Cystitis - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya
Kesehatan Tubuh

Cystitis - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya

20 Agustus 2025 5 menit waktu baca
cystitis adalah

Table of Contents

Cystitis adalah peradangan pada kandung kemih, di mana penderitanya akan mengalami nyeri ketika akan atau sedang buang air kecil. Cystitis lebih sering menyerang wanita karena sistem genital wanita bersifat terbuka terhadap lingkungan luar. Wanita juga memiliki uretra lebih pendek yang membuatnya mudah terkontaminasi bakteri dari anus.

 

Cystitis paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri yang juga menjadi penyebab infeksi saluran kemih. Mari simak ulasan di bawah ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyebab, gejala, cara mengobati, dan pencegahan cystitis.

 

Apa itu Cystitis?

 

Cystitis adalah peradangan pada kandung kemih yang umumnya disebabkan oleh infeksi. Cystitis cukup umum terjadi, terutama pada wanita. Kondisi ini biasanya tidak menyebabkan komplikasi serius.

 

Cystitis dengan gejala ringan umumnya akan hilang sendiri sekalipun tanpa pengobatan. Meski begitu, gejala akibat cystitis dapat membuat penderitanya merasa tidak nyaman dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

 

Penyebab Cystitis

 

Cystitis dapat terjadi karena infeksi maupun non-infeksi. Cystitis akibat infeksi paling sering disebabkan oleh bakteri E. coli, yang masuk ke kandung kemih dan menyebabkan peradangan. Bakteri E. coli umumnya berada di dalam usus.

 

Sementara itu, cystitis non-infeksi sering kali disebabkan oleh kerusakan atau iritasi pada kandung kemih. Kondisi ini dapat terjadi karena penggunaan kateter urine dalam waktu yang lama, aktivitas seksual, efek samping kemoterapi dan radioterapi, serta bahan kimia yang mengiritasi seperti spermisida.

 

Faktor Risiko Cystitis

 

Cystitis bisa menyerang siapa saja. Akan tetapi, sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya cystitis adalah sebagai berikut:

 

  • Penggunaan kateter urine: Penggunaan alat medis ini dalam waktu yang lama dapat membawa bakteri di sepanjang saluran kemih.
  • Penggunaan tampon: Memasukkan tampon ke dalam vagina berisiko membawa sedikit bakteri masuk melalui uretra.
  • Jenis kelamin perempuan: Hal ini dikarenakan bukaan uretra wanita lebih dekat dengan anus sehingga bakteri dari anus lebih mudah memasuki uretra, terutama jika cara membersihkan organ genital tidak tepat.
  • Usia: Usia yang rentan terkena cystitis adalah di atas 75 tahun atau di bawah 1 tahun.
  • Kondisi medis tertentu: Misalnya diabetes atau gangguan sistem imun tubuh.
  • Kebiasaan membasuh organ kewanitaan dari belakang ke depan setelah buang air kecil.
  • Menjalani radioterapi: Pengobatan radioterapi dapat menyebabkan peradangan kandung kemih dan berujung menjadi cystitis.
  • Menurunnya kadar estrogen: Menurunnya kadar estrogen membuat lapisan uretra menipis, sehingga kemungkinan terjadinya infeksi juga semakin tinggi.
  • Masalah kesehatan pada kandung kemih atau ginjal.
  • Penyumbatan pada sistem kemih: Kondisi ini dapat menghalangi aliran urine.
  • Honeymoon cystitis: Kasus cystitis yang disebabkan oleh aktivitas seksual yang terlalu sering.
  • Kandung kemih penuh: Kandung kemih yang tidak dikosongkan (menyisakan urine) dapat menciptakan lingkungan bagi bakteri untuk berkembang biak.

 

Gejala Cystitis

 

Gejala umum yang sering kali dialami oleh penderita cystitis adalah sebagai berikut:

 

  • Nyeri pada perut bagian bawah, punggung bawah, panggul, dan uretra (saluran keluarnya urine dari tubuh).
  • Kandung kemih terasa nyeri dan seperti tertekan, terutama saat ingin buang air kecil.
  • Overactive bladder (peningkatan frekuensi buang air kecil).
  • Sering buang air kecil dengan volume yang sedikit hingga lebih dari 8 kali sehari.
  • Merasakan sensasi terbakar, menyengat, dan nyeri saat buang air kecil.
  • Urine berwarna keruh atau gelap dan berbau menyengat.

 

Gejala cystitis pada wanita biasanya disertai nyeri pada vagina, bibir vagina, atau area belakang vagina. Keluhan nyeri ini juga bisa muncul ketika melakukan aktivitas seksual. 

 

Sementara pada pria, cystitis sering kali menyebabkan nyeri pada kantung testis, penis, atau area di belakang testis. Rasa nyeri tersebut juga bisa muncul ketika orgasme atau setelah berhubungan seksual.

 

Diagnosis Cystitis

 

Beberapa pemeriksaan yang biasa dilakukan dokter untuk mendiagnosis pasien cystitis adalah sebagai berikut:

 

1. Pemeriksaan Panggul

 

Dokter akan memeriksa perut, rahim, serta vagina untuk mengecek organ-organ area perut.

 

2. Tes urine

 

Tujuan tes urine pada pasien cystitis adalah untuk memeriksa atau menemukan tanda-tanda infeksi saluran kencing, seperti sel darah merah, sel darah putih, atau bakteri. Pengujian sampel urine juga berfungsi memeriksa apakah terdapat sel-sel berbahaya di kandung kemih.

 

3. Hidrodistensi

 

Hidrodistensi dilakukan dengan memasukkan sistoskop (tabung kecil panjang yang dilengkapi kamera) ke uretra untuk melihat kandung kemih secara lebih jelas. Kemudian dokter akan menyuntikkan cairan khusus untuk memeriksa kapasitas kandung kemih.

 

4. Tes Sensitivitas Kalium

 

Melalui tes ini, dokter akan memasukkan kalium klorida dan air ke dalam kandung kemih. Apabila Anda merasa nyeri saat buang air kecil ketika disuntikkan kalium, maka ada kemungkinan Anda mengalami cystitis.

 

Cara Mengobati Cystitis

 

Cara mengobati cystitis akan disesuaikan dengan penyebabnya. Apabila 

ditemukan infeksi bakteri, dokter akan memberikan obat antibiotik. Kondisi ini biasanya bisa membaik dalam 1-2 hari. Obat antibiotik perlu diminum sampai habis atau sesuai anjuran.

 

Pada kasus cystitis interstitial yang tidak diketahui penyebabnya, dokter biasanya akan merekomendasikan pasien untuk menjalani perubahan gaya hidup, antara lain:

 

  • Menghindari makanan pedas dan makanan tinggi kalium.
  • Berdiskusi dengan dokter mengenai pelatihan kandung kemih untuk mengubah kebiasaan buang air kecil.
  • Membatasi atau menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol.

 

Apabila cystitis sudah berada pada tingkat kronis, di mana obat-obatan ataupun cara lainnya tidak memberikan efek signifikan, dokter mungkin akan merekomendasikan prosedur operasi atau pembedahan untuk memperbaiki masalah struktural.

 

Pencegahan Cystitis

 

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah cystitis adalah sebagai berikut:

 

  • Hindari menggunakan sabun atau produk lain yang mengandung pewangi tambahan pada area alat kelamin.
  • Jangan biasakan menahan kencing. Segera buang air kecil hingga tuntas.
  • Menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Memenuhi kebutuhan cairan tubuh dapat membantu menghentikan perkembangan bakteri di kandung kemih.
  • Pada wanita, bersihkan area kelamin dari arah depan ke belakang setelah buang air kecil atau besar.
  • Kosongkan kandung kemih setelah berhubungan intim.
  • Menghindari penggunaan alat kontrasepsi diafragma.
  • Kenakan pakaian dalam berbahan katun.
  • Hindari pemakaian celana yang ketat.
  • Minum air mineral yang cukup, yakni kurang lebih 2 liter per hari.



Untuk mencegah adanya komplikasi lebih serius, segera konsultasikan kepada dokter Siloam Hospitals apabila Anda mengalami gejala-gejala di atas. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

 

Anda juga dapat mengunjungi Siloam Hospitals Asri yang telah dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih untuk memberikan layanan bedah terkait gangguan prostat, tumor urothelium, batu ginjal, ataupun keluhan-keluhan urologi lain.


Untuk membuat janji temu, silakan menghubungi call center kami di 1-500-911 atau gunakan fitur yang tersedia di aplikasi MySiloam. Mari jaga kesehatan #BersamaSiloam!

 

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 3

message

ArticleDetail