Kesehatan Tubuh
Sindrom Gawat Napas Neonatus - Penyebab, Gejala, & Pengobatan

Table of Contents
Respiratory distress syndrome (RDS) atau sindrom gawat napas neonatus adalah salah satu masalah kesehatan yang paling umum terjadi pada bayi baru lahir (newborn). Kondisi ini dapat menyebabkan bayi memerlukan oksigen ekstra dan bantuan pernapasan. Lantas, apa yang dapat menyebabkan terjadinya sindrom gawat napas neonatus? Ketahui jawabannya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Sindrom Gawat Napas Neonatus?
Sindrom gawat napas neonatus adalah penyebab umum gangguan pernapasan pada bayi baru lahir. Kondisi ini dapat terjadi beberapa jam setelah bayi lahir, namun paling sering terjadi sesaat setelah bayi dilahirkan. Sebagai informasi, insiden RDS bisa lebih parah terjadi pada neonatus yang lebih kecil dan prematur.
Kondisi ini rentan dialami oleh bayi yang lahir lebih cepat 6 minggu atau lebih dari hari perkiraan lahir (HPL), karena paru-parunya belum berkembang secara sempurna untuk membuat surfaktan.
Penyebab Sindrom Gawat Napas Neonatus
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, respiratory distress syndrome dapat terjadi ketika produksi surfaktan yang tidak memadai atau inaktivasi surfaktan pada paru-paru yang belum matang. Surfaktan adalah cairan yang melapisi alveoli (kantong udara di paru-paru sebagai tempat bertukarnya oksigen dan karbon dioksida).
Surfaktan berfungsi untuk menjaga alveoli tetap terbuka agar bayi bisa menghirup udara begitu ia lahir. Tanpa surfaktan alveoli, risiko kolaps di akhir ekspirasi dapat meningkat, sehingga menyebabkan gagal napas pada neonatus. Normalnya, surfaktan mulai diproduksi oleh janin sekitar usia kehamilan 26 minggu.
Produksi surfaktan yang tidak memadai tersebut dapat membuat bayi harus bekerja lebih keras untuk bernapas. Selain itu, ketika fungsi paru-paru bayi menurun, kadar karbon dioksida di dalam darah akan menjadi lebih tinggi. Hal ini dapat menyebabkan organ bayi kekurangan oksigen.
Tanpa adanya penanganan yang tepat, bayi akan kelelahan saat mencoba bernapas dan akhirnya bisa berhenti untuk melakukan usaha napas. Pada kondisi ini, mungkin diperlukan mesin pernapasan untuk menggantikan fungsi pernapasan bayi.
Gejala Sindrom Gawat Napas Neonatus
Setiap bayi yang mengalami sindrom gawat napas neonatus dapat mengalami gejala yang berbeda-beda. Namun, secara umum, beberapa gejala yang ditimbulkan oleh sindrom gawat napas neonatus atau respiratory distress syndrome (RDS) adalah:
-
Takipnea (napas cepat).
-
Retraksi dinding dada (menarik tulang rusuk dan tulang dada saat bernapas).
-
Terdengar suara mendengus atau mengerang saat bernapas.
-
Lubang hidung mengembang atau melebar setiap menarik napas.
-
Sianosis (perubahan warna kulit menjadi kebiruan).
Diagnosis Sindrom Gawat Napas Neonatus
Dalam menegakkan diagnosis, dokter akan memperhatikan gejala pada bayi dan melakukan pemeriksaan fisik, seperti melihat perubahan warna pada kulit bayi dan usahanya saat bernapas yang mengindikasikan kebutuhan bayi akan oksigen.
Di samping itu, beberapa pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan dokter untuk membantu mengonfirmasi diagnosis RDS adalah sebagai berikut:
-
Foto rontgen dada, untuk melihat kondisi paru dan mengidentifikasi komplikasi paru yang terjadi.
-
Pemeriksaan gas darah, seperti pemeriksaan kadar oksigen, karbon dioksida, dan nilai pH darah. Hasil tes ini dapat menunjukkan seberapa besar penurunan jumlah oksigen dan peningkatan karbon dioksida di dalam darah.
-
Echocardiography (USG jantung), pemeriksaan ini biasanya digunakan untuk menyingkirkan masalah jantung yang dapat menimbulkan gejala yang mirip dengan RDS.
-
Tes darah, untuk melihat adanya kemungkinan infeksi.
Pengobatan Sindrom Gawat Napas Neonatus
Pengobatan untuk respiratory distress syndrome akan disesuaikan dengan usia, riwayat kesehatan, tingkat keparahan, serta toleransi bayi terhadap obat-obatan, maupun prosedur tertentu. Adapun beberapa perawatan untuk RDS meliputi:
-
Memasang alat bantu pernapasan seperti tabung atau pipa endotrakeal ke dalam tenggorokan bayi atau penggunaan mesin pernapasan mekanis (untuk menggantikan fungsi pernapasan bayi).
-
Pemberian oksigen tambahan.
-
Continuous positive airway pressure (CPAP), suatu alat pernapasan mekanis yang mendorong aliran udara atau oksigen secara terus-menerus dengan tekanan udara positif ke saluran napas untuk menjaga alveoli di paru-paru tetap terbuka.
-
Surfactant replacement therapy. Terapi ini dapat digunakan jika bayi baru lahir kesulitan bernapas meskipun telah menggunakan nCPAP (nasal continuous positive airway pressure).
-
Pemberian obat-obatan untuk meredakan rasa nyeri pada bayi selama perawatan.
-
Memberikan cairan dan nutrisi pada bayi untuk membantu mencegah terjadinya malnutrisi dan meningkatkan pertumbuhannya.
Komplikasi Sindrom Gawat Napas Neonatus
Bayi dengan sindrom gangguan pernapasan terkadang mengalami komplikasi akibat efek samping pengobatannya. Komplikasi juga bisa terjadi ketika kondisi RDS pada bayi sudah semakin parah. Adapun beberapa komplikasi yang berkaitan dengan sindrom gangguan pernapasan adalah:
-
Perdarahan di otak yang dapat menghambat perkembangan kognitif anak, disabilitas intelektual, atau cerebral palsy.
-
Komplikasi akut akibat pemberian napas dengan tekanan positif atau penggunaan mesin pernapasan mekanis seperti kebocoran udara pada jaringan paru-paru.
-
Komplikasi kronis pada paru-paru yaitu displasia bronkopulmonalis.
-
Infeksi yang dapat menyebabkan sepsis.
Pencegahan Sindrom Gawat Napas Neonatus
Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghindari sindrom gangguan pernapasan pada bayi adalah mencegah terjadinya kelahiran prematur. Namun, ketika ibu hamil diharuskan menjalani kelahiran prematur, dokter akan memberikan kortikosteroid sebelum persalinan untuk mengurangi risiko dan tingkat keparahan RDS. Obat steroid tersebut biasanya diberikan kepada ibu dengan usia kehamilan 24–34 minggu yang berisiko mengalami persalinan dini.
Itulah penjelasan mengenai sindrom gawat napas neonatus yang sering kali terjadi pada bayi baru lahir. Sindrom gawat napas neonatus adalah kondisi darurat medis. Apabila si Kecil mengalami masalah kesehatan, sebaiknya orang tua segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak di Siloam Hospitals terdekat.
Praktis, Anda cukup buat janji temu melalui fitur Cari Dokter atau melalui aplikasi MySiloam sebelum datang ke rumah sakit. Selain itu, MySiloam juga menawarkan kemudahan dalam mengakses beragam layanan kesehatan lainnya. Mari jaga selalu kesehatan Anda, buah hati, dan keluarga #BersamaSiloam!

Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini






