Transcranial Magnetic Stimulation (TMS), Begini Manfaatnya!
Kesehatan Tubuh

Transcranial Magnetic Stimulation (TMS), Begini Manfaatnya!

01 Oktober 2025 5 menit waktu baca
Transcranial Magnetic Stimulation

Transcranial magnetic stimulation (TMS) adalah salah satu metode stimulasi otak noninvasif yang memanfaatkan medan magnet untuk memengaruhi aktivitas sel-sel saraf otak di area tertentu. Teknik ini dikembangkan sebagai alternatif maupun pelengkap terapi bagi berbagai kondisi neurologis dan psikiatris, mulai dari depresi hingga gangguan kecemasan. Mari simak penjelasan lebih lanjut mengenai transcranial magnetic stimulation di bawah ini.

 

Apa Itu Transcranial Magnetic Stimulation (TMS)?

 

Transcranial magnetic stimulation (TMS) adalah prosedur noninvasif (tidak melibatkan operasi atau sayatan) yang menggunakan medan magnet untuk merangsang sel saraf di otak. Terapi ini bertujuan untuk membantu meredakan gejala depresi berat, terutama pada pasien yang tidak merespons positif terhadap pengobatan biasa.

 

TMS biasanya dilakukan secara berulang sehingga disebut repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS). Selama sesi rTMS, kumparan elektromagnetik ditempelkan di kulit kepala pasien untuk merangsang sel-sel saraf di area otak yang mengatur suasana hati dan depresi. Kumparan ini diyakini dapat mengaktifkan area otak yang aktivitasnya menurun selama depresi.

 

Manfaat Transcranial Magnetic Stimulation

 

Transcranial magnetic stimulation biasanya digunakan untuk menangani depresi. Pada sebagian orang, pengobatan standar untuk depresi, seperti terapi bicara (psikoterapi) dan obat-obatan, tidak selalu berhasil sehingga diperlukan rTMS. 

 

Selain untuk menangani depresi, TMS juga dapat digunakan untuk menangani OCD, migrain, dan membantu menghentikan kebiasaan merokok bila terapi lain tidak berhasil. Menurut penelitian dalam Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases (2025) rTMS juga efektif untuk meningkatkan fungsi kognitif pada pasien stroke.

 

Jenis-Jenis Transcranial Magnetic Stimulation

 

Berdasarkan cara penggunaannya, transcranial magnetic stimulation dibedakan menjadi beberapa jenis. Berikut masing-masing penjelasannya:

 

  • Kekuatan magnet: Umumnya, TMS menggunakan 1,5T hingga 2T (mirip dengan MRI), namun area medan magnetnya lebih kecil karena ukuran magnet TMS lebih kecil. Kekuatan magnet diukur dengan satuan tesla (T). 

  • Frekuensi pulsa: Setiap kali medan magnet menyala dan mati disebut sebagai pulsa. Jumlah pulsa per detik disebut frekuensi (Hz). Prosedur ini bisa menggunakan frekuensi rendah (1 Hz) atau tinggi (5–10 Hz). TMS yang menggunakan pulsa berulang disebut juga sebagai rTMS.

  • Pola pulsa: TMS bisa menggunakan pola tertentu, misalnya theta-burst stimulation (TBS), yaitu tiga rangkaian pulsa 5 Hz dalam satu detik. Pola ini dapat membuat terapi 5–6 kali lebih cepat dibandingkan metode lain.

  • Jenis koil magnet dan target stimulasi: Jenis koil yang berbeda dapat menargetkan struktur otak yang berbeda. Misalnya, deep TMS (dTMS) dengan koil berbentuk helm H bisa mencapai struktur otak lebih dalam. Penelitian dalam FOCUS: The Journal of Lifelong Learning in Psychiatry (2022) menunjukkan bahwa dTMS efektif untuk menangani OCD.

 

Cara Kerja Transcranial Magnetic Stimulation

 

Perlu dipahami bahwa magnet memiliki medan magnet di sekitarnya dan jika didekatkan dengan benda konduktor, medan tersebut bisa menghasilkan listrik. Otak bekerja dengan sinyal listrik yang dikirimkan melalui sel-sel saraf (neuron). Karena inilah medan magnet bisa memengaruhi aktivitas listrik otak.

 

Transcranial magnetic stimulation memanfaatkan medan magnet khusus yang bisa memicu arus listrik kecil di area otak tertentu yang berhubungan dengan emosi, pengambilan keputusan, perasaan bahagia, dan lain-lain. Agar dapat digunakan, transcranial magnetic stimulation membutuhkan magnet yang bisa menyala dan mati dengan kendali listrik dan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar.

 

Prosedur Transcranial Magnetic Stimulation

 

Sebelum menjalani prosedur TMS, dokter akan memastikan pasien memenuhi syarat dan tidak memiliki kondisi yang membahayakan pasien saat menjalani prosedur ini. Adapun beberapa kontraindikasi transcranial magnetic stimulation adalah sebagai berikut:

 

  • Memiliki implan elektronik atau logam magnetis (misalnya implan koklea atau pelat logam di tengkorak). Hal ini dikarenakan magnet TMS bisa menarik dan menimbulkan nyeri atau cedera.

  • Riwayat kejang, epilepsi, atau kondisi otak lain. Meski jarang terjadi, TMS terkadang dapat memicu kejang.

 

Jika pasien dinyatakan memenuhi syarat menjalani TMS, prosedur ini akan dilakukan beberapa kali setiap minggu selama beberapa minggu. Menurut protokol FDA, TMS untuk depresi umumnya dilakukan sebanyak 30 sesi dalam enam minggu. Namun, ada pula protokol baru yang bisa lebih singkat, hanya sekitar satu minggu. Dokter akan menentukan jadwal yang tepat sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

 

TMS merupakan prosedur noninvasif yang tidak berbahaya untuk otak. Sebelum memulai, pasien hanya perlu melepaskan kacamata atau perhiasan karena alasan keamanan. Kemudian, koil magnet ditempatkan dalam wadah nonmagnetik (bisa berupa helm khusus atau lengan ekstensi yang diarahkan ke kepala).

 

Pasien akan diminta duduk di kursi khusus dan diberi pelindung telinga karena suara magnet cukup keras. Sebelum terapi dimulai, dokter akan memberikan stimulasi pulsa tunggal di kulit kepala untuk menemukan lokasi dan pengaturan yang tepat. Pasien mungkin merasakan sensasi ketukan dan gerakan kecil pada tangan atau jempol. Hal ini cukup normal dan menjadi penanda bahwa kekuatan pulsa sudah cukup.

 

Selanjutnya, koil akan mengirim pulsa sesuai pola tertentu, disertai bunyi klik dan jeda agar magnet tidak terlalu panas. Durasi terapi bisa berbeda-beda setiap pasien, mulai dari beberapa menit hingga sekitar 30 menit, tergantung dari jenis TMS yang digunakan.

 

Setelah sesi selesai, pasien biasanya diperbolehkan melakukan aktivitas seperti biasa. Jika masih mengalami efek samping ringan seperti kedutan atau sensasi tidak biasa di kepala atau wajah, dokter mungkin meminta pasien diobservasi sesaat di rumah sakit sebelum pulang. Umumnya, gejala ini bersifat ringan dan sementara.

 

Risiko Efek Samping Transcranial Magnetic Stimulation

 

Transcranial magnetic stimulation adalah prosedur yang aman. Namun, seperti prosedur medis lainnya, TMS juga memiliki risiko efek samping meski kasusnya cukup jarang terjadi. Efek samping yang lebih sering terjadi biasanya ringan dan hanya berlangsung beberapa menit setelah sesi berakhir. Efek samping ini meliputi:

 

  • Nyeri di kulit kepala atau leher.

  • Sakit kepala.

  • Pusing atau rasa melayang.

  • Kesemutan di otot wajah atau kulit kepala.

  • Tinitus (sensasi telinga berdenging) sementara.

  • Sensitivitas berlebih terhadap suara.

 

Itulah penjelasan mengenai TMS yang penting untuk dipahami. Namun, perlu diketahui bahwa prosedur ini biasanya direkomendasikan oleh dokter ketika pasien membutuhkannya. Dokter tentu akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien guna memastikan apakah pasien memenuhi syarat untuk menjalani tindakan ini. Apabila ingin memperoleh informasi lebih lanjut mengenai prosedur TMS, Anda bisa mengunjungi Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan langkah pengobatan di setiap rumah sakit mungkin berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Kendati demikian, tenaga medis profesional akan menentukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi kesehatan pasien.

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter terkait serta memeriksa riwayat kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Sumber

Transcranial Magnetic Stimulation. Transcranial magnetic stimulation to treat 101 patients with depression and comorbid personality disorders in a real-world naturalistic clinical setting: feasibility, tolerability and effectiveness. Diakses pada 2025 | Mayo Clinic. Transcranial magnetic stimulation. Diakses pada 2025 | Cleveland Clinic. Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). Diakses pada 2025 | Yale Medicine. Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) for Depression, OCD: What to Know. Diakses pada 2025 | Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases. Impact of repetitive transcranial magnetic stimulation on cognitive impairment in stroke patients: A meta-analysis of randomized controlled trials. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail