Kesehatan Tubuh
Mengenal Operasi Disektomi, Tujuan dan Prosedurnya

Table of Contents
Operasi disektomi (discectomy) adalah salah satu jenis operasi tulang belakang yang biasanya digunakan untuk mengatasi saraf terjepit (diskus hernia). Dalam operasi ini, dokter dapat melakukan pengangkatan sebagian atau seluruh bagian cakram tulang belakang. Apabila ingin memahami lebih lanjut tentang operasi disektomi, Anda bisa menyimak artikel berikut ini.
Apa itu Operasi Disektomi?
Seperti yang sudah dijelaskan, operasi disektomi adalah prosedur pembedahan untuk mengangkat sebagian atau seluruh diskus intervertebralis atau cakram tulang belakang. Diskus intervertebralis adalah bantalan bulat pipih yang berada di antara vertebra (tulang belakang) dan berfungsi sebagai peredam guncangan (shock breaker) tulang belakang saat tubuh melakukan gerakan, serta mendistribusikan berat badan tubuh saat berdiri dan berjalan.
Hernia diskus (saraf terjepit) adalah alasan utama seseorang menjalani disektomi. Kondisi ini terjadi ketika sebagian atau seluruh nukleus keluar melalui robekan di annulus, sehingga memicu tekanan pada saraf sumsum tulang belakang atau saraf terdekat. Akibatnya, timbul rasa nyeri menjalar, peradangan, bahkan mati rasa.
Tujuan Operasi Disektomi
Sebenarnya, tidak semua kondisi hernia diskus memerlukan operasi disektomi. Pada sebagian kasus, kondisi tersebut dapat diobati dengan fisioterapi (terapi fisik). Prosedur disektomi biasanya direkomendasikan jika pasien masih merasakan nyeri selama lebih dari 3 bulan dan pengobatan sebelumnya tidak efektif.
Selain itu, dokter biasanya juga merekomendasikan pasien menjalani prosedur disektomi apabila:
-
Mengalami kelemahan saraf yang menyebabkan kesulitan berdiri atau berjalan.
-
Pengobatan konservatif, seperti fisioterapi atau injeksi steroid, tidak dapat mengatasi gejala setelah 6–12 minggu.
-
Nyeri menjalar ke bokong, tungkai, lengan, atau dada dan terlalu berat bila hanya ditangani dengan obat-obatan.
-
Sindrom cauda equina.
Kontraindikasi Operasi Disektomi
Pada dasarnya, disektomi adalah prosedur pembedahan yang aman dilakukan. Namun, pada beberapa kasus, prosedur ini tidak disarankan. Adapun beberapa kondisi yang membuat pasien tidak dapat menjalani operasi disektomi, di antaranya sebagai berikut:
-
Hernia nukleus pulposus yang terjadi di beberapa ruas tulang belakang.
-
Osteomielitis pada tulang belakang.
-
Stenosis lumbar (penyempitan di ruas tulang belakang bagian bawah) pada lansia.
-
Instabilitas tulang belakang.
-
Tumor yang sudah mencapai lapisan dura.
-
Terdapat gangguan neurologis atau vaskuler yang mirip dengan herniasi diskus.
Sebelum Operasi Disektomi
Sebelum menjalani prosedur disektomi, dokter akan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin terlebih dahulu, baik pemeriksaan dari dokter umum maupun dokter spesialis yang menangani pasien, misalnya pemeriksaan darah lengkap dan EKG (rekam jantung). Selain itu, dokter juga akan:
-
Meminta pasien menghentikan kebiasaan merokok sejak beberapa bulan sebelum operasi. Bila tidak dihentikan, gaya hidup ini dapat meningkatkan risiko infeksi atau terhambatnya proses penyembuhan luka pascaoperasi tulang belakang.
-
Menyiapkan transfusi darah guna mengantisipasi terjadinya perdarahan masif.
-
Meminta pasien menghentikan penggunaan obat-obatan tertentu, misalnya aspirin, karena berpotensi menghambat kerja obat anestesi dan meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.
Kemudian, satu hari sebelum operasi, pasien akan diminta menjalani rawat inap agar dokter bisa melakukan evaluasi terhadap kondisi pasien serta mempersiapkan segala keperluan prosedur ini. Selain itu, dokter anestesi biasanya juga turut memeriksa kondisi kesehatan pasien untuk menentukan jenis obat bius yang cocok digunakan.
Prosedur Disektomi
Dokter biasanya menggunakan anestesi umum selama prosedur disektomi berlangsung agar pasien tidak terbangun hingga prosedur selesai dilakukan. Bila anestesi sudah bekerja dan pasien tertidur sepenuhnya, dokter akan memulai tindakan. Pertama-tama, dokter akan membuat sayatan kecil di punggung pasien, tepat di area cakram yang bermasalah.
Kemudian, dokter akan mengangkat cakram yang menekan saraf, biasanya disertai sejumlah kecil tulang dan ligamen tulang belakang untuk mencapai cakram yang mengalami hernia. Terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan guna mengangkat cakram yang cedera, di antaranya:
-
Open discectomy: Dokter membuat sayatan yang besar dan menggerakkan otot punggung ke samping sehingga bisa melihat area tersebut secara langsung dan melakukan operasi.
-
Minimally invasive surgery (MIS) discectomy: Dokter akan menggunakan tabung kecil untuk memasukkan jarum tipis ke dalam kulit guna menemukan vertebra dan diskus yang bermasalah, kemudian membuat sayatan kecil dan mengeluarkan diskus yang menyebabkan rasa nyeri.
-
Anterior cervical discectomy and fusion (ACDF): Pembedahan ini dilakukan untuk mengatasi masalah pada tulang belakang leher. Dokter akan mengangkat diskus yang rusak melalui bagian depan leher, dilanjutkan dengan tindakan fusi (penggabungan) tulang belakang. Fusi melibatkan penempatan cangkok tulang di tempat diskus semula. Hal ini memberikan stabilitas dan kekuatan untuk leher.
Pada prosedur disektomi, dokter dapat mengangkat sebagian atau seluruh cakram tulang belakang, tergantung dari tingkat kerusakannya. Umumnya, prosedur ini memakan waktu selama 1–2 jam. Lamanya waktu operasi bisa berbeda-beda, tergantung dari jenis disektomi yang dilakukan.
Pascaoperasi Disektomi
Setelah prosedur disektomi selesai dilakukan, pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan. Kemudian, dokter dan tim perawat akan mengawasi kondisi pasien untuk melihat ada atau tidaknya komplikasi dari operasi maupun anestesi. Beberapa pasien mungkin diizinkan pulang dalam 24 jam setelah operasi, namun sebagian lainnya bisa saja memerlukan rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari.
Masa penyembuhan pascaoperasi tulang belakang, termasuk disektomi, pada setiap orang mungkin berbeda. Umumnya, pasien bisa kembali bekerja setelah 2–6 minggu. Namun, apabila pasien memiliki pekerjaan berat, misalnya mengangkat atau mengoperasikan alat berat, maka pasien disarankan untuk kembali bekerja setelah 6–8 minggu.
Selama masa pemulihan, pasien juga disarankan mengikuti program fisioterapi (terapi fisik) untuk mengembalikan kekuatan serta fleksibilitas otot-otot di sekitar tulang belakang.
Efek Samping Operasi Disektomi
Operasi disektomi bermanfaat untuk mengurangi gejala hernia diskus, seperti rasa nyeri yang menjalar ke kaki. Prosedur ini tergolong aman dilakukan dan jarang menimbulkan komplikasi serius. Namun, pada beberapa kasus, disektomi mungkin bisa menyebabkan:
-
Perdarahan.
-
Infeksi.
-
Kerusakan saraf.
-
Cairan tulang belakang yang bocor.
-
Cedera pada pembuluh darah atau saraf di dalam dan di sekitar tulang belakang.
-
Saraf terjepit berulang.
-
Nyeri pascaoperasi.
-
Inkontinensia urine atau tinja.
Bagi Anda yang baru menjalani operasi disektomi dan merasakan sejumlah gejala yang mengarah pada komplikasi di atas, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals agar mendapatkan penanganan yang tepat dari Dokter Spesialis Ortopedi (Tulang).
Anda juga dapat memesan paket Fisioterapi dari Siloam at Home yang praktis dan mudah karena dilayani langsung di rumah Anda sehingga Anda tidak perlu keluar rumah. Fisioterapi adalah tindakan rehabilitasi untuk menghindari atau meminimalkan keterbatasan fisik akibat cedera atau penyakit. Fisioterapi bisa dilakukan untuk semua kalangan usia, mulai dari bayi hingga lanjut usia.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Ambon
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
Dr. dr. Bagus Sasongko, SpBS, M.Kes, FN-TB, FINSS
Bedah Saraf
Spesialis Bedah Saraf
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Fisioterapi (1x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp399.000
TERPOPULER
Rontgen Tulang Belakang Bawah Dan Ekor/VERT. Lumbosacral AP + LAT
Rontgen / X-Ray
Rp509.000
CT Scan Tulang Belakang Bawah Dan Ekor/Lumbosacral (Non Kontras)
CT Scan, Tulang/ Ortopedi
Rp2.808.000
MRI Tulang Belakang Tengah/Punggung/Spine Thoracic (Non Kontras)
MRI / MRA
Rp2.870.000
TERPOPULER
1.5T MRI LUMBAL NON CONTRAST
MRI / MRA, Tulang/ Ortopedi
Rp2.870.000







