Kesehatan Tubuh
Bedah Digestif dengan Robot, Ini Cara Kerja & Keunggulannya

Table of Contents
Salah satu inovasi terkini dalam dunia medis adalah penggunaan robot untuk membantu prosedur bedah pada organ pencernaan, mulai dari lambung, usus, pankreas, hingga hati. Bedah digestif dengan robot menawarkan presisi lebih tinggi, risiko komplikasi lebih rendah, dan pemulihan pasien yang lebih cepat dibandingkan metode bedah konvensional. Mari simak informasi selengkapnya mengenai bedah digestif dengan robot di bawah ini.
Apa Itu Bedah Digestif dengan Robot?
Bedah digestif dengan robot adalah teknik operasi minimal invasif dengan menggunakan metode robotik. Pada prosedur ini, dokter tetap mengendalikan seluruh tindakan, sementara sistem robotik membantu menggerakkan instrumen bedah dengan lebih stabil dan presisi melalui sayatan kecil.
Cara Kerja Bedah Digestif dengan Robot
Bedah digestif dengan robot tetap sepenuhnya dikendalikan oleh dokter. Selama prosedur, dokter mengoperasikan sistem dari konsol di dekat pasien sambil memantau kondisi di dalam tubuh melalui tampilan 3D beresolusi tinggi. Visualisasi ini membantu dokter melihat jaringan secara lebih jelas dan detail.
Prosedur dilakukan melalui beberapa sayatan kecil. Melalui sayatan ini, kamera dan instrumen bedah dimasukkan tanpa perlu membuka area operasi secara luas. Pendekatan ini umumnya membantu mengurangi trauma pada jaringan.
Gerakan tangan dokter diterjemahkan secara real-time ke lengan robotik yang memegang alat bedah. Lengan ini dirancang dengan tingkat fleksibilitas dan stabilitas tinggi, sehingga memungkinkan tindakan dilakukan secara lebih presisi, termasuk pada area yang sulit dijangkau. Seluruh proses tetap berada di bawah kendali dokter, sehingga setiap langkah dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien selama operasi berlangsung.
Kondisi yang Bisa Ditangani dengan Bedah Digestif dengan Robot
Bedah digestif dengan robot telah banyak membantu menangani berbagai kondisi kompleks, mulai dari hernia hingga kanker. Berikut uraian mengenai beberapa kondisi yang dapat ditangani dengan bedah digestif robotik:
1. Hernia Ventral atau Insisional
Hernia terjadi ketika organ atau jaringan dalam tubuh menonjol keluar melalui dinding otot yang lemah. Pada hernia ventral, organ atau jaringan menonjol melalui dinding perut yang lemah. Sementara itu, hernia insisional adalah jenis hernia ventral yang secara khusus terjadi tepat pada bekas luka sayatan operasi sebelumnya.
Penerapan metode bedah digestif dengan robot untuk kondisi ini dinilai cukup efektif. Hasil penelitian dalam Frontiers (2025) menunjukkan bahwa pasien yang menjalani prosedur robotik untuk menangani hernia ventral atau insisional memiliki durasi rawat inap lebih pendek.
2. Hernia Inguinal
Hernia inguinal terjadi di area selangkangan akibat kelemahan otot perut bagian bawah. Salah satu pengobatannya adalah bedah robotik yang disebut juga robot-assisted transabdominal preperitoneal inguinal hernia repair (rTAPP), yang memperbaiki otot melemah dan mengembalikan organ ke posisi semula.
Studi dalam BJS Foundation (2024) menunjukkan bahwa perbaikan hernia inguinal dengan metode robotik terbukti aman dan berhasil diselesaikan tanpa komplikasi besar. Selain itu, pasien hanya memerlukan waktu rawat inap yang singkat dan bisa kembali beraktivitas dalam 8 hari setelah prosedur.
3. Hernia Umbilikal
Hernia umbilikal adalah hernia yang terjadi di sekitar pusar. Pada anak di bawah usia 5 tahun, kondisi ini biasanya menghilang dengan sendirinya, sedangkan pada orang dewasa, hernia umbilikal yang tidak ditangani dapat menimbulkan komplikasi.
Salah satu pilihan penanganan hernia umbilikal adalah bedah robotik yang terbukti aman dengan lama rawat inap singkat dan komplikasi rendah. Hal ini telah dibuktikan oleh salah satu studi dalam Journal of Abdominal Wall Surgery (2025).
4. Kanker Kolorektal (Usus Besar dan Rektum)
Pada kanker usus besar atau rektum, tindakan operasi bertujuan mengangkat jaringan yang terkena tanpa mengganggu fungsi organ di sekitarnya. Area panggul, terutama pada kanker rektum, cukup sempit dan kompleks, sehingga membutuhkan ketelitian tinggi.
Pada beberapa pasien, pendekatan ini juga dapat membantu mengurangi gangguan fungsi pencernaan setelah operasi. Menurut studi dalam Indian Journal of Cancer (2021), metode ini memberikan beberapa keuntungan bagi pasien kanker usus besar (kolorektal) atau rektum, salah satunya pemulihan fungsi usus setelah operasi menjadi lebih cepat dan waktu rawat inap di rumah sakit menjadi lebih singkat.
5. Polip Besar Kolorektal
Polip besar kolorektal adalah pertumbuhan jaringan yang muncul di dinding usus besar atau rektum. Polip umumnya bersifat jinak, namun memiliki potensi berkembang menjadi kanker jika tidak ditangani. Sebagian besar polip bisa diangkat dengan prosedur endoskopi, namun polip yang berukuran besar atau sulit dijangkau terkadang memerlukan tindakan operasi. Dalam situasi ini, bedah robotik dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengangkat polip secara lebih terarah.
Pada beberapa kasus, dokter dapat menggabungkan prosedur endoskopi dan bedah robotik untuk dapat mengangkat polip besar kolorektal secara maksimal. Menurut studi dalam jurnal Surgical Endoscopy (2025), gabungan endoskopi dan robotik untuk pengangkatan polip besar kolorektal adalah metode yang aman serta tidak menimbulkan komplikasi serius.
6. Kanker Pankreas atau Tumor Tertentu
Operasi menjadi salah satu langkah pengobatan utama untuk kanker pankreas stadium awal. Melalui operasi, dokter dapat mengangkat sebagian atau seluruh sel kanker di dalamnya. Operasi pada pankreas termasuk prosedur yang kompleks karena organ ini berada di dekat pembuluh darah besar dan struktur penting lainnya. Penanganan tumor di area ini membutuhkan perencanaan dan ketelitian tinggi untuk mengurangi risiko komplikasi.
Metode bedah untuk kanker pankreas yang sedang populer dan banyak dipilih adalah robotic pancreas surgery. Penelitian dalam The International Journal of Medical Robotics and Computer Assisted Surgery (2025) menunjukkan bahwa robotic pancreas surgery memberikan keuntungan berupa perdarahan yang lebih sedikit, dan risiko komplikasi lebih rendah. Pendekatan ini dipertimbangkan secara selektif, tergantung kondisi pasien dan jenis tumornya.
Keunggulan Bedah Digestif dengan Robotik
Dengan robot, operasi bisa dilakukan dengan sayatan yang lebih kecil sehingga nyeri pascaoperasi dan bekas luka minimal, dengan presisi tinggi untuk mengurangi risiko kerusakan jaringan sekitar, risiko komplikasi pascaoperasi yang lebih rendah, sehingga pasien bisa pulih lebih cepat dibandingkan dengan operasi terbuka konvensional.
Beberapa keunggulan yang ditawarkan oleh metode bedah digestif robotik adalah sebagai berikut:
-
Menampilkan visualisasi 3D HD yang memungkinkan dokter melihat area operasi yang kecil dapat diperbesar sehingga persepsi jarak dan ruang lebih baik.
-
Lengan robotik meniru gerakan tangan manusia dengan lebih presisi dan jangkauan gerak lebih luas.
-
Getaran tangan dokter dihilangkan, membuat gerakan lebih stabil dan akurat.
-
Lebih ergonomis, dokter bisa duduk di konsol sehingga bisa bekerja lebih lama dengan nyaman.
Itulah informasi mengenai bedah robotik yang penting untuk diketahui. Jika Anda atau orang terdekat menghadapi kondisi pencernaan yang memerlukan tindakan bedah, diskusikan dengan Dokter Spesialis Bedah Digestif di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan evaluasi dan rencana pengobatan yang paling sesuai untuk kondisi Anda.
Operasi bedah robotik di Siloam Hospitals dilakukan dengan Da Vinci Xi Robotic Surgery. Teknologi bedah robotik ini merupakan teknologi modern dan canggih yang dapat digunakan dalam berbagai jenis operasi. Dilengkapi dengan kamera 3D HD yang mampu memperbesar objek hingga 10x, visualisasi area operasi menjadi lebih jelas dan detail. Lebih lanjut, Anda juga dapat memperoleh informasi mengenai Da Vinci Xi Robotic Surgery di Siloam Hospitals Kebon Jeruk.
Sumber
Langenbeck's Archives of Surgery. Comparison of outcomes of laparoscopic vs. robotic surgical resection of pancreatic neuroendocrine tumors: a systematic review and meta-analysis. Diakses pada 2026 | The International Journal of Medical Robotics and Computer Assisted Surgery. Comparison of Robotic and Laparoscopic Pancreatic Surgery Outcomes: A Retrospective Cohort Study With Propensity Score Matching and Subgroup Analysis of Pancreatic Malignancies and Moderate to High-Risk Pancreatic Fistulas. Diakses pada 2026 | Surgical Endoscopy. Combined endoscopic and robotic-assisted transcolonic polypectomy as a novel technique for challenging polyp resection. Diakses pada 2026 | World J Gastroenterol. Recurrence rates after endoscopic resection of large colorectal polyps: A systematic review and meta-analysis. Diakses pada 2026 | Indian J Cancer. Robotic-assisted versus conventional laparoscopic surgery for colorectal cancer: Short-term outcomes at a single center. Diakses pada 2026 | Frontiers. Procedural Costs of Robot-Assisted and Laparoscopic Ventral and Incisional Hernia Repair. A Propensity-Score Matched Nationwide Database Study. Diakses pada 2026 | Frontiers. Outcomes of Robot Assisted Trans Abdominal Retromuscular Umbilical Prosthesis (rTARUP): A Dutch Multicenter Study. Diakses pada 2026 | BJS Foundation. ROBOTIC-ASSISTED INGUINAL HERNIA REPAIR WITH A NEW ROBOTIC SYSTEM: A PROSPECTIVE MULTICENTRE CLINICAL INVESTIGATION. Diakses pada 2026 | BJS Foundation. Evaluating safety and quality of robotic-assisted gastric cancer surgery: meta-analysis and meta-regression. Diakses pada 2026 | Cureus. Robotic Surgery: A Comprehensive Review of the Literature and Current Trends. Diakses pada 2026 | Cancers. Robotic Surgery for Gastrointestinal Malignancies—A Review of How Far Have We Come in Pancreatic, Gastric, Liver, and Colorectal Cancer Surgery. Diakses pada 2026 | Intelligent Surgery. Robotic surgery in gastrointestinal surgery: History, current status, and challenges. Diakses pada 2026 | Cleveland Clinic. Umbilical Hernia. Diakses pada 2026 | StatPearls. Colon Polyps. Diakses pada 2026 |



