Kesehatan Tubuh
Mengenal Hipospadia, Ini Penyebab, Gejala, & Penanganannya

Table of Contents
Hipospadia adalah kondisi kelainan bawaan lahir yang menyebabkan letak lubang kencing (uretra) laki-laki tidak pada posisi yang seharusnya. Uretra merupakan saluran yang menghubungkan kandung kemih dengan ujung penis. Dalam kondisi normal, lubang uretra terletak di ujung penis. Namun pada kondisi hipospadia, lubang kencing terletak di bagian bawah penis.
Meski tidak menimbulkan rasa sakit, jika tidak ditangani, penderita dapat mengalami gangguan berupa aliran buang air kecil tidak bisa lurus ke depan saat berdiri karena lubang uretra tidak berada di ujung glans penis (aliran akan mengarah ke bawah dan bisa membasahi celana). Selain itu, penderita hipospadia juga dapat mengalami kesulitan berhubungan seksual saat dewasa.

Gejala Hipospadia
Gejala hipospadia yang dialami oleh penderita bisa berbeda-beda satu sama lain. Umumnya, gejala utama hipospadia adalah lubang kencing terletak di bagian bawah kepala penis. Sebagian kasus lain memiliki lubang kencing di bagian bawah batang penis hingga di area skrotum atau area buah zakar. Selain yang terlihat secara fisik, penderita hipospadia juga dapat mengalami gejala seperti berikut:
-
Percikan urine tidak normal saat buang air kecil.
-
Bentuk penis melengkung ke bawah (chordee).
-
Bentuk kulup (kulit yang menutupi ujung penis) tidak menutupi kepala penis dengan sempurna.
Tipe-Tipe Hipospadia
Ada tiga tipe hipospadia tergantung pada lokasi lubang uretra, yaitu:
-
Subcoronal yaitu lubang uretra terletak mendekati kepala penis.
-
Midshaft yaitu lubang uretra terletak di sepanjang batang penis.
-
Penoscrotal yaitu lubang uretra terletak di antara pertemuan penis dengan skrotum atau pada skrotum.
Faktor Risiko dan Penyebab Hipospadia
Meski penyebab hipospadia belum dapat diketahui secara pasti, terdapat beberapa faktor yang diduga meningkatkan risiko anak mengalami hipospadia. Beberapa faktor risiko hipospadia adalah:
-
Riwayat keluarga.
-
Usia ibu hamil di atas 35 tahun.
-
Menjalani terapi kehamilan atau perawatan kesuburan.
-
Paparan zat tertentu, seperti rokok, pestisida, dan lain-lain.
-
Terhambatnya kerja hormon testosteron.
Diagnosis Hipospadia
Penderita hipospadia dapat didiagnosis sejak lahir melalui pemeriksaan fisik. Namun, pada kasus yang lebih berat, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui kelainan kelamin pada bayi, seperti pemeriksaan kromosom.
Komplikasi Hipospadia
Bila tidak ditangani, anak dengan hipospadia dapat mengalami komplikasi berupa:
-
Kesulitan saat belajar buang air kecil.
-
Kelainan bentuk penis.
-
Gangguan ejakulasi.
-
Bentuk penis tidak normal saat ereksi.
-
Mengalami gangguan psikologis akibat rasa tidak percaya diri.
Penanganan Hipospadia
Penanganan medis yang diperlukan penderita hipospadia berbeda-beda, tergantung dari tingkat keparahan yang dialami. Terapi penanganan hipospadia yang paling umum dilakukan adalah prosedur pembedahan atau operasi. Waktu yang paling ideal untuk melakukan operasi yakni ketika anak berusia 6 bulan hingga 1,5 tahun. Operasi ini pun bisa dilakukan lebih dari sekali, tergantung pada tingkat keparahannya.
Namun, tidak semua penderita hipospadia membutuhkan penanganan medis, misalnya jika posisi lubang kencing sangat dekat dari posisi seharusnya dan bentuk penis tidak melengkung. Apabila letak lubang kencing berada jauh dari posisi normal, maka operasi perlu dilakukan untuk menempatkan lubang kencing ke posisi yang seharusnya. Selain itu, pada kasus penis yang melengkung ke bawah, operasi dilakukan untuk memperbaiki kelengkungan penis ke bentuk yang normal.
Usai operasi, umumnya pasien diperbolehkan langsung pulang. Pasien akan menggunakan kateter di penisnya sebagai saluran buatan dari plastik untuk membantu mengalirkan urine. Biasanya dokter akan memberikan obat pereda nyeri dan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi setelah operasi.
Penting untuk diketahui bahwa tanda dan gejala yang disebutkan pada artikel ini tidak mewakili kondisi hipospadia sepenuhnya. Artinya, terdapat kemungkinan gejala-gejala tersebut mengindikasikan kondisi medis lainnya. Oleh karena itu, segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Pediatrik di Siloam Hospitals terdekat apabila Anda menyadari adanya tanda-tanda yang merujuk pada hipospadia saat anak buang air kecil.
Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter bisa berbeda-beda di setiap rumah sakit, tergantung dari fasilitas yang tersedia. Kendati demikian, tenaga medis akan memastikan tahapan pemeriksaan dan pengobatan telah sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Gunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan nikmati berbagai fitur untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals ASRI
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini






