Kesehatan Mental
Post-Concert Depression, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Depresi pascakonser atau post-concert depression adalah kondisi ketika seseorang merasa sedih dan hampa setelah menonton konser. Sebetulnya, kondisi ini tidak digolongkan sebagai gangguan kesehatan mental. Namun, alangkah baiknya untuk mengatasi post-concert depression dengan tepat agar tidak berdampak pada kondisi psikis secara keseluruhan. Mari simak informasi lengkap mengenai post-concert depression dalam pembahasan berikut ini.
Apa itu Post-Concert Depression (PCD)?
Post-concert depression adalah perasaan sedih yang muncul pada beberapa hari atau sesaat setelah menonton konser yang selama ini dinantikan. Meski terasa kurang menyenangkan, perlu diketahui bahwa post-concert depression masih termasuk dalam rangkaian pengalaman menonton konser.
Sebab, post-concert depression adalah fase adaptasi pada seseorang dari yang semulanya merasa bersemangat dalam menyambut dan mendatangi konser hingga akhirnya harus kembali menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasanya setelah menonton konser tersebut. Orang dengan PCD tidak tahu kapan euforia tersebut bisa dirasakan kembali. Hal inilah yang dapat membuat mereka merasa sedih hingga depresi.
Kendati demikian, jika ditinjau dari buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM-5), post-concert depression tidak digolongkan sebagai gangguan kesehatan mental.
Penyebab Post-Concert Depression
Post-concert depression dapat dipicu oleh perasaan bahagia dan bersemangat (euforia) selama menyambut hingga mendatangi konser. Selama masa tersebut, otak akan memproduksi hormon endorfin dan dopamin yang bisa memicu perasaan bahagia. Kemudian, hormon pemicu rasa bahagia ini akan menurun secara langsung setelah selesai menonton konser. Hal inilah yang bisa menimbulkan perasaan sedih, hampa, dan depresi setelah konser.
Di samping itu, beberapa kondisi yang kerap menyebabkan seseorang mengalami post-concert depression adalah sebagai berikut:
-
Terpenuhinya salah satu tujuan hidup. Hal ini bisa menimbulkan rasa kehilangan setelah berhasil mencapai tujuan tersebut.
-
Perasaan terasingkan setelah selesai berkumpul dengan sesama penggemar atau kelompok orang yang memiliki minat yang sama.
-
Adanya kesadaran bahwa mereka tidak tahu kapan euforia dan kebahagiaan menonton konser tersebut akan terulang kembali.
-
Adanya penyesalan tidak melakukan hal tertentu saat konser berlangsung, misalnya melewatkan membeli suvenir (merchandise) atau terlewat satu lagu karena antrean terlalu panjang. Hal ini bisa menyebabkan munculnya rasa sedih dan penyesalan.
Gejala Post-Concert Depression
Secara umum, gejala post-concert depression cenderung menyerupai gejala depresi klinis, namun terdapat perbedaan di antara dua kondisi tersebut. Post-concert depression bisa dibedakan dari bentuk depresi lainnya berdasarkan frekuensi, pikiran, serta emosi negatif yang muncul.
Gejala yang dialami oleh orang dengan depresi klinis berlangsung secara terus-menerus atau konstan, biasanya lebih dari 2 minggu. Sementara itu, gejala pada PCD umumnya hanya bersifat sementara dan secara spesifik terjadi setelah menonton konser.
Adapun beberapa gejala yang kerap dialami oleh orang dengan post-concert depression adalah sebagai berikut:
-
Munculnya pikiran negatif secara terus-menerus.
-
Merasa sedih dan putus asa secara berlebihan.
-
Merasa terjebak dan sulit untuk melupakan pengalaman selama menonton konser.
-
Merasa ingin kembali mengulang konser.
-
Khawatir bahwa sesuatu yang menarik dan menyenangkan tidak akan terjadi lagi.
-
Melihat gambar atau video konser secara terus-menerus.
-
Merasa kosong dan tidak punya tujuan hidup.
-
Merasa bahwa hal lain tidak ada lagi yang penting.
Cara Mengatasi Post-Concert Depression
Post-concert depression bukanlah suatu kondisi yang berbahaya, namun penting untuk tidak membiarkannya begitu saja agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan mental yang lebih serius. Dalam hal ini, beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi post-concert depression adalah sebagai berikut:
-
Berinteraksi dengan sesama penggemar yang lain setelah menonton konser.
-
Melakukan hal lain yang menyenangkan, seperti pergi berlibur, berolahraga, dan lain sebagainya.
-
Fokus pada kenangan indah selama menonton konser. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat foto dan rekaman konser.
-
Membuat kolase foto saat konser. Meski tidak banyak mengambil foto/rekaman saat konser, hal tersebut dapat dicari di internet dan disimpan untuk pribadi.
-
Istirahat yang cukup.
-
Mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat (nasi merah, roti, dan ubi) serta triptofan (daging ayam, ikan salmon, dan telur). Sebab, kombinasi dua zat gizi tersebut bisa membantu meningkatkan produksi hormon serotonin, yaitu hormon yang berperan penting dalam mengendalikan emosi dan suasana hati.
-
Berolahraga. Olahraga dapat memproduksi hormon endorfin yang dapat menimbulkan rasa bahagia dan nyaman.
-
Meminta bantuan dari profesional, seperti psikolog atau psikiater.
Cara Mencegah Post-Concert Depression
Sebetulnya, tidak ada cara khusus yang bisa menjamin seseorang tidak mengalami post-concert depression. Namun, menyadari bahwa seseorang bisa merasa sedih setelah menonton konser dapat membantu meminimalkan risiko terjadinya post-concert depression. Sebab, cara ini bisa membuat seseorang menjadi lebih siap untuk menghadapi perasaan tersebut.
Selain itu, Anda juga bisa melakukan cara mengelola depresi pada umumnya untuk membantu mengurangi risiko PCD, seperti tidur yang cukup dan berkualitas, rutin berolahraga, serta mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang.
Meski tidak termasuk gangguan jiwa, post-concert depression yang dibiarkan berlarut-larut bisa menimbulkan masalah kesehatan mental yang lebih serius. Maka dari itu, tak ada salahnya untuk melakukan konseling dengan Psikiatri dari Siloam Hospitals apabila mengalami gejala-gejala post-concert depression yang sudah mengganggu aktivitas.
Untuk memudahkan Anda, tersedia pula layanan Telekonsultasi dari Siloam Hospitals yang memungkinkan pasien melakukan konsultasi dengan dokter secara virtual. Melalui layanan ini, dokter juga bisa meresepkan obat-obatan tertentu, pasien pun dapat memperoleh resep tersebut tanpa perlu keluar rumah. Namun, jika diresepkan obat antipsikotik atau antidepresan, pasien wajib mengambilnya secara langsung (self pick up).
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini







