Gejala Separation Anxiety Disorder pada Anak dan Penanganannya
Ibu dan Anak

Gejala Separation Anxiety Disorder pada Anak dan Penanganannya

17 November 2025 4 menit waktu baca
Separation anxiety disorder

Pernahkah Anda mendengar istilah separation anxiety disorder? Atau pernahkah Anda meninggalkan anak sejenak karena ingin ke kamar mandi atau dapur, lalu anak sudah menangis?

 

Memang, sangat wajar bagi anak-anak terutama yang berusia balita cenderung menangis atau merengek ketika ditinggal oleh orang tua. Namun, respons anak yang terasa berlebihan patut diwaspadai sebagai gejala separation anxiety disorder. Sebagai orang tua, Anda dan pasangan perlu memahami separation anxiety disorder agar dapat bersama-sama membantu anak melewati kondisi tersebut.

 

Apa yang Dimaksud dengan Separation Anxiety Disorder (SAD)?

 

Separation anxiety disorder (SAD) merupakan suatu gangguan kecemasan pada anak-anak yang merasa sedih ketika berpisah atau ditinggal orang tuanya, meskipun hanya sebentar. Kondisi ini terutama terjadi saat masih bayi atau di bawah usia lima tahun.

 

Dalam kondisi normal, sebagian besar anak biasanya sudah terbiasa berpisah dengan orang tuanya serta dapat menyesuaikan diri seiring berjalannya waktu. Biasanya hal ini terjadi ketika memasuki usia tiga tahun.

 

Namun, dalam kondisi separation anxiety disorder, anak cenderung masih menangis hingga meraung-raung setiap kali harus berpisah dengan orang tua. Anak tidak hanya menangis, tapi juga merasa sedih, takut, gelisah, dan cemas berlebihan. Dalam kondisi terburuk bahkan bisa mengganggu aktivitasnya sehari-hari, termasuk ketika di sekolah. Potensi lain dari separation anxiety disorder adalah munculnya panic attack atau serangan panik.

 

Separation anxiety disorder juga dapat mempengaruhi fisik, misalnya memicu sakit perut dan sakit kepala. Bahkan, beberapa anak dapat mengalami stres karena ketidakmampuannya untuk beraktivitas secara normal atau bermain dengan teman-temannya.

 

Meskipun sebagian besar separation anxiety disorder lebih sering terjadi pada anak-anak usia balita, tidak menutup kemungkinan dapat berlanjut hingga usia remaja dan dewasa. Untuk itu, penting bagi orang tua mengenali lebih dini dan mengetahui cara penanganan yang tepat.

 

Gejala Separation Anxiety Disorder yang Sering Muncul

 

Orang tua mungkin akan menganggap biasa saja ketika melihat anak mereka menangis saat harus berpisah atau ditinggal. Namun, kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan begitu saja, apalagi jika sudah muncul gejala yang serius.

 

Beberapa gejala separation anxiety disorder yang harus diwaspadai adalah:

  1. Menangis hingga meraung-raung meskipun hanya berpisah sebentar dengan orang tua
  2. Merasa ketakutan dan khawatir berlebihan ketika salah satu atau kedua orang tua sedang pergi ke luar rumah
  3. Mengalami tantrum dan marah setiap kali akan ditinggal orang tua, misalnya untuk bekerja
  4. Tidak mau ditinggal sendiri saat sekolah dan harus ditemani terus oleh orang tua
  5. Selalu berusaha mengirim pesan atau menelepon ketika orang tua pergi
  6. Tidur tidak nyenyak dan sering mengalami mimpi buruk terkait terjadinya hal buruk kepada keluarga
  7. Muncul gejala fisik seperti pusing, sakit kepala, hingga sakit perut
  8. Enggan bermain dengan teman-temannya karena mau selalu di rumah bersama orang tua

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar orang tua pasti pernah kewalahan menghadapi anak yang sedang tantrum. Bahkan sudah melakukan berbagai cara agar anaknya tenang dan merasa nyaman, tapi tetap tidak berhenti merengek. Kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan dan dianggap sepele. Bisa jadi anak Anda memang mengalami separation anxiety disorder yang membutuhkan penanganan secara medis agar tidak bertambah parah.

 

Penyebab Separation Anxiety Disorder dan Penanganannya

 

Separation anxiety disorder bukanlah kondisi yang terjadi begitu saja. Ada beberapa hal yang dapat menjadi faktor penyebab kondisi tersebut pada anak. Berikut adalah beberapa kemungkinan penyebabnya:

 

1. Perubahan di Lingkungan Sekitar

Ketika Anda dan keluarga pindah ke rumah baru atau memindahkan anak ke sekolah lain, hal ini bisa menjadi pemicu munculnya separation anxiety disorder. Anak bisa saja merasa tidak nyaman dan tidak dapat beradaptasi dengan mudah di lingkungan barunya. Ketika berusia di bawah 10 tahun, anak masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga dapat membuat mereka stres.

 

2. Stres Akibat Kondisi Tertentu

Separation anxiety disorder juga bisa terjadi ketika buah hati mengalami stres karena kondisi tertentu, misalnya perceraian orang tua, ada salah satu anggota keluarga yang meninggal, atau peristiwa lainnya.

 

3. Orang Tua Terlalu Protektif

Setiap orang tua tentunya ingin mengawasi dan melindungi anaknya 24 jam sehari. Namun, terlalu bersikap terlalu protektif justru dapat mempengaruhi psikologis anak karena anak dapat mudah cemas dan merasa takut berlebihan ketika harus berpisah dengan orang tua.

 

Separation anxiety disorder dapat diatasi, untuk itu segera periksakan buah hati Anda jika mengalami gejala separation anxiety disorder agar mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Untuk mendiagnosis apakah anak mengalami separation anxiety disorder tentunya membutuhkan tenaga medis professional. Penanganan mencakup evaluasi terhadap riwayat medis serta serangkaian tes seperti tes darah, tes fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa gejala tersebut bukan karena pengaruh obat maupun kondisi medis lainnya. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter Siloam Hospital terdekat untuk memperoleh diagnosis dan penanganan medis secara tepat.

 

Anda dapat menggunakan fitur Cari Dokter untuk menemukan jadwal dokter, booking, dan buat janji dengan dokter terkait. Atau, gunakan juga aplikasi MySiloam untuk memudahkan Anda berkonsultasi langsung dengan dokter secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan percayakan kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!

 

telechat (1)

Dokter Kami
dr-rayinda-raumanen-mamahit-spkj

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rayinda Raumanen Mamahit, SpKJ

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-leman-spkj-mkes

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Leman, SpKJ, MKes

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jimmy-sebastian-ollich-spkj

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jimmy Sebastian Ollich, SpKJ

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail