Osteochondroma, Tumor Tulang yang Berbahaya?
Kesehatan Tubuh

Osteochondroma, Tumor Tulang yang Berbahaya?

20 Januari 2026 5 menit waktu baca
osteochondroma adalah

Osteochondroma adalah salah satu jenis tumor tulang jinak yang paling sering ditemukan, terutama pada anak-anak dan remaja yang masih  dalam masa pertumbuhan. Kondisi ini biasanya ditandai dengan munculnya benjolan tulang yang berkembang di sekitar lutut atau bahu.

 

Kondisi ini sering kali tidak menimbulkan keluhan dan umumnya tidak berbahaya, namun tetap perlu diwaspadai. Mari pahami lebih lanjut mengenai apa itu osteochondroma dan gejalanya untuk tahu kapan perlu memeriksakan diri ke dokter.

 

Apa Itu Osteochondroma?

 

Osteochondroma adalah kondisi ketika muncul benjolan abnormal pada tulang namun tidak bersifat kanker (jinak). Umumnya, benjolan ini muncul secara soliter (satu buah saja) dan tidak menimbulkan rasa nyeri. Namun, pada beberapa kasus, osteochondroma bisa muncul lebih dari satu.

 

Jika jumlahnya banyak, osteochondroma bisa mengganggu pertumbuhan tulang yang normal, misalnya membuat tulang tumbuh tidak seimbang atau menimbulkan keluhan tertentu. Osteochondroma sendiri berasal dari lempeng pertumbuhan dan tersusun atas tulang dan tulang rawan.

 

Sebagai informasi, osteochondroma adalah jenis tumor tulang yang paling sering ditemukan, dengan jumlah sekitar 20–50% dari seluruh tumor tulang jinak. Sebuah jurnal dalam In Vivo (2021) juga menyebutkan bahwa osteochondroma adalah tumor tulang jinak yang paling sering terjadi dan umumnya muncul di daerah metafisis pada tulang panjang.

 

Jenis-Jenis Osteochondroma

 

Osteochondroma dapat muncul dalam dua bentuk, yaitu satu benjolan saja atau banyak benjolan sekaligus. Keduanya dianggap sebagai kondisi yang berbeda. Berikut masing-masing penjelasannya:

 

A. Solitary Osteochondroma (Tunggal)

 

Solitary osteochondroma adalah jenis osteochondroma yang paling sering terjadi. Biasanya, satu benjolan tidak menimbulkan gejala apapun sehingga terdapat banyak kasus yang diketahui secara tidak sengaja saat pemeriksaan untuk keluhan lain. Sifatnya yang jinak membuat kondisi ini tidak menyebar ke bagian tubuh lain.

 

B. Multiple Osteochondromas (Ganda)

 

Multiple osteochondromas lebih jarang terjadi dan umumnya disebabkan oleh faktor keturunan, meski pada beberapa kasus bisa muncul tanpa riwayat keluarga yang jelas. Kelainan keturunan ini dikenal sebagai multiple osteochondromas atau hereditary multiple exostoses (HME). Meskipun bukan kanker, osteochondroma yang berjumlah banyak lebih berisiko menimbulkan masalah, terutama karena dapat mengganggu pertumbuhan tulang yang normal.

 

Penyebab Osteochondroma

 

Sebagian besar osteochondroma muncul dalam bentuk tunggal. Namun, hingga kini, penyebab osteochondroma belum diketahui secara pasti. Kondisi ini tidak disebabkan oleh cedera, melainkan terjadi karena adanya pertumbuhan tulang yang tidak normal. 

 

Sementara itu, jurnal dalam Frontiers in Genetics (2020) menyebutkan bahwa pada kasus osteochondroma yang muncul dalam jumlah banyak (multiple osteochondromas), kondisi ini dapat diturunkan secara autosomal dominan, ditandai dengan munculnya banyak benjolan tulang yang dilapisi tulang rawan. Adapun penyebab utamanya adalah mutasi pada EXT1 dan EXT2.

 

Gejala Osteochondroma

 

Osteochondroma tumbuh menonjol ke arah luar dari permukaan tulang dengan ukuran yang bervariasi, sekitar 1–10 cm. Benjolan ini terlihat memiliki tangkai dengan ujung membulat menyerupai jamur. Osteochondroma dengan tangkai yang jelas disebut pedunkulata (pedunculated), sedangkan yang memiliki dasar lebar dan tampak lebih datar disebut sesil (sessile).

 

Sebagian besar penderita osteochondroma tidak merasakan gejala (asimtomatik). Namun, pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan benjolan keras di bawah kulit yang umumnya teraba di area dekat tulang yang terdampak. Jika menimbulkan gejala, keluhan yang dapat muncul adalah sebagai berikut:

 

  • Benjolan keras pada tulang.

  • Nyeri saat melakukan gerakan tertentu. Hal ini disebabkan oleh gesekan tumor dengan tendon di sekitarnya.

  • Kesemutan bila terjadi penekanan pada saraf.

  • Gangguan sirkulasi pada ekstremitas yang bisa terjadi jika lesi menekan pembuluh darah.

 

Pada beberapa kasus, penderita multiple osteochondroma dapat mengalami gangguan pada pertumbuhan tulang normal yang ditandai dengan:

 

  • Memiliki perawakan pendek.

  • Deformitas ekstremitas.

  • Perbedaan panjang lengan atau tungkai.

  • Displasia panggul akibat gangguan perkembangan sendi panggul.

 

Diagnosis Osteochondroma

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala beserta riwayat kesehatan pasien dan keluarga. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Apabila terdapat dugaan osteochondroma, dokter dapat melakukan tes pencitraan, seperti rontgen (X-ray) dan CT scan jika diperlukan gambaran yang lebih detail mengenai struktur tulang dan jaringan di sekitarnya. 

 

Sedangkan MRI digunakan untuk mengevaluasi ketebalan lapisan tulang rawan, yang merupakan indikator risiko terjadinya malignansi. Selain itu, MRI juga dapat digunakan untuk melihat komplikasi pada jaringan sekitar tumor.

Pengobatan Osteochondroma

 

Osteochondroma dapat ditangani dengan metode bedah maupun nonbedah. Sebagian besar kasus osteochondroma ditangani dengan observasi berkala, yang mana dokter akan memantau kondisi pasien dari waktu ke waktu. Dokter bisanya menyarankan pasien menjalani pemeriksaan rontgen sesuai kondisi pasien untuk melihat apakah ada perubahan ukuran atau bentuk tumor.

 

Apabila diperlukan, osteochondroma dapat diangkat melalui tindakan operasi. Beberapa alasan dilakukan tindakan operasi untuk osteochondroma adalah:

 

  • Terjadi pertumbuhan tulang yang tidak normal di sekitar sendi.

  • Timbul nyeri.

  • Adanya penekanan pada saraf atau pembuluh darah.

  • Ditemukan lapisan tulang rawan (cartilage cap) yang tebal pada tumor.

 

Komplikasi Osteochondroma

 

Komplikasi osteochondroma bisa bervariasi, mulai dari komplikasi ringan hingga serius yang melibatkan saraf dan pembuluh darah. Pada kasus yang sangat jarang terjadi, osteochondroma juga dapat berubah menjadi tumor ganas. 

 

Studi menunjukkan bahwa risiko terjadinya transformasi keganasan pada jenis solitary osteochondroma adalah 1%, sedangkan pada hereditary multiple exostoses (HME) dapat mencapai 3-5%. Secara umum, komplikasi osteochondroma dikelompokkan ke dalam tiga kategori, berikut masing-masing penjelasannya:

 

  • Kelainan bentuk: Kondisi ini biasanya ditandai dengan pembengkakan tanpa nyeri. Risiko komplikasi ini lebih besar pada hereditary multiple exostoses (HME) dibandingkan dengan solitary osteochondroma.

  • Efek mekanik: Komplikasi ini bisa terjadi akibat penekanan atau gesekan berulang terhadap struktur di sekitarnya, termasuk saraf dan pembuluh darah. Komplikasi ini paling sering terjadi di lutut.

  • Komplikasi vaskular: Komplikasi ini dapat berupa pseudoaneurisma, penekanan pembuluh darah, dan trombosis arteri atau vena.

  • Komplikasi neurologis: Osteochondroma dapat menyebabkan gangguan saraf berupa neuropati  perifer, radikulopati, atau spinal stenosis.

 

Sebagai informasi, tanda dan gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi osteochondroma. Dengan kata lain, gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis lainnya. Karena ituk, penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Tulang Subspesialis Onkologi Ortopedi dan Rekonstruksi di Siloam Hospitals terdekat bila mengalami sejumlah gejala seperti benjolan dan pembengkakan yang tidak disertai nyeri, agar mendapatkan diagnosis yang akurat.

 

Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin 

berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Apabila Anda membutuhkan penanganan atau perawatan untuk masalah tulang, Anda dapat mengunjungi Siloam Hospitals Mampang untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut terkait dengan gangguan tulang, jaringan ikat, dan sendi. 

 

Sebagai pusat unggulan ortopedi, Siloam Hospitals Mampang dilengkapi dengan fasilitas medis mutakhir dan tim ahli ortopedi berpengalaman sehingga mampu memberikan diagnosis, perawatan, hingga terapi rehabilitasi gangguan ortopedi secara optimal.

 

Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Dapatkan layanan kesehatan yang lebih praktis dengan mengunduh aplikasi MySiloam sekarang juga.

Sumber

In Vivo. Osteochondromas: An Updated Review of Epidemiology, Pathogenesis, Clinical Presentation, Radiological Features and Treatment Options. Diakses pada 2026 | StatPearls. Osteochondroma. Diakses pada 2026 | OrthoInfo. Osteochondroma. Diakses pada 2026 |

Dokter Kami
dr-made-o-mahendra-spot-mbiomed

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed

Ortopedi (Tulang)

Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-su-djie-to-rante-m-biomed-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-henry-tanzil-spotk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail