Kesehatan Tubuh
GERD karena Stres, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasannya!

Table of Contents
Lambung merupakan organ pencernaan yang memiliki lingkungan relatif asam dengan tingkat keasaman (pH) kurang dari 4.0. Produksi asam lambung memiliki peran penting dalam pencernaan dan pemecahan komponen nutrisi yang dapat diserap oleh tubuh, seperti karbohidrat, asam amino, dan lemak. Ketika mengalami GERD, isi lambung dapat naik kembali ke kerongkongan sehingga menyebabkan gejala yang tidak nyaman.
GERD karena stres merupakan salah satu kondisi yang menjadi perhatian dalam dunia medis. Namun, stres bukanlah penyebab langsung dari refluks asam lambung. Stres diketahui dapat memicu gejalanya. Untuk memahami kondisi GERD yang dipicu stres dengan lebih baik, simak ulasan di bawah ini.
GERD karena Stres, Bisakah Terjadi?
Stres merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya GERD. Stres merupakan ancaman nyata atau psikologis yang dirasakan seseorang. Dalam psikologis, stres didefinisikan sebagai perasaan tegang atau tertekan secara emosional. Respons tubuh terhadap stres bisa menjadi maladaptif sehingga membuat seseorang memiliki kecenderungan terhadap kondisi pada organ tertentu, termasuk saluran gastrointestinal.
Penelitian pada jurnal PLos One (2023) menemukan hubungan yang signifikan antara stres dan gejala GERD, seperti regurgitasi dan nyeri ulu hati. Ditemukan juga bahwa individu yang terpapar stres tingkat tinggi cenderung menggunakan obat penurun asam lambung jangka panjang, seperti golongan obat PPI (proton pump inhibitor). Akan tetapi, respons tubuh mereka terhadap obat tersebut jauh lebih rendah dibandingkan individu dengan tingkat stres lebih rendah.
Dari penelitian tersebut, disimpulkan bahwa pengelolaan stres menjadi komponen penting dalam upaya pencegahan dan penanganan GERD. Obat untuk mengatasi kecemasan (anxiety) dan stres, seperti antidepresan, dan terapi psikologis dapat membantu menangani gejala GERD karena stres.
Pengaruh Stres Terhadap Sistem Pencernaan
Stres dapat mengganggu hubungan antara otak dan usus, yang dikenal sebagai aksis otak-usus. Gangguan ini memengaruhi berbagai fungsi sistem pencernaan, termasuk produksi asam lambung, keseimbangan dan perlindungan dinding lambung, pergerakan makanan di saluran cerna, serta sensitivitas saraf di saluran tersebut. Akibatnya, berbagai gejala gangguan pencernaan, termasuk GERD, dapat muncul.
Stres juga dapat mengganggu gerakan otot lambung, menyebabkan proses pengosongan lambung menjadi lebih lambat. Kondisi ini meningkatkan tekanan dalam lambung, sehingga isi lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan memicu gejala GERD.
Selain itu, stres meningkatkan kadar senyawa kimia di otak seperti asetilkolin (ACh) dan histamin, yang merangsang produksi asam lambung berlebih. Peningkatan produksi asam ini dapat menyebabkan peradangan lambung (gastritis) dan bahkan menimbulkan luka pada dinding lambung (tukak lambung).
GERD karena stres juga dapat menurunkan daya tahan dinding lambung sehingga lambung menjadi lebih mudah rusak akibat asam. Aliran darah ke lambung dapat berkurang, sehingga memperlambat proses penyembuhan dan meningkatkan risiko terjadinya luka lambung akibat asam dan enzim pencernaan.
Tidak hanya itu, stres psikologis sering kali disertai perubahan gaya hidup yang memperburuk gejala GERD, seperti merokok, konsumsi alkohol, makan berlebihan atau mengonsumsi makanan tidak sehat, kurang berolahraga, dan insomnia. Alkohol dan rokok, khususnya, dapat menurunkan tonus sfingter esofagus bagian bawah, yaitu otot yang berfungsi mencegah asam lambung naik ke kerongkongan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya GERD.
Cara Mengatasi GERD Karena Stres
Pengobatan GERD bisa dilakukan dengan mengikuti rekomendasi gaya hidup dari dokter. Apabila GERD disebabkan oleh stres, tentunya langkah pengobatan utama adalah mengurangi stres terlebih dahulu. Stres yang berkurang dapat meringankan heartburn (nyeri ulu hati) dan masalah pencernaan lainnya. Adapun beberapa cara untuk mengurangi stres adalah:
-
Berolahraga secara teratur.
-
Membuat jurnal.
-
Membaca buku.
-
Mendengarkan musik yang menenangkan.
-
Bermeditasi atau melakukan yoga untuk melatih pernapasan.
-
Berkonsultasi dengan psikolog.
-
Terapi bicara, seperti terapi perilaku kognitif.
-
Mengonsumsi obat yang diresepkan dokter, seperti antidepresan dan obat anti-anxiety.
Selain mengelola stres, gejala GERD juga bisa diatasi dengan menghindari makanan yang dapat memicu kondisi tersebut. Berikut beberapa di antaranya:
-
Makanan pedas.
-
Makanan asam.
-
Kafein.
-
Makanan tinggi lemak.
-
Cokelat.
-
Mint.
Penanganan GERD karena stres disesuaikan dengan kondisi yang mendasarinya. Untuk itu, pengelolaan stres yang tepat dengan membuat berbagai aktivitas senyaman mungkin. Sebaiknya konsumsi makanan dalam porsi kecil dan hindari berbaring setelah makan.
Sebagai catatan, penjelasan di atas bersifat edukatif karena kondisi setiap individu berbeda-beda. Apabila gejala GERD memburuk, seperti muntah dan hilang nafsu makan, segera konsultasikan kondisi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat.
Dokter akan memberikan penanganan dan merekomendasikan pengobatan untuk setiap pasien sesuai dengan kondisi medisnya. Namun, akan dilakukan penyesuaian tahapan pemeriksaan dan perawatan yang didasarkan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing lokasi.
Apabila Anda ingin mengetahui kondisi pencernaan secara lengkap, dokter bisa merekomendasikan Skrining Sistem Pencernaan. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter mengidentifikasi risiko penyakit pencernaan lebih dini. Untuk membuat janji temu dengan dokter terkait maupun memeriksa hasil skrining dengan praktis, Anda bisa mengakses aplikasi MySiloam.
Sumber
National Library of Medicine. The association between symptoms of gastroesophageal reflux disease and perceived stress: A countrywide study of Sri Lanka. Diakses pada 2025 | National Library of Medicine. Stress-Induced Gastritis. Diakses pada 2025 | Health. What To Know About Stress and Acid Reflux. Diakses pada 2025 | National Library of Medicine. Stress and Gastroesophageal Reflux Disease: Are They Related?. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini






