Sindrom Alport, Kelainan Genetik yang Menyerang Fungsi Tubuh
Kesehatan Tubuh

Sindrom Alport, Kelainan Genetik yang Menyerang Fungsi Tubuh

19 Juni 2025 5 menit waktu baca
sindrom alport

Sindrom Alport merupakan salah satu penyakit genetik yang cukup langka namun dapat berdampak serius pada fungsi ginjal, pendengaran, dan penglihatan. Penyakit ini sering kali tidak disadari sejak awal karena gejalanya bisa tampak ringan atau mirip dengan kondisi kesehatan lain. Agar lebih waspada, mari kenal sindrom Alport lebih jauh melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa Itu Sindrom Alport?

 

Sindrom Alport adalah penyakit genetik yang memengaruhi kemampuan ginjal berfungsi dengan baik. Kondisi ini terjadi ketika ginjal tidak memproduksi protein kolagen tipe IV yang normal. Kolagen tipe IV adalah protein penting yang membantu membentuk membran penyaring di ginjal. 

 

Protein kolagen tipe IV terdiri dari tiga rantai kolagen individu yang saling berkaitan, yaitu alpha-3, alpha-4, dan alpha-5 yang berpilin seperti tali. Apabila salah satu dari ketiga rantai tersebut tidak terbentuk dengan benar, dua rantai lainnya tidak dapat bergabung. Akibatnya, kemampuan ginjal untuk menyaring darah menurun secara bertahap. Hal inilah yang dapat memicu terjadinya sindrom Alport.

 

Tidak hanya di ginjal, kolagen tipe IV juga terdapat di telinga dan mata. Jadi, bila seseorang memiliki sindrom Alport, tak menutup kemungkinan ia juga mengalami masalah pada ginjal, penglihatan, dan pendengarannya. 

 

Seiring waktu, penurunan fungsi ginjal pada sindrom Alport dapat meningkatkan risiko gagal ginjal, kondisi serius di mana ginjal tidak lagi mampu membersihkan darah secara efektif. Sindrom Alport tergolong langka, memengaruhi sekitar 1 dari 50.000 bayi yang baru lahir. Bayi laki-laki biasanya menunjukkan gejala yang lebih berat dibandingkan bayi perempuan.

 

Jenis-Jenis Sindrom Alport

 

Berdasarkan jenis gen yang terlibat, sindrom Alport terbagi menjadi tiga jenis. Berikut masing-masing penjelasannya:

 

1. X-Linked Alport Syndrome (XLAS)

 

XLAS terjadi akibat adanya mutasi (perubahan) pada gen COL4A5 yang berada di kromosom X. Sebagai informasi, pria hanya mempunyai satu kromosom X, lebih sedikit dibandingkan wanita yang memiliki dua kromosom X. Alhasil, bila gen ini bermutasi, gejalanya pada pria cenderung lebih parah. XLAS merupakan jenis sindrom Alport yang paling umum terjadi.

 

2. Autosomal Dominant Alport Syndrome (ADAS)

 

ADAS terjadi ketika hanya satu salinan gen COL4A3 atau COL4A4 yang rusak di kromosom 2. Kondisi ini hanya memerlukan satu gen rusak untuk menimbulkan penyakit. Baik pria dan wanita memiliki gejala dan pola pewarisan ADAS yang sama. Orang tua memiliki peluang sebesar 50% menurunkan kerusakan gen ini kepada anaknya.

 

3. Autosomal Recessive Alport Syndrome (ARAS) 

 

ARAS disebabkan oleh mutasi pada kedua salinan gen COL4A3 atau COL4A4 di kromosom 2. Jenis sindrom Alport ini paling jarang terjadi. Agar bisa mewariskan kepada anaknya, kedua orang tua harus membawa gen rusak. Peluang anak terkena ARAS sebesar 25% jika kedua orang tua pembawa. Namun, sifatnya yang resesif membuat pembawa gen tidak menunjukkan gejala apa pun.

 

Penyebab Sindrom Alport

 

Penyebab utama sindrom Alport adalah mutasi pada gen kolagen. Kondisi ini tidak menular namun dapat diwariskan dari orang tua ke anaknya. Sindrom Alport dapat menyebabkan gangguan ginjal karena kondisi ini menyebabkan lapisan penyaring ginjal (glomerular basement membrane/GBM) tidak bekerja secara optimal. Akibatnya, darah dan protein dapat bocor ke urine (proteinuria).

 

Selain tidak mampu menyaring dengan baik, sindrom ini dapat mengakibatkan GBM tidak dapat menopang sel-sel di sekitarnya secara optimal yang menyebabkan iritasi dan peradangan. Kondisi ini bisa merangsang podosit (sel-sel yang bertugas memproduksi komponen protein GBM) memberikan respons dengan menambahkan lebih banyak kolagen tipe IV. Namun, hal ini justru menyebabkan GBM menjadi lebih tebal dan tidak beraturan sehingga memperparah kebocoran protein ke urine.

 

Seiring waktu, kebocoran protein secara terus-menerus dan penebalan GBM menyebabkan terbentuknya jaringan parut (fibrosis). Proses ini membuat fungsi ginjal menurun, yang dikenal sebagai penyakit ginjal kronis. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menjadi gagal ginjal.

 

Gejala Sindrom Alport

 

Gejala sindrom Alport bisa berbeda-beda, tergantung dari jenisnya. Namun, secara umum, Alport syndrome dapat menyebabkan sejumlah gejala berikut:

 

  • Darah dalam urine yang tidak kasat mata (hematuria mikroskopik) yang biasanya menjadi gejala paling awal.

  • Protein dalam urine (proteinuria).

  • Penyakit ginjal kronis.

  • Gangguan penglihatan.

  • Gangguan pendengaran.

 

Gangguan penglihatan biasanya berupa luka pada permukaan kornea (abrasi kornea) yang menyebabkan mata perih, berair, dan sulit sembuh, namun biasanya tidak sampai menyebabkan kebutaan. Gangguan lainnya bisa terjadi pada lensa mata yang dapat berkembang menjadi katarak.

 

Sementara itu, gangguan pendengaran lebih sering terjadi pada pria dengan XLAS dan penderita ARAS. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan dialami oleh siapa pun penderita Alport syndrome. Gejala ini sifatnya bertahap sehingga sering kali tidak langsung disadari hingga menjadi parah. Gangguan ini biasanya berupa kesulitan mendengar suara tinggi dan berkembang menjadi tuli total.

 

Diagnosis Sindrom Alport

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Dalam menegakkan diagnosis kondisi ini, dokter juga perlu melakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan ini meliputi:

 

  • Pemeriksaan laboratorium darah, yaitu darah lengkap, tes fungsi ginjal, pemeriksaan kreatinin, cystatin C, dan lain-lain.

  • eGFR (estimated glomerular filtration rate).

  • Urinalisis (tes urine).

  • Tes pendengaran (audiogram).

  • Pemeriksaan mata, biasanya dilanjutkan dengan OCT (optical coherence tomography) untuk melihat struktur mata secara detail.

  • Biopsi ginjal.

  • Tes genetik.

 

Pengobatan Sindrom Alport

 

Hingga saat ini, belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan sindrom Alport. Namun, dokter dapat menyarankan obat-obatan yang bisa memperlambat penurunan fungsi ginjal dan menunda terjadinya gagal ginjal. Obat-obatan tersebut, di antaranya:

 

  • Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor. Obat ini bermanfaat untuk:

    • Menurunkan tekanan darah.

    • Mengurangi jumlah protein dalam urine.

    • Melindungi fungsi ginjal.

  • Angiotensin II receptor blockers (ARB). Obat ini bisa menjadi alternatif untuk pasien yang tidak cocok dengan ACE inhibitor karena memiliki cara kerja yang mirip.

  • SGLT-2 Inhibitor. Obat ini dapat membantu menurunkan risiko gagal ginjal, namun tidak disarankan jika fungsi penyaringan ginjal terlalu rendah.

 

Selain memberikan obat-obatan, pasien juga disarankan untuk menjalani pola makan rendah natrium. Hal ini bisa membantu mengurangi tekanan darah serta menjaga kesehatan ginjal dan jantung. Jika diperlukan, pasien mungkin direkomendasikan untuk melakukan transplantasi ginjal.

 

Perlu dipahami bahwa penyebab dan gejala terkait sindrom Alport di atas tidak bisa dijadikan sebagai acuan utama yang mewakili kondisi tersebut. Bukan tidak mungkin, beberapa gejala yang disebutkan di atas juga terjadi pada kondisi medis lain, sehingga penting untuk melakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang tepat.

 

Setiap rumah sakit mungkin memiliki tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien terlebih dahulu guna menentukan langkah pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.


Siloam Hospitals juga menyediakan paket Skrining Kesehatan Ginjal yang bisa Anda pesan secara praktis melalui aplikasi MySiloam. Anda dapat melakukan transaksi di aplikasi MySiloam dari mana saja, lalu tinggal datang ke rumah sakit sesuai tanggal janji temu yang sudah dijadwalkan.

Sumber

StatPearls. Alport Syndrome. Diakses pada 2025 | Pediatrics & Neonatology. Alport syndrome: Expanding diagnosis and treatment. Diakses pada 2025 | Cleveland Clinic. Alport Syndrome. Diakses pada 2025 | UCLA Health. What is Alport syndrome?. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-anastasia-vanny-launardo-spm

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anastasia Vanny Launardo, M.Kes, SpM

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-boyke-kuhurima-spm

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Boyke Kuhurima, SpM (K)

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-nursyamsi-spm-m-kes

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Nursyamsi, SpM, M.Kes

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail