Fistula Arteriovenosa: Gangguan Aliran Darah yang Perlu Diwaspadai
Kesehatan Tubuh

Fistula Arteriovenosa: Gangguan Aliran Darah yang Perlu Diwaspadai

30 April 2025 5 menit waktu baca
Fistula arteriovenosa

 

Fistula arteriovenosa adalah kondisi ketika pembuluh darah arteri dan vena terhubung secara langsung sehingga darah tidak mengalir sebagaimana mestinya. Kondisi ini dapat terjadi karena cedera atau berkembang di dalam rahim sebelum seseorang lahir. Meskipun terkadang berbahaya, kondisi ini biasanya dapat ditangani. Mari simak informasi selengkapnya mengenai fistula arteriovenosa melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Fistula Arteriovenosa?

 

Seperti yang sudah dijelaskan, fistula arteriovenosa adalah suatu kondisi ketika pembuluh darah arteri dan vena terhubung secara langsung dan menyebabkan darah mengalir di antara keduanya secara abnormal. Fistula bisa terjadi di hampir semua bagian tubuh di mana letak pembuluh darah arteri dan vena berdekatan, terutama di lengan dan kaki.

 

Normalnya, pembuluh darah arteri dan vena tidak terhubung secara langsung. Darah mengalir dari pembuluh darah arteri ke pembuluh darah kecil (kapiler), lalu ke vena. Arteri dan vena menyediakan banyak ruang bagi darah untuk bergerak cepat. Sementara itu, kapiler menyediakan aliran darah ke semua jaringan tubuh, bahkan yang terjauh dari pembuluh darah utama. Nutrisi dan oksigen dalam darah mengalir dari kapiler ke jaringan dalam tubuh. 

 

Namun, pada fistula arteriovenosa, darah mengalir langsung dari arteri ke vena tanpa melewati kapiler, sehingga jaringan di bawah kapiler menerima lebih sedikit darah. Karena arteri memiliki tekanan lebih tinggi, aliran darah ke vena menjadi terganggu dan dapat mencegahnya kembali ke jantung. Vena yang tidak dirancang untuk menahan tekanan tinggi dapat meregang dan membengkak akibat kondisi ini.

 

Tergantung pada lokasi, penyebab yang mendasari, dan ukuran fistula, kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah serius. Jika tidak ditangani, fistula arteriovenosa dapat mengganggu aliran darah normal, membebani jantung secara berlebihan, dan dalam jangka panjang berisiko menyebabkan gagal jantung atau kerusakan jantung permanen.

 

Penyebab Fistula Arteriovenosa

 

Penyebab fistula dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu acquired (didapat) dan kongenital (bawaan). Fistula yang didapat mungkin terbentuk akibat pembedahan, hemodialisis, atau trauma, baik yang tidak disengaja atau terkait dengan prosedur medis. Terdapat tiga faktor utama yang dapat menyebabkan fistula arteriovenosa. Faktor-faktor tersebut, di antaranya:

 

  • Cedera

Trauma fisik merupakan penyebab fistula arteriovenosa yang paling umum, seperti patah tulang, kecelakaan, maupun luka tembak. Fistula ini bisa terbentuk karena kerusakan jaringan di sekitarnya atau ketika struktur yang sedang memperbaiki diri saling menempel. Cedera iatrogenik (akibat prosedur medis) juga dapat menjadi penyebabnya. Biasanya, fistula terbentuk akibat prosedur pembedahan, saat kateterisasi jantung, atau biopsi jarum.

  • Kongenital (bawaan)

Kondisi sejak lahir yang artinya fistula berkembang sejak dalam kandungan dan biasanya melibatkan banyak fistula kecil, bukan satu fistula yang lebih besar. Namun, beberapa fistula dapat berakibat fatal jika berkembang di lokasi yang berisiko. Biasanya, lokasi fistula kongenital ini terdapat di otak, leher, dan paru.

  • Dialisis

Pada pasien yang memerlukan dialisis (cuci darah), dokter akan membuat fistula arteriovena untuk membantu menciptakan vena yang lebih lebar dan lebih tebal sehingga lebih mampu menerima  jarum dialisis dan dapat membawa lebih banyak darah keluar dan masuk ke dalam tubuh.

 

Selain itu, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko berkembangnya fistula arteriovenosa meliputi usia lanjut, tekanan darah tinggi, dan peningkatan indeks massa tubuh (IMT).

 

Gejala Fistula Arteriovenosa

 

Fistula arteriovenosa kecil di kaki, lengan, paru-paru, ginjal, atau otak sering kali tidak menimbulkan tanda atau gejala apa pun. Gejala atau tanda dari fistula bergantung pada lokasi dan juga ukurannya. Fistula yang berukuran besar dapat menyebabkan gejala sebagai berikut:

 

  • Pembuluh darah vena tampak keunguan dan menonjol pada permukaan kulit dan tampak mirip dengan varises.

  • Hipertensi vena. 

  • Nyeri dan bengkak pada vena.

  • Pembengkakan di area tubuh yang terdapat fistula.

  • Area di sekitar fistula mungkin terasa lebih hangat daripada area kulit yang jauh darinya.

 

Sementara itu, jika lokasi fistula ada di otak, maka kemungkinan gejala yang dialami adalah:

 

  • Sakit kepala.

  • Defisit neurologis (gangguan fungsi saraf).

  • Kejang.

  • Kombinasi dari ketiga gejala di atas.

 

Fistula arteriovenosa di saluran pencernaan dapat menyebabkan perdarahan gastrointestinal. Sementara itu, fistula arteriovenosa yang besar di paru-paru dapat menyebabkan kondisi serius yang disertai beberapa gejala berikut ini:

 

 

Diagnosis Fistula Arteriovenosa

 

Untuk menegakkan diagnosis fistula arteriovenosa, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui tentang gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik, salah satunya mendengarkan aliran darah di lengan dan kaki menggunakan stetoskop.

 

Pada fistula arteriovenosa, aliran darah mengeluarkan suara seperti dengungan. Jika dokter menduga pasien mengalami fistula arteriovenosa, dokter mungkin akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang lainnya untuk mengonfirmasi diagnosis. Pemeriksaan tersebut, di antaranya sebagai berikut:

 

  • USG dupleks: Prosedur ini merupakan cara paling efektif dan umum untuk memeriksa fistula di kaki atau lengan. Dalam USG dupleks, gelombang suara digunakan untuk mengevaluasi aliran darah.

  • Angiogram: Tes pencitraan ini dapat menunjukkan aliran darah apakah normal atau tidak. 

  • Magnetic resonance angiography (MRA): Tes ini dapat dilakukan jika pasien memiliki tanda-tanda fistula jauh di bawah kulit.

 

Pengobatan Fistula Arteriovenosa

 

Jika fistula berukuran kecil dan tidak menyebabkan masalah kesehatan lainnya, dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan pemantauan ketat. Pasalnya, beberapa fistula arteriovenosa berukuran kecil dapat menutup sendiri tanpa pengobatan. Sementara itu, jika kondisi ini memerlukan pengobatan, pilihannya adalah sebagai berikut:

 

  • Kompresi yang dipandu USG: Prosedur ini mungkin merupakan pilihan untuk fistula arteriovena di kaki yang mudah terlihat melalui USG. Dalam prosedur ini, probe USG ditekan ke bawah pada fistula selama sekitar 10 menit. Kompresi ini dapat menghancurkan aliran darah ke pembuluh darah yang rusak.

  • Embolisasi kateter: Selama prosedur ini, dokter memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah arteri di dekat fistula arteriovenosa. Kemudian, dokter memasang stent di lokasi fistula untuk mengalihkan aliran darah.

  • Operasi: Fistula arteriovenosa besar yang tidak dapat diobati dengan embolisasi kateter mungkin memerlukan pembedahan. Jenis operasi yang diperlukan bergantung pada ukuran dan lokasi fistula arteriovenosa.

 

Sebagai informasi, tanda serta gejala yang disebutkan di atas tidak secara spesifik mewakili kondisi fistula arteriovenosa. Dengan kata lain, gejala tersebut bisa serupa dengan gejala dari kondisi medis lainnya, sehingga penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals terdekat bila mengalami gejala seperti perubahan pada vena dan pembengkakan di lengan atau kaki.

 

Perlu diketahui bahwa informasi dalam artikel ini hanya bertujuan untuk edukasi dan tidak dapat digunakan untuk menggantikan diagnosis ataupun saran perawatan dari dokter. Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin dapat berbeda tergantung dari ketersediaan fasilitas kesehatan. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Johns Hopkins Medicine. Arteriovenous Fistula (AVF). Diakses pada 2025 | Mayo Clinic. Arteriovenous fistula. Diakses pada 2025 | Cleveland Clinic. Arteriovenous Fistula. Diakses pada 2025 | StatPearls Publishing. Arteriovenous Fistula. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail