7 Mitos Tentang Osteoporosis: Mana yang Benar?
Kesehatan Tubuh

7 Mitos Tentang Osteoporosis: Mana yang Benar?

27 Agustus 2025 4 menit waktu baca
Osteoporosis

Anda pasti sering mendengar istilah osteoporosis atau yang lebih dikenala dengan penyakit tulang keropos, bukan? Osteoporosis merupakan kondisi berkurangnya kepadatan tulang yang mengakibatkan tulang menjadi rapuh. Akibatnya, tulang menjadi rentan untuk patah sehingga timbul rasa nyeri dan mengganggu kualitas hidup.

 

Oleh karena dampak Osteoporosis yang signifikan terhadap kualitas hidup, setiap tanggal 20 Oktober, WHO memperingati Hari Osteoporosis Dunia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global tentang pencegahan, diagnosis, dan penanganan osteoporosis. Dalam rangka peringatan Hari Osteoporosis Dunia, mari kita simak mitos dan fakta menarik tentang osteoporosis. 

 

Baca Juga: 5 Langkah Sehat Cegah Osteoporosis Sejak Usia Muda

 

Mitos dan Fakta Menarik Seputar Osteoporosis

 

Berikut adalah beberapa mitos dan fakta tentang osteoporosis yang dapat disimak:

 

Mitos #1: Osteoporosis jarang terjadi dan bukan penyakit serius

 

Faktanya, satu dari dua wanita dan satu dari empat pria berusia lebih dari 50 tahun memiliki risiko patah tulang karena osteoporosis. Data di Amerika Serikat menunjukkan, setiap tahunnya terjadi 2 juta kasus patah tulang akibat osteoporosis dan angka ini diprediksi meningkat setiap tahun. Patah tulang akibat osteoporosis bisa sangat menyakitkan, berakibat serius, serta dapat memengaruhi kesehatan fisik, mental, dan emosional. Bahkan, dalam beberapa kasus mengakibatkan kecacatan.  

 

Mitos #2: Hanya menyerang wanita berusia lanjut

 

Wanita memang lebih sering mengalami osteoporosis, tetapi pria tetap bisa menderita osteoporosis. Sekitar 10-25% pria akan mengalami osteoporosis dalam hidupnya. Karena faktor risiko penyakit ini yang bervariasi, orang berusia muda dengan faktor risiko tertentu juga bisa mengalami osteoporosis. Faktor risiko tersebut antara lain faktor genetik, penyakit autoimun, diabetes melitus, penyakit kelenjar tiroid, dan gangguan saluran cerna. 

 

Mitos #3: Orang dengan osteoporosis dapat merasakan tulangnya menjadi rapuh 

 

Osteoporosis dikenal dengan silent disease, yang artinya gejala awal osteoporosis jarang disadari. Pada umumnya, orang dengan osteoporosis baru menyadari setelah merasakan nyeri karena patah tulang yang terjadi atau merasakan penurunan tinggi badan. Oleh karena itu, deteksi dini osteoporosis sangat diperlukan. 

 

Mitos #4: Prosedur deteksi dini osteoporosis tidak nyaman dan berisiko terkena radiasi 

 

Para ahli merekomendasikan pemeriksaan kepadatan tulang menggunakan alat DXA (Dual energy X-ray absorptiometry). Prosedur ini hanya berlangsung 5-10 menit dan risiko radiasinya juga cukup kecil dan aman. Pemeriksaan ini secara obyektif akan mengevaluasi kepadatan tulang sehingga bisa menilai risiko osteoporosis. 

 

Mitos #5: Mengonsumsi kalsium setiap hari agar terhindar dari osteoporosis 

 

Perlu diketahui bahwa kebutuhan kalsium dapat dicukupi dari asupan nutrisi sehari-hari seperti susu, keju, yogurt, telur, dan ikan sardin. Bila asupan dari makanan dan minuman sehari-hari tidak mencukupi, suplemen seperti kalsium dan vitamin D dapat dikonsumsi untuk mencukupi kebutuhan harian Anda. Tetapi perlu diingat, konsumsi suplemen kalsium dan vitamin D yang berlebihan tidak memberikan manfaat lebih dan justru bisa memberikan efek samping. 

 

Mitos #6: Jika Anda menderita osteoporosis, sudah terlambat untuk menghindari patah tulang 

 

Latihan beban (weigh-bearing exercise) telah terbukti mengurangi risiko patah tulang dengan memperkuat tulang. Bila diperlukan, proses pengeroposan yang terjadi juga bisa diperlambat dengan obat-obatan, seperti bisphosponates dan calcitonin. Beberapa obat telah menunjukkan penurunan risiko hingga 68 persen pada patah tulang pinggul pada wanita. Terapi hormon juga dapat memperlambat laju pengeroposan tulang, bahkan memungkinkan tubuh Anda untuk membangun kembali tulang. 

 

Mitos #7: Osteoporosis hanya terjadi di usia lanjut 

 

Sekitar 90 persen massa tulang diperoleh pada usia 18 tahun pada anak perempuan dan usia 20 tahun pada anak laki-laki. Maka itu, periode ini adalah periode yang sangat penting untuk mempersiapkan tulang yang sehat di masa depan. Anak-anak dan remaja dapat membangun tulang yang kuat dan mencegah osteoporosis dengan tetap aktif dan mendapatkan nutrisi yang cukup protein, kalsium, dan vitamin D. 

 

Baca Juga: Cegah Osteoporosis dengan Bone Mineral Densitometry

 

Penting bagi kita untuk mengetahui kebenaran mengenai osteoporosis agar Anda memiliki pemahaman yang benar tentang penyakit ini. Jika Anda atau keluarga memiliki masalah terkait tulang, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

 

Anda dapat menggunakan fitur Cari Dokter untuk menemukan jadwal dokter, booking, dan buat janji dengan dokter terkait. Atau, gunakan juga aplikasi MySiloam untuk memudahkan Anda berkonsultasi langsung dengan dokter secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan percayakan kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!

 

Aplikasi My Siloam

Dokter Kami
dr-kukuh-dwiputra-hernugrahanto-spot-k

Online & Kunjungi Rumah Sakit

Dr. dr. Kukuh Dwiputra Hernugrahanto, SpOT, Subsp PL (K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Surabaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-made-o-mahendra-spot-mbiomed

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed

Ortopedi (Tulang)

Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-su-djie-to-rante-m-biomed-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail