Ibu dan Anak
Konjungtivitis pada Anak - Penyebab, Gejala, & Penanganannya

Table of Contents
Pink eye atau konjungtivitis adalah peradangan yang terjadi pada konjungtiva, yaitu selaput bening yang melapisi permukaan bola mata serta kelopak mata bagian dalam. Konjungtivitis adalah kondisi yang rentan dialami oleh bayi dan anak-anak. Lantas, apa penyebab konjungtivitis pada anak dan bagaimana cara mengatasinya? Mari temukan jawabannya dengan menyimak ulasan berikut ini.
Apa itu Konjungtivitis pada Anak?
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva mata yang ditandai dengan mata merah, gatal, dan berair. Bayi dan anak-anak sering kali mengalami konjungtivitis yang dapat membuatnya merasa tidak nyaman hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Jika tergolong ringan, konjungtivitis yang terjadi pada anak-anak dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, apabila konjungtivitis tersebut disebabkan oleh suatu reaksi alergi atau infeksi virus atau bakteri, maka hal ini dapat menimbulkan gejala yang parah sehingga diperlukan pengobatan yang tepat untuk menghindari risiko komplikasi.
Penyebab Konjungtivitis pada Anak
Berdasarkan penyebab yang mendasarinya, konjungtivitis pada anak dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu konjungtivitis vernalis, konjungtivitis infeksi, dan konjungtivitis neonatal.
1. Konjungtivitis Vernalis
Konjungtivitis vernalis adalah peradangan pada konjungtiva mata yang terjadi secara musiman, berulang (rekuren), dan bilateral (terjadi pada kedua mata). Kondisi ini biasanya terjadi karena mata terkena kontak langsung dengan alergen, seperti debu atau serbuk bunga. Hal ini menyebabkan tubuh merespons dengan memproduksi antibodi IgE yang merangsang pelepasan zat-zat inflamasi, termasuk histamin.
2. Konjungtivitis Infeksi
Patogen infeksi yang sering menyebabkan konjungtivitis adalah virus dan bakteri. Berikut masing-masing penjelasannya.
-
Konjungtivitis infeksi viral: Biasanya disebabkan oleh virus kelompok Adenovirus (penyebab batuk pilek), Varicella zoster (penyebab cacar air), atau Herpes simplex (penyebab penyakit herpes). Jenis konjungtivitis ini cenderung mudah menular dari penderita ke orang lain.
-
Konjungtivitis infeksi bakteri: Sesuai dengan namanya, konjungtivitis ini disebabkan oleh bakteri-bakteri tertentu, seperti Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, dan Haemophilus influenzae.
Selain itu, konjungtivitis juga dapat disebabkan oleh infeksi jamur. Namun, hal ini cenderung sangat jarang terjadi. Konjungtivitis jamur umumnya lebih sering terjadi pada orang dewasa dengan sistem imun tubuh yang lemah, mengidap penyakit diabetes, menggunakan antibiotik dan kortikosteroid jangka panjang, dan pengguna NAPZA.
3. Konjungtivitis Neonatal (Ophthalmia Neonatorum)
Konjungtivitis neonatal adalah konjungtivitis yang dialami oleh bayi baru lahir atau berusia di bawah 28 hari. Konjungtivitis neonatal biasanya terjadi pada bayi yang lahir dari ibu dengan infeksi gonore. Transmisi infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae terjadi pada saat bayi melewati jalan lahir saat proses persalinan.
Selain itu, konjungtivitis neonatal juga dapat dipicu oleh paparan bahan kimia tertentu, seperti silver nitrat yang terkandung pada obat tetes mata yang diberikan pada bayi baru lahir. Saat ini, pemberian silver nitrat sudah jarang dilakukan mengingat efek samping tersebut.
Gejala Konjungtivitis pada Anak
Adapun sejumlah gejala umum yang kerap dialami oleh anak saat menderita konjungtivitis adalah sebagai berikut:
-
Mata merah pada salah satu atau kedua mata.
-
Mata terasa gatal.
-
Kemerahan pada bagian dalam kelopak mata.
-
Mata berair atau keluar air mata secara berlebihan.
-
Kelopak mata membengkak.
-
Sensitif terhadap cahaya (fotofobia).
-
Banyak kotoran mata di salah satu atau kedua mata yang membentuk kerak pada malam hari sehingga kesulitan membuka mata saat bangun tidur (biasa terjadi pada konjungtivitis akibat infeksi bakteri).
Komplikasi Konjungtivitis pada Anak
Jika tidak segera ditangani dengan tepat, konjungtivitis yang terjadi pada anak berisiko menimbulkan beberapa komplikasi, seperti:
-
Konjungtivitis vernalis dapat memicu terjadinya ulkus kornea.
-
Konjungtivitis infeksi dapat menimbulkan komplikasi berupa keratitis (peradangan kornea), ulkus kornea (luka pada kornea), dan selulitis orbita.
-
Konjungtivitis neonatal berisiko menyebabkan kerusakan penglihatan permanen.
Diagnosis Konjungtivitis pada Anak
Langkah awal yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis peradangan konjungtiva pada anak adalah melakukan wawancara medis atau anamnesis dengan pasien maupun keluarganya untuk mengetahui gejala dan riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan. Setelah itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan mata secara langsung untuk mengevaluasi kondisi mata pasien.
Jika diperlukan, pemeriksaan sampel cairan mata dan tes alergi juga akan dilakukan untuk mengetahui penyebab yang mendasari konjungtivitis.
Pengobatan Konjungtivitis pada Anak
Untuk menangani konjungtivitis pada si kecil, terdapat beberapa metode pengobatan yang umum dilakukan, di antaranya:
1. Pemberian Obat-obatan
Pada dasarnya, konjungtivitis yang disebabkan oleh infeksi virus dapat sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. Namun jika disebabkan oleh infeksi bakteri ataupun alergi, maka dokter dapat meresepkan obat-obatan tertentu untuk mengoptimalkan proses pemulihan. Adapun jenis obat-obatan yang umum digunakan untuk menangani konjungtivitis infeksi bakteri maupun alergi pada anak adalah:
-
Antibiotik dalam bentuk tetes mata (moxifloxacin, ofloxacin, ciprofloxacin, atau sulfacetamide) ataupun salep mata (chloramphenicol).
-
Antihistamin, seperti cetirizine, antazoline, azelastine, atau fexofenadine untuk meredakan reaksi alergi.
-
Kortikosteroid untuk membantu meringankan peradangan atau pembengkakan pada mata.
-
Dekongestan apabila konjungtivitis alergi juga disertai dengan hidung tersumbat.
Semua obat-obatan di atas harus digunakan sesuai dengan anjuran dari dokter.
2. Perawatan Mandiri di Rumah
Selain dengan pengobatan medis dari dokter, konjungtivitis pada anak juga dapat ditangani dengan perawatan mandiri oleh orang tua. Beberapa perawatan mandiri yang dapat dilakukan untuk menangani konjungtivitis pada si kecil adalah:
-
Rutin membersihkan kotoran mata yang keluar menggunakan bola kapas yang sudah dibasahi air hangat. Hal ini bertujuan untuk menjaga kebersihan mata si kecil sehingga dapat membantu mempercepat proses penyembuhan konjungtivitis.
-
Mengompres mata menggunakan kasa yang sudah dibasahi air dingin untuk meredakan bengkak.
-
Menggunakan tisu atau kain bersih serta mencuci tangan terlbih dahulu jika ingin menyentuh mata anak.
Pencegahan Konjungtivitis pada Anak
Untuk menghindari risiko terjadinya konjungtivitis pada si kecil, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua, di antaranya adalah:
-
Mengenakan kacamata pada si kecil saat keluar ruangan untuk menghindari mata dari paparan alergen seperti debu dan serbuk sari.
-
Menjaga kebersihan mata anak.
-
Mengajarkan anak untuk tidak menyentuh mata sebelum mencuci tangan dengan sabun antiseptik dan air mengalir.
-
Mengganti dan mencuci sarung bantal yang digunakan anak secara rutin.
Jika si kecil mengeluhkan gejala yang terkait dengan gangguan penglihatan, segera jadwalkan pertemuan Anda dengan dokter Siloam Hospitals terdekat menggunakan fitur Cari Dokter. Dengan begitu, si kecil bisa memperoleh tindakan medis yang tepat dari dokter spesialis mata yang berpengalaman.
Atau, manfaatkan juga MySiloam apps untuk memudahkan Anda dalam mengakses berbagai layanan kesehatan, seperti pesan paket kesehatan, cek hasil skrining, hingga konsultasi virtual dengan dokter. Unduh aplikasinya sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda serta buah hati #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Sabtu, 30 Mei 2026







