Kesehatan Tubuh
Trakoma - Penyebab, Gejala, serta Cara Mengobatinya

Table of Contents
Trakoma adalah salah satu penyebab kebutaan paling umum di seluruh dunia. Penyakit mata yang disebabkan oleh infeksi ini dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada permukaan mata. Lantas, apa penyebab trakoma? Apakah kondisi ini bisa diatasi? Mari simak penjelasan lebih lanjut mengenai trakoma melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Trakoma?
Trakoma adalah kondisi ketika mata mengalami infeksi akibat bakteri Chlamydia trachomatis. Penyakit ini dapat menular melalui kontak dekat mata dengan mata, kelopak mata, dan sekresi hidung atau tenggorokan dari orang yang terinfeksi. Penyakit ini juga dapat ditularkan secara tidak langsung melalui barang yang terkontaminasi, seperti sapu tangan, atau melalui lalat.
Pada mulanya, trakoma dapat menimbulkan rasa gatal dan iritasi ringan pada mata dan kelopak mata. Namun, seiring waktu, mata akan membengkak dan mengeluarkan nanah. Jika tidak segera diobati, kondisi ini bisa berakibat fatal, bahkan sampai menyebabkan kebutaan. Trakoma adalah penyebab kebutaan paling sering ketiga di seluruh dunia, setelah penyakit katarak dan glaukoma.
Penelitian menunjukkan bahwa terdapat sekitar 8 juta orang yang mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan berat akibat trachoma. Prevalensi tertinggi penyakit ini ditemukan di wilayah seperti Afrika, beberapa wilayah di Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan.
Penyebab Trakoma
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, trakoma adalah infeksi pada mata yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis, jenis bakteri yang juga menyebabkan infeksi menular seksual (IMS). Infeksi ini kemudian bisa ditularkan melalui kontak dengan penderita atau permukaan benda yang terkontaminasi bakteri.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO membagi tahap perkembangan terjadinya trakoma menjadi lima, berikut uraian selengkapnya:
-
Peradangan folikular. Tahap awal ini ditandai dengan munculnya benjolan kecil yang disebut folikel di bagian dalam kelopak mata atas (konjungtiva). Folikel ini berisikan limfosit yang merupakan satu sel darah putih. Pada fase ini, biasanya folikel tidak terlihat secara kasat mata, sehingga membutuhkan pemeriksaan khusus dengan kaca pembesar.
-
Peradangan intens. Pada tahap ini, mata sudah sangat terinfeksi dan mengalami iritasi, serta telah terjadi penebalan atau pembengkakan pada kelopak mata atas.
-
Terbentuknya jaringan parut pada kelopak mata. Adanya infeksi berulang dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada kelopak mata bagian dalam. Kondisi ini bisa menyebabkan perubahan pada bentuk kelopak mata dan membuat terlipatnya kelopak mata ke arah dalam (entropion).
-
Bulu mata masuk ke dalam (trikiasis). Pada tahap ini, lapisan dalam kelopak mata yang terluka mengalami perubahan bentuk dan menyebabkan bulu mata mengarah ke dalam sehingga bergesekan dan menggores permukaan kornea.
-
Kornea menjadi keruh (opasitas). Adanya peradangan dan diperparah dengan gesekan terus-menerus dari bulu mata yang masuk ke dalam akan menyebabkan kornea menjadi keruh. Kekeruhan kornea akan menyebabkan pandangan menjadi terganggu karena terhalangnya cahaya yang masuk kedalam mata. Apabila tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang bahkan menyebabkan kebutaan permanen.
Gejala Trakoma
Secara umum, beberapa gejala tahap awal trakoma adalah sebagai berikut:
-
Mata merah dan iritasi.
-
Kelopak mata bengkak.
-
Penglihatan kabur.
-
Keluarnya cairan bening dari mata.
-
Keluar cairan bening dari hidung.
Apabila terjadi peradangan atau infeksi berulang, gejala trakoma bisa semakin berat. Adapun gejala tahap lanjut dari trakoma adalah:
-
Terbentuknya jaringan parut pada konjungtiva mata.
-
Bulu mata yang masuk ke dalam.
-
Nyeri mata hebat akibat gesekan bulu mata pada kornea.
-
Lebih sensitif terhadap cahaya.
-
Gangguan penglihatan, hingga kebutaan.
Tanda dan gejala trakoma biasanya ditemukan lebih berat pada kelopak mata bagian atas daripada kelopak mata bagian bawah. Tanpa penanganan yang tepat, proses penyakit yang dimulai sejak masa kanak-kanak dapat terus berlanjut hingga dewasa.
Diagnosis Trakoma
Sebelum menegakkan diagnosis trakoma, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien, riwayat berpergian ke daerah endemis, dan riwayat kesehatan keluarga.
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, mulai dari tanda vital (tekanan darah, laju nadi, laju pernapasan, suhu), tajam penglihatan, mata bagian luar hingga pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop khusus (slit lamp).
Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang dengan mengambil sampel cairan mata pasien. Untuk melakukan prosedur ini, dokter biasanya memberikan anestesi lokal. Sampel tersebut akan dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pengujian ada atau tidaknya bakteri Chlamydia trachomatis.
Pengobatan Trakoma
Pilihan pengobatan trakoma akan disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Pada tahap awal, pengobatan berupa antibiotik mungkin sudah cukup. Biasanya dokter akan meresepkan salep mata tetracycline yang dikombinasikan dengan antibiotik oral, seperti azithromycin, erythromycin, atau doxycycline. Dokter akan meminta pasien untuk menjaga kebersihan area wajah, kebersihan sanitasi, lingkungan, dan air minum. Pengendalian lalat juga penting untuk dilakukan.
Sebagai langkah pencegahan dan pengobatan, WHO juga merekomendasikan pemberian antibiotik kepada seluruh masyarakat jika terdapat lebih dari 10% anak-anak dalam suatu populasi terkena trakoma. Tujuannya adalah mengobati orang yang terpapar serta mencegah penularan.
Pada trakoma tahap lanjut, misalnya sudah terjadi kelainan kelopak mata, dokter dapat merekomendasikan tindakan operasi. Tindakan operasi yang dilakukan bertujuan untuk memperbaiki keluhan trikiasis dan entropion. Prosedur ini bertujuan untuk mencegah terbentuknya jaringan parut dan mencegah kebutaan.
Untuk menangani terjadinya trikiasis, pasien juga mungkin disarankan menjalani prosedur pencabutan bulu mata (pencukuran bulu mata). Tindakan ini juga dilakukan sebagai langkah pencegahan kerusakan kornea akibat bulu mata yang menusuk ke dalam. Jika kornea pasien sudah cukup keruh sehingga mengganggu penglihatan, dokter juga dapat melakukan transplantasi kornea dapat untuk mengembalikan penglihatan pasien.
Itulah penjelasan mengenai trakoma yang perlu Anda ketahui. Namun, perlu diingat bahwa informasi di atas hanya bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan diagnosis yang akurat secara medis. Bila Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada trakoma, jangan ragu berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Oftalmologi di Siloam Hospitals terdekat.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
EyeWiki. Trachoma. Diakses pada 2024 | StatPearls Publishing. Trachoma. Diakses pada 2024 | American Academy of Ophthalmology. What Is Trachoma. Diakses pada 2024 | Mayo Clinic. Trachoma. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Trachoma. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini






