Kesehatan Tubuh
Penyebab Otot Bahu Robek, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Nyeri pada bahu saat mengangkat lengan, bahu terasa lemah, atau sulit menggerakkan lengan dapat menjadi tanda adanya masalah pada sendi bahu. Salah satu kondisi yang dapat menimbulkan keluhan tersebut adalah otot bahu robek, yaitu ketika tendon pada rotator cuff mengalami kerusakan atau sobekan. Untuk memahami kondisi ini lebih lanjut, berikut pembahasan mengenai penyebab, gejala, jenis, dan cara penanganannya.
Apa Itu Otot Bahu Robek?
Bahu merupakan sendi yang memungkinkan lengan bergerak ke berbagai arah. Stabilitas dan pergerakan sendi ini dijaga oleh sekelompok otot dan tendon yang disebut rotator cuff, yang berperan menjaga posisi bonggol tulang lengan tetap stabil sekaligus membantu pergerakan bahu.
Otot bahu robek atau rotator cuff tear terjadi ketika salah satu atau lebih tendon pada rotator cuff robek, baik sebagian maupun sepenuhnya. Kondisi ini bisa menimbulkan nyeri, kelemahan bahu, dan membuat aktivitas sehari-hari yang melibatkan fungsi bahu terasa lebih sulit.
Jenis Otot Bahu Robek
Otot bahu robek dapat dibedakan berdasarkan seberapa besar kerusakan yang terjadi pada tendon. Secara umum, kondisi ini terbagi menjadi dua:
-
Robekan sebagian (partial tear)
Pada kondisi ini, tendon hanya mengalami kerusakan pada sebagian seratnya dan belum terputus sepenuhnya. Gejala yang muncul biasanya berupa nyeri saat menggerakkan bahu, terutama saat mengangkat atau memutar lengan. Fungsi bahu masih ada, tetapi bisa terasa tidak nyaman saat digunakan.
-
Robekan penuh (full-thickness tear)
Robekan terjadi hingga seluruh tendon terputus, sehingga hubungan antara otot dan tulang terganggu. Kondisi ini umumnya menimbulkan kelemahan yang lebih jelas, keterbatasan gerak, serta kesulitan melakukan aktivitas tertentu, seperti mengangkat lengan atau meraih benda di atas kepala.
Penyebab Otot Bahu Robek
Otot bahu robek dapat terjadi karena dua penyebab utama, yaitu cedera yang terjadi secara tiba-tiba atau kerusakan tendon yang berkembang perlahan dalam jangka panjang. Berikut penjelasan untuk masing-masing penyebab yang perlu dipahami:
1. Cedera Mendadak
Robekan pada tendon bahu dapat muncul ketika bahu menerima tekanan yang kuat secara langsung. Kondisi ini biasanya terjadi pada situasi tertentu, seperti:
-
Terjatuh dengan posisi tangan menahan tubuh.
-
Mengangkat benda yang terlalu berat dengan gerakan tersentak.
-
Kecelakaan yang menimbulkan benturan pada bahu.
2. Kerusakan Bertahap (Degeneratif)
Selain cedera mendadak, robekan tendon bahu juga sering berkembang secara perlahan. Risiko kondisi ini biasanya meningkat pada usia di atas 40 tahun. Proses ini biasanya terjadi akibat kombinasi beberapa faktor yang berlangsung dalam jangka panjang, seperti:
-
Gerakan bahu berulang: Aktivitas olahraga, seperti tenis, mendayung, atau angkat beban, serta pekerjaan yang sering melibatkan gerakan bahu yang sama, dapat memberi tekanan terus-menerus pada tendon.
-
Penurunan kualitas jaringan tendon: Aliran darah yang menuju jaringan tendon di bahu dapat menurun seiring bertambahnya usia, sehingga proses perbaikan pada kerusakan kecil di tendon menjadi lebih lambat. Hal ini dapat membuat tendon lebih rentan mengalami robekan.
Gejala Otot Bahu Robek
Gejala otot bahu robek dapat berbeda pada setiap orang dan tidak selalu menimbulkan rasa sakit yang intens. Sebagian orang mungkin dapat merasakan keluhan secara tiba-tiba setelah cedera, tetapi ada juga yang mengalami gejala secara bertahap akibat penggunaan bahu berulang dalam jangka waktu lama. Berikut tanda yang paling sering muncul dan perlu diperhatikan:
-
Nyeri pada bahu, baik saat menggerakkan lengan maupun saat beristirahat.
-
Kelemahan pada bahu atau lengan menyebabkan sulit mengangkat benda atau melakukan aktivitas yang membutuhkan kekuatan lengan.
-
Rentang gerak yang terasa terbatas atau tidak nyaman.
-
Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, seperti menyisir rambut, mengenakan pakaian, atau meraih benda di tempat tinggi.
Pada kasus yang terjadi akibat cedera mendadak, rasa nyeri biasanya muncul secara intens dan dapat disertai sensasi seperti ada yang terlepas pada bahu serta kelemahan langsung pada lengan. Sementara itu, jika robekan berkembang perlahan karena penggunaan berulang, gejala sering dimulai dengan nyeri ringan saat lengan diangkat ke atas. Seiring waktu, keluhan dapat terasa lebih sering dan muncul ketika bahu sedang tidak digunakan sekalipun.
Diagnosis Otot Bahu Robek
Untuk memastikan apakah keluhan pada bahu disebabkan oleh robekan tendon, dokter biasanya akan melakukan beberapa langkah berikut:
-
Menggali keluhan dan riwayat aktivitas (anamnesis): Dokter akan menanyakan kapan nyeri mulai muncul, aktivitas apa yang memicunya, serta apakah ada riwayat cedera atau penggunaan bahu berulang.
-
Mengevaluasi gerakan bahu: Pasien akan diminta menggerakkan lengan ke beberapa arah untuk melihat apakah ada keterbatasan, rasa nyeri, atau gerakan yang terasa tidak stabil dibandingkan dengan sisi yang sehat. Kekuatan bahu juga dievaluasi untuk menilai kelemahan otot.
-
Mengamati fungsi bahu dalam aktivitas sederhana: Pasien dapat diminta melakukan gerakan sehari-hari, seperti mengangkat lengan, meraih benda, atau memutar bahu, untuk melihat bagian mana yang terasa nyeri atau sulit dilakukan.
Jika diperlukan, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan pendukung untuk membantu memastikan diagnosis, seperti:
-
Rontgen (X-ray) untuk melihat kondisi tulang di sekitar bahu dan memastikan tidak ada kondisi medis lain yang memengaruhinya, seperti radang sendi (arthritis).
-
Magnetic resonance imaging (MRI) untuk menilai kondisi tendon dan jaringan lunak pada bahu secara lebih detail.
-
USG bahu untuk membantu melihat kemungkinan robekan atau peradangan pada tendon rotator cuff.
Pengobatan Otot Bahu Robek
Penanganan otot bahu robek dapat berbeda pada setiap orang, tergantung ukuran robekan, tingkat nyeri, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Secara umum, pengobatan dapat dilakukan melalui metode nonoperasi maupun tindakan operasi. Berikut pertimbangannya untuk masing-masing tindakan:
1. Konservatif
Tidak semua kasus otot bahu robek harus ditangani dengan operasi. Pada robekan kecil hingga sedang, dokter biasanya terlebih dahulu menyarankan penanganan konservatif untuk membantu mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi bahu. Beberapa metode yang dapat dilakukan antara lain:
-
Beristirahat dan mengurangi aktivitas yang memberi tekanan pada bahu, terutama gerakan mengangkat lengan ke atas atau aktivitas yang memicu nyeri.
-
Menggunakan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen dan naproxen, untuk meredakan nyeri sekaligus mengurangi peradangan pada bahu.
-
Fisioterapi dan latihan penguatan untuk meningkatkan kekuatan otot bahu dan memperbaiki rentang gerak.
-
Injeksi kortikosteroid, jika nyeri tidak membaik dengan obat dan fisioterapi, dokter dapat memberikan suntikan kortikosteroid pada area bahu. Suntikan ini bertujuan untuk mengurangi peradangan dan meredakan nyeri.
2. Pembedahan
Operasi pada kasus otot bahu robek bertujuan memperbaiki tendon yang robek dengan menempelkannya kembali ke tulang lengan atas. Dokter biasanya mempertimbangkan tindakan ini jika ada robekan tendon berukuran besar, cedera terjadi secara mendadak, atau nyeri bahu tidak membaik setelah penanganan nonoperasi dalam kurun waktu 6–12 bulan. Beberapa teknik operasi yang dapat dilakukan antara lain:
-
Arthroscopy: Operasi dengan sayatan kecil menggunakan kamera khusus untuk melihat dan memperbaiki jaringan di dalam bahu.
-
Mini-open rotator cuff repair: Kombinasi antara teknik arthroscopy dan sayatan kecil untuk memperbaiki tendon.
-
Open rotator cuff repair (operasi terbuka): Operasi dengan sayatan lebih besar untuk memperbaiki tendon secara langsung pada kasus tertentu. Biasanya dilakukan jika robekan besar atau kasusnya lebih kompleks.
Setelah tindakan operasi, pasien biasanya perlu menjalani rehabilitasi selama beberapa bulan hingga sekitar satu tahun untuk membantu pemulihan fungsi bahu, seperti:
-
Menggunakan penyangga bahu untuk sementara waktu.
-
Fisioterapi guna memulihkan kekuatan otot bahu.
-
Latihan bertahap untuk mengembalikan kelenturan dan rentang gerak bahu, misalnya, mengayunkan lengan secara perlahan atau mengangkat lengan ke atas dengan bantuan tangan lain yang sehat.
Demikian pembahasan mengenai otot bahu robek, mulai dari penyebab, jenis, gejala yang dapat muncul, hingga pilihan penanganannya. Perlu dipahami bahwa informasi ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun saran medis langsung dari dokter.
Apabila Anda mengalami keluhan, seperti nyeri pada bahu yang tidak membaik, atau keterbatasan gerak bahu yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Orthopaedi (Tulang) dan Traumatologi di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan evaluasi, diagnosis, dan rencana perawatan yang tepat sesuai kondisi.
Perlu diketahui bahwa proses pemeriksaan dan penanganan otot bahu robek dapat berbeda di setiap rumah sakit, tergantung pada fasilitas yang tersedia, tingkat keparahan robekan, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Meski demikian, tenaga medis akan berupaya memberikan perawatan yang aman dan tepat untuk membantu mengurangi keluhan serta memulihkan fungsi bahu.
Untuk mempermudah akses layanan kesehatan, Anda dapat menggunakan aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda dapat melihat jadwal praktik dokter, membuat janji konsultasi, serta mengakses hasil pemeriksaan medis secara online. Unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Springer Nature Link. Rotator Cuff Tear Patterns: MRI Appearance and Its Surgical Relevance. Diakses pada 2026 | Journal of Clinical Medicine. Current Understanding and New Advances in the Surgical Management of Reparable Rotator Cuff Tears: A Scoping Review. Diakses pada 2026 | PubMed Central. Traumatic Rotator Cuff Tears - Current Concepts in Diagnosis and Management. Diakses pada 2026 | Cleveland Clinic. Rotator Cuff Tear. diakses pada 2026 | OrthoInfo. Rotator Cuff Tears. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed
Ortopedi (Tulang)
Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini






