TB pada Anak, Mengenal Faktor Risiko dan Gejalanya
Kesehatan Tubuh

TB pada Anak, Mengenal Faktor Risiko dan Gejalanya

01 April 2026 5 menit waktu baca
tb pada anak

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius, termasuk pada anak-anak. Pada anak, TB sering kali sulit dikenali karena gejalanya bisa tidak khas dan berkembang secara perlahan. Tanpa penanganan yang tepat, infeksi TB pada anak dapat berkembang dan menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Mari pahami lebih lanjut mengenai TB pada anak dalam ulasan berikut ini.

 

Mengenal TB pada Anak

 

Beberapa orang mungkin berasumsi bahwa tuberkulosis hanya terjadi pada orang dewasa. Faktanya, penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis ini juga bisa menyerang anak-anak.

 

Menurut WHO, diperkirakan 10,7 juta orang di seluruh dunia menderita tuberkulosis pada tahun 2024, di mana 1,2 juta di antaranya adalah anak-anak. Berdasarkan Global TB Report 2024, di Indonesia, terdapat 135 ribu kasus TB pada anak usia 0–14 tahun pada tahun 2024. Pada anak, tuberkulosis dapat terjadi di paru-paru (TB paru) maupun di organ lain, seperti kelenjar getah bening, tulang, atau, selaput otak yang disebut TB ekstra paru. TB paru adalah bentuk yang paling sering ditemukan.

 

Penelitian dalam Asian Pacific Journal of Tropical Medicine (2023) juga menyebutkan bahwa anak-anak di bawah usia 15 tahun paling rentan terhadap penyakit TB, di mana jumlah kasus tertinggi terjadi pada kelompok anak usia di bawah 5 tahun dan remaja berusia di atas 10 tahun.

 

Sayangnya, TB paru pada anak sering kali terabaikan dan dianggap sebagai gejala batuk biasa sehingga diagnosis dan pengobatannya menjadi terlambat. Padahal, pada anak di bawah usia 5 tahun, infeksi TB memiliki risiko lebih tinggi berkembang menjadi bentuk yang lebih berat dan mengancam jiwa, seperti TB diseminata dan TB meningitis dibandingkan dengan anak yang lebih besar dan orang dewasa.

 

Penyebab TB pada Anak

 

TB pada anak disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Infeksi ini bisa menyebar dengan mudah melalui droplet (percikan air liur) di udara dari penderita yang sedang bersin, batuk, atau bicara, yang kemudian terhirup oleh orang lain. TB paru terjadi ketika bakteri tersebut masuk ke dalam sistem pernapasan, menuju paru-paru, dan bereplikasi di alveolus.





Faktor Risiko TB pada Anak 

 

Usia anak menjadi salah satu faktor risiko TB. Anak yang lebih besar biasanya cenderung berinteraksi dengan banyak orang dewasa sehingga kemungkinan terpapar lebih tinggi. Sementara itu, terdapat faktor risiko lainnya seperti:

 

  • Bayi dengan kondisi BBLR (berat badan lahir rendah).

  • Belum mendapatkan imunisasi BCG, yang berperan membantu melindungi anak dari bentuk TB yang berat.

  • Tinggal serumah atau sering kontak dengan penderita TB aktif.

  • Lingkungan tempat tinggal dengan ventilasi buruk, pencahayaan minim, padat penghuni, dan kebersihan yang kurang terjaga.

  • Tinggal di daerah dengan tingkat kasus tuberkulosis yang tinggi.

  • Sistem imun yang belum optimal, misalnya pada bayi atau anak dengan status gizi kurang atau malnutrisi.

 

Gejala TB pada Anak

 

Terdapat dua jenis tuberkulosis yang bisa terjadi pada anak, yaitu TB laten dan TB aktif. TB laten pada anak tidak menunjukkan gejala meski terdapat bakteri penyebab TB di dalam tubuhnya. Sementara itu, jika anak menderita TB paru aktif, gejala utama yang biasanya muncul adalah sebagai berikut:

 

  • Batuk persisten (lebih dari 2 minggu) dan bersifat non-remitting (tidak pernah reda), dapat disertai darah.

  • Penurunan berat badan tanpa alasan jelas.

  • Berkeringat di malam hari.

 

Selain itu, anak mungkin juga mengalami gejala tidak spesifik seperti:

 

  • Demam tidak tinggi namun berkepanjangan (biasanya lebih dari dua minggu tanpa sebab jelas).

  • Merasa sesak.

  • Benjolan pada leher atau pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfadenopati). ati dan limpa membesar secara bersamaan (hepatosplenomegali).

 

Diagnosis TB pada Anak

 

Penegakan diagnosis TB pada anak dimulai dengan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien beserta keluarga, termasuk memastikan apakah ada keluarga yang mengidap TB. Pada anak-anak, dokter biasanya akan melakukan tanya jawab dengan orang tua atau wali pasien.

 

Pada anak, diagnosis TB tidak selalu mudah karena bakteri sulit dideteksi, sehingga dokter sering menggabungkan temuan klinis dan hasil pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis, seperti:

 

  • Pemeriksaan foto toraks. Pemeriksaan ini saja tidak berdiri sendiri untuk mendiagnosis TB paru pada anak sehingga harus disertai dengan tes penunjang lain.

  • Tes kulit tuberkulin (tuberculin skin test/TST) atau tes Mantoux.

 

Jika salah satu atau kedua tes tersebut didapatkan hasil kecurigaan mengarah ke TB, dokter biasanya akan melanjutkan pemeriksaan untuk mengkonfirmasi diagnosis:

 

  • Pemeriksaan TCM (tes cepat molekuler). Pemeriksaan ini menggunakan teknologi nested real-time PCR yang bisa mendeteksi bakteri Mycobacterium tuberculosis dan sering digunakan sebagai salah satu metode utama untuk mendeteksi bakteri TB secara langsung.

  • Pemeriksaan IGRA (interferon gamma release assay).

 

Penanganan TB pada Anak

 

Penanganan TB pada anak terdiri dari terapi pengobatan dan pencegahan. Terapi pengobatan diberikan pada anak yang terdiagnosis TB aktif, sedangkan terapi pencegahan diberikan pada anak yang pernah kontak dengan penderita TB atau anak dengan TB laten.

 

Pada anak dengan TB aktif, pengobatan perlu segera dimulai agar penyakit tidak semakin berat dan penularan bisa dicegah. Terapi dilakukan dengan obat antituberkulosis (OAT), seperti isoniazid, rifampisin, pyrazinamide, dan etambutol, yang diberikan sesuai kondisi anak dan anjuran dokter.

 

Secara umum, pengobatan TB berlangsung sekitar 6 bulan. Pada awal pengobatan (sekitar 2 bulan pertama), anak akan mendapatkan beberapa obat sekaligus untuk menurunkan jumlah kuman dengan cepat. Setelah itu, pengobatan dilanjutkan selama kurang lebih 4 bulan untuk memastikan kuman benar-benar hilang dan mencegah kekambuhan.

 

Selama menjalani pengobatan, kondisi anak perlu dipantau secara rutin. Pemantauan ini bertujuan untuk melihat perkembangan kesehatan anak sekaligus memastikan tidak ada efek samping dari obat. Konsistensi minum obat sesuai jadwal sangat penting agar pengobatan berhasil dengan baik.

 

Sebagai informasi, gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi TB pada anak. Dengan kata lain, penyebab gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis lainnya, sehingga penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak (Pediatri) Subspesialis Respirologi di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat.

 

Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter terkait serta memeriksa riwayat kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Asian Pacific Journal of Tropical Medicine. Mycobacterium tuberculosis infection among children under fifteen years of age: A population-based study in Indonesia. Diakses pada 2026 | University of Rochester Medical Center. Tuberculosis (TB) in Children. Diakses pada 2026 | WHO. Implementing the WHO Stop TB Strategy: A Handbook for National Tuberculosis Control Programmes. Diakses pada 2026 | StatPearls. Tuberculosis in Children. Diakses pada 2026 | Unicef. Pediatric Tuberculosis with a Focus on Indonesia. Diakses pada 2026 | WHO. Tuberculosis. Diakses 2026 | Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan (JPKMK). Pendidikan Kesehatan Tentang Tuberculosis (TB) Paru pada Anak di Ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Diakses pada 2026 | Jurnal Penelitian Perawat Profesional. Karakteristik Klinis Penyakit Tuberkulosis Paru pada Anak. Diakses pada 2026 | Kemenkes. Gerakan Indonesia Akhiri TBC. Diakses pada 2026 | Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Tata Laksana Tuberkulosis Anak dan Remaja. Diakses pada 2026 | Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Manajemen dan Tata Laksana TB Anak. Diakses pada 2026 |

Dokter Kami
dr-liem-eremius-arifin-spa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Liem Eremius Arifin, SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ifo-faujiah-sihite-mked-ped-spa

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Jambi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-anggun-kusumasari-spa-msc

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail