Mengenal Tentang CAPD, Metode Cuci Darah yang Dilakukan Melalui Perut
Kesehatan Tubuh

Mengenal Tentang CAPD, Metode Cuci Darah yang Dilakukan Melalui Perut

01 September 2025 5 menit waktu baca
capd adalah

Continuous ambulatory peritoneal dialysis atau CAPD adalah metode cuci darah yang dilakukan melalui perut. Metode ini merupakan salah satu pengobatan untuk pasien gagal ginjal. Alih-alih membuat akses hemodialisis di lengan, akses CAPD menggunakan selang yang dipasang di perut. Lantas, bagaimana cara kerja CAPD? Apa manfaatnya? Mari simak pembahasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu CAPD?

 

Pada dasarnya, cuci darah (dialisis) adalah prosedur yang bertujuan untuk menggantikan fungsi ginjal dalam membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme, mineral, elektrolit, serta cairan berlebih pada pasien gagal ginjal. Selain itu, prosedur ini juga dapat membantu mengendalikan tekanan darah. Akses cuci darah atau hemodialisis dapat dilakukan melalui 2 metode, yaitu fistula arteriovenous (AV) atau disebut juga cimino dan CAPD.

 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, continuous ambulatory peritoneal dialysis atau CAPD adalah metode cuci darah yang dilakukan lewat perut. CAPD memanfaatkan penggunaan peritoneum atau selaput dalam rongga perut. Sebagai informasi, peritoneum memiliki banyak jaringan pembuluh darah dan permukaan yang luas sehingga bisa menjadi filter alami saat dilewati oleh zat sisa.

 

Manfaat Melakukan CAPD

 

CAPD adalah metode hemodialisis yang bekerja dengan cara menggantikan fungsi ginjal dalam menyaring zat sisa metabolisme. Namun, perlu diingat bahwa metode ini tidak bisa menyembuhkan gagal ginjal, melainkan hanya menggantikan fungsi ginjal agar tubuh tetap bisa beraktivitas secara normal. Beberapa manfaat CAPD adalah sebagai berikut:

 

  • Pasien gagal ginjal tidak perlu harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani hemodialisis. Pada metode CAPD, pasien telah dipasangi kateter sehingga memungkinkan untuk melakukan cuci darah di rumah ataupun di tempat lain.

  • Peralatan CAPD bersifat portable, sehingga mudah dibawa ke mana-mana. CAPD hanya terdiri dari kantong cairan dialisat, klip, dan kateter yang digunakan untuk mengalirkan cairan dialisat ke dalam rongga perut.

  • Jika dibandingkan dengan metode hemodialisis lainnya, CAPD dapat membantu mempertahankan fungsi ginjal lebih lama.

  • Larangan atau batasan makanan pada penderita gagal ginjal yang menggunakan metode CAPD lebih sedikit, sehingga penderita bisa lebih fleksibel dalam mengatur asupan makanan dan minumannya.

  • Dapat membantu mengurangi beban kerja jantung dan tekanan di pembuluh darah, serta mampu mengontrol jumlah cairan di dalam tubuh dengan lebih baik.

 

Siapa yang Memerlukan CAPD?

 

Secara umum, dialisis atau cuci darah diperlukan ketika organ ginjal sudah tidak berfungsi dengan normal. Namun, terdapat beberapa pertimbangan yang membuat pasien disarankan untuk menggunakan metode CAPD alih-alih metode hemodialisis lainnya seperti fistula AV (cimino). Pertimbangan untuk penggunaan CAPD adalah sebagai berikut:

 

  • Tubuh pasien tidak dapat menoleransi perubahan keseimbangan cairan tubuh ketika melakukan hemodialisis.

  • Beberapa fungsi ginjal masih bisa bekerja dengan baik.

  • Ginjal tidak lagi bisa berfungsi secara optimal, namun pasien masih ingin melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal, seperti pergi sekolah dan bekerja.

 

Pada intinya, tidak semua orang bisa memilih metode CAPD. Bahkan, pasien yang rutin menjalani CAPD tetap bisa mengalami penurunan fungsi ginjal secara bertahap, sehingga tetap perlu melakukan prosedur hemodialisis di rumah sakit.

 

Persiapan sebelum Prosedur CAPD

 

Sebelum menggunakan metode CAPD, pasien perlu melalui proses pemasangan kateter dan pelatihan dialisis mandiri bersama tenaga medis. Mengingat bahwa prosedur ini bisa dilakukan di rumah tanpa pengawasan dokter maupun perawat, maka pasien beserta keluarga yang mendampinginya harus benar-benar memahami penggunaan CAPD.

 

Pemasangan kateter dapat dilakukan oleh dokter di rumah sakit. Sebelumnya, pasien perlu mendapatkan anestesi lokal atau umum, kemudian dokter akan membuat sayatan kecil di bagian perut bawah di dekat pusar. Setelah itu, tabung kateter akan dimasukkan melalui sayatan tersebut hingga mencapai rongga peritoneum pasien.

 

Pascaprosedur pemasangan kateter, pasien biasanya perlu menjalani rawat inap di rumah sakit. Namun, di beberapa kondisi, dokter bisa mengizinkan pasien pulang di hari yang sama. Setelah pemasangan kateter, pasien perlu menunggu selama 10–20 hari sebelum memulai prosedur CAPD secara mandiri agar luka bekas operasi bisa sembuh dengan baik.

 

Prosedur CAPD

 

Prosedur CAPD bisa dilakukan secara mandiri di rumah. Sebelum memulai prosedur, pastikan tangan sudah dalam kondisi steril serta memakai masker untuk menutup hidung dan mulut. Kemudian, siapkan alat transfer set CAPD beserta larutan dialisis yang sudah diresepkan oleh dokter. Apabila alat transfer set CAPD sudah disiapkan, ikuti langkah-langkah berikut ini:

 

  • Sebelum digunakan, hangatkan kantong cairan dialisat menggunakan rendaman air hangat.

  • Gantung kantong cairan dialisat pada tiang dengan ketinggian setinggi bahu, lalu hubungkan ke pipa.

  • Keluarkan udara dari tabung dengan cara membuang sebagian cairan ke kantong pembuangan. Setelah itu, jepit tabung yang menuju kantong pembuangan.

  • Buka sambungan yang menuju rongga perut, lalu biarkan cairan dialisat mengalir ke rongga perut.

  • Setelah cairan masuk sepenuhnya, tutup kateter agar pasien bisa beraktivitas dengan normal.

  • Setelah 4–6 jam disimpan di dalam tubuh (dwell time), cairan yang berisi zat sisa dapat dialirkan keluar dari rongga perut untuk dibuang.

 

Prosedur CAPD bisa dilakukan sebanyak 3–6 kali sehari, sudah termasuk 1 kali sebelum tidur untuk membiarkan larutan tersimpan di dalam perut semalaman. Adapun waktu yang dibutuhkan untuk membuang dan mengganti larutan adalah sekitar 30–40 menit. Penderita bisa duduk atau tidur sembari menunggu proses tersebut.

 

Metode cuci darah

 

Efek Samping yang Mungkin Terjadi

 

Dibalik manfaatnya, metode CAPD juga berisiko menimbulkan sejumlah efek samping atau komplikasi yang perlu diperhatikan. Hal ini bisa menjadi pertimbangan dokter maupun pasien dalam menentukan metode prosedur cuci darah yang tepat. Adapun beberapa efek samping CAPD adalah sebagai berikut:

 

  • Infeksi.

  • Hernia.

  • Peningkatan berat badan karena cairan dialisat mengandung gula yang disebut dengan dekstrosa. Hal ini juga dapat memperburuk kondisi diabetes.

  • Dialisis tidak lagi optimal seiring berjalannya waktu.

 

Itulah penjelasan mengenai CAPD atau continuous ambulatory peritoneal dialysis yang perlu Anda ketahui. Secara umum, metode ini aman dilakukan, namun tidak diperuntukkan bagi semua penderita gagal ginjal. Dokter yang dapat menentukan jenis prosedur cuci darah yang paling tepat sesuai dengan kondisi kesehatan penderita.


Kesehatan ginjal perlu dijaga dengan baik, mengingat bahwa fungsinya cukup vital bagi tubuh. Untuk itu, Anda bisa melakukan Pemeriksaan Fungsi Ginjal guna mendeteksi ataupun mencegah penyakit ginjal sejak dini. Selain itu, bila Anda sedang mengalami keluhan yang mengarah pada kesehatan ginjal, segera lakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals.

 

Aplikasi My Siloam (1)

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail