efek Samping Endovascular Coiling
Salah satu risiko efek samping dari prosedur ini adalah munculnya reaksi alergi akibat pewarna yang disuntikkan supaya dapat dilihat dengan sinar-X. Itulah mengapa pasien yang memiliki alergi terhadap obat-obatan tertentu, pewarna kontras, atau yodium harus memberitahu tim medis sebelumnya.
Selain itu, orang yang mengonsumsi obat pengencer darah (antikoagulan), seperti aspirin, juga harus memberitahukan hal tersebut kepada tim medis sebelum prosedur dilakukan. Pasalnya, konsumsi obat-obatan itu perlu dihentikan sebelum pasien menjalani prosedur.
Karena melibatkan pembuluh darah serta aliran darah ke otak, terdapat risiko komplikasi yang melibatkan otak, seperti:
-
Hematoma (pembengkakan akibat kumpulan darah).
-
Perdarahan.
-
Penurunan kesadaran.
-
Penggumpalan darah.
-
Stroke iskemik.
-
Kelumpuhan sebagian tubuh.
-
Kesulitan berbicara (afasia).
-
Infeksi.
-
Pecahnya aneurisma yang sebelumnya tidak pecah.
Perlu diketahui bahwa tindakan ini hanya direkomendasikan oleh dokter ketika diagnosis telah ditegakkan. Dokter tentu akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien guna memastikan apakah pasien memenuhi syarat untuk menjalani tindakan ini.
Penanganan medis yang tepat bisa membantu meningkatkan kualitas hidup Anda. Karenanya, reputasi yang baik, rekam jejak unggul, dan layanan kesehatan berstandar internasional dapat menjadi bahan pertimbangan saat memilih rumah sakit saraf terbaik untuk berobat ataupun mencari second opinion.
Didukung fasilitas medis mutakhir dan dokter berpengalaman, tinjauan medis kedua guna memastikan kembali keakuratan diagnosis dan rencana terapi bisa dilakukan di dalam negeri. Apabila membutuhkan informasi lebih lanjut terkait penanganan aneurisma otak, Anda juga bisa mengunjungi Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat.
Perlu diketahui bahwa setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Akan tetapi, tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. I G A M Riantarini, Sp.N
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Subspesialis Epilepsi dan Neurofisiologi Klinis
Siloam Hospitals Denpasar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini






