Kesehatan Tubuh
Perbedaan Campak dan Alergi yang Perlu untuk Dipahami

Table of Contents
Campak dan alergi terkadang disalahartikan sebagai satu kondisi yang sama, karena gejala yang ditimbulkan terkadang hampir mirip. Padahal, keduanya memiliki perbedaan, mulai dari penyebab, gejala, bahkan pengobatan dan pencegahannya. Mari simak penjelasan selengkapnya tentang perbedaan campak dan alergi melalui ulasan di bawah ini.
Perbedaan Campak dan Alergi
Beberapa gejala yang hampir mirip antara campak dan alergi membuat kedua kondisi tersebut sering kali dianggap sama. Padahal, campak dan alergi memiliki penanganan yang berbeda. Agar tidak keliru, berikut adalah perbedaan alergi dan campak yang perlu Anda pahami.
1. Penyebab
Perbedaan campak dan alergi yang pertama adalah penyebabnya. Campak adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dari famili Paramyxovirus, seperti Rubella dan Rubeola. Virus tersebut bisa menular melalui percikan air liur penderita campak, dan dapat bertahan di udara selama kurang lebih 2 jam. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena campak adalah:
-
Belum pernah mendapatkan imunisasi campak.
-
Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
-
Melakukan perjalanan ke daerah yang sedang dilanda wabah campak.
Sementara itu, alergi adalah suatu kondisi yang merupakan reaksi hipersensitivitas, yaitu ketika sistem imun terlalu sensitif terhadap zat-zat tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya. Penyebab alergi pada setiap orang berbeda-beda, bisa karena debu, bulu hewan, suhu, gigitan serangga, makanan tertentu, bahan kimia, dan lain sebagainya.
Jadi, sudah sangat jelas perbedaan antara campak dan alergi. Campak merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi virus, sedangkan alergi merupakan reaksi imun tubuh akibat paparan alergen (zat yang menyebabkan alergi).
2. Gejala
Perbedaan campak dan alergi berikutnya bisa dilihat dari gejalanya. Meski kerap dikira sama, namun gejala kedua kondisi tersebut sebenarnya memiliki karakteristik yang berbeda. Gejala campak biasanya muncul 7–21 hari setelah tubuh terpapar virus, dengan rata-rata penderita mengalami gejala pada hari ke-10–14. Adapun beberapa gejala yang mungkin dialami adalah:
-
Ruam merah pada sekujur tubuh.
-
Demam.
-
Tubuh terasa lemas.
-
Nafsu makan menurun.
-
Mual dan muntah.
-
Pilek, batuk, dan sakit tenggorokan.
-
Nyeri otot.
-
Bercak putih keabu-abuan pada mulut.
Sementara itu, gejala alergi biasanya muncul dalam waktu singkat setelah penderita terpapar alergen, dan akan hilang apabila sudah tidak terpapar. Gejala alergi dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat, tergantung dari penyebab dan jenis alerginya. Beberapa gejala alergi yang mungkin muncul adalah:
-
Gatal.
-
Muncul ruam kemerahan pada kulit.
-
Kulit kering dan pecah-pecah.
-
Hidung gatal, berair, dan tersumbat.
-
Mata merah, berair, dan gatal.
-
Pada kasus alergi makanan, muntah dan diare dapat dialami.
-
Sesak napas pada kasus alergi berat.
Jika seseorang mengalami alergi berat dan tidak ditangani dengan baik, dapat terjadi kondisi anafilaksis, bahkan bisa memicu penurunan kesadaran. Kondisi anafilaksis tersebut membutuhkan penanganan medis sesegera mungkin.
3. Pengobatan
Campak dan alergi juga memiliki perbedaan dalam hal pengobatan. Karena campak disebabkan oleh virus, maka penyakit ini bersifat self-limited atau dapat sembuh dengan sendirinya, selama penderita memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Obat-obat penunjang juga mungkin diberikan untuk penderita campak, guna meringankan gejala serta mencegah komplikasi. Beberapa pengobatan tersebut, di antaranya:
-
Mengonsumsi suplemen vitamin A.
-
Mengonsumsi obat penurun demam atau obat untuk gejala lainnya.
-
Memperbanyak minum air putih.
-
Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang.
-
Istirahat yang cukup.
-
Melakukan isolasi untuk mencegah penularan.
Sementara itu, pengobatan utama untuk alergi adalah dengan menghindari alergen sebisa mungkin. Kemudian, guna meredakan gejalanya, dokter biasanya meresepkan obat antialergi, seperti obat-obatan golongan antihistamin.
4. Pencegahan
Salah satu pencegahan campak adalah dengan melakukan imunisasi campak. Biasanya, imunisasi campak dilakukan satu kali pada saat usia anak 9 bulan. Jika diperlukan, imunisasi booster pertama dapat dilakukan pada usia 15–18 bulan, dan booster kedua pada usia 5–7 tahun. Lalu, usahakan untuk tidak melakukan kontak secara langsung dengan penderita campak.
Sementara itu, satu-satunya cara untuk mencegah alergi adalah menghindari sumber alerginya. Sebagai contoh, jika seseorang alergi makanan tertentu, bisa menghindari konsumsi makanan tersebut. Lalu, pada orang-orang dengan alergi debu, maka disarankan untuk memakai masker apabila sedang berada di tempat yang berpolusi.
Itulah penjelasan mengenai perbedaan campak dan alergi. Yang tak kalah penting untuk dipahami adalah campak dapat menular, terutama jika seseorang melakukan kontak langsung dengan penderita. Sementara itu, alergi tidak menular.
Apabila Anda atau kerabat Anda mengalami sejumlah gejala yang alergi atau campak, segera lakukan pemeriksaan ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat, guna mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter terkait serta memeriksa riwayat kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes
Dermatologi (Kulit)
Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Armina Haramaini, SpKK
Dermatologi (Kulit)
Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK
Dermatologi (Kulit)
Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini







