Kesehatan Tubuh
Mengenal Cervical Spondylosis, Ditandai dengan Nyeri Leher

Table of Contents
Nyeri dan kaku leher merupakan kondisi yang umum terjadi dan sering kali dianggap tidak serius karena bisa disebabkan oleh faktor ringan, seperti salah posisi tidur, terlalu lama menunduk, atau kelelahan setelah bekerja di depan laptop. Padahal, keluhan ini bisa menjadi tanda-tanda kondisi yang perlu diwaspadai, seperti cervical spondylosis.
Seiring bertambahnya usia, risiko terjadinya keluhan seperti cervical spondylosis semakin meningkat. Kondisi ini bisa terjadi ketika diskus, sendi, dan struktur tulang di area leher mengalami keausan. Mari simak informasi selengkapnya mengenai cervical spondylosis di bawah ini.
Apa Itu Cervical Spondylosis?
Cervical spondylosis adalah kondisi degeneratif pada tulang belakang leher akibat proses penuaan. Kondisi ini dapat disebut juga sebagai osteoartritis pada leher. Tulang belakang servikal rentan mengalami keausan karena memiliki fungsi yang kompleks, yaitu sebagai tulang penopang kepala sekaligus memungkinkan gerakan banyak arah. Di saat yang sama, struktur ini juga berperan melindungi saraf tulang belakang, akar saraf, dan pembuluh darah penting.
Perubahan fungsi keausan pada tulang belakang, termasuk di area leher, adalah kondisi yang cukup umum terjadi. Sebuah review penelitian dalam Frontiers in Neurology (2025) menyebutkan bahwa sekitar 85% orang berusia di atas 60 tahun mengalami cervical spondylosis.
Penyebab Cervical Spondylosis
Cervical spondylosis terjadi akibat perubahan bertahap pada struktur leher seiring bertambahnya usia. Perubahan ini tidak terjadi sekaligus, melainkan berkembang secara perlahan, yaitu:
-
Bantalan antar tulang leher mulai melemah. Seiring waktu, bantalan ini menjadi lebih kaku dan kurang mampu meredam tekanan saat leher bergerak.
-
Beban pada leher tidak lagi terdistribusi dengan baik. Ketika bantalan melemah, tekanan akan lebih banyak diterima oleh bagian lain di leher.
-
Tubuh mencoba menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut. Tulang dapat membentuk tonjolan kecil sebagai respons terhadap tekanan yang meningkat.
-
Jaringan di sekitar tulang belakang dapat menebal. Hal ini dapat mempersempit ruang di sekitar saraf.
-
Saraf dapat tertekan. Kombinasi perubahan tersebut dapat menekan saraf di sekitar sehingga menyebabkan nyeri, kesemutan, atau kelemahan pada area tertentu.
Tahapan degeneratif ini tidak hanya dipengaruhi oleh penuaan, tetapi juga beberapa faktor lain seperti:
-
Riwayat cedera leher, misalnya akibat kecelakaan atau benturan berat.
-
Olahraga berulang yang memberi beban pada leher, seperti angkat beban.
-
Kondisi medis tertentu, seperti kelainan kanal tulang belakang sejak lahir.
-
Gaya hidup, di antaranya:
-
Merokok.
-
Postur tubuh kurang baik.
Gejala Cervical Spondylosis
Cervical spondylosis dapat menimbulkan berbagai macam gejala. Gejala yang paling umum adalah nyeri leher. Pada sebagian orang, keluhan sakit kepala juga dapat terjadi. Beberapa gejala lain cervical spondylosis adalah sebagai berikut:
-
Nyeri dan kaku leher
-
Nyeri menjalar ke area punggung atas, bahu, dan lengan atas.
-
Kesemutan (parestesia) atau mati rasa (gejala ini lebih sering dikaitkan dengan saraf kejepit).
-
Sakit kepala.
Pada kondisi yang lebih berat, dapat muncul:
-
Ketidakstabilan saat berdiri atau berjalan.
-
Melemahnya kekuatan otot lengan atau tangan terjadi apabila penekanan saraf cukup berat.
Diagnosis Cervical Spondylosis
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter biasanya akan melakukan anamnesis (wawancara medis) terlebih dahulu mengenai karakteristik nyeri dan riwayat kesehatan pasien beserta keluarga. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik untuk memeriksa gerakan leher, kekuatan otot dan refleks, serta ada atau tidaknya gangguan pada sumsum tulang belakang.
Pemeriksaan penunjang dibutuhkan untuk evaluasi kondisi leher dan sistem saraf pasien secara lebih detail. Jika gejala tidak membaik atau menetap lebih dari 4–6 minggu atau muncul gangguan saraf, dokter biasanya merekomendasikan pemeriksaan pencitraan, seperti:
-
Rontgen leher: Pemeriksaan yang membantu mendeteksi tanda-tanda degeneratif, seperti pembentukan taji tulang (osteofit) yang mengarah pada cervical spondylosis.
-
CT scan: Alat ini dapat memberikan gambarkan struktur tulang secara lebih detail, seperti mendeteksi penyempitan foramen.
-
MRI: Pemeriksaan ini dapat menunjukkan lokasi dan tingkat penekanan saraf atau sumsum. MRI akan memberikan gambaran menyeluruh terhadap kondisi diskus, saraf, dan sumsum tulang belakang.
Pengobatan Cervical Spondylosis
Penanganan cervical spondylosis bergantung pada tingkat keparahan gejala dan apakah terdapat gangguan saraf. Pada pasien cervical spondylosis yang tidak menunjukkan gejala neurologis berat, dokter biasanya merekomendasikan pengobatan nonbedah atau konservatif. Pengobatan ini meliputi:
-
Pengobatan konservatif farmakologi:
-
Pemberian obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID). Namun, pasien dengan risiko gangguan lambung biasanya diberi golongan non-selective NSAIDs dan proton pump inhibitor sebagai pelindung lambung.
-
Obat pelemas otot jangka pendek untuk pasien dengan kejang otot, terutama pada nyeri yang membuat leher sulit digerakkan.
-
Pengobatan konservatif nonfarmakologi:
-
Kompres hangat atau dingin untuk mengurangi nyeri sementara waktu.
-
Fisioterapi (terapi fisik), untuk meningkatkan kekuatan otot leher dan bahu dan latihan fleksibilitas.
-
Perubahan gaya hidup agar tidak memperburuk gejala, seperti menghindari duduk dalam posisi yang sama terlalu lama.
Apabila terdapat kerusakan saraf yang progresif atau nyeri yang sangat berat dan tidak membaik dengan pengobatan konservatif selama 3–6 bulan, dokter mungkin merekomendasikan operasi. Operasi yang dilakukan dapat meliputi pengangkatan diskus hernia, tulang taji, atau bagian tertentu dari tulang belakang.
Selain melalui metode nonbedah dan bedah, pengobatan cervical spondylosis juga dapat melalui terapi alternatif, seperti akupunktur. Sebuah penelitian berjudul Efficacy and Safety of Acupuncture in the Treatment of Radicular Cervical Spondylosis: A Systematic Review and Meta-Analysis (2024) menunjukkan bahwa akupunktur lebih efektif mengurangi nyeri pada cervical spondylotic radiculopathy dibandingkan dengan terapi traksi.
Pencegahan Cervical Spondylosis
Meski tidak sepenuhnya dapat dicegah karena faktor utamanya adalah penuaan, risiko kondisi ini tetap dapat diminimalkan melalui berbagai langkah sederhana, seperti:
-
Menghindari sedentary lifestyle dengan aktif bergerak dan berolahraga secara rutin.
-
Memastikan tidak berdiri atau duduk dengan postur tubuh yang salah.
-
Sebisa mungkin menghindari cedera atau trauma leher, misalnya dengan menggunakan peralatan yang lengkap saat berolahraga dan selalu berhati-hati saat melakukan aktivitas yang berisiko mencederai leher.
Itulah penjelasan mengenai cervical spondylosis yang perlu Anda ketahui. Namun, perlu diingat bahwa informasi di atas hanya bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan diagnosis yang akurat secara medis.
Setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani pun dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Apabila mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada cervical spondylosis, seperti nyeri leher yang tak kunjung membaik, jangan ragu berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Tulang (Ortopedi) Subspesialis Tulang Belakang di Siloam Hospitals terdekat.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Dapatkan layanan kesehatan yang lebih praktis dengan mengunduh aplikasi MySiloam sekarang juga.
Sumber
Cleveland Clinic. Cervical Spondylosis. Diakses pada 2026 | Mayo Clinic. Cervical spondylosis. Diakses pada 2026 | Rheumatology Advances in Practice. Current and future advances in practice: cervical spondylosis and mechanical neck pain. Diakses pada 2026 | StatPearls. Cervical Spondylosis. Diakses pada 2026 | Frontiers in Neurology. Global trends in cervical spondylosis research: a bibliometric analysis based on the Web of Science. Diakses pada 2026 | European Spine Journal. Sleep characteristics and intervertebral disc degeneration risk: an observational and Mendelian randomization study. Diakses pada 2026 | Journal of Orthopaedic Research. Causal effects of body mass index, education, and lifestyle behaviors on intervertebral disc disorders: Mendelian randomization study. Diakses pada 2026 | BMC Musculoskeletal Disorders. Correlation analysis between neck muscles and lifestyle habits in patients with cervical instability. Diakses pada 2026 | Scientific Reports. Cardiovascular risk factors mediating the protective effect of education on cervical spondylosis risk. Diakses pada 2026 | Combinatorial Chemistry & High Throughput Screening. Efficacy and Safety of Acupuncture in the Treatment of Radicular Cervical Spondylosis: A Systematic Review and Meta-Analysis. Diakses pada 2026 | Droracle. What is the recommended management approach for a patient with cervical spondylosis?. Diakses pada 2026 | Johns Hopkins Medicine. Cervical Spondylosis. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed
Ortopedi (Tulang)
Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini






