Kesehatan Tubuh
Stimulasi Saraf Vagus: Tujuan, Prosedur, dan Efek Sampingnya

Table of Contents
Stimulasi saraf vagus atau vagus nerve stimulation (VNS) adalah sebuah teknologi medis yang menggunakan alat implan untuk menstimulasi saraf vagus pada leher. Prosedur ini kerap disebut juga sebagai “alat pacu jantung untuk otak”. Lantas, siapa yang membutuhkan stimulasi saraf vagus? Adakah efek samping yang perlu diwaspadai? Mari simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa Itu Stimulasi Saraf Vagus?
Saraf vagus adalah saraf terpanjang dan paling kompleks di dalam tubuh manusia. Saraf ini merupakan bagian dari sistem saraf parasimpatik yang berperan untuk mengontrol berbagai fungsi tubuh, termasuk pernapasan, pencernaan, respons imun, dan detak jantung. Saraf vagus juga memiliki peran besar pada emosi dan kecemasan.
"Tindakan stimulasi saraf vagus adalah jenis neuromodulasi yang mengubah aktivitas saraf dari abnormal menjadi normal kembali. Tindakan ini dianjurkan pada pasien epilepsi, depresi, dan stroke yang tidak respon dengan pengobatan biasa."
Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, SpBS., F.NF., IFAANS.
Vagus nerve stimulation (VNS) atau stimulasi saraf vagus adalah jenis neuromodulasi, yaitu perawatan medis yang digunakan untuk mengubah aktivitas saraf. VNS melibatkan pemasangan alat yang mengirimkan energi listrik yang teratur dan ringan ke batang otak melalui saraf vagus di leher. Pada prosedur ini, tidak ada keterlibatan secara fisik pada otak dan pasien secara umum tidak dapat merasakan aliran energi listrik yang dihantarkan.
Setelah mencapai batang otak, muatan listrik akan disalurkan ke berbagai area di otak untuk mengubah cara kerja sel-sel otak. VNS adalah pengobatan yang dapat dipertimbangkan pada penderita epilepsi atau depresi yang resisten terhadap pengobatan atau ketika metode pengobatan lainnya telah gagal dalam mengatasi kondisi pasien. Bahkan, baru-baru ini, VNS juga telah disetujui sebagai alat bantu rehabilitasi untuk penderita stroke.
Tujuan Stimulasi Saraf Vagus
Seperti yang sudah dijelaskan, vagus nerve stimulation adalah terapi yang bisa dilakukan untuk mengatasi epilepsi, depresi, bahkan menjadi alat rehabilitasi bagi penderita stroke. Berikut uraian selengkapnya mengenai tujuan VNS.
A. Epilepsi
Beberapa penderita epilepsi tidak sepenuhnya merespons obat antiepilepsi sehingga stimulasi saraf vagus dapat menjadi pilihan untuk mengurangi frekuensi kejang. VNS disetujui untuk direkomendasikan pada penderita epilepsi yang sudah berusia di atas 4 tahun dan memiliki beberapa kondisi berikut ini:
-
Menderita epilepsi fokal. Pada epilepsi fokal, aktivitas otak yang menyebabkan kejang hanya terjadi pada satu area.
-
Mengalami kejang yang tidak terkontrol dengan baik melalui obat-obatan.
-
Menderita kejang umum (generalized seizure).
Namun, perlu dipahami bahwa VNS tidak dapat menyembuhkan epilepsi. Sebagian besar penderita epilepsi akan tetap mengalami kejang. Hanya saja, pemasangan VNS dapat membantu meringankan gejala dan membuat gejala tidak terlalu intens. Selain itu, masa pemulihan dari kejang juga akan lebih cepat berkat pemasangan VNS.
B. Depresi
Stimulasi saraf vagus juga dapat membantu mengobati penderita depresi yang tidak merespons perawatan lainnya, seperti obat-obatan, konseling, atau terapi elektrokonvulsif. VNS atau vagus nerve stimulation biasanya direkomendasikan pada penderita depresi yang:
-
Mengalami depresi yang berlangsung lama dan sulit diobati (resisten terhadap pengobatan).
-
Belum membaik setelah mencoba empat atau lebih jenis pengobatan, terapi elektrokonvulsif, atau keduanya.
-
Ingin melanjutkan pengobatan depresi standar yang dikombinasikan bersama dengan stimulasi saraf vagus.
C. Stroke
Pada orang yang baru pulih dari stroke, stimulasi saraf vagus direkomendasikan bila dikombinasikan dengan rehabilitasi. Stimulasi saraf vagus yang dikombinasikan dengan rehabilitasi dapat membantu penderita memulihkan fungsi ekstremitas setelah stroke iskemik.
Cara Kerja Stimulasi Saraf Vagus
Sebagai pengobatan depresi, stimulasi saraf vagus bekerja dengan mengubah tingkat neurotransmitter tertentu di otak yang berperan dalam mengatur suasana hati. Sedangkan, untuk mengendalikan kejang, stimulasi saraf vagus bekerja dengan cara:
-
Memperbaiki aliran darah ke area-area kritis di otak.
-
Mengubah aktivitas listrik di otak yang terganggu selama kejang.
-
Meningkatkan jumlah neurotransmitter, khususnya norepinefrin dan serotonin, di otak yang dapat mengendalikan perkembangan kejang.
Sementara itu, sebagai alat bantu rehabilitasi stroke, VNS dapat membantu merangsang area korteks motorik di otak yang mengontrol kemampuan tubuh untuk menggerakkan lengan dan tangan.
Sebelum Stimulasi Saraf Vagus
Sebelum operasi, dokter akan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik terlebih dahulu. Selain itu, dokter juga akan melakukan tes darah untuk memastikan bahwa pasien tidak memiliki masalah kesehatan yang berisiko menimbulkan kekhawatiran saat operasi.
Pembedahan untuk menanamkan perangkat dapat dilakukan sebagai prosedur rawat jalan. Namun, beberapa dokter bedah mungkin menyarankan pasien untuk menjalani rawat inap jika diperlukan observasi lebih lanjut. Selain itu, dokter juga akan memeriksa apakah terdapat kontraindikasi atau kondisi yang tidak memungkinkan untuk dilakukan VNS, seperti:
-
Memiliki satu saraf vagus.
-
Menerima bentuk stimulasi otak lainnya secara bersamaan.
-
Gangguan irama jantung (aritmia) atau kelainan jantung lainnya.
-
Disautonomia (fungsi sistem saraf otonom yang tidak normal).
-
Penyakit atau kelainan paru-paru (sesak napas berat dan lain-lain).
-
Tukak lambung berat.
-
Sinkop vasovagal (pingsan akibat gangguan saraf).
-
Suara serak yang sudah ada sebelumnya.
Prosedur Stimulasi Saraf Vagus
Prosedur pembedahan untuk menanamkan alat stimulasi saraf vagus sering kali dilakukan secara rawat jalan, di mana pasien bisa langsung pulang ke rumah di hari yang sama. Selama pembedahan, pasien akan dibuat dalam kondisi tertidur melalui anestesi umum.
Pembedahan tersebut tidak melibatkan otak. Dokter akan membuat dua sayatan (insisi), salah satunya di dada atau area ketiak, dan yang lainnya di sisi kiri leher. Kemudian, dokter menanamkan generator denyut nadi seukuran stopwatch di sisi kiri atas dada. Generator tersebut bekerja dengan daya baterai.
Lalu, generator tersebut dihubungkan dengan kabel utama yang diarahkan ke bawah kulit area dada hingga leher. Kemudian, kabel tersebut dipasangkan ke saraf vagus kiri melalui sayatan kedua. Setelah perangkat terpasang, dokter akan melakukan uji coba dengan menyalakan alat pada pengaturan terendah selama 30–90 detik untuk memastikan alat tersebut berhasil merangsang saraf vagus.
Tindakan ini biasanya memakan waktu 45–90 menit. Sementara itu, alat dan baterai tersebut bisa bertahan selama bertahun-tahun sebelum ditukar dengan alat baru. Alat ini juga bisa dilepas bila sudah tidak diperlukan.
Pascaprosedur Stimulasi Saraf Vagus
Siklus mati dan nyalanya perangkat akan diatur oleh dokter. Namun, pasien biasanya tetap diberikan magnet genggam yang dapat digesekkan ke perangkat untuk mengirimkan rangsangan ekstra ke otak bila kejang akan terjadi. Kemudian, saat digunakan di rumah untuk rehabilitasi stroke, pasien dapat menyalakan perangkat dengan menggesekkan magnet guna memulai stimulasi selama 30 menit.
Pasien juga disarankan untuk melakukan kontrol secara rutin guna memastikan perangkat tetap berada pada posisi yang benar di dada serta berfungsi dengan baik. Jika diperlukan, dokter juga dapat melakukan penyesuaian dalam program perangkat VNS.
Efek Samping Stimulasi Saraf Vagus
Penanaman stimulator saraf vagus aman bagi kebanyakan orang. Namun, hal ini memiliki beberapa risiko, baik dari operasi penanaman alat maupun setelah operasi. Komplikasi serius akibat pembedahan untuk stimulasi saraf vagus jarang terjadi. Tetapi, sama halnya dengan jenis operasi lain, pembedahan tersebut dapat menyebabkan sejumlah komplikasi, seperti:
-
Nyeri di area sayatan.
-
Infeksi.
-
Kesulitan menelan.
-
Kelumpuhan pita suara yang bisa bersifat sementara atau permanen.
Sementara itu, beberapa efek samping atau komplikasi yang bisa terjadi setelah prosedur pemasangan alat stimulasi saraf vagus, di antaranya:
-
Perubahan suara.
-
Suara serak.
-
Sakit tenggorokan.
-
Batuk.
-
Sakit kepala.
-
Sesak napas.
-
Kesulitan menelan.
-
Rasa kesemutan atau seperti tertusuk pada kulit.
-
Kesulitan tidur.
-
Memburuknya sleep apnea.
Bagi kebanyakan orang, efek samping tersebut dapat ditoleransi dan biasanya berkurang seiring berjalannya waktu. Namun, beberapa efek samping mungkin tetap ada selama pasien menggunakan stimulasi saraf vagus yang ditanamkan. Menyesuaikan impuls listrik dapat membantu meminimalkan efek samping ini. Namun, jika pasien tidak dapat mentolerir efek sampingnya, perangkat dapat dimatikan.
Itulah penjelasan mengenai stimulasi saraf vagus, mulai dari tujuan, prosedur, hingga efek samping. Prosedur ini bisa menjadi salah satu upaya yang efektif untuk membantu meringankan gejala kejang akibat epilepsi, depresi, dan sebagai alat rehabilitasi stroke.
Informasi ini disajikan sebagai edukasi kesehatan dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Bila Anda penderita epilepsi, depresi, maupun stroke dan mempertimbangkan untuk menggunakan alat stimulasi ini, Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat.
Penting diingat, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait stimulasi saraf vagus mungkin berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Untuk memperoleh pendapat medis yang komprehensif, Anda dapat menghubungi layanan Siloam Medical Concierge. Melalui layanan ini, Anda dapat memperoleh informasi jadwal dokter spesialis serta akses ke fasilitas dan teknologi medis terkini dengan standar pelayanan yang diakui secara global. Mari, ambil langkah perjalanan kesembuhan Anda, di sini, di Indonesia.
Sumber
Cleveland Clinic. Vagus Nerve Stimulation (VNS). Diakses pada 2026 | Mayo Clinic. Vagus Nerve Stimulation. Diakses pada 2026 | American Association of Neurological Surgeon. Vagus Nerve Stimulation. Diakses pada 2026 | Pubmed Central. Vagus Nerve Stimulation. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, SpBS
Bedah Saraf
Spesialis Bedah Saraf
Siloam Hospitals Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Ambon
Tersedia :
Tersedia hari ini






