Displasia Pinggul (DDH) - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
Kesehatan Tubuh

Displasia Pinggul (DDH) - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

09 Oktober 2025 4 menit waktu baca
mengenal displasia pinggul (Developmental Dysplasia of Hip/DDH)

Displasia pinggul atau developmental dysplasia of the hip (DDH) adalah gangguan pada sendi pinggul yang biasanya dialami oleh bayi. DDH biasanya dapat terdeteksi tidak lama setelah lahir. Namun, kondisi ini mungkin juga terjadi selama tahun pertama kehidupan si kecil.

 

Lantas, apa penyebab terjadinya DDH pada si kecil dan bagaimana penanganannya? Mari simak penjelasan lebih lanjut mengenai displasia pinggul atau developmental dysplasia of the hip dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Displasia Pinggul?

 

Displasia pinggul atau developmental dysplasia of the hip atau DDH adalah kondisi ketika perkembangan tulang yang abnormal pada bayi menyebabkan ujung tulang paha keluar atau bergeser dari posisi normalnya, sehingga tidak selaras dengan tulang pinggul.

 

Pada struktur sendi pinggul, tulang pinggul yang berbentuk seperti rongga akan berhubungan dengan ujung tulang paha yang menyerupai bola. Normalnya, ujung tulang paha tersambung secara sempurna di tulang pinggul.

 

Penderita DDH biasanya terlahir dengan ukuran rongga tulang pinggul yang sempit, sehingga tidak cukup untuk mencakup seluruh ujung tulang paha. Oleh karena rongga tulang pinggul yang terlalu longgar, maka tulang paha pun menjadi mudah terlepas.

 

Displasia pinggul bisa memengaruhi salah satu atau kedua sisi pinggul, namun sebagian besar kasus terjadi pada pinggul kiri. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada tulang rawan yang berperan sebagai bantalan antara tulang pinggul dan ujung tulang paha.

 

Penyebab Displasia Pinggul

 

Displasia pinggul pada bayi dapat disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Terdapat riwayat keluarga yang pernah mengalami DDH.

  • Bayi lahir dengan posisi sungsang (bayi sungsang).

  • Bayi dibedong terlalu kuat dan ketat.

  • Ketika hamil, ibu mengalami oligohidramnion, yaitu kondisi ketika air ketuban terlalu sedikit.

 

Gejala Displasia Pinggul

 

Mengingat bahwa displasia pinggul adalah kondisi yang sering dialami oleh bayi, maka kondisi ini jarang menimbulkan keluhan yang jelas. Kondisi ini biasanya baru diketahui ketika memperhatikan ciri fisik bayi, seperti:

 

  • Lipatan kulit pada paha kanan dan kiri terlihat berbeda.

  • Panjang tungkai kiri dan kanan tidak sama.

  • Tungkai pada sisi pinggul yang mengalami displasia sulit digerakkan.

  • Jika anak sudah bisa berjalan, biasanya sisi tungkai pada pinggul yang mengalami displasia akan pincang atau lebih lemah.

 

Sementara itu, gejala DDH pada remaja dan dewasa muda antara lain:

 

  • Kerusakan pada tulang rawan di area sendi pinggul, hingga akhirnya robek.

  • Rasa nyeri pada area lipatan paha.

  • Muncul sensasi pinggul yang terasa tidak stabil.

 

Diagnosis Displasia Pinggul

 

Ketika hendak menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu pada area pinggul si kecil. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggerak-gerakkan kaki bayi ke berbagai posisi untuk melihat apakah kedua sendi pinggul selaras.

 

Kasus displasia yang ringan mungkin akan lebih sulit terdeteksi karena cenderung tidak menimbulkan gejala apa pun hingga penderitanya dewasa. Guna membantu menegakkan diagnosis, biasanya dokter akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

 

  • Foto rontgen pinggul.

  • USG pinggul.

  • MRI pada area pinggul.

 

Komplikasi Displasia Pinggul

 

Jika dibiarkan, tulang rawan yang menjadi bantalan di rongga sendi pinggul bisa mengalami robekan. Hal ini dapat menyebabkan penderitanya rentan mengalami peradangan sendi. Dalam jangka waktu tertentu, kondisi tersebut dapat merusak tulang rawan yang berfungsi untuk mendukung pergerakan tulang di dalam sendi. Akibatnya, penderita mengalami gangguan dalam bergerak, seperti misalnya pincang.

 

Cara Menangani Displasia Pinggul

 

Penanganan displasia pinggul disesuaikan dengan derajat keparahan serta usia pasien. Jika displasia bisa terdeteksi sejak dini, maka semakin sederhana pula pengobatan yang akan dilakukan. Adapun pilihan penanganan pada pasien displasia pinggul adalah sebagai berikut:

 

1. Tindakan Nonbedah

 

Tindakan nonbedah yang biasa dilakukan untuk menangani pinggul yang mengalami displasia, antara lain:

 

  • Pavlik harness, yaitu alat bidai atau brace yang digunakan untuk menahan pinggul pada posisi yang tepat, serta mengencangkan ligamen di sekitar sendi pinggul. Alat ini biasanya dipasang secara konstan selama 1–3 bulan (tergantung pada kondisi bayi) dan tidak boleh dibuka kecuali oleh tenaga medis.

  • Spica cast, tindakan reduksi tertutup sendi pinggul yang prosedurnya memerlukan anestesi (bius) total. Tindakan ini biasanya dilakukan pada bayi berusia 1–6 bulan dan ketika pavlik harness tidak membantu.

  • Traksi kulit, yaitu tindakan yang dilakukan sebelum prosedur spica cast atau reduksi sendi pinggul untuk mempersiapkan jaringan lunak di sekitar pinggul untuk perubahan posisi tulang. 

 

2. Tindakan Bedah

 

Tindakan bedah biasanya dilakukan ketika usia bayi sekitar 6 bulan sampai 2 tahun. Tindakan ini menjadi pilihan terakhir apabila prosedur reduksi tertutup tidak berhasil. Pada prosedur ini, dokter akan membuat sayatan di pinggul untuk melihat tulang dan jaringan lunak secara lebih jelas.

 

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan sinar-X intra-operatif untuk memastikan bahwa ujung tulang paha (tulang femur) sudah berada dalam posisi yang tepat di rongga tulang pinggul (acetabulum). Kemudian, bayi akan diberikan cast selama setidaknya 12 minggu setelah operasi untuk mempertahankan posisi pinggul.

 

Sementara itu, pada anak-anak di atas usia 2 tahun, dokter mungkin akan merencanakan operasi terbuka seperti osteotomi untuk meluruskan sudut pinggul.

 

Guna mencegah kemungkinan berkembangnya DDH pada anak, sebaiknya ibu rutin melakukan pemeriksaan antenatal untuk memastikan bahwa ibu dan janin dalam kondisi sehat ataupun mendeteksi gangguan kehamilan sejak dini.

 

Segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan secara tepat terkait DDH pada anak. Anda dapat menggunakan fitur Cari Dokter untuk memudahkan Anda membuat janji temu dengan dokter terkait.

 

Gunakan juga aplikasi MySiloam yang memberikan berbagai kemudahan bagi Anda dalam mengakses layanan kesehatan. Unduh MySiloam sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Siloam at Home

Dokter Kami
dr-made-o-mahendra-spot-mbiomed

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed

Ortopedi (Tulang)

Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-su-djie-to-rante-m-biomed-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-henry-tanzil-spotk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail