Apa itu Fertilisasi - Definisi, Proses, dan Tujuannya
Ibu dan Anak

Apa itu Fertilisasi - Definisi, Proses, dan Tujuannya

07 Januari 2026 5 menit waktu baca
fertilisasi adalah

Fertilisasi adalah istilah yang sangat umum dibahas dalam bidang biologi dan ilmu kedokteran. Fertilisasi atau yang disebut juga dengan pembuahan ini merupakan proses ketika sel telur dan sel sperma bertemu hingga terbentuk embrio. Proses pembuahan cukup kompleks dan terbagi menjadi beberapa tahap.

 

Konsep fertilisasi cukup penting untuk dipahami. Pasalnya, proses pembuahan ini menentukan seberapa besar kesempatan seorang wanita untuk bisa hamil. Kondisi fertilisasi seseorang juga menjadi salah satu indikator dalam menentukan solusi kehamilan. Mari pahami lebih lanjut tentang tahapan proses fertilisasi berikut ini.

 

Apa itu Fertilisasi?

 

Fertilisasi adalah suatu proses pertemuan kedua sel gamet, yang terdiri dari sel sperma dari laki-laki dan sel telur (ovum) dari perempuan. Apabila proses pembuahan berhasil terjadi, maka proses ini akan menghasilkan sel tunggal yang disebut dengan zigot. Tempat terjadinya fertilisasi adalah di tuba falopi wanita (oviduct).

 

Fertilisasi berfungsi untuk mengaktivasi ovum agar bisa memulai proses pembuahan, membuat jumlah kromosom dari haploid (hanya terdiri dari satu set kromosom) menjadi diploid (terdiri dari dua kromosom dalam satu set), hingga menurunkan materi genetik pada anak. 

 

Ada beberapa syarat yang perlu dilakukan agar proses fertilisasi bisa tercapai, di antaranya:

 

  • Ada hubungan kontak antara ovum dan sperma.

  • Ada proses masuknyasperma ke dalam ovum.

  • Terjadi penggabungan bahan genetik dari ovum maupun sperma.

  • Terjadi proses aktivasi metabolik ovum agar memungkinkan dimulainya tahap perkembangan.

 

Proses Fertilisasi pada Manusia

 

Selama proses pembuahan, sperma dan ovum akan bersatu di salah satu saluran tuba dan membentuk zigot. Kemudian, zigot tersebut berjalan menuruni tuba falopi, lalu berubah menjadi morula. Setelah mencapai rahim, morula akan berkembang menjadi blastosista (embrio).

 

Blastosista atau embrio tersebut kemudian menempel dan tertanam pada lapisan dinding rahim (endometrium), proses ini disebut juga dengan implantasi. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai masing-masing tahapan dalam proses fertilisasi atau pembuahan.

 

1. Masuknya Sperma

 

Pada dasarnya, masuknya sel sperma dari vagina wanita tidak secara otomatis membuahi ovum yang telah dilepaskan oleh ovarium selama masa ovulasi. Sperma tersebut akan terlebih dahulu melalui proses adaptasi atau yang disebut juga dengan kapasitasi.

 

Proses kapasitasi dimulai dengan peningkatan ion kalsium pada sperma sehingga ekornya bisa bergerak lebih gesit. Ketika jaraknya semakin dekat dengan sel telur, antigen pada permukaan sperma akan menghilang agar sperma dapat mencapai sel telur.

 

2. Sel Sperma dan Sel Telur Bertemu

 

Tahapan selanjutnya dari proses fertilisasi adalah bertemunya sel telur dan sel sperma. Namun, untuk mencapai tahap ini sebenarnya tidaklah mudah. Pasalnya, sel telur mempunyai zona pellucida yang tebal dan berpotensi membuat sperma tidak mampu penetrasi atau memasuki ovum, sehingga pembuahan bisa gagal.

 

Agar bisa bertemu dengan ovum, sperma harus berjalan sepanjang 18 cm dari leher rahim menuju tuba falopi. Waktu paling cepat yang dibutuhkan sperma untuk mencapai sel telur dalam proses fertilisasi adalah 45 menit. Pasalnya sperma hanya bisa berenang dengan kecepatan sekitar 2,5 cm per 15 menit.

 

3. Sel Sperma dan Sel Telur Menyatu

 

Ketika sperma bertemu dengan ovum, tidak serta-merta langsung terjadi pembuahan. Untuk membuahi ovum, sperma masih membutuhkan protein PH30 atau fertilin. Fertilin tersebut digunakan untuk meleburkan dua membran pada sel telur dan sperma, sehingga sperma bisa masuk ke dalam ovum.

 

Pada tahap ini, sel sperma akan melepaskan ekornya, termasuk bagian mitokondria yang terletak pada pangkal ekor dari sperma. Bagian mitokondria sel sperma ini berfungsi sebagai penghasil energi untuk mendukung pergerakan sperma menuju ovum. 

 

Setelah itu, barulah terjadi pembuahan atau fertilisasi. Waktu yang diperlukan oleh kedua sel untuk melakukan fertilisasi adalah 24 jam. Setelahnya, sel telur yang telah dibuahi masih memerlukan waktu sekitar 3–4 hari untuk bisa mencapai rahim.

 

4. Aktivasi

 

Tahap terakhir dari fertilisasi adalah aktivasi, yakni respons ovum terhadap pembuahan yang dilakukan oleh sel sperma. Pertama-tama, ovum akan melakukan upaya untuk mencegah terjadinya polispermi (pembuahan oleh lebih dari satu sel sperma).

 

Dalam rentang waktu 24 jam setelah pembuahan terjadi, sel telur akan berkembang menjadi zigot, dan tumbuh sebagai embrio. Dalam waktu 5–10 hari kemudian, embrio tersebut akan menempel dan tertanam di lapisan dinding rahim. Proses ini disebut juga dengan implantasi.

 

Ketika usia kehamilan sudah mencapai 9 minggu, embrio akan berkembang menjadi fetus atau janin yang akan terus berkembang dalam waktu kurang lebih 9 bulan, hingga ia dilahirkan ke dunia.

 

Mengenal Fertilisasi Buatan

 

Tujuan utama dari proses fertilisasi adalah terwujudnya kehamilan dan mempunyai keturunan. Sayangnya, beberapa orang dengan kondisi tertentu, seperti infertilitas sering kali kesulitan untuk hamil. Namun, kini sudah ada teknologi medis yang bisa membantu mewujudkan kehamilan dengan bantuan teknologi fertilisasi buatan atau teknologi reproduksi berbantu.

 

Fertilisasi buatan adalah pembuahan yang dilakukan di luar tubuh, metode ini disebut juga dengan bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). IVF dilakukan dengan mengambil sel telur dan menyatukannya dengan sel sperma di dalam tempat khusus di laboratorium. Setelah beberapa hari, sel telur yang sudah dibuahi akan dimasukkan ke dalam rahim.

 

Selain bayi tabung, inseminasi buatan juga menjadi salah satu solusi bagi pasangan yang memiliki masalah infertilitas dan ingin hamil. Inseminasi buatan bertujuan untuk memperpendek jarak renang sperma menuju sel telur, sehingga peluang keberhasilan fertilisasi akan meningkat.

 

Berbeda dengan bayi tabung yang pembuahannya dilakukan di luar tubuh, proses fertilisasi pada inseminasi buatan tetap berada dalam rahim wanita.

 

Apa yang Terjadi jika Fertilisasi Tidak Berhasil?

 

Terjadinya kehamilan merupakan tanda bahwa fertilisasi telah berhasil. Ketika fertilisasi gagal, maka sel telur tidak aktif. Apabila sel telur tidak aktif, maka dinding rahim akan mengalami peluruhan atau disebut juga dengan menstruasi.

 

Itulah penjelasan mengenai fertilisasi yang penting untuk dipahami, terutama bagi pasangan yang ingin merencanakan kehamilan. Namun perlu diketahui, informasi di atas tidak dapat menggantikan saran maupun diagnosis dari tenaga medis profesional.

 

Karena itu, jangan ragu untuk mengunjungi Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh penanganan yang tepat dan akurat.

 

Sebagai informasi, penanganan yang direkomendasikan pun dapat berbeda tergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Siloam at Home (1)

Dokter Kami
dr-lenny-khosal-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-tia-indriana-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Tia Indriana, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-danny-wiguna-spog

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Danny Wiguna, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Yogyakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail