Kesehatan Tubuh
Mengenal 10 Mitos dan Fakta Hepatitis B yang Perlu Diketahui

Table of Contents
- Beragam Mitos dan Fakta Hepatitis B
- 1. Fakta: Jenis Hepatitis Bukan Berdasarkan Urutan Keparahan
- 2. Fakta: Virus Hepatitis B Tidak Menyebar Lewat Makanan
- 3. Fakta: Tidak Semua Sakit Kuning Pasti Hepatitis B
- 4. Fakta: Tidak Selalu Menunjukkan Gejala
- 5. Fakta: Hepatitis B Bukan Penyakit Genetik
- 6. Fakta: Ibu Pengidap Hepatitis B Boleh Menyusui Bayinya
- 7. Fakta: Hepatitis B Tidak Hanya Menyerang Orang Dewasa
- 8. Fakta: Lakukan Pemeriksaan Laboratorium Meski Belum Muncul Gejala
- 9. Fakta: Tetap Aman Melakukan Transfusi Darah
- 10. Fakta: Orang Dewasa juga Dianjurkan untuk Vaksinasi
Hepatitis B adalah penyakit peradangan hati yang bisa terjadi secara akut maupun kronis. Salah satu fakta hepatitis B yang wajib diketahui adalah penyakit ini tidak menyebar melalui makanan, melainkan cairan tubuh seperti darah dan air liur. Mari simak beberapa fakta hepatitis B selengkapnya dalam ulasan di bawah ini.
Beragam Mitos dan Fakta Hepatitis B
Terdapat beberapa mitos dan fakta hepatitis B yang perlu diluruskan kepada masyarakat. Berikut penjelasannya.
1. Fakta: Jenis Hepatitis Bukan Berdasarkan Urutan Keparahan
Tak jarang, masyarakat beranggapan bahwa jenis hepatitis A–E dibedakan dari tingkat keparahannya. Padahal, hepatitis A, B, C, D, dan E mengacu pada nama virus penyebab hepatitis, bukan derajat keparahan penyakit.
Hepatitis A dan E umumnya bersifat akut, sehingga jarang menyebabkan komplikasi. Sedangkan hepatitis C dan B dapat menjadi kronis serta menyebabkan komplikasi sirosis atau kanker hati. Sementara itu, hepatitis D hanya dapat menginfeksi individu yang sudah terkena hepatitis B.
2. Fakta: Virus Hepatitis B Tidak Menyebar Lewat Makanan
Fakta hepatitis B yang kedua adalah virus ini tidak menyebar melalui makanan atau kontak biasa, melainkan melalui darah atau cairan tubuh dari penderita yang terinfeksi. Contohnya, penularan hepatitis B dapat terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman (kondom),gonta-ganti pasangan, hubungan sesama jenis, penggunaan jarum suntik secara bersama dan berulang, dan transfusi darah yang terkontaminasi virus.
Selain itu, ibu hamil juga dapat menularkan penyakit ini kepada bayinya selama proses melahirkan.
3. Fakta: Tidak Semua Sakit Kuning Pasti Hepatitis B
Gejala kuning yang dapat diamati pada mata atau kulit penderita hepatitis menandakan peningkatan kadar bilirubin (cairan empedu) di dalam tubuh penderita. Namun, bukan berarti semua penderita penyakit kuning mengalami hepatitis B.
Selain hepatitis, penyakit kuning juga bisa dikarenakan sirosis hati, kanker hati atau karena kelainan selain di hati, misalnya kelainan darah (anemia hemolitik), sumbatan saluran empedu (oleh batu, tumor, maupun jaringan parut), hingga gangguan transportasi cairan empedu yang bersifat genetik.
4. Fakta: Tidak Selalu Menunjukkan Gejala
Tidak semua penderita penyakit ini mengalami gejala, terutama hepatitis kronis. Jika ada, beberapa gejala yang biasanya timbul antara lain hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, urine berwarna gelap, demam, dan sejumlah gejala mirip flu, seperti lelah, nyeri otot atau tulang, dan nyeri kepala.
Namun, gejala-gejala tersebut tidak langsung terasa dan bahkan ada yang sama sekali tidak muncul. Karena itu, banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi dan baru terdiagnosis setelah terjadi komplikasi, seperti sirosis atau kanker hati.
Oleh sebab itu, sangat penting melakukan pemeriksaan atau skrining hepatitis B kronis sebagai bentuk deteksi dini, terutama bagi seseorang dengan kondisi:
- Hamil.
- Pasien yang akan operasi atau menjalani prosedur tertentu (misalnya kemoterapi, obat penekan sistem imun, dan cuci darah).
- Penderita HIV.
- Orang dengan pasangan atau orang tua yang diketahui terinfeksi hepatitis B.
- Penerima donor darah rutin.
- Belum mendapat vaksin hepatitis B.
- Lahir di negara endemis (termasuk Indonesia).
- Memiliki gangguan fungsi hati yang diketahui dari hasil pemeriksaan kesehatan.
- Memiliki riwayat berhubungan seksual tanpa pengaman (kondom) dan sering berganti pasangan seksual.
- Memiliki riwayat hubungan seksual sesama jenis.
5. Fakta: Hepatitis B Bukan Penyakit Genetik
Fakta hepatitis B selanjutnya adalah penyakit hepatitis B bukan termasuk penyakit genetik meskipun penularannya dapat terjadi dari ibu ke bayi yang dilahirkan (penularan dapat terjadi selama dalam kandungan maupun saat persalinan).
Maka dari itu, untuk mengurangi risiko penularan, setiap bayi yang lahir dari ibu penderita hepatitis B wajib mendapatkan suntikan imunoglobulin dan imunisasi hepatitis B dalam 12 jam pertama kelahiran.
Meski begitu, masih ada risiko penularan sebesar 10%. Karenanya, ibu hamil yang diketahui mengidap hepatitis B dengan jumlah virus tinggi pada trimester ketiga akan diberikan obat antivirus dengan tujuan mengurangi jumlah virus di dalam darah dan mengurangi risiko penularan ke janin.
6. Fakta: Ibu Pengidap Hepatitis B Boleh Menyusui Bayinya
ASI penderita hepatitis B memang berpotensi mengandung partikel virus hepatitis B. Akan tetapi, risiko penularan virus ke bayi yang mendapat ASI eksklusif dari ibu penderita hepatitis B dapat diminimalisasi dengan pemberian vaksin HBV saat lahir.
Dengan demikian, ibu pengidap penyakit ini tetap dianjurkan untuk memberi ASI pada bayinya. Namun, ibu dianjurkan menghentikan pemberian ASI apabila terdapat lecet atau perdarahan pada area puting payudara. Sebab, luka tersebut dapat mengandung cairan dengan virus hepatitis B sehingga dapat menularkan ke bayi.
7. Fakta: Hepatitis B Tidak Hanya Menyerang Orang Dewasa
Salah satu fakta Hepatitis B adalah penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Bila infeksi akut hepatitis B terjadi pada orang di atas usia 5 tahun, maka hanya 5–10% yang berisiko berlanjut menjadi hepatitis kronis.
Sementara itu, bila infeksi akut terjadi pada kelompok bayi, maka terdapat 90% kemungkinan kondisi ini berlanjut menjadi kronis. Hepatitis B kronis inilah yang berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi, seperti sirosis hati, kanker hati, dan gagal hati.
8. Fakta: Lakukan Pemeriksaan Laboratorium Meski Belum Muncul Gejala
Hepatitis B akut lebih sering menunjukkan gejala dibandingkan dengan hepatitis B kronis, walaupun terkadang tidak spesifik dan tampak seperti flu biasa. Pemeriksaan laboratorium sangat penting dilakukan agar pengobatan dapat dioptimalkan untuk mencegah komplikasi penyakit. Adapun pemeriksaan yang dianjurkan adalah:
- HbsAg dan anti Hbs.
- Fungsi hati (SGPT/ALT, SGOT/AST).
- Pemeriksaan lebih lanjut seperti HBV-DNA, HbeAg, anti-Hbe, penanda fungsi hati lainnya serta tumor marker, USG perut, Fibroscan, CT Scan abdomen 3 fase, biopsi hati, dan sebagainya mungkin diperlukan pada kasus hepatitis B kronis atas rekomendasi dokter.
9. Fakta: Tetap Aman Melakukan Transfusi Darah
Terdapat mitos bahwa transfusi darah dapat menularkan hepatitis B. Faktanya, hepatitis B memang bisa menular lewat transfusi darah yang telah terkontaminasi virus, namun setiap prosedur donor darah tentunya akan melalui proses skrining yang ketat terhadap risiko penyakit yang dapat ditularkan melalui darah.
Namun, perlu diketahui bahwa penderita hepatitis B tidak boleh mendonorkan darah karena meskipun mereka telah dinyatakan sembuh, tetap saja terdapat kemungkinan penularan virus ke penerima donor.
10. Fakta: Orang Dewasa juga Dianjurkan untuk Vaksinasi
Vaksin merupakan langkah efektif dalam pencegahan penyakit ini dan harus mulai diberikan saat bayi baru lahir. Namun, orang dewasa dari semua umur juga direkomendasikan untuk menerima vaksinasi. Pemberian vaksin hepatitis B sangat dianjurkan untuk mereka yang berisiko tinggi tertular penyakit ini, seperti:
- Orang yang memiliki lebih dari satu pasangan seksual.
- Orang yang menggunakan obat suntik atau berhubungan seks dengan pengguna obat suntik.
- Petugas kesehatan (paramedis) yang berisiko terpapar virus.
- Orang yang tinggal serumah dengan penderita.
- Penderita penyakit hati kronis karena sebab lain, misalnya alkohol.
- Penderita penyakit gagal ginjal kronis.
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Apabila Anda belum mendapatkan vaksinasi hepatitis B, Anda bisa mendapatkannya melalui paket medical check up Vaksinasi Hepatitis B Dewasa 1x dari Siloam Hospitals.
Jika Anda mengalami keluhan yang mengarah pada hepatitis, segera buat janji temu dengan dokter Siloam Hospitals terdekat melalui fitur Cari Dokter. Manfaatkan pula berbagai fitur kesehatan menarik dari aplikasi MySiloam. Mari unduh aplikasinya dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini







