Kesehatan Tubuh
Kelenjar Pituitari Bermasalah? Waspadai Tumor Hipofisis!

Table of Contents
Tumor hipofisis atau tumor pituitari adalah tumor yang berkembang di kelenjar pituitari, yaitu sebuah kelenjar kecil yang terletak di dasar otak. Tumor ini dapat bersifat jinak atau berupa metastasis (sel-sel kanker yang menyebar dari tempat kanker pertama kali muncul ke kelenjar pituitari).
Lalu, bagaimana prosedur untuk menangani tumor hipofisis? Apa saja risikonya? Untuk mengetahui informasi lebih lanjut seputar tumor hipofisis atau tumor pituitari, mari simak penjelasan Prof. Dr. dr. Julius July Sp.BS,K dan dr. Michael, Sp.THT-BKL dari Siloam Hospitals Lippo Village pada kanal Youtube Siloam Hospitals berikut ini.
Apa itu Tumor Hipofisis?
Kelenjar hipofisis atau kelenjar pituitari adalah kelenjar utama yang menghasilkan berbagai macam hormon dalam tubuh yang berperan penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh. Hormon-hormon tersebut seperti:
-
Hormon pertumbuhan, hormon stres, dan hormon tiroid.
-
Hormon pemicu produksi air susu.
-
Hormon pemicu pematangan dan fungsi seksual.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tumor hipofisis atau tumor pituitari adalah tumor yang terjadi pada kelenjar hipofisis atau pituitari. Menurut penelitian, dari sekitar 1000 kasus tumor hipofisis, hanya terdapat dua kasus yang ditemukan bersifat ganas (kanker).
Keganasan tersebut pun bukan berasal dari kelenjar pituitari itu sendiri, melainkan berasal dari organ lain dalam tubuh yang menyebar ke kelenjar pituitari (metastasis kanker). Satu kasus berasal dari paru-paru dan satu kasus lainnya berasal dari payudara.
Gejala Tumor Hipofisis
Gejala tumor hipofisis terbagi menjadi dua jenis, yaitu fungsional dan non-fungsional. Berikut penjelasannya:
-
Fungsional. Gejala yang terjadi akibat tumor yang memproduksi kelebihan hormon di dalam tubuh. Walaupun tumor masih berukuran kecil, tumor dapat dideteksi atau diketahui melalui gejala yang muncul.
-
Non-fungsional. Gejala yang muncul akibat adanya massa pada kelenjar pituitari. Gejala dapat tetap muncul walaupun massa atau tumor ini tidak menghasilkan hormon. Tumor terus bertumbuh dan semakin membesar, sehingga menekan saraf mata yang membuat munculnya gejala gangguan lapang pandang atau penglihatan menjadi terbatas, seperti melihat dalam koridor.
Diagnosis Tumor Hipofisis
Pada pasien yang mengalami gejala-gejala akibat tumor yang menghasilkan kelebihan hormon, misalnya orang yang badannya terlalu tinggi secara tidak normal, diagnosis tumor hipofisis dapat ditegakkan melalui serangkaian pemeriksaan.
Pertama, pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk menilai kadar hormon dalam tubuh. Jika hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kelainan, dapat dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan pencitraan medis, seperti MRI dengan kontras (merupakan pemeriksaan gold standard) atau CT scan (jika tidak terdapat sarana pemeriksaan MRI) untuk mendiagnosis tumor hipofisis.
Penanganan Tumor Hipofisis dengan EETS
Salah satu prosedur bedah yang umum digunakan untuk mencapai area tumor hipofisis dan kemudian melakukan penambalan ini adalah endoscopic endonasal transsphenoidal surgery (EETS).
Endoscopic endonasal transsphenoidal surgery (EETS) adalah prosedur bedah untuk menangani tumor hipofisis. Tahap pertama prosedur EETS yaitu membuka jalur di bagian rongga hidung menuju kelenjar hipofisis. Prosedur ini perlu dilakukan secara hati-hati karena tindakannya melibatkan rongga yang sangat kecil.
Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara dokter spesialis THT-BKL dan dokter spesialis bedah saraf untuk mensinkronkan tindakan agar alat yang digunakan tidak saling bertabrakan selama prosedur berlangsung di rongga yang berukuran sangat kecil.
Dokter spesialis THT-BKL akan membuka jalan dan mempersiapkan kondisi rongga hidung hingga bisa mencapai tumor. Kemudian, dokter spesialis bedah saraf akan membuka dasar sella turcica (struktur tulang yang melindungi kelenjar hipofisis atau pituitari) dan selaput otak untuk mengangkat tumor tersebut.
Selain pengangkatan tumor, dokter spesialis bedah saraf juga akan melakukan preservasi kelenjar hipofisis yang dibantu dengan teknologi pewarnaan ICG. Diharapkan dengan tumor yang telah diangkat, gejala atau keluhan pasien dapat teratasi dan kelenjar pituitari tetap dapat berfungsi dengan baik.
Perawatan Pascaoperasi EETS
Setelah menjalani tindakan operasi, pasien akan menjalani perawatan pascaoperasi. Pasien akan dirawat untuk memastikan tidak ada komplikasi pascaoperasi yang terjadi. Pada perawatan pascaoperasi, pasien akan dipasangkan tampon di dalam masing-masing rongga hidung. Kemudian, tampon akan dikeluarkan setelah 2x24 jam.
Pemasangan tampon bertujuan untuk menghentikan perdarahan yang mungkin terjadi di dalam rongga hidung dan menahan flap yang berfungsi sebagai penutup defek yang terbentuk akibat pengangkatan tumor.
Setelah tampon dikeluarkan, pasien biasanya akan diizinkan pulang untuk lanjut berobat jalan karena operasi ini biasanya tidak memerlukan perawatan yang lebih lama. Selanjutnya, pasien perlu melakukan kontrol ke dokter spesialis THT-BKL dan dokter spesialis bedah saraf.
Pasien perlu melakukan kontrol ke dokter spesialis THT-BKL untuk perawatan luka operasi. Hal ini dikarenakan dalam rongga hidung biasanya masih ada lendir dan bekas sisa-sisa perdarahan pascaoperasi, sehingga perlu dibersihkan oleh dokter. Dokter juga akan memastikan flap di area bekas operasi tetap berada pada posisinya yang sempurna. Luka operasi biasanya dapat sembuh dalam 3-4 minggu setelah operasi.
Kelebihan dan Kekurangan Prosedur EETS
Kelebihan prosedur EETS adalah luka yang dibuat lebih sedikit karena menggunakan koridor hidung dalam prosedur operasinya sehingga perawatan bagi pasien menjadi lebih singkat seperti berkisar 2–3 malam saja. Selain itu, pasien pun tidak memerlukan ruang khusus pascaoperasi dan bisa langsung diantarkan ke ruang perawatan biasa setelah operasi.
Prosedur EETS yang melibatkan tim dokter tentunya memiliki berbagai kelebihan lainnya, di antaranya seperti:
-
Pengangkatan tumor yang optimal.
-
Presisi tinggi.
-
Minim kerusakan pada kelenjar dan struktur di sekitarnya.
-
Operasi dapat berjalan lebih aman dan nyaman bagi pasien.
Di samping itu, terdapat beberapa kekurangan dari prosedur EETS, yaitu adanya sensasi pada hidung seperti sedang mengalami flu berat akibat pemasangan tampon. Walaupun demikian, nyeri yang ditimbulkan setelah operasi sangat minim karena persarafan di hidung untuk rasa nyeri juga minimal. Oleh karena itu, rasa nyeri yang ditimbulkan tidak seperti operasi pada umumnya yang membuka kulit yang dapat menimbulkan rasa lebih nyeri.
Penting untuk diketahui bahwa prosedur EETS hanya direkomendasikan bagi pasien setelah diagnosis dikonfirmasi. Dokter akan terlebih dahulu mendiskusikan dan mempertimbangkan dengan seluruh tim medis terkait kondisi pasien, untuk memastikan pasien telah memenuhi persyaratan dalam menjalani tindakan ini.
Karena itu, jika Anda mengalami gejala atau tanda yang mungkin mengindikasikan tumor hipofisis atau berencana menjalani prosedur EETS, segera konsultasikan hal tersebut dengan Dokter Spesialis THT-BKL dan Dokter Spesialis Bedah Saraf di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi tumor hipofisis dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Gunakan aplikasi MySiloam untuk memudahkan Anda dalam pencarian jadwal dokter, pembuatan janji temu bersama dokter yang terkait, dan pemantauan hasil pemeriksaan kesehatan secara online.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Agustinus Sony Yudianto, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ropi Affandi, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Emanuel Quadarusman, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini







