Kesehatan Tubuh
Jenis-Jenis Obat Batuk Berdasarkan Karakteristiknya

Table of Contents
Batuk merupakan gejala umum masalah sistem pernapasan yang kerap mengganggu aktivitas sehari-hari. Seseorang yang mengeluhkan batuk dalam jangka waktu yang lama biasanya direkomendasikan oleh dokter untuk mengonsumsi obat-obatan tertentu guna membantu meredakan gejala tersebut. Lantas, apa saja jenis obat batuk yang umum digunakan? Mari simak informasi selengkapnya dalam artikel di bawah ini.
Jenis-Jenis Obat Batuk Berdasarkan Karakteristiknya
Pada dasarnya, batuk adalah respons alami tubuh untuk mengeluarkan lendir ataupun senyawa iritan lain dari tenggorokan serta saluran pernapasan. Batuk bisa terjadi dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Jika terjadi dalam jangka waktu panjang, batuk sering kali membuat penderitanya merasa tidak nyaman hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Untuk membantu meredakannya, terdapat beberapa jenis obat batuk yang bisa digunakan. Secara umum, jenis obat batuk ini dapat dikategorikan berdasarkan karakteristiknya, yaitu obat untuk batuk tidak berdahak (batuk kering) dan obat batuk berdahak. Berikut masing-masing penjelasannya.
1. Obat Batuk Tidak Berdahak (Batuk Kering)
Untuk menangani batuk kering atau batuk tidak berdahak, dokter umumnya meresepkan obat antitusif. Golongan obat ini dapat menekan dan mengurangi refleks batuk dengan memengaruhi sistem saraf pusat yang mengontrol batuk secara langsung. Beberapa contoh obat antitusif yang umum digunakan, di antaranya dextromethorphan dan codeine.
Dextromethorphan adalah jenis antitusif golongan obat bebas terbatas yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Obat ini tersedia dalam beberapa bentuk sediaan, seperti tablet dan sirup, yang umumnya dikombinasikan dengan zat aktif lain. Dextromethorphan umumnya dapat menyebabkan kantuk, sehingga setelah mengonsumsi dextromethorphan, sebaiknya hindari aktivitas berkendara atau melakukan hal-hal yang berisiko.
Sementara itu, meskipun dapat menekan gejala batuk, kodein termasuk golongan obat narkotika yang penggunaannya harus melalui resep dokter. Codeine dapat menimbulkan sejumlah efek samping, seperti sembelit dan kantuk. Selain itu, jenis obat codeine juga tidak direkomendasikan untuk anak berusia di bawah 12 tahun. Oleh karenanya, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan codeine.
2. Obat Batuk Berdahak
Batuk berdahak adalah jenis batuk yang disertai dengan lendir kental, biasanya dapat berwarna kuning atau hijau. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus pada saluran pernapasan. Untuk membantu meredakan gejala batuk berdahak, terdapat beberapa jenis obat yang umum digunakan, yaitu:
A. Ekspektoran
Ekspektoran adalah jenis obat batuk berdahak yang bekerja dengan cara meningkatkan volume pengeluaran lendir di saluran pernapasan. Hal inilah yang dapat membantu seseorang untuk mengeluarkan dahak dari saluran pernapasan dengan lebih mudah.
Beberapa jenis ekspektoran yang umum digunakan, di antaranya guaifenesin, kalium iodida, dan sebagainya. Namun, obat ini juga bisa menyebabkan iritasi pada lambung sehingga dapat menimbulkan beberapa risiko efek samping, seperti mual dan muntah.
B. Mukolitik
Jenis obat batuk berdahak selanjutnya adalah mukolitik. Obat ini bekerja dengan cara memecah dan mengencerkan kekentalan dahak agar lebih mudah dikeluarkan dari saluran pernapasan. Beberapa jenis obat mukolitik yang umum digunakan, yaitu bromhexine, ambroxol, acetylcysteine, dan carbocisteine.
Di samping itu, karena sering kali disebabkan oleh infeksi bakteri, pengobatan batuk berdahak biasanya juga dilakukan dengan mengombinasikan ekspektoran atau mukolitik dengan antibiotik. Obat antibiotik sendiri dapat menghentikan pertumbuhan dan membunuh bakteri yang kerap menjadi penyebab yang mendasari batuk berdahak.
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan
Secara umum, setiap jenis obat-obatan memiliki risiko efek sampingnya tersendiri, tidak terkecuali dengan obat batuk. Maka dari itu, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk meminimalkan risiko terjadinya efek samping setelah mengonsumsi obat batuk. Beberapa hal tersebut, di antaranya:
-
Mengenali nama dan dosis obat sebelum dikonsumsi.
-
Memastikan untuk mengonsumsi obat sesuai dengan anjuran dokter.
-
Menghindari mengemudi atau melakukan aktivitas tertentu setelah mengonsumsi obat. Pasalnya, beberapa jenis obat batuk bisa menyebabkan kantuk dan memengaruhi kewaspadaan seseorang.
-
Memperbanyak minum air putih setelah mengonsumsi obat batuk, terutama codeine, untuk meminimalkan efek samping sembelit.
-
Disarankan untuk minum obat setelah makan, terutama jika mengonsumsi obat ekspektoran, untuk meminimalkan risiko terjadinya iritasi pada lambung.
-
Menghindari minum alkohol saat mengonsumsi obat batuk. Pasalnya, hal tersebut bisa memperburuk risiko efek samping yang muncul.
Demikian penjelasan mengenai berbagai jenis obat batuk beserta hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakannya. Namun, perlu dipahami bahwa obat-obatan tersebut harus digunakan sesuai dengan anjuran dokter untuk menghindari risiko berbagai efek samping yang bisa mengganggu kesehatan tubuh. Selain itu, pemakaian obat-obatan juga hanya bisa dilakukan jika diagnosis pasien sudah dikonfirmasi.
Oleh karenanya, jika Anda atau kerabat menderita kondisi medis tertentu yang mengalami batuk kronis dan membutuhkan penggunaan obat batuk, alangkah baiknya untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) terlebih dahulu di Siloam Hospitals terdekat guna mendapatkan diagnosis dan saran perawatan yang tepat.
Sebagai informasi, prosedur pemeriksaan dan pengobatan yang dilakukan di setiap rumah sakit mungkin akan bervariasi, tergantung pada fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan memastikan seluruh prosedur medis yang dilakukan sudah sesuai dengan kondisi pasien.
Agar lebih praktis, manfaatkan juga aplikasi MySiloam yang menyediakan berbagai fitur untuk melihat informasi jadwal praktik, booking, serta membuat janji temu dengan dokter terkait. Selain itu, aplikasi ini juga memungkinkan Anda untuk melakukan konsultasi langsung dengan dokter pilihan secara virtual.
Sumber
Patient. Cough Medicine. Diakses pada 2024 | WebMD. A Guide to Cough Medicine. Diakses pada 2024 | Drug Office Department of Health Hong Kong. Oral Cough and Cold Medicines. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Oka Wijaya, SpP
Pulmonologi (Paru)
Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Magdalena Sirait, SpP
Pulmonologi (Paru)
Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Victor Nugroho Wijaya, SpP, F. Pulmonologi Intervensional Lanjut
Pulmonologi (Paru)
Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini






