Deep Brain Stimulation, Inovasi Menangani Penyakit Parkinson
Kesehatan Tubuh

Deep Brain Stimulation, Inovasi Menangani Penyakit Parkinson

26 Februari 2026 7 menit waktu baca
deep brain stimulation for parkinson

Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif kronis dari sistem saraf pusat, yang memengaruhi sistem pergerakan atau motorik tubuh. Untuk memperbaiki kualitas hidup penderita Parkinson, kini terdapat prosedur deep brain stimulation (DBS) yang dapat direkomendasikan.

 

Deep brain stimulation (DBS) adalah metode operasi pemasangan implan di otak untuk menstimulasi sel saraf atau senyawa kimia di otak dan mengatasi gejala Parkinson. Untuk lebih jelas memahami apa itu deep brain stimulation dan manfaatnya untuk penderita Parkinson, mari simak artikel berikut ini.

Apa Itu Deep Brain Stimulation?

Deep Brain Stimulation (DBS) adalah suatu prosedur pemasangan implan atau elektroda di suatu bagian otak untuk mengatasi berbagai kondisi neurologis seperti penyakit Parkinson. DBS bukanlah pengobatan Parkinson yang dapat menyembuhkan penyakit secara total, melainkan meringankan gejala gangguan motorik yang dialami penderita. 

 

Selain itu, DBS dapat meningkatkan kualitas hidup bagi penderita Parkinson, terutama bagi mereka yang sudah tidak lagi mengalami improvement secara signifikan terhadap pengobatan konvensional.

 

Dokter spesialis saraf Siloam Hospitals Kebon Jeruk, dr. Frandy Susatia, Sp.S, RVT menyebutkan bahwa DBS dilakukan dengan pemasangan elektroda tipis di otak yang terhubung ke perangkat stimulasi atau pacemaker. Alat ini diletakkan di bawah kulit dada bagian atas menggunakan kawat halus yang juga ditempatkan di bawah kulit.

Cara Kerja Deep Brain Stimulation

Pada dasarnya, gangguan motorik pada Parkinson disebabkan oleh kematian sel saraf di substantia nigra, daerah bagian tengah otak (mesencephalon) yang menyuplai dopamin ke ganglia basalis. 

 

Dokter Frandy menjelaskan, mekanisme utama DBS mampu memblokir aktivitas listrik tidak normal di otak yang menghambat produksi dopamin. Dengan mengurangi aktivitas listrik yang tidak normal ini, DBS dapat memberi efek rangsangan dan meningkatkan produksi dopamin dalam otak. Sehingga gejala Parkinson seperti tremor, kekakuan otot, dan gerakan tubuh yang lambat dapat berkurang.

Keunggulan Deep Brain Stimulation

DBS atau stimulasi otak dalam memiliki beberapa kelebihan dibandingkan metode pengobatan lainnya dalam mengelola Parkinson, yaitu:

 

  • Memberikan efek yang signifikan dan berkelanjutan.

  • Pengaturan jumlah stimulasi DBS disesuaikan secara individual untuk setiap kondisi pasien.

  • Mengurangi penggunaan obat-obatan Parkinson.

  • Bekerja sebagai pengobatan simtomatik, yaitu mengurangi gejala Parkinson.

  • Meningkatkan kualitas hidup.

  • Penggantian baterai pada umumnya dilakukan setiap 5–15 tahun sehingga pasien dapat menghindari operasi kecil untuk penggantian baterai.

Kriteria Pasien Parkinson untuk Deep Brain Stimulation

Dr. dr. Rocksy Fransisca V Situmeang, SpN, dokter spesialis saraf di Siloam Hospitals Lippo Village pun menerangkan bahwa terdapat beberapa pertimbangan dalam menentukan pasien Parkinson yang dapat menjalani prosedur DBS. 

 

Beberapa pertimbangan tersebut adalah:

 

  • Faktor usia. Usia pasien yang direkomendasikan tidaklah lebih dari 75 tahun. Penderita yang berusia di atas 75 tahun dinilai tidak dapat menerima manfaat DBS sebaik pasien yang berusia di bawahnya.

  • Diagnosis Parkinson jelas. Diagnosis Parkinson harus ditegakkan dengan jelas dan masih termasuk stadium awal.

  • Pasien tidak dapat lagi menoleransi efek samping obat. Pada umumnya, penderita Parkinson diberi obat-obatan untuk mengontrol gejala. Namun, bila pasien tidak mampu lagi menoleransi efek samping dari obat-obatan tersebut, maka DBS bisa direkomendasikan.

  • Pasien sudah mengonsumsi obat-obatan Parkinson terlalu banyak. Obat-obatan lambat laun tidak lagi memberi efek yang diharapkan dalam mengontrol gejala Parkinson.

  • Kondisi kesehatan pasien memungkinkan untuk operasi DBS. Pasien harus dalam kondisi kesehatan yang baik dan tidak menderita penyakit medis lain yang dapat menjadi kontraindikasi prosedur DBS.

  • Pasien memahami harapan realistis terkait hasil yang dicapai dengan DBS. Pasien harus memahami bahwa operasi DBS bukan untuk menyembuhkan penyakit Parkinson secara total, melainkan hanya dapat membantu mengurangi gejala dan penggunaan obat-obatan Parkinson, serta dapat meningkatkan kualitas hidup penderita.

 

Lebih lanjut, dokter Rocksy juga menyebutkan adanya beberapa kondisi yang menjadi kontraindikasi prosedur DBS, yaitu: 

 

  • Pasien mengalami demensia derajat sedang dan berat.

  • Pasien memiliki riwayat depresi yang termasuk derajat sedang dan berat.

  • Pasien tidak lagi merespons secara efektif terhadap obat-obatan Parkinson.

 

Dengan mempertimbangkan fakta bahwa DBS merupakan prosedur besar, dapat dimengerti apabila ada pasien yang merasa membutuhkan informasi lebih lanjut untuk meninjau berbagai faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan prosedur tersebut, misalnya dengan mencari second opinion. Melalui konsultasi lanjutan dengan dokter spesialis yang relevan, pasien bisa memperoleh informasi tambahan yang diperlukan untuk menjalani prosedur tersebut.

 

Prosedur Deep Brain Stimulation

Sebelum menjalani prosedur DBS, pasien perlu melalui tahap evaluasi kelayakan yang mencakup anamnesis atau wawancara medis, pemeriksaan fisik, tes penunjang seperti MRI, penilaian gejala dan stadium Parkinson, serta respons pasien terhadap obat-obatan Parkinson.

 

Kemudian, prosedur DBS dilakukan dalam dua tahap. Yakni prosedur pemasangan elektroda di otak dan prosedur pemasangan perangkat stimulasi di dada. Lebih lanjut, Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, SpBS, dokter spesialis bedah saraf Siloam Hospitals menjelaskan tahapan prosedur DBS sebagai berikut.

Pemasangan Elektroda dan Pengaturan Stimulasi di Otak

  • Pemasangan elektroda dilakukan dengan memberikan bius lokal terlebih dahulu pada area yang hendak dilakukan prosedur, tujuannya agar pasien tetap tersadar dan dapat mengevaluasi apakah titik atau lokasi dari elektroda yang ditanamkan sudah tepat.

  • Dokter membuat sayatan kecil di kulit kepala dan menempatkan elektroda kecil ke dalam area target otak yang ditentukan. Terdapat tiga titik yang umumnya menjadi target dalam prosedur DBS untuk Parkinson, yaitu:

    • Nucleus Ventralis Intermedius (VIM): Apabila mengalami gejala Parkinson dengan dominan tremor atau gemetar.

    • Subthalamic Nucleus (STN): Apabila mengalami gejala Parkinson dengan dominan kekakuan otot dan gerakan tubuh lambat.

    • Globus Pallidus Internus (GPi): Apabila terdapat gangguan pergerakan tubuh akibat efek samping obat seperti kaku otot, lamban, gerak berlebihan, dan ada gerakan-gerakan selain tremor.

  • Elektroda dihubungkan dengan kabel eksternal untuk disambungkan dengan perangkat stimulasi atau pacemaker di dada.

  • Setelah prosedur pemasangan elektroda selesai, pasien akan menjalani sesi pengaturan jumlah stimulasi.

  • Pasien dapat memberikan feedback tentang perubahan yang dirasakan selama pengujian simulasi. Dokter pun akan menyesuaikan pengaturan jumlah stimulasi hingga mencapai kontrol yang optimal terhadap gejala Parkinson pasien.

Pemasangan Perangkat Stimulasi di Dada

  • Setelah pengujian stimulasi berhasil, pasien akan menjalani pembedahan dengan bius umum untuk memasang keseluruhan perangkat DBS secara permanen.

  • Perangkat pengatur stimulasi atau pacemaker ditempatkan di bawah kulit di area dada bagian atas pasien.

  • Setelah perangkat pengatur stimulasi terpasang, elektroda dihubungkan ke perangkat pengatur stimulasi melalui kabel yang dipasang di bawah kulit. 

  • Stimulasi yang telah dikonfigurasi selama pengujian simulasi dapat dinyalakan untuk mengalirkan stimulus ke otak.

 

Setelah kedua prosedur utama tersebut berhasil dilakukan, pasien memerlukan tindak lanjut rutin untuk memantau respons terhadap stimulasi. Biasanya pasien perlu melakukan kontrol selama dua minggu sekali.

 

Dokter Rocksy menambahkan, “ketika pasien sudah merasa nyaman dengan pengaturan yang ada, pengaturan stimulus tersebut dapat bertahan selama berbulan-bulan hingga satu tahun lebih, sehingga selanjutnya pasien tidak perlu melakukan kontrol rutin setiap dua minggu sekali untuk setting DBS.”

Spesifikasi Dokter yang Menangani DBS

Keputusan untuk menjalani DBS haruslah dibuat setelah melakukan diskusi dan penilaian mendalam antara pasien, dokter spesialis neurologi, dan dokter spesialis bedah saraf yang berpengalaman.

 

Dijelaskan oleh dokter Made, prosedur pemasangan DBS hanya bisa dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf yang sudah mendapatkan pelatihan khusus dan memiliki minat klinis di bidang movement disorder dan di bidang functional neurosurgery.

 

Itulah penjelasan mengenai deep brain stimulation untuk Parkinson yang perlu diketahui. Dengan DBS, diharapkan ada lebih banyak lagi penderita Parkinson yang dapat kembali bersemangat, beraktivitas, bahkan berkarya setelah menjalani operasi dan perawatan.

 

Penting untuk diketahui bahwa prosedur DBS hanya direkomendasikan bagi pasien setelah diagnosis dikonfirmasi. Dokter akan terlebih dahulu mendiskusikan dan mempertimbangkan dengan seluruh tim medis terkait kondisi pasien, untuk memastikan pasien telah memenuhi persyaratan dalam menjalani tindakan ini.

 

Diagnosis dan rencana terapi yang akurat adalah awal dari masa depan yang sehat. Karenanya, mencari second opinion bisa menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa keputusan medis yang akan diambil sudah tepat. Ketika memilih rumah sakit saraf terbaik untuk berobat, pertimbangkan referensi tepercaya serta layanan berstandar internasional.

 

Dengan fasilitas medis canggih beserta dokter berkompetensi tinggi, Anda bisa mendapatkan opini medis kedua secara menyeluruh tanpa perlu bepergian ke luar negeri. Guna memperoleh informasi terkait prosedur yang diindikasikan untuk penyakit Parkinson, seperti DBS, Anda dapat berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah Saraf di Siloam Hospitals terdekat.

 

Setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait penyakit Parkinson pun dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

 

second opinion penanganan komprehensif

message

ArticleDetail