Sub-Spesialisasi dari Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
Infeksi Paru
Seluruh informasi pada halaman ini ditujukan sebagai referensi umum dan tidak membatasi cakupan layanan medis yang dapat diberikan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan kesesuaian keahlian dokter dengan kebutuhan medis Anda, konsultasikan dengan dokter terkait.
Dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis infeksi paru berfokus pada gangguan saluran pernapasan bagian bawah akibat infeksi patogen.
Subspesialis ini memiliki keahlian khusus dalam mendiagnosis dan menangani gangguan kesehatan pada sistem pernapasan bagian bawah, seperti paru-paru, bronkus, bronkiolus, dan alveolus yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, serta parasit.
Beberapa contoh penyakit yang menjadi ruang lingkup dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis infeksi paru adalah tuberkulosis paru, pneumonia, bronkitis, serta COVID-19.
Pada tahun 1904, William Welch, seorang dokter asal Amerika bersama dengan William Osler yang merupakan dokter berkebangsaan Kanada mendirikan National Association for the Study and Prevention of Tuberculosis yang menjadi induk organisasi dari American Thoracic Society.
Organisasi tersebut berperan penting dalam perkembangan keilmuan mengenai perawatan, pengobatan, serta pencegahan penyakit tuberkulosis. Setelah itu, perawatan, pengobatan, dan studi penyakit tuberkulosis mulai diakui sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri yang dikenal dengan phthisiology.
Pulmonologi adalah cabang ilmu kedokteran yang berkembang di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Perkembangan cabang ilmu ini dirintis oleh dokter-dokter Indonesia yang bergerak dalam penemuan dan pengobatan penyakit tuberkulosis. Pada sekitar tahun 1930-an, pemerintah Hindia Belanda memulai upaya pemberantasan penyakit tuberkulosis pulmonologi yang banyak ditemukan di Indonesia.
Keunggulan Subspesialisasi
Seorang dokter umum perlu mengambil spesialisasi pulmonologi terlebih dahulu selama kurang lebih 4 tahun. Setelah itu, dokter spesialis pulmonologi dapat memperoleh subspesialis infeksi paru dengan melanjutkan pelatihan tambahan selama 2 tahun dan akan mendapatkan gelar Sp.PKR, Subsp.IP.
Dokter subspesialis infeksi paru perlu memahami penggunaan alat-alat medis, prosedur pengobatan, hingga prediksi perkembangan penyakit (prognosis) yang terkait dengan infeksi saluran pernapasan bagian bawah.
Selama menangani pasien, dokter subspesialis infeksi paru dapat berkoordinasi dengan perawat, ahli patologi, dan terapis pernapasan untuk membuat rencana perawatan pasien secara berkelanjutan.
Subspesialis ini juga bisa bekerja sama dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah untuk menangani pasien. Pasalnya, beberapa kondisi pernapasan dan kardiovaskular dapat menunjukkan gejala yang sama, seperti sesak napas dan nyeri dada.
Penyakit dan Prosedur Medis
Beberapa penyakit yang dapat ditangani oleh dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialisasi infeksi paru, di antaranya:
-
Tuberkulosis paru.
-
Pneumonia.
-
Bronkitis.
-
Bronkiolitis.
-
COVID-19.
-
Batuk rejan.
-
Aspergilosis.
-
Bronkiektasis.
Beberapa prosedur medis yang termasuk ke dalam ruang lingkup dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis infeksi paru, yaitu:
-
Bronkoskopi.
-
Tes Tuberkulosis (TB).
-
Swab nasofaring.
-
Kultur swab tenggorokan.
Dokter Kami di
Temukan Dokter Terdekat
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Sardikin Giriputra, SpP(K)
Pulmonologi (Paru)
Subspesialis Infeksi Paru
Siloam Heart Hospital
Tersedia :
Sabtu, 16 Mei 2026




