Apa Itu CAPD? Ini Manfaat, Prosedur, & Risiko Komplikasinya
Kesehatan Tubuh

Apa Itu CAPD? Ini Manfaat, Prosedur, & Risiko Komplikasinya

11 Juni 2026 5 menit waktu baca
capd adalah

Ginjal berfungsi membersihkan darah dari zat sisa metabolisme. Jika fungsi ini terganggu secara signifikan, seperti pada kondisi gagal ginjal, pasien memerlukan penanganan untuk menggantikan fungsi ginjal, salah satunya dengan cuci darah.

 

Continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) adalah metode cuci darah yang memanfaatkan lapisan perut peritonium untuk menyaring darah pada pasien gagal ginjal. Berbeda dengan hemodialisis (HD) yang menggunakan akses pembuluh darah dan mesin HD, proses penyaringan darah pada CAPD dilakukan melalui kateter yang dipasang di perut. Lantas, bagaimana cara kerja CAPD? Apa perbedaan CAPD dan HD lainnya? Simak pembahasannya.

 

Apa Itu CAPD?

 

Cuci darah (dialisis) adalah prosedur menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme, mineral, elektrolit, serta cairan berlebih pada pasien gagal ginjal. Dengan kata lain, proses cuci darah dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal yang terganggu ataupun rusak. Selain itu, prosedur ini juga dapat membantu mengendalikan tekanan darah.

 

Seperti yang telah dijelaskan di atas, CAPD adalah metode cuci darah yang dilakukan melalui peritoneum atau selaput dalam rongga perut. Peritoneum memiliki banyak jaringan pembuluh darah dan permukaan yang luas sehingga bisa menjadi filter alami saat dilewati oleh zat sisa.

 

Alat CAPD sendiri terdiri dari kantong cairan dialisat, klip, dan kateter yang digunakan untuk mengalirkan cairan dialisat ke rongga perut. Peralatan ini juga bersifat portable, sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Karena itu, prosedur CAPD juga bisa dilakukan secara mandiri setelah menjalani pelatihan dengan tenaga medis. 

 

Perbedaan CAPD dan Hemodialisis (HD)

 

Prosedur cuci darah (dialisis) sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu hemodialisis dan dialisis peritoneal. Dialisis peritoneal juga dikenal sebagai continuous ambulatory peritoneal dialysis. Kedua jenis ini dibedakan berdasarkan cara kerja, akses, frekuensi, dan lokasi prosedur dilakukan:

 

 

Perbedaan

CAPD

Hemodialisis

Akses

Pemasangan kateter melalui perut.

Pemasangan kateter melalui pembuluh darah.

Cara kerja

Cairan dialisat dialirkan ke perut untuk menyaring zat sisa, lalu cairan yang mengandung zat sisa dialirkan keluar dari rongga perut.

Darah dialirkan menuju alat cuci darah, kemudian darah dikembalikan ke tubuh pasien setelah dibersihkan.

Frekuensi

Secara berkelanjutan dalam 24 jam.

3–4 kali seminggu.

Lokasi 

Bisa dilakukan di rumah.

Harus dilakukan di fasilitas kesehatan.

 

Manfaat Melakukan CAPD

 

Tidak sedikit yang bertanya-tanya: Apakah pasien CAPD bisa sembuh? Pada dasarnya, prosedur CAPD dilakukan bukan untuk menyembuhkan, tetapi untuk meningkatkan kualitas hidup serta harapan hidup pada pasien yang ginjalnya sudah tidak berfungsi untuk membuang zat sisa metabolisme.

 

CAPD memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan metode cuci darah lainnya, yakni:

 

  • CAPD dapat membantu mempertahankan fungsi ginjal lebih lama.

  • Larangan atau batasan makanan pada penderita gagal ginjal yang menggunakan metode CAPD lebih sedikit, sehingga penderita bisa lebih fleksibel dalam mengatur asupan makanan dan minumannya.

  • Dapat membantu mengurangi beban kerja jantung dan tekanan di pembuluh darah, serta mampu mengontrol jumlah cairan di dalam tubuh dengan lebih baik.

 

Siapa yang Memerlukan CAPD?

 

Secara umum, dialisis atau cuci darah diperlukan ketika organ ginjal sudah tidak berfungsi dengan normal. Namun, terdapat beberapa pertimbangan yang membuat pasien disarankan untuk menggunakan metode CAPD. Pertimbangan untuk penggunaan CAPD adalah sebagai berikut:

 

  • Tubuh pasien tidak dapat menoleransi perubahan keseimbangan cairan tubuh ketika melakukan hemodialisis.

  • Beberapa fungsi ginjal masih bisa bekerja dengan baik.

  • Ginjal tidak lagi bisa berfungsi secara optimal, namun pasien masih ingin melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal, seperti pergi sekolah dan bekerja.

 

Pada intinya, tidak semua orang bisa memilih metode CAPD. Konsultasi dengan dokter tetap diperlukan untuk memastikan bahwa CAPD merupakan prosedur yang tepat untuk mendukung terapi pasien. 

 

Persiapan sebelum Prosedur CAPD

 

Sebelum menggunakan metode CAPD, pasien perlu melalui proses pemasangan kateter oleh dokter. Langkah-langkah yang dilakukan dokter untuk memasang kateter adalah sebagai berikut:

 

  • Anestesi lokal atau umum diberikan pada pasien.

  • Sayatan kecil dibuat di bagian perut bawah dekat pusar.

  • Tabung kateter dimasukkan melalui sayatan tersebut hingga mencapai rongga peritoneum di perut pasien.

 

Setelah pemasangan kateter, pasien bisa menjalani perawatan di ruang rawat inap atau langsung pulang pada hari yang sama, tergantung kondisi. Kemudian, pasien perlu menunggu selama 10–20 hari sebelum memulai prosedur CAPD secara mandiri agar luka bekas operasi bisa sembuh dengan baik.

 

Namun, sebelum melakukan prosedur CAPD secara mandiri, pasien juga perlu menjalani pelatihan dialisis mandiri bersama tenaga medis. Selain itu, ruangan tempat pasien akan menjalani CAPD di rumah juga harus dipersiapkan dengan baik. Tenaga medis bisa melakukan kunjungan ke rumah untuk memastikan tempat menjalani CAPD nantinya sudah sesuai dengan standar.

 

Mengingat bahwa prosedur ini bisa dilakukan di rumah tanpa pengawasan dokter maupun perawat, pasien beserta keluarga yang mendampinginya harus benar-benar memahami penggunaan CAPD.

 

Prosedur CAPD

 

Sebelum memulai prosedur, pastikan tangan sudah dalam kondisi steril serta memakai masker untuk menutup hidung dan mulut. Kemudian, siapkan alat transfer set CAPD beserta larutan dialisis yang sudah diresepkan oleh dokter. Apabila alat transfer set CAPD sudah disiapkan, ikuti langkah-langkah berikut ini:

 

  • Sebelum digunakan, hangatkan kantong cairan dialisat menggunakan rendaman air hangat.

  • Gantung kantong cairan dialisat pada tiang setinggi bahu, lalu hubungkan ke pipa.

  • Keluarkan udara dari tabung dengan cara membuang sebagian cairan ke kantong pembuangan. Setelah itu, jepit tabung yang menuju kantong pembuangan.

  • Buka sambungan yang menuju rongga perut, lalu biarkan cairan dialisat mengalir ke rongga perut.

  • Setelah cairan masuk sepenuhnya, tutup kateter agar pasien bisa beraktivitas dengan normal.

  • Setelah 4–6 jam disimpan di dalam tubuh (dwell time), cairan yang berisi zat sisa dapat dialirkan keluar dari rongga perut untuk dibuang.

 

Frekuensi CAPD akan ditentukan oleh dokter sesuai dengan kondisi pasien. Umumnya, durasi waktu yang diperlukan untuk  membuang dan mengganti larutan adalah sekitar 30–40 menit. Penderita bisa duduk atau tidur sembari menunggu proses tersebut.

Metode cuci darah

 

Risiko Efek Samping dan Komplikasi CAPD

 

Di balik manfaatnya, metode CAPD juga berisiko menimbulkan sejumlah efek samping atau komplikasi yang perlu diperhatikan. Hal ini bisa menjadi pertimbangan dokter maupun pasien dalam menentukan metode prosedur cuci darah yang tepat. Adapun beberapa risiko efek samping dan komplikasi CAPD adalah sebagai berikut:

 

  • Infeksi.

  • Hernia.

  • Peningkatan berat badan karena cairan dialisat mengandung gula yang disebut dengan dekstrosa. Hal ini juga dapat memperburuk kondisi diabetes.

  • Dialisis tidak lagi optimal seiring berjalannya waktu.

 

Itulah penjelasan mengenai CAPD atau continuous ambulatory peritoneal dialysis yang perlu Anda ketahui. Secara umum, metode ini aman dilakukan, namun tidak diperuntukkan bagi semua penderita gagal ginjal. Dokter akan menentukan jenis prosedur cuci darah yang paling tepat sesuai dengan kondisi kesehatan penderita.

 

Karenanya, jika Anda mengalami gejala gangguan fungsi ginjal, konsultasikan dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam terdekat untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut dan rekomendasi terapi yang perlu dilakukan.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan langkah pengobatan di setiap rumah sakit mungkin berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Kendati demikian, tenaga medis profesional akan menentukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi kesehatan pasien.

 

Apabila Anda membutuhkan informasi lebih lanjut terkait kondisi dan terapi yang perlu dijalani, mencari second opinion bisa menjadi langkah yang bijak sebelum mengambil keputusan medis. 

 

Untuk mengakses layanan kesehatan berstandar internasional dengan lebih mudah, hubungi Siloam Medical Concierge untuk membantu Anda memperoleh informasi jadwal dokter, layanan pemeriksaan, dan fasilitas medis dengan standar rumah sakit internasional. Mari, mulai perjalanan kesehatan Anda bersama kami, di Indonesia.

 

 

second opinion penanganan komprehensif

Sumber

Cleveland Clinic. Dialysis. Diakses pada 2026 | Kidney Care UK. Patient Info: Peritoneal Dialysis (PD). Diakses pada 2026 | Kidney Research UK. Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis. Diakses pada 2026 | Pharmaceutical Journal. Haemodialysis and Peritoneal Dialysis: An Overview. Diakses pada 2026 | Royal Berkshire NHS Foundation Trust. What Is CAPD? Diakses pada 2026 |

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail