Apa itu Erosi Kornea? Ini Penyebab, Gejala, & Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Apa itu Erosi Kornea? Ini Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

17 Oktober 2025 4 menit waktu baca
mengenal erosi kornea (corneal erosion)

Corneal erosion atau erosi kornea adalah salah satu jenis kerusakan kornea yang terjadi pada lapisan epitel dan jaringan di bawahnya (membran basalis). Kondisi ini dapat menyebabkan lapisan epitel kornea menjadi longgar atau bahkan terlepas dari posisi seharusnya.

 

Corneal erosion kerap menimbulkan gejala berupa rasa tidak nyaman dan nyeri pada mata, hingga memengaruhi fungsi penglihatan secara menyeluruh. Mari simak ulasan lengkap mengenai erosi kornea dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Erosi Kornea (Corneal Erosion)?

 

Corneal erosion atau erosi kornea adalah kondisi yang terjadi ketika lapisan terluar kornea (epitel) terlepas dari jaringan di bawahnya. Kornea sendiri merupakan lapisan bening transparan yang terletak pada permukaan terluar bola mata. Fungsinya untuk membiaskan dan memfokuskan cahaya yang masuk ke mata. Secara umum, kornea terdiri dari 5 lapisan yaitu:

 

  • Jaringan epitel.

  • Lapisan Bowman.

  • Stroma.

  • Membran descemet.

  • Lapisan endotel.

 

Meski sama-sama terjadi pada kornea, erosi kornea berbeda dengan abrasi kornea dan ulkus kornea jika dilihat dari kedalaman lapisan kornea yang terdampak. Adapun perbedaan dari abrasi kornea, erosi kornea, dan ulkus kornea adalah sebagai berikut.

 

  • Abrasi kornea: Luka gores pada permukaan jaringan epitel kornea. 

  • Erosi kornea: Kerusakan pada jaringan epitel dan membran basal epitel yang menyebabkan melonggarnya atau terlepasnya jaringan epitel dari jaringan di bawahnya.

  • Ulkus kornea: Kerusakan pada jaringan epitel yang disertai dengan peradangan pada lapisan stroma kornea.

 

Penyebab Erosi Kornea

 

Erosi kornea sering kali terjadi saat penderitanya bangun tidur di pagi hari akibat mengeringnya lapisan mata selama tidur. Hal tersebut dapat menyebabkan kelopak mata menempel pada lapisan kornea sehingga menyebabkan jaringan epitel terlepas saat sedang membuka mata. Selain itu, sejumlah faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini adalah:

 

  • Sindrom mata kering.

  • Tidur dengan mata terbuka (nocturnal lagophthalmos).

  • Cedera atau trauma pada kornea.

  • Mengucek mata terlalu keras.

  • Menggunakan lensa kontak yang tidak sesuai dengan kondisi mata.

  • Menderita abrasi kornea.

  • Menderita distrofi kornea.

  • Disfungsi kelenjar meibomian.

  • Rosacea okular.

  • Diabetes.

  • Sindrom Alport.

 

Selain itu, kondisi ini juga dapat terjadi secara berulang atau dikenal dengan recurrent erosion syndrome. Recurrent erosion syndrome dapat terjadi pada individu berusia 30–80 tahun, namun lebih sering dialami oleh wanita berusia 30–40 tahun. Adapun sejumlah kondisi yang dapat memicu terjadinya recurrent erosion syndrome adalah:

 

  • Epithelial basement membrane dystrophy.

  • Reis-buckler dystrophy.

  • Macular dystrophy.

  • Fuchs endothelial corneal dystrophy.

  • Granular dystrophy.

  • Lattice dystrophy.

 

Gejala Erosi Kornea

 

Dalam kebanyakan kasus, gejala erosi kornea muncul secara tiba-tiba dan sering dianggap sebagai gejala dari penyakit mata lainnya. Gejalanya dapat menyebabkan nyeri ringan hingga berat, serta dapat bertahan selama beberapa jam hingga beberapa hari.

 

Pasalnya, gejala dari kondisi ini tidak berbeda jauh dengan abrasi kornea. Adapun beberapa gejala umum dari erosi kornea adalah sebagai berikut.

 

  • Sensasi nyeri dan tidak nyaman pada mata.

  • Sensitif terhadap cahaya (fotobia).

  • Pandangan buram.

  • Mata merah.

  • Keluarnya air mata secara berlebihan.

 

Komplikasi Erosi Kornea

 

Corneal erosion adalah kondisi yang perlu segera mendapatkan penanganan dengan tepat. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai komplikasi, seperti:

 

  • Munculnya jaringan parut pada kornea.

  • Ulkus kornea yang menular.

  • Perforasi, yaitu luka robek atau lubang yang terbentuk pada lapisan kornea.

  • Corneal opacity.

  • Astigmatisme (mata silinder).

  • Kebutaan.

 

Diagnosis Erosi Kornea

 

Langkah awal yang dapat dilakukan oleh dokter untuk mendiagnosis kondisi ini adalah dengan melakukan wawancara medis atau anamnesis dengan pasien untuk mengetahui keluhan dan riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan.

 

Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan memberikan tetes mata yang mengandung zat kontras khusus, seperti fluorescein pada permukaan mata pasien. Zat kontras tersebut nantinya dapat memperjelas kondisi, goresan, dan luka pada permukaan kornea. Selain itu, dokter bisa memeriksa kornea pasien menggunakan slit lamp.

 

Pengobatan Erosi Kornea

 

Pengobatan kondisi ini perlu disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Namun, secara umum, sejumlah penanganan medis yang dapat dilakukan untuk menangani erosi kornea adalah sebagai berikut.

 

  • Penggunaan penutup mata untuk meminimalkan mata berkedip yang dapat memperburuk kerusakan kornea.

  • Pemberian obat tetes mata khusus yang diresepkan dokter untuk melebarkan pupil mata. Cara ini dapat membantu mengurangi rasa nyeri pada mata.

  • Pemberian antibiotik dalam bentuk tetes mata untuk menangani infeksi.

  • Sebaiknya, tetap hindari penggunaan lensa kontak selama proses penyembuhan mata dan konsultasikan dengan dokter spesialis mata terlebih dahulu mengenai kapan bisa menggunakan lensa kontak kembali.

 

Dalam kasus yang lebih serius atau terjadi recurrent erosion syndrome, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani tindakan pembedahan. Beberapa prosedur pembedahan yang umum dilakukan adalah:

 

  • Superficial keratectomy.

  • Anterior stromal puncture.

  • Diamond burr polishing.

 

Di samping itu, sebagai upaya meminimalkan risiko terjadinya erosi kornea berulang pada pasien, terdapat langkah-langkah preventif yang bisa dilakukan dokter, di antaranya sebagai berikut.

 

  • Pemberian salep khusus yang digunakan sebelum tidur.

  • Pemberian larutan khusus, seperti sodium klorida 5% untuk mengurangi pembengkakan pada kornea.

  • Punctal plug (sumbat punktus) untuk menangani sindrom mata kering.

 

Jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat apabila Anda atau orang terdekat mengeluhkan gejala yang terkait dengan gangguan penglihatan. Bersama Siloam Hospitals, Anda akan mendapatkan penanganan secara komprehensif karena dilakukan oleh tim dokter spesialis berpengalaman serta didukung dengan fasilitas medis modern.

 

Agar lebih praktis, gunakan aplikasi MySiloam yang dapat memudahkan Anda dalam melihat informasi jadwal praktik, melakukan booking, serta membuat appointment dengan dokter pilihan.

 

Anda juga dapat memesan paket Homecare - Kunjungan Dokter Umum dan Perawat untuk memperoleh perawatan medis dari rumah. Paket ini sudah mencakup satu kali kunjungan dokter umum dan perawat, pemeriksaan tanda-tanda vital, alat kesehatan yang dibutuhkan selama prosedur, serta biaya transportasi dengan jarak dari/ke lokasi 10 km. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Siloam at Home

Dokter Kami
dr-anastasia-vanny-launardo-spm

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anastasia Vanny Launardo, M.Kes, SpM

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-boyke-kuhurima-spm

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Boyke Kuhurima, SpM (K)

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-nursyamsi-spm-m-kes

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Nursyamsi, SpM, M.Kes

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail