Tumor Hipofisis, Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Tumor Hipofisis, Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

22 Januari 2026 5 menit waktu baca
tumor hipofisis

 

Tumor hipofisis atau juga dikenal dengan tumor pituitari adalah kondisi medis yang ditandai dengan pertumbuhan sel abnormal pada kelenjar pituitari (hipofisis) di dalam otak. Kondisi ini bisa memengaruhi produksi hormon sehingga berdampak pada berbagai fungsi tubuh. Mari simak ulasan lengkap mengenai penyebab, gejala, hingga pengobatan tumor hipofisis melalui artikel berikut ini.

 

Apa itu Tumor Hipofisis?

 

Tumor pituitari (pituitary tumors) atau tumor hipofisis atau pituitary neuroendocrine tumor (PitNET) adalah kondisi ketika terbentuknya massa berlebih karena adanya pertumbuhan sel abnormal di kelenjar pituitari (hipofisis). Secara umum, tumor pituitari bersifat jinak atau nonkanker. Karena itu, tumor ini biasanya tidak bermetastasis atau menyebar ke bagian tubuh lain. Tumor hipofisis mewakili sekitar 10–15% dari semua tumor otak.

 

Sebagai informasi, kelenjar pituitari atau kelenjar hipofisis merupakan kelenjar berukuran kecil yang berada di bagian dasar otak, tepatnya di belakang hidung bagian atas. Kelenjar pituitari ‘duduk’ pada tulang sella turcica.

 

Bagian tulang ini dilewati oleh saraf yang menghubungkan mata ke otak, sehingga jika kelenjar ini membesar atau terdapat tumor, penglihatan bisa terganggu karena terdesak. Meski berukuran kecil, kelenjar pituitari memiliki peran krusial dalam memproduksi hormon yang berkaitan dengan pertumbuhan, reproduksi, tekanan darah, dan lain-lain. 

 

Kelenjar pituitari mengontrol sistem hormon dalam tubuh yang mengatur pertumbuhan, metabolisme, respon stres, dan fungsi organ seks melalui kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, ovarium, dan testis.

 

Terdapat empat jenis tumor hipofisis yang paling umum terjadi, di antaranya adalah nonfunctional adenoma, prolactin-producing tumor, ACTH-producing tumor, dan growth hormone-producing tumor. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

  • Nonfunctional adenoma (null cell adenoma): Jenis tumor hipofisis yang paling sering terjadi. Kondisi ini tidak menyebabkan produksi hormon berlebih. Nonfunctional adenoma juga sering kali tidak menimbulkan gejala tertentu, terutama jika tumor berukuran kecil. Namun, jika sudah berukuran besar dan menekan bagian otak lainnya, tumor ini bisa menyebabkan gangguan penglihatan dan nyeri kepala.

 

  • Prolactin-producing tumor (prolactinoma): Jenis tumor pituitari ini dapat memicu produksi hormon prolaktin secara berlebihan. Pada penderita wanita, prolactin-producing tumor bisa menyebabkan menstruasi tidak teratur hingga produksi ASI berlebihan, meskipun sedang tidak hamil atau menyusui.

 

  • ACTH-producing tumor: ACTH-producing tumor yang juga dikenal sebagai corticotroph adenoma adalah tumor yang menyebabkan produksi ACTH (adrenocorticotropic hormone) secara berlebihan. Kondisi ini dapat menyebabkan sindrom Cushing yang dapat menimbulkan gejala berupa penumpukan lemak di area wajah, leher, punggung, perut, dan dada.

 

  • Growth hormone-producing tumor: Kondisi yang juga dikenal sebagai somatotroph adenoma. Merupakan jenis tumor pituitari yang dapat memicu produksi hormon pertumbuhan secara berlebihan. 

 

Pada anak-anak, kondisi ini bisa menyebabkan tulang tumbuh secara tidak terkendali sehingga mengakibatkan gigantisme (kondisi ketika anak tumbuh sangat tinggi dan besar). Sementara pada orang dewasa, hormon pertumbuhan berlebih bisa memicu akromegali, sehingga menyebabkan jaringan lunak dan tulang tumbuh secara berlebihan serta cepat.

 

Penyebab Tumor Hipofisis

 

Hingga kini, masih belum diketahui secara pasti apa penyebab tumbuhnya tumor pada kelenjar hipofisis. Kebanyakan orang dengan tumor pituitari tidak memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa. Oleh sebab itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mencari tahu faktor-faktor yang dapat berkontribusi dalam berkembangnya kondisi ini.

 

Gejala Tumor Hipofisis

 

Gejala yang dialami pasien dengan tumor hipofisis bervariasi tergantung pada ukuran dan lokasi tumor. Salah satu gejala yang paling umum adalah gangguan penglihatan, terutama kebutaan periferal, yang terjadi akibat tekanan tumor pada saraf optik. Sakit kepala juga merupakan keluhan yang sering disampaikan dan sering kali menjadi gejala awal yang dihadapi pasien.

 

Selain itu, pasien sering melaporkan perubahan hormonal yang dapat menyebabkan gejala seperti menstruasi yang tidak teratur pada wanita dan penambahan berat badan. Keseimbangan hormonal tubuh yang terpengaruh bisa berdampak serius pada kesehatan. Misalnya, kelebihan hormon pertumbuhan dapat menyebabkan kondisi akromegali, sedangkan kekurangan hormon tertentu dapat menyebabkan gangguan pada fungsi tubuh yang vital, seperti metabolisme dan pertumbuhan.

 

Pengobatan Tumor Hipofisis dengan Metode EETS

 

Salah satu inovasi terbaru dalam penanganan tumor hipofisis adalah EETS (Endoscopic Endonasal Transsphenoidal Surgery) yaitu pembedahan minimal invasif yang dilakukan melalui hidung dan sinus. Metode ini memungkinkan akses yang lebih mudah ke tumor dengan risiko yang lebih rendah dan waktu pemulihan yang lebih cepat. Prosedur ini mengurangi trauma pada jaringan sekitarnya dan sering kali memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien.

 

Dalam prosedur EETS, dokter spesialis bedah saraf dan dokter spesialis telinga hidung tenggorokan bedah kepala leher (THTBKL) memegang peran krusial. Dokter spesialis THTBKL bertanggung jawab untuk mempersiapkan jalur akses melalui hidung dan sinus serta membantu dalam visualisasi area tumor. Kolaborasi antara dokter spesialis bedah saraf dan THT sangat penting untuk keberhasilan prosedur ini, memastikan bahwa tumor dapat diangkat dengan risiko minimal bagi pasien.

 

EETS memiliki beberapa keuntungan dibandingkan pembedahan konvensional. Salah satu keuntungan utamanya adalah risiko atau komplikasi operasi yang lebih rendah. Dengan metode minimal invasif ini, kemungkinan kerusakan pada jaringan di sekitar tumor menjadi lebih kecil, sehingga pada gilirannya mengurangi komplikasi pascaoperasi. 

 

Selain itu, waktu pemulihan pasien juga lebih cepat, memungkinkan mereka kembali ke aktivitas normal dalam waktu yang lebih singkat. Nyeri pascaoperasi juga umumnya lebih sedikit dibandingkan dengan prosedur konvensional.

 

Risiko atau Komplikasi EETS

 

Meskipun EETS relatif aman, risiko dan komplikasi dari prosedur ini tetap ada. Infeksi adalah salah satu risiko yang dapat terjadi pasca operasi, serta perdarahan yang mungkin muncul selama dan setelah prosedur. Gangguan penglihatan juga menjadi perhatian, mengingat lokasi tumor yang dekat dengan saraf optik. Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk memahami risiko ini sebelum menjalani prosedur.

 

Proses Pemulihan dan Perawatan Pascaprosedur EETS

 

Setelah melakukan EETS, pasien akan menjalani proses pemulihan yang melibatkan pemantauan di rumah sakit. Rata-rata masa perawatan di rumah sakit untuk tindakan EETS ini berkisar antara satu hingga tiga hari, tergantung pada kondisi individu pasien dan adanya komplikasi yang mungkin muncul. Selama periode ini, tim medis akan memastikan bahwa pasien tidak mengalami masalah lebih lanjut.

 

Penting untuk diketahui bahwa penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi tumor hipofisis. Artinya, penyebab atau gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis atau penyakit lainnya. Oleh karenanya, sangat penting untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Bedah Saraf di Siloam Hospitals Lippo Village atau Siloam Hospitals terdekat lainnya. 

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait tumor hipofisis dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien. 


Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Aplikasi My Siloam

Dokter Kami
dr-donny-argie-spbs

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Donny Argie, SpBS, NVas, FINPS, FICS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ivanmorl-ruspanah-spbs

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ivanmorl Ruspanah, SpBS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Ambon

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-bagus-sasongko-spbs

Online & Kunjungi Rumah Sakit

Dr. dr. Bagus Sasongko, SpBS, M.Kes, FN-TB, FINSS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail