Kesehatan Tubuh
Asma Alergi, Kenali Jenis Alergen yang Menjadi Penyebabnya

Table of Contents
Asma alergi adalah salah satu jenis asma yang paling umum. Pada kondisi ini, gejala muncul sebagai respons terhadap alergen seperti debu, serbuk sari, bulu hewan, atau jamur. Meski terdengar ringan, asma alergi bisa mengganggu aktivitas sehari-hari jika tidak ditangani dengan baik. Mari simak ulasan selengkapnya mengenai asma alergi di bawah ini!
Apa Itu Asma Alergi?
Asma alergi adalah suatu kondisi ketika saluran napas menyempit saat menghirup alergen. Sering kali alergen ini berupa tungau debu, serbuk sari, bulu binatang, atau spora jamur. Ketika memiliki alergi, tubuh akan menciptakan respons terhadap sesuatu yang dianggap sebagai ancaman, meskipun sebenarnya tidak berbahaya.
Sebagai respons, sistem kekebalan tubuh bereaksi dengan meningkatkan semua pertahanannya untuk melawan ancaman tersebut. Dalam hal ini, sistem kekebalan tubuh melepaskan berbagai bahan kimia yang menyebabkan peradangan, pembengkakan, dan penyempitan saluran napas saat terpapar alergen.
Meski terdengar sederhana, asma sebenarnya merupakan penyakit yang cukup kompleks dan bisa berbeda-beda pada setiap orang. Asma alergi umumnya didefinisikan sebagai asma yang dipicu oleh alergen di udara. Namun, definisinya bisa berbeda.
Terdapat dua kriteria seseorang dikatakan mengidap asma alergi, yakni jika mereka terbukti memiliki alergi (misalnya lewat tes kulit atau darah) dan gejala asmanya muncul saat terpapar alergen tersebut. Namun, ada beberapa literatur yang menyebut seseorang dikatakan punya asma alergi cukup dengan bukti alergi saja, tanpa perlu kaitan langsung dengan gejala asmanya. Karena itu, batasan asma alergi bisa sedikit membingungkan.
Penyebab Asma Alergi
Penyebab utama asma alergi adalah paparan alergen. Terdapat berbagai jenis alergen yang dapat memicu serangan asma alergi, di antaranya sebagai berikut:
-
Hewan peliharaan atau binatang lainnya: Alergi bisa datang dari urine, air liur, atau partikel kecil dari kulit hewan yang mengelupas dan bulu yang terbang di udara.
-
Serbuk sari (pollen): Serbuk sari berasal dari pohon, rumput, dan gulma. Biasanya, serbuk sari pohon dan rumput muncul banyak di musim semi, sedangkan serbuk sari gulma dan ragweed muncul di musim gugur.
-
Jamur (mold): Jamur dapat tumbuh setelah hujan atau di tempat lembap seperti di basement. Jamur melepaskan spora ke udara yang bisa memicu asma.
-
Tungau debu (dust mites): Organisme sangat kecil yang memakan serpihan kulit manusia. Organisme ini hidup di permukaan lembut, seperti karpet, bantal, kasur, dan sofa. Baik tubuh tungau maupun kotorannya bisa menjadi alergen.
-
Kecoa: Kotoran, air liur, dan bagian tubuh kecoa bisa memicu asma.
-
Alergi makanan: Pada beberapa orang, makanan tertentu bisa memicu asma alergi. Namun, hal ini jarang terjadi.
Gejala Asma Alergi
Asma alergi sering kali dimulai pada masa kanak-kanak dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Gejala asma alergi cenderung hampir sama dengan jenis asma lainnya. Gejala ini terkadang dapat bersifat persisten dan berlanjut hingga dewasa. Secara umum, gejala-gejala ini meliputi:
-
Merasa sesak napas.
-
Mengi (suara bersiul saat bernapas).
-
Sering batuk, terutama pada malam hari.
-
Gejala lainnya, seperti:
-
Hidung tersumbat.
-
Drainase hidung.
-
Mata berair atau gatal.
-
Ruam atau gatal-gatal.
Diagnosis Asma Alergi
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Adapun tes penunjang yang paling umum digunakan adalah tes spirometri dan bronkoprovokasi, berikut masing-masing penjelasannya:
-
Spirometri: Tes spirometri dilakukan untuk mengukur fungsi paru-paru. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara pasien diminta menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sekuat mungkin ke dalam tabung khusus. Tabung ini terhubung ke komputer yang bisa menampilkan informasi mengenai seberapa baik paru-paru bekerja dalam mengalirkan udara masuk dan keluar. Spirometri juga bisa dikombinasikan dengan bronkodilator untuk melihat apakah ada perbedaan pada hasilnya.
-
Bronkoprovokasi (metakolin): Pengujian bronkoprovokasi mirip dengan pengujian spirometri, namun dalam kasus ini, dokter menggunakan metakolin. Zat ini dihirup dalam jumlah kecil untuk melihat apakah saluran napas menjadi lebih sempit atau sensitif setelah mengonsumsinya.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya asma, dokter akan merekomendasikan tes darah atau tes kulit untuk mengetahui apakah alergen lingkungan menjadi pemicu gejala.
-
Tes darah: Dalam beberapa kasus, tes darah digunakan untuk mendeteksi pemicu alergi. Namun, akurasinya sedikit lebih rendah dibanding tes kulit, karena ada kemungkinan kecil tidak mendeteksi beberapa jenis alergi.
-
Tes kulit: Cairan yang mengandung berbagai alergen diteteskan ke kulit, kemudian kulit digores ringan agar alergen masuk ke lapisan atas. Jika ada alergi terhadap salah satu zat, kulit akan bereaksi seperti membengkak atau muncul bentol kecil.
Apakah Alergi Asma Penyakit Genetik?
Asma alergi bisa diturunkan dalam keluarga, artinya jika terdapat anggota keluarga yang mengidap asma alergi, kemungkinan keturunannya juga punya risiko lebih tinggi untuk mengalaminya. Akan tetapi, pola pewarisannya belum diketahui secara pasti.
Orang yang punya mutasi (perubahan) pada satu atau lebih gen tertentu dapat memiliki risiko lebih tinggi terkena asma alergi. Namun, mereka tidak mewarisi langsung penyakitnya melainkan hanya risikonya saja. Asma alergi dipengaruhi oleh banyak faktor, baik genetik maupun lingkungan (seperti polusi, debu, asap rokok, dan lain-lain). Karena itu, tidak semua orang yang punya gen pembawa risiko pasti akan mengalami asma alergi.
Pengobatan Asma Alergi
Secara umum, pengobatan untuk asma alergi adalah sebagai berikut:
-
Menghindari pemicu alergi. Dokter akan membantu mengidentifikasi penyebab asma alergi agar pasien bisa menghindarinya. Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menghilangkan alergen penyebab asma adalah:
-
Membersihkan rumah dengan rutin.
-
Menggunakan pelindung anti debu untuk kasur dan bantal.
-
Menutup jendela saat banyak tanaman sedang berbunga, terutama di pagi atau siang hari ketika kadar serbuk sari di udara lebih tinggi. Sebaiknya juga kurangi aktivitas di luar rumah saat kadar serbuk sari sedang tinggi.
-
Menggunakan masker atau kacamata saat di luar ruangan.
-
Memasang filter udara berkualitas tinggi atau gunakan air purifier.
-
Menyiapkan rencana penanganan asma, termasuk panduan minuman obat dan langkah saat serangan asma.
-
Pengobatan medis. Beberapa obat yang umum digunakan adalah sebagai berikut:
-
Inhaler darurat: Meredakan gejala dengan cepat.
-
Kortikosteroid: Mengurangi peradangan saluran napas (oral atau inhalasi).
-
Antihistamin: Mengurangi gejala alergi seperti gatal atau mata berair.
-
Leukotriene modifier: Untuk alergi dan asma.
-
Suntikan alergi (imunoterapi): Mengurangi reaksi tubuh terhadap alergen.
-
Agen biologis: Suntikan protein khusus untuk mengatasi asma alergi sedang hingga berat.
Sebagai informasi, penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi asma alergi. Dengan kata lain, penyebab dan gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis lainnya, sehingga penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Pulmonologi Subspesialis Imunologi dan Penyakit Paru Interstisial di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
MedlinePlus. Allergic asthma. Diakses pada 2025 | American Academy of Allergy Asthma and Immunology. Allergic Endotypes and Phenotypes of Asthma. Diakses pada 2025 | Cleveland Clinic. Allergic Asthma. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Paket Tes Alergi 20 Parameter
Penawaran Spesial, Skrining Lite
21 Service/Item
Rp2.000.000
TERPOPULER
Paket Tes Alergi 54 Parameter
Penawaran Spesial, Skrining Lite
56 Service/Item
Rp3.800.000
TERPOPULER
Skrining Kesehatan Paru
Penawaran Spesial
4 Service/Item
Rp650.000
TERPOPULER
IgE Total / Tes Alergi IgE Total
1 Service/Item
Rp476.100
NSE / Paru
1 Service/Item
Rp316.000






