Kesehatan Tubuh
Apa Itu Fraktur Transversal? Kenali Penyebab dan Gejalanya!

Table of Contents
Fraktur transversal adalah salah satu jenis patah tulang yang ditandai dengan garis retakan melintang lurus atau horizontal pada tulang. Patah tulang ini sering kali menyebabkan nyeri hebat, bengkak, serta gangguan fungsi gerak pada bagian tubuh yang terdampak. Oleh karena itu, penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Untuk informasi lebih lengkap, simak penjelasan berikut ini.
Apa Itu Fraktur Transversal?
Fraktur transversal adalah patah tulang yang ditandai dengan garis retakan melintang lurus terhadap sumbu tulang. Kondisi ini menyebabkan tulang tampak terbelah menjadi dua bagian. Di Indonesia, angka kejadian fraktur atau patah tulang setiap tahunnya sangat tinggi, yakni mencapai 1,3 juta kasus. Salah satu jenis fraktur yang umum terjadi adalah fraktur transversal.
Fraktur ini dapat terjadi di tulang bagian mana saja, namun, lebih sering ditemukan pada tulang panjang seperti tulang lengan atau kaki, terutama akibat benturan langsung, kecelakaan, atau cedera olahraga.
Penyebab Fraktur Transversal
Fraktur transversal umumnya terjadi ketika tulang menerima tekanan atau benturan yang cukup kuat yang melebihi kemampuannya untuk menahan gaya tersebut. Semakin besar energi benturan yang diterima tulang, semakin tinggi pula risiko terjadinya fraktur transversal.
Beberapa kondisi yang paling sering memicu fraktur transversal antara lain:
-
Terjatuh dengan posisi tubuh yang menumpu pada satu titik.
-
Kecelakaan lalu lintas yang menimbulkan benturan keras.
-
Cedera saat berolahraga, terutama pada aktivitas dengan risiko kontak fisik atau gerakan berkecepatan tinggi.
Selain faktor benturan keras, risiko fraktur transversal juga lebih tinggi pada orang yang mengalami osteoporosis, yaitu kondisi ketika kepadatan tulang menurun sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah. Pada kondisi ini, cedera ringan sekalipun dapat menyebabkan terjadinya fraktur transversal.
Gejala Fraktur Transversal
Secara umum, tanda dan keluhan yang muncul pada fraktur transversal mirip dengan patah tulang pada umumnya. Gejala fraktur transversal umumnya meliputi:
-
Nyeri hebat pada area yang terkena, terutama saat digerakkan atau disentuh.
-
Pembengkakan dan memar.
-
Keterbatasan atau hilangnya fungsi gerak.
-
Perubahan bentuk pada area tulang yang patah.
Diagnosis Fraktur Transversal
Untuk menegakkan diagnosis fraktur transversal, dokter akan memulai dengan anamnesis (wawancara medis). Tahap ini bertujuan untuk menggali informasi terkait kronologi cedera, terjadinya trauma, dan keluhan yang menyertainya.
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada area yang mengalami nyeri. Pemeriksaan ini mencakup penilaian pembengkakan, deformitas, serta kemampuan gerak sendi. Dokter juga dapat membandingkan kondisi sisi yang cedera dengan sisi yang sehat untuk menilai adanya keterbatasan fungsi.
Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan penunjang seperti X-ray (rontgen) dapat dilakukan untuk menunjukkan lokasi dan pola patahan tulang. Pada kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti CT scan, terutama jika diperlukan gambaran yang lebih detail atau terdapat kecurigaan cedera pada struktur di sekitar tulang, seperti saraf atau pembuluh darah. Pemeriksaan ini membantu menentukan tingkat keparahan fraktur dan merencanakan penanganan yang sesuai.
Pengobatan Fraktur Transversal
Penanganan fraktur transversal bertujuan untuk mengembalikan posisi tulang dan menjaga kestabilannya selama proses penyembuhan. Selain itu, penanganan ditujukan untuk mencegah komplikasi, seperti tulang gagal menyatu (nonunion) atau menyatu dengan posisi yang salah atau tidak sejajar (malunion).
Berikut adalah beberapa pengobatan fraktur transversal:
1. Reduksi Tertutup dengan Bidai dan Gips
Pada beberapa kasus fraktur transversal, terutama jika terjadi pergeseran posisi tulang, dokter dapat melakukan reduksi tertutup, yaitu mengembalikan posisi tulang tanpa operasi. Prosedur ini umumnya dilakukan dengan bantuan obat pereda nyeri atau sedasi agar pasien lebih nyaman.
Dalam prosedur ini, dokter akan memanipulasi tulang dari luar tubuh menggunakan teknik tertentu untuk mengarahkan kembali fragmen tulang ke posisi yang benar. Karena tidak memerlukan sayatan, prosedur ini tergolong nonbedah dan umumnya dilakukan pada fraktur yang dinilai masih memungkinkan untuk diperbaiki tanpa operasi.
Setelah posisi tulang kembali, dilakukan imobilisasi menggunakan bidai atau gips untuk menjaga kestabilan selama penyembuhan. Lama penggunaan disesuaikan dengan lokasi dan tingkat keparahan fraktur serta kondisi pasien. Imobilisasi biasanya dipertahankan hingga tulang menunjukkan tanda penyatuan yang cukup, baik secara klinis maupun radiologis. Setelah kondisi membaik, dokter dapat menyarankan latihan pergerakan secara bertahap untuk membantu memulihkan fungsi.
2. Obat-Obatan
Pemberian obat bertujuan untuk mengurangi nyeri, meredakan peradangan, serta membantu pasien merasa lebih nyaman selama masa pemulihan. Salah satu kelompok obat yang umum diberikan adalah obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID). Selain itu, dokter juga dapat meresepkan pelemas otot (muscle relaxants), terutama jika terjadi ketegangan otot di sekitar area fraktur.
3. Operasi
Pada fraktur yang tidak stabil, mengalami pergeseran berat, atau termasuk fraktur terbuka, tindakan operasi dapat dipertimbangkan. Tujuan utamanya adalah mengembalikan posisi tulang ke susunan anatomi yang benar, menjaga agar fragmen tulang tetap stabil, serta membantu proses penyatuan tulang berjalan optimal.
Salah satu prosedur yang umum dilakukan adalah open reduction and internal fixation (ORIF). Dalam prosedur ini, dokter mengembalikan posisi awal tulang dan memfiksasi posisi tulang menggunakan alat bantu seperti implan logam (intramedullary nail), pelat dan sekrup, atau kawat khusus, tergantung pada lokasi dan pola fraktur. Penting untuk diingat bahwa pemilihan teknik operasi ini akan disesuaikan dengan lokasi fraktur, kondisi pasien, serta pertimbangan klinis dari dokter bedah ortopedi.
Tips Mempercepat Penyembuhan
Agar proses penyembuhan berjalan lebih optimal, terdapat sejumlah tips yang dianjurkan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
-
Makan makanan bernutrisi: Untuk mempercepat penyembuhan tulang, makanan yang kaya akan protein, kalsium, dan vitamin D sangatlah penting.
-
Kelola penyakit kronis: Penyakit seperti diabetes dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam memperbaiki jaringan, termasuk tulang yang sedang menyatu.
-
Hindari terlalu cepat menggerakkan bagian tubuh yang mengalami fraktur: Menggerakkan atau memberi tekanan terlalu dini pada tulang yang belum pulih sepenuhnya dapat mengganggu proses penyatuan dan bahkan memperburuk kondisi. Aktivitas fisik harus sesuai dengan instruksi dokter dan bertahap melalui program fisioterapi.
Demikian penjelasan mengenai fraktur transversal, mulai dari pengertian, penyebab, hingga tips mempercepat pemulihan. Penting untuk diingat bahwa informasi di atas bertujuan sebagai edukasi semata karena setiap kasus fraktur memerlukan evaluasi dan diagnosis yang spesifik dari dokter.
Jika Anda mengalami cedera dan menemukan tanda-tanda yang mengarah pada fraktur transversal, seperti nyeri hebat dan perubahan bentuk pada bagian tubuh yang terdampak, segera konsultasikan dengan Dokter Spesialis Ortopedi (Tulang) dan Traumatologi di Siloam Hospitals terdekat. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan penanganan dengan cepat dan tepat sebelum kondisi semakin memburuk.
Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan penanganan di setiap rumah sakit dapat berbeda, tergantung pada fasilitas yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan bekerja sama untuk memastikan Anda mendapatkan perawatan yang tepat dan optimal.
Untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda, gunakan aplikasi MySiloam. Aplikasi ini dapat membantu Anda mengakses berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari mengecek jadwal praktik dokter, memesan janji temu dengan dokter terkait, hingga melihat hasil pemeriksaan secara online. Mari unduh MySiloam sekarang dan nikmati kemudahan akses kesehatan yang lebih baik.
Sumber
Cleveland Clinic. Transverse Fracture. Diakses pada 2026 | Kemenkes. Pelayanan Kesehatan Ortopedi untuk Menjaga Mobilitas, Cegah Kecacatan dan Meningkatkan Kualitas Hidup. Diakses pada 2026 | Jurnal Kesmas dan Gizi. Pengaruh Pemasangan Bidai Terhadap Penurunan Skala Nyeri PadaPasien Fraktur Tertutup Di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam. Diakses pada 2026 | Frontiers in Bioengineering and Biotechnology. Tension Band High-Strength Suture Combined with Absorbable Cannulated Screws for Treating Transverse Patellar Fractures: Finite Element Analysis and Clinical Study. Diakses pada 2026 | Verywell Health. How Does It Feel When a Broken Bone is Healing? Diakses pada 2026 | WebMD. A Healing Diet After Bone Fracture. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed
Ortopedi (Tulang)
Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini






