Kesehatan Tubuh
Mengenal Amnesia Disosiatif, Gangguan Ingatan Akibat Stres

Table of Contents
Amnesia disosiatif adalah kondisi ketika seseorang mengalami kehilangan ingatan yang berkaitan dengan peristiwa tertentu, identitas diri, atau bagian penting dari kehidupannya. Berbeda dengan amnesia yang disebabkan oleh cedera otak, gangguan ini umumnya berkaitan dengan trauma psikologis atau stres berat.
Kondisi ini dianggap sebagai mekanisme pertahanan psikologis untuk melindungi diri dari ingatan yang terlalu menyakitkan atau sulit dihadapi. Meski begitu, amnesia disosiatif tetap perlu ditangani dengan tepat agar tidak mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya. Untuk mengetahui penjelasan lengkapnya, simak artikel berikut ini.
Apa Itu Amnesia Disosiatif?
Amnesia disosiatif adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mengingat informasi penting tentang dirinya atau peristiwa yang pernah dialami. Kondisi ini biasanya terjadi setelah seseorang mengalami stres berat atau peristiwa traumatis.
Dalam situasi tersebut, pikiran secara tidak sadar dapat memisahkan atau menekan ingatan tertentu sebagai bentuk mekanisme perlindungan diri dari pengalaman yang terlalu menyakitkan. Meskipun demikian, amnesia pada kondisi ini bukan berarti ingatan benar-benar hilang. Memori tersebut masih tersimpan di dalam otak, tetapi untuk sementara waktu sulit diakses oleh penderitanya.
Jenis-Jenis Amnesia Disosiatif
Amnesia disosiatif tidak selalu muncul dalam bentuk yang sama. Pada beberapa orang, kehilangan ingatan hanya terjadi pada periode tertentu, sementara pada orang lain dapat memengaruhi sebagian besar memori tentang kehidupannya. Secara umum, kondisi ini dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan pola kehilangan ingatan yang dialami, yaitu:
-
Localized amnesia: Penderitanya tidak mampu mengingat peristiwa yang terjadi pada periode waktu tertentu, terutama yang berkaitan dengan pengalaman yang sangat menegangkan atau traumatis.
-
Selective amnesia: Pada jenis ini, seseorang masih dapat mengingat sebagian kejadian dalam suatu periode, tetapi detail tertentu dari peristiwa tersebut hilang dari ingatannya. Biasanya, bagian yang terlupakan adalah pengalaman yang paling menimbulkan tekanan emosional.
-
Continuous amnesia: Amnesia ini terjadi ketika seseorang tidak dapat mengingat kejadian baru yang terjadi setelah waktu tertentu. Artinya, peristiwa baru yang dialami setelah peristiwa pemicu terjadi sulit diingat atau tersimpan dalam ingatan.
-
Systematized amnesia: Pada jenis ini, kehilangan ingatan hanya terjadi pada kelompok informasi tertentu yang memiliki kesamaan tema. Misalnya, seseorang dapat melupakan semua kenangan yang berkaitan dengan orang, tempat, atau pengalaman tertentu dalam hidupnya, sementara ingatan lainnya tetap utuh.
-
Generalized amnesia: Jenis ini tergolong jarang, tetapi dampaknya cukup besar. Pada kondisi ini, seseorang dapat kehilangan ingatan tentang identitas diri, riwayat hidup, serta berbagai pengalaman yang pernah dialami sebelumnya.
-
Dissociative fugue: Dalam beberapa kasus, amnesia disosiatif juga dapat disertai kondisi yang disebut dissociative fugue. Penderitanya dapat tiba-tiba bepergian atau berpindah tempat tanpa menyadari alasan di baliknya, bahkan terkadang mengalami kebingungan mengenai identitas dirinya.
Penyebab Amnesia Disosiatif
Amnesia disosiatif umumnya terjadi sebagai respons psikologis terhadap stres yang sangat berat atau pengalaman traumatis. Dalam kondisi tertentu, pikiran dapat secara tidak sadar memisahkan atau menekan ingatan yang berkaitan dengan pengalaman tersebut sebagai cara untuk melindungi diri dari tekanan emosional yang terlalu kuat. Akibatnya, seseorang dapat kesulitan mengingat peristiwa tertentu, terutama yang berkaitan dengan pengalaman yang menimbulkan tekanan psikologis.
Beberapa kondisi yang dapat memicu amnesia disosiatif antara lain kekerasan fisik atau emosional, kecelakaan, bencana, konflik, maupun pengalaman traumatis lainnya. Trauma yang terjadi secara berulang atau berlangsung dalam jangka waktu lama juga dapat meningkatkan risiko gangguan ini.
Penelitian dalam jurnal Annals of General Psychiatry (2024) menunjukkan bahwa amnesia disosiatif dapat berkaitan dengan trauma psikologis jangka panjang, seperti pada penderita complex post-traumatic stress disorder (CPTSD). Temuan ini menunjukkan bahwa trauma yang berkepanjangan dapat berperan dalam munculnya gangguan ingatan.
Faktor Risiko Amnesia Disosiatif
Amnesia disosiatif biasanya dipicu oleh kombinasi antara pengalaman hidup yang ekstrem dan faktor kerentanan psikologis. Semakin besar tekanan yang dialami seseorang, semakin tinggi pula kemungkinan mekanisme pertahanan mental ini aktif untuk memutus ingatan yang menyakitkan. Berikut adalah beberapa faktor risiko utama yang dapat memicu amnesia disosiatif:
-
Intensitas dan durasi trauma: Tingkat keparahan amnesia sering kali berkaitan dengan beratnya peristiwa traumatis yang dialami. Kejadian yang berlangsung lama atau terjadi berulang kali, seperti kekerasan pada masa anak-anak, berisiko lebih tinggi menyebabkan amnesia disosiatif.
-
Akumulasi beban mental: Risiko dapat meningkat secara bertahap (kumulatif) seiring dengan bertambahnya jumlah tekanan psikologis atau peristiwa traumatis yang dialami seseorang sepanjang hidupnya.
-
Genetik: Riwayat keluarga dengan kondisi serupa dapat meningkatkan risiko amnesia disosiatif. Meskipun faktor genetik tidak secara langsung menyebabkan amnesia, faktor keturunan tertentu dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap tekanan mental.
Gejala Amnesia Disosiatif
Gejala utama amnesia disosiatif adalah kehilangan ingatan, terutama terkait informasi penting tentang diri sendiri atau pengalaman yang pernah dialami. Dalam beberapa kasus, penderita bahkan tidak menyadari bahwa ia mengalami amnesia. Kehilangan memori pada amnesia disosiatif dapat terjadi dalam beberapa bentuk, antara lain:
-
Kesulitan mengingat informasi penting tentang diri sendiri, seperti riwayat hidup, pengalaman tertentu, atau kejadian yang bersifat emosional.
-
Adanya “celah” dalam ingatan, di mana penderita tidak dapat mengingat periode waktu tertentu, mulai dari beberapa jam hingga waktu yang lebih lama.
-
Ingatan yang hanya sebagian atau tidak lengkap, sehingga beberapa detail masih diingat, tetapi bagian lainnya hilang.
-
Episode amnesia yang berkaitan dengan situasi traumatis, termasuk kemungkinan terjadinya dissociative fugue, yaitu kondisi ketika seseorang berpindah tempat tanpa mengingat kejadian sebelumnya.
Diagnosis Amnesia Disosiatif
Untuk mendiagnosis amnesia disosiatif, dokter biasanya akan terlebih dahulu menanyakan gejala yang dialami pasien serta riwayat kesehatannya. Dokter dapat menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan ingatan, seperti informasi apa saja yang sulit diingat, kapan kehilangan memori mulai terjadi, serta pengalaman hidup yang mungkin berkaitan dengan stres atau trauma.
Selain mengevaluasi gejala, dokter biasanya melakukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan bahwa kehilangan ingatan tidak disebabkan oleh gangguan medis lain, seperti penyakit saraf atau efek zat tertentu. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:
-
Tes darah atau urine, untuk mendeteksi kemungkinan adanya zat beracun, obat-obatan, atau kondisi medis lain yang dapat memengaruhi fungsi memori.
-
Computed tomography (CT scan) atau magnetic resonance imaging (MRI), untuk melihat kondisi struktur otak dan menyingkirkan kemungkinan tumor atau gangguan otak lainnya.
-
Electroencephalogram (EEG), untuk memeriksa aktivitas listrik di otak dan memastikan tidak ada gangguan kejang.
Jika hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya penyebab neurologis atau medis lain, dan gejala yang dialami sesuai dengan kriteria gangguan disosiatif, dokter dapat mempertimbangkan diagnosis amnesia disosiatif. Pemeriksaan psikologis lanjutan juga dapat dilakukan untuk membantu menentukan rencana penanganan yang paling sesuai bagi pasien.
Pengobatan Amnesia Disosiatif
Hingga saat ini, belum ada terapi yang dapat sepenuhnya menyembuhkan amnesia disosiatif. Meski demikian, berbagai pendekatan pengobatan dapat membantu penderita memahami dan memproses pengalaman traumatis, sekaligus memperbaiki fungsi ingatan secara bertahap.
Salah satu penanganan yang sering digunakan adalah psikoterapi, seperti trauma-focused cognitive behavioral therapy (TF-CBT), eye movement desensitization and reprocessing (EMDR), dan dialectical behavior therapy (DBT). Terapi-terapi ini bertujuan membantu pasien memahami serta memproses pengalaman traumatis yang berkaitan dengan hilangnya ingatan.
Selain terapi tersebut, beberapa pasien juga dapat menjalani hipnoterapi sebagai pendekatan tambahan. Metode ini bertujuan membantu pasien mengeksplorasi ingatan yang sulit diakses serta memproses pengalaman emosional yang tersimpan di alam bawah sadar. Dalam praktiknya, hipnoterapi dapat melibatkan berbagai teknik, seperti age regression, informed child therapy, desensitization, dan forgiveness therapy.
Namun, perlu dicatat bahwa keberhasilan penanganan amnesia disosiatif tidak hanya bergantung pada metode terapi yang digunakan. Dukungan dari lingkungan sekitar dan kondisi psikologis pasien juga berperan penting dalam membantu proses pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Demikian penjelasan mengenai amnesia disosiatif, mulai dari pengertian, penyebab, gejala, hingga penanganannya. Penting untuk diingat bahwa informasi di atas bertujuan sebagai edukasi semata sehingga tidak dapat menggantikan saran maupun diagnosis langsung dari dokter.
Jika Anda pernah mengalami kejadian traumatis dan mengeluhkan gejala yang mengarah pada amnesia disosiatif, seperti tidak mengingat kejadian tertentu, konsultasikan dengan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di Siloam Hospitals terdekat. Dengan pemeriksaan yang tepat, dokter dapat membantu mengetahui penyebab gangguan ingatan yang dialami serta menentukan penanganan yang sesuai.
Sebagai informasi, langkah pemeriksaan di setiap rumah sakit dapat berbeda, tergantung pada fasilitas yang tersedia. Namun, dokter dan tenaga medis lainnya akan memastikan prosedur pemeriksaan sesuai dengan standar medis yang berlaku sehingga Anda dapat menerima diagnosis dan penanganan yang tepat.
Untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda, gunakan aplikasi MySiloam. Anda dapat mengakses berbagai layanan kesehatan, mulai dari mengecek jadwal praktik dokter, memesan janji temu dengan dokter terkait, hingga melihat hasil pemeriksaan secara online. Unduh MySiloam sekarang dan kelola kesehatan Anda dengan lebih praktis.
Sumber
Cleveland Clinic. Dissociative Amnesia. Diakses pada 2026 | Medical News Today. What Is Dissociative Amnesia Disorder? Diakses pada 2026 | Annals of General Psychiatry. Can dissociative amnesia be a Residual Symptom of Prolonged Complex Post-Traumatic Stress Disorder? Diakses pada 2026 | MSD Manual. Amnesia Disosiatif. Diakses pada 2026 | Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan. Psikoterapi Hipnoterapi pada Pasien dengan Amnesia Disosiatif: Sebuah Laporan Kasus. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini






