Kesehatan Tubuh
Leukodistrofi: Penyebab, Gejala, Diagnosis, & Pengobatannya

Table of Contents
Leukodistrofi adalah sekelompok kelainan genetik langka yang mempengaruhi sistem saraf pusat, yaitu otak dan sumsum tulang belakang. Hingga saat ini, terdapat lebih dari 50 kondisi berbeda yang dianggap sebagai leukodistrofi. Lantas, apa penyebabnya dan bagaimana pengobatannya? Mari simak ulasan selengkapnya di bawah ini.
Apa itu Leukodistrofi?
Leukodistrofi adalah sejumlah gangguan saraf yang menyerang white matter (substansia alba) dari sistem saraf sentral (SSP) yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Sebagai catatan, white matter terbuat dari serabut saraf yang terinsulasi.
Sekumpulan gangguan yang termasuk dalam leukodistrofi ini dapat merusak mielin, yaitu selubung pelindung pada sel-sel saraf (axon) di otak dan tulang belakang. Kerusakan ini dapat mengganggu komunikasi antara otak dengan tubuh penderita.
Leukodistrofi terjadi karena abnormalitas pada produksi, pemrosesan, atau perkembangan mielin, termasuk sel yang disebut sebagai oligodendrosit dan astrosit. Kedua sel tersebut termasuk dalam kelompok sel glia yang mengelilingi, menyokong, dan mengisolasi sel saraf. Kondisi leukodistrofi termasuk kondisi yang jarang terjadi. Penyakit ini mempengaruhi sekitar 1 dari 7.000 kelahiran hidup.
Gangguan yang disebabkan oleh leukodistrofi biasanya bersifat progresif yang artinya kondisi ini dapat memburuk dari waktu ke waktu. Pada beberapa kasus, leukodistrofi ditemukan sejak lahir. Sementara itu, penderita lainnya tidak menunjukkan gejala hingga beberapa tahun setelah kelahiran atau ketika anak tumbuh menjadi balita. Namun, beberapa kasus eukodistrofi dapat ditemukan pada orang dewasa.
Penyebab Leukodistrofi
Leukodistrofi adalah kondisi yang disebabkan oleh mutasi atau perubahan genetik yang memengaruhi pertumbuhan atau fungsi mielin, lapisan pelindung pada serabut saraf. Ketika mielin terganggu, sel-sel saraf tidak dapat berfungsi dengan optimal, yang menyebabkan berbagai masalah neurologis. Sebagian besar kasus leukodistrofi diturunkan dari orang tua kepada anak, tetapi ada juga kasus yang terjadi karena mutasi genetik mendadak saat sel tumbuh dan membelah diri.
Gejala Leukodistrofi
Tanda-tanda leukodistrofi bervariasi pada berbagai jenis penyakit. Akan tetapi, sebagian besar menimbulkan fungsi neurologis yang menurun secara bertahap. Hal ini ditandai dengan tubuh dan otak yang sulit berkomunikasi antara satu sama lain. Leukodistrofi dapat menyebabkan sejumlah masalah atau gangguan dalam berbagai aspek berikut:
-
Pernapasan.
-
Keseimbangan.
-
Pendengaran.
-
Kognisi, seperti kemampuan berpikir, mengingat, dan belajar.
-
Penglihatan.
-
Bicara.
-
Gerakan dan koordinasi tubuh.
-
Kemampuan makan.
-
Kandung kemih.
-
Perkembangan.
-
Kontrol otot.
-
Perilaku.
Para peneliti telah mengidentifikasi lebih dari 50 jenis leukodistrofi yang berbeda. Namun, masih banyak jenis leukodistrofi lainnya yang belum teridentifikasi. Berikut penjelasan beberapa jenis leukodistrofi yang paling umum:
-
Adrenoleukodistrofi (ALD): Kondisi yang memengaruhi white matter dan kelenjar adrenal yang mengontrol produksi hormon. Kondisi ini biasanya dimulai pada masa kanak-kanak atau awal masa dewasa yang ditandai dengan kejang hingga kehilangan fungsi otot (kelumpuhan).
-
Autosomal dominant leukodystrophy with autonomic diseases (ADLD): Terjadi pada sekitar usia 40 atau 50 tahun. Kondisi ini mencegah perkembangan sel otak dan produksi mielin. Selain itu, kondisi ini juga dapat menyebabkan masalah pada gerakan dan kognisi serta disfungsi otonom, seperti regulasi tekanan darah dan detak jantung.
-
Alexander disease: Kondisi ini ditandai dengan rusaknya white matter dan adanya pembentukan gumpalan protein, Rosenthal fibers, di dalam sel otak. Alexander disease disebakan oleh mutasi gen GFAP yang dapat muncul pada usia kapanpun, namun sebagian besar kasus berkembang pada bayi atau anak-anak. Hal ini dapat menghambat perkembangan dan hilangnya kemampuan motorik.
-
Cerebrotendinous xanthomatosis (CTX): Kondisi yang memengaruhi white matter, tendon, dan jantung. Jenis leukodistrofi ini merupakan kelainan genetik langka yang ditandai dengan penyimpanan lemak yang tidak normal di seluruh tubuh. Hal ini memengaruhi metabolisme lemak di dalam tubuh yang dapatmenyebabkan lemak membentuk benjolan kuning berlemak yang disebut xanthomas, terutama di otak.
-
Canavan disease: Gangguan leukodistrofi yang menyebabkan terbentuknya jaringan spons yang penuh dengan ruang kecil berisi cairan di dalam otak. Kondisi yang biasanya ditemukan pada awal masa bayi ini menyebabkan penyusutan otak secara progresif.
-
Ataksia pada masa kanak-kanak dengan hipomielinasi sistem saraf pusat (CACH): Kondisi yang mengganggu pembentukan mielin. CACH dapat menyebabkan kerusakan saraf mata serta kehilangan kemampuan bicara pada 5 tahun pertama kehidupan anak. Gejala-gejala yang dialami biasanya meliputi kejang, ataksia, dan kekakuan pada otot.
-
Leukodistrofi metakromatik: Kondisi yang ditandai oleh kejang, kebutaan, dan demensia. Biasanya terjadi karena penumpukan lipid pada white matter dan saraf tepi yang dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf.
-
Krabbe disease: Penyakit ini disebabkan oleh adanya kerusakan pada gen yang berperan dalam metabolisme mielin. Penyakit ini paling sering menyerang bayi dengan gejala sebelum usia 6 bulan, namun juga dapat terjadi pada masa remaja atau dewasa. Kondisi yang ini dapat menyebabkan kejang, keterlambatan perkembangan, dan neuropati perifer pada awal masa pertumbuhan bayi.
-
Refsum disease: Kondisi ini dapat menyebabkan kelemahan atau mati rasa pada tangan dan kaki (neuropati perifer). Orang dengan kondisi ini kekurangan enzim dalam peroksisom (struktur sel yang diperlukan untuk fungsi otak, mata, hati, ginjal, dan tulang yang normal) yang dapat memecah asam fitanat, sejenis lemak yang ditemukan dalam makanan tertentu.
Pada ARD, asam fitanat terakumulasi dan bersifat toksik bagi mielin. Penyakit yang ditandai dengan penumpukan asam lemak di dalam sel dan merusak mielin. Gejalanya yaitu masalah pada otak, mata, hati, ginjal, tulang, kulit, otot, dan lain-lain.
-
Pelizaeus-Merzbacher disease (PMD): Leukodistrofi jenis ini dapat menyebabkan penurunan koordinasi, kemampuan motorik, dan fungsi intelektual. Penyakit yang utamanya menyerang laki-laki. Biasanya ditandai dengan masalah pada gerakan otot, fungsi mental, dan keseimbangan tubuh.
Diagnosis Leukodistrofi
Dokter spesialis neurologi akan mendiagnosis leukodistrofi dengan melakukan anamnesis (wawancara medis) terlebih dahulu. Dengan begitu, dokter bisa mengetahui gejala-gejala yang dialami dan riwayat medis pasien. Setelahnya, dokter dapat menegakkan pemeriksaan fisik dan saraf. Sejumlah tes lanjutan juga akan direkomendasikan, seperti:
-
Pemeriksaan kemampuan penglihatan dan pendengaran.
-
Tes darah.
-
Tes air liur/saliva.
-
Pemeriksaan gen.
Perlu dicatat bahwa leukodistrofi umumnya sulit untuk didiagnosis karena gejalanya yang luas dan bisa mengindikasikan banyak kondisi medis lainnya. Maka dari itu, kebanyakan kasus leukodistrofi sering kali tidak terdiagnosis. Dokter bisa merekomendasikan sejumlah tes lain untuk memastikan hasil diagnosis, seperti beberapa jenis tes laboratorium dan tes genetik.
Pengobatan Leukodistrofi
Masih belum ada pengobatan leukodistrofi hingga saat ini. Pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter hanya ditujukan untuk mengatasi gejala dan menyokong fungsi tubuh. Beberapa pilihan pengobatan untuk gejala leukodistrofi adalah:
-
Obat-obatan untuk mengatasi kekakuan otot, tonus otot, dan kejang.
-
Terapi fisik, okupasi, dan wicara untuk meningkatkan fungsi, mobilitas, dan masalah kognitif.
-
Terapi nutrisi untuk mengatasi masalah menelan makanan.
-
Terapi hormon untuk mengatasi disfungsi kelenjar adrenal.
Hingga saat ini, peneliti terus melakukan uji coba untuk mempelajari pilihan pengobatan leukodistrofi yang masih bersifat baru seperti terapi gen, penggantian enzim, dan obat-obatan tertentu.
Perlu dicatat bahwa gejala-gejala leukodistrofi yang disebutkan di atas mungkin saja mengindikasikan kondisi medis lainnya. Namun, jika mengalami gejala-gejala yang disebutkan, Anda bisa mengonsultasikan kondisi tersebut ke Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan evaluasi, diagnosis, dan penanganan yang tepat.
Dokter akan menentukan diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan kondisi medis setiap pasien. Selain itu, dokter juga dapat menyesuaikan tahapan pemeriksaan dan pengobatan gejala leukodistrofi dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit sehingga prosedurnya bisa berbeda-beda.
Anda bisa menjadwalkan konsultasi dengan dokter secara lebih mudah melalui aplikasi MySiloam. Aplikasi ini memungkinkan Anda untuk mengecek jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, dan mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam dan gunakan fitur-fiturnya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Cleveland Clinic. Leukodystrophy. Diakses pada 2024 | National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Leukodystrophy. Diakses pada 2024 | MedlinePlus. Leukodystrophies. Diakses pada 2024 | HealthyChildren.org. Leukodystrophies. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini






