Kesehatan Tubuh
HNP (Hernia Nukleus Pulposus), Ini Gejala & Pengobatannya

Table of Contents
Hernia nukleus pulposus atau HNP adalah kondisi ketika nukleus pulposus atau bantalan tulang belakang bergeser dan terdorong keluar sehingga menekan saraf spinal. HNP merupakan istilah medis dari saraf kejepit. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala nyeri punggung bawah (pinggang), punggung atas, dan leher.
Meski sebagian besar HNP dapat sembuh dengan sendirinya, penyakit ini tidak dapat disepelekan. Ketahui gejala, diagnosis, dan metode pengobatan yang umum digunakan untuk mengatasi HNP di artikel berikut.
Apa Itu HNP (Hernia Nukleus Pulposus)?
HNP adalah kondisi ketika bantalan tulang belakang mengalami kelemahan sehingga rentan bergeser, terdorong keluar, menonjol, dan menekan saraf tulang belakang. Perlu diketahui bahwa nukleus pulposus adalah struktur berbentuk cincin yang terletak di antara tulang belakang (vertebrae) dan berfungsi sebagai penghubung antarruas tulang belakang.
Nukleus pulposus tersusun dari bahan seperti jeli yang terdiri dari air (66–86%) dan jaringan serat kolagen yang longgar. Struktur elastis inilah yang memungkinkan cakram tulang belakang dapat menahan tekanan dan bergerak dengan lentur mengikuti postur tubuh.
Penyebab HNP
Beberapa penyebab umum dan faktor risiko dari HNP meliputi:
-
Penurunan kekuatan dan elastisitas inti dari cakram tulang belakang karena bertambahnya usia.
-
Gaya hidup tidak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan merokok.
-
Kelebihan berat badan (obesitas).
-
Sering mengangkat, menarik, atau mendorong beban berat.
-
Mengalami cedera fisik akibat terjatuh atau benturan pada tulang belakang.
-
Memiliki penyakit degeneratif.
-
Memiliki faktor genetik atau riwayat keluarga dengan HNP.
Gejala HNP
Gejala hernia nukleus pulposus dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan lokasi terjadinya HNP. Beberapa gejala umum HNP meliputi:
-
Nyeri di area tulang belakang yang dapat menjalar ke pinggul, panggul, paha, atau tungkai. Nyeri ini bisa bersifat tajam, terbakar, atau terasa mati rasa.
-
Kesemutan dan mati rasa di bagian tubuh yang terhubung dengan saraf yang terdampak. Misalnya, jika saraf yang terjepit berada di pinggang, maka sensasi kesemutan atau mati rasa dapat dirasakan di area pinggul, paha, atau kaki. Jika terjadi HNP servikal (leher), maka dapat menimbulkan rasa nyeri di leher dan bahu yang dapat menjalar hingga ke lengan.
-
Kelemahan otot yang mengakibatkan sulitnya mengangkat atau menggerakkan bagian tubuh tertentu.
-
Keterbatasan gerakan tubuh seperti kesulitan berdiri, duduk, atau berjalan dengan nyaman.
-
Sensitivitas yang tinggi di sekitar tulang belakang atau area saraf yang terjepit dapat menyebabkan nyeri yang lebih intens.
Diagnosis HNP
Diagnosis HNP melibatkan anamnesis (wawancara medis), pemeriksaan fisik yang cermat oleh dokter spesialis saraf, serta pemeriksaan penunjang. Berikut informasinya:
A. Riwayat Kesehatan
Dokter akan mewawancarai pasien untuk mengetahui riwayat kesehatan, termasuk gejala yang dialami, lama gejala berlangsung, dan faktor-faktor risiko yang mungkin terkait dengan keluhan pasien. Informasi tentang riwayat kesehatan keluarga juga mungkin relevan dalam menentukan kemungkinan adanya faktor genetik yang berperan dalam perkembangan penyakit.
B. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan termasuk pemeriksaan neurologis untuk menilai fungsi dan respons saraf, kekuatan otot, kemampuan berjalan, kemampuan untuk merasakan sentuhan ringan, tusukan peniti, atau getaran (vibrasi). Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan postur dan gerakan tubuh untuk mengetahui ada atau tidaknya ketidaknormalan atau kelemahan otot yang terkait dengan HNP.
C. Tes Pencitraan
Beberapa tes pencitraan yang umum digunakan untuk mendiagnosis HNP adalah:
D. Tes Penunjang Lainnya
Terkadang, tes penunjang tambahan seperti electromyography (EMG) atau tes saraf konduksi (nerve conduction study) digunakan untuk menilai fungsi saraf. Melalui tes tersebut, dokter dapat mengetahui seberapa baik sinyal atau impuls listrik bergerak di sepanjang jaringan saraf.
Pada beberapa kondisi HNP, mencari pendapat medis kedua atau second opinion mungkin dapat dipertimbangkan sebelum pasien memutuskan rencana pengobatannya. Pendapat dari dokter spesialis saraf atau ortopedi lain dapat membantu memastikan tingkat keparahan, pilihan terapi terbaik, serta apakah operasi benar-benar diperlukan.
Pengobatan HNP
Pengelolaan hernia nukleus pulposus dapat melibatkan pendekatan konservatif maupun invasif. Berikut penjelasannya.
1. Terapi Konservatif
Terapi konservatif merupakan terapi pilihan pertama untuk penderita HNP. Terapi ini direkomendasikan untuk penderita HNP yang masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari, seperti buang air kecil, berdiri, dan berjalan. Berikut terapi konservatif yang dapat diberikan:
-
Istirahat yang cukup.
-
Pemberian obat-obatan, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dan pelemas otot.
-
Injeksi kortikosteroid.
-
Fisioterapi.
-
Kompres hangat atau dingin pada area yang nyeri.
2. Terapi Invasif
Sementara itu, terapi invasif pada HNP dilakukan pada kasus-kasus dengan gejala HNP yang sudah tidak dapat membaik dengan obat-obatan atau terapi konservatif lainnya. Terapi invasif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
A. Ultrasound-Guided Injections
Ultrasound-guided injections sering digunakan sebagai bagian dari manajemen nyeri pada pasien HNP. Prosedur ini melibatkan penggunaan perangkat ultrasonografi (USG) untuk memandu injeksi obat-obatan, seperti obat antiinflamasi atau kortikosteroid dan anestesi lokal, ke area yang terdampak.
B. Pembedahan
Jika berbagai terapi tersebut tidak efektif atau gejala pasien semakin parah, maka pembedahan dapat menjadi pilihan terakhir. Pembedahan untuk HNP biasanya dilakukan untuk mengangkat sebagian atau seluruh cakram hernia yang menyebabkan tekanan pada saraf.
Beberapa prosedur pembedahan yang umum digunakan untuk HNP meliputi:
-
Discectomy (bagian dari cakram hernia diangkat untuk mengurangi tekanan pada saraf).
-
Laminectomy (mengangkat sebagian porsi dari tulang belakang (lamina) untuk memperbesar kanal tulang belakang sehingga dapat meringankan tekanan pada saraf).
-
Fusion (biasanya diperuntukkan untuk kasus HNP berat. Operasi ini akan mengangkat cakram hernia, kemudian tulang belakang di bagian atas dan bawah dari cakram hernia tersebut digabungkan secara permanen).
Komplikasi HNP
HNP dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang serius jika tidak segera ditangani dengan baik atau jika kondisinya semakin memburuk. Beberapa komplikasi yang mungkin timbul akibat HNP antara lain:
-
Kerusakan fungsi saraf yang dapat memburuk hingga terjadi kelumpuhan.
-
Gangguan kandung kemih atau usus yang dapat menyebabkan terjadinya inkontinensia urine atau inkontinensia tinja.
-
Cauda equina syndrome.
-
Saddle anesthesia.
Pencegahan HNP
Meskipun tidak ada cara pasti untuk mencegah HNP, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risikonya:
-
Mempertahankan berat badan ideal dan sehat.
-
Rutin berolahraga.
-
Menjaga postur tubuh yang benar ketika berdiri, duduk, dan mengangkat beban.
-
Menghindari kebiasaan merokok.
-
Menggunakan peralatan kerja yang ergonomis. Misalnya, gunakan kursi dan meja kerja yang sesuai untuk mengurangi tekanan pada tulang belakang.
-
Rutin melakukan peregangan untuk menjaga fleksibilitas dan mengurangi ketegangan otot yang berlebihan.
-
Sesekali berdiri jika pekerjaan mengharuskan untuk duduk dalam waktu lama.
-
Tidur dengan posisi yang baik.
Penting untuk diingat bahwa informasi di atas bertujuan sebagai edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi maupun saran perawatan dari tenaga medis profesional. Sejumlah penyebab dan gejala yang tertera pun tidak secara spesifik mewakili kondisi HNP, mengingat hal-hal tersebut juga dapat terjadi pada penyakit lainnya.
Proses pemeriksaan dan pengobatan terkait HNP juga dapat berbeda-beda di setiap rumah sakit, tergantung fasilitas yang tersedia. Untuk itu, pertimbangkan rekam jejak yang baik, reputasi terpercaya, dan layanan kesehatan berstandar internasional saat memilih rumah sakit saraf terbaik untuk berkonsultasi dan berobat.
Dengan adanya fasilitas medis canggih dan tenaga medis berpengalaman, Anda juga bisa memperoleh second opinion tanpa perlu jauh-jauh ke luar negeri. Karena itu, apabila kerap mengalami nyeri pada bagian tulang belakang, Anda juga bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi (Otak dan Saraf) di Siloam Hospitals terdekat guna mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat sesuai kondisi tubuh.
Demi kemudahan akses layanan, Siloam Medical Concierge hadir untuk membantu Anda memperoleh informasi jadwal dokter, layanan pemeriksaan, dan fasilitas medis. Mulai perjalanan kesembuhan Anda bersama kami, di Indonesia.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
Prof. Dr. dr. Yusak Mangara Tua Siahaan, SpN (K) FIPP,CIPS
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Subspesialis Neurologi Nyeri
Siloam Hospitals Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini






