Kesehatan Tubuh
TMS untuk Stroke, Ini Manfaat dan Cara Kerjanya

Table of Contents
Stroke dapat menyebabkan gangguan fungsi gerak akibat kerusakan pada area otak yang mengatur aktivitas motorik. Setelah melewati fase akut dan kondisi medis stabil, pasien umumnya akan menjalani program rehabilitasi untuk membantu memulihkan kemampuan yang terdampak.
Salah satu metode yang digunakan dalam rehabilitasi adalah transcranial magnetic stimulation atau TMS untuk stroke, yaitu teknik stimulasi otak noninvasif yang memanfaatkan pulsa magnetik untuk meningkatkan aktivitas sel saraf dan mendukung fungsi motorik pasien. Simak artikel berikut untuk memahami manfaat, prosedur, hingga waktu terbaik penggunaan TMS dalam rehabilitasi pascastroke.
Manfaat TMS untuk Stroke
TMS atau transcranial magnetic stimulation digunakan sebagai terapi tambahan dalam rehabilitasi pascastroke. Tujuannya bukan menghilangkan kerusakan otak yang sudah terjadi, melainkan membantu memaksimalkan pemulihan fungsi melalui stimulasi area tertentu di otak. Berikut manfaatnya jika dilihat dari berbagai aspek gangguan setelah stroke:
1. Membantu Pemulihan Fungsi Gerak
Gangguan gerak merupakan dampak yang paling sering muncul setelah stroke. Gangguan ini umumnya mengenai satu sisi tubuh, terutama lengan, tangan, dan tungkai. Tingkat pemulihan sangat bergantung pada lokasi dan luas kerusakan otak, serta seberapa cepat rehabilitasi dimulai.
TMS bekerja dengan menargetkan korteks motorik, yaitu bagian otak yang mengatur gerak tubuh. Stimulasi magnetik ini membantu meningkatkan aktivitas sel saraf dan memperbaiki komunikasi antarjaringan otak. Proses ini mendukung neuroplasticity, yaitu kemampuan otak membentuk jalur baru untuk menggantikan fungsi yang terganggu.
2. Mendukung Pemulihan Fungsi Kognitif
Selain gangguan gerak, stroke juga dapat memengaruhi kemampuan berpikir (kognitif). Beberapa pasien mengalami gangguan kognitif, seperti penurunan daya ingat, sulit berkonsentrasi, dan kesulitan mengambil keputusan setelah mengalami stroke. Pada sebagian pasien, kondisi ini dapat menetap dan memengaruhi kemampuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, seperti mengatur keuangan, mengingat jadwal minum obat, atau kembali bekerja.
Pada kondisi tertentu, repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS) digunakan untuk merangsang area otak yang berperan dalam memori dan perhatian, terutama bagian depan otak (korteks prefrontal). Stimulasi ini bertujuan untuk membantu meningkatkan aktivitas jaringan saraf dan mendukung proses adaptasi otak setelah stroke.
Umumnya, TMS tidak digunakan sebagai terapi tunggal, melainkan dikombinasikan dengan latihan kognitif, rehabilitasi fisik, atau pelatihan aktivitas sehari-hari untuk mencapai hasil yang optimal.
3. Membantu Mengatasi Depresi Pascastroke
Depresi merupakan salah satu masalah psikologis yang cukup sering dialami oleh penyintas stroke. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat memperlambat proses pemulihan, memperpanjang masa rawat, dan mengurangi motivasi dalam menjalani rehabilitasi.
Dalam kondisi ini, rTMS dapat digunakan sebagai terapi tambahan untuk membantu memperbaiki suasana hati. Stimulasi pada area otak bagian depan dapat memengaruhi jaringan saraf yang berperan dalam pengaturan emosi. Kombinasi rTMS dengan obat antidepresan dan psikoterapi dapat memberikan hasil yang lebih optimal.
4. Membantu Pemulihan Gangguan Bicara atau Afasia
Afasia adalah gangguan bahasa yang dapat muncul setelah stroke, terutama bila kerusakan terjadi di area otak yang mengatur kemampuan berbicara. Penderita bisa mengalami kesulitan mengucapkan kata, memahami pembicaraan, atau menyusun kalimat.
Saat ini, terapi utama untuk afasia adalah latihan wicara secara intensif. Namun, stimulasi otak seperti rTMS menjadi salah satu pendekatan yang sedang dikembangkan. Stimulasi dengan frekuensi rendah dapat membantu meningkatkan kemampuan berbicara pada beberapa pasien.
Meski demikian, perbaikan bahasa biasanya tidak terjadi secara instan. Perubahan aktivitas otak dapat berlangsung secara bertahap dalam beberapa bulan. Oleh karena itu, terapi ini sering dikombinasikan dengan latihan wicara untuk mendukung hasil yang lebih baik.
Cara Kerja TMS untuk Stroke
Setelah stroke, komunikasi antarsel saraf di otak dapat terganggu. Area yang mengalami kerusakan cenderung menjadi tidak aktif, sementara belahan otak yang tidak terdampak dapat menunjukkan aktivitas berlebihan (hiperaktif). Ketidakseimbangan ini dapat menghambat proses regenerasi jaringan saraf dan memperlambat pemulihan fungsi.
TMS bekerja dengan menghasilkan medan magnet terkontrol melalui alat yang diposisikan di permukaan kulit kepala. Medan magnet ini menginduksi arus listrik lemah pada jaringan otak yang ditargetkan. Arus tersebut tidak merusak jaringan, tetapi memengaruhi aktivitas listrik yang berfungsi sebagai penghantar informasi antarsel saraf di area tersebut.
Dalam rehabilitasi stroke, area yang sering ditargetkan adalah bagian otak yang mengontrol gerakan. Jenis yang umum digunakan adalah rTMS, yaitu stimulasi berulang dengan frekuensi tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Secara ringkas, cara kerja TMS untuk stroke meliputi:
-
Menstimulasi sel saraf di area otak yang mengalami gangguan fungsi.
-
Mengembalikan keseimbangan kerja antara dua belahan otak.
-
Mengatur tingkat aktivitas saraf pada sisi otak melalui stimulasi frekuensi tinggi atau rendah sesuai tujuan terapi.
-
Mendorong terbentuknya koneksi saraf baru sebagai bagian dari proses pemulihan.
Prosedur Terapi TMS untuk Stroke
Terapi TMS untuk stroke dilakukan secara bertahap dengan pengawasan tenaga medis. Setiap sesi memiliki alur yang terstruktur, mulai dari persiapan hingga setelah tindakan selesai dilakukan. Beberapa prosedurnya antara lain:
1. Sebelum Sesi Terapi
Sebelum memulai terapi TMS untuk stroke, pasien akan menjalani pemeriksaan dan sesi konsultasi dengan dokter. Pada tahap ini, dokter akan menjelaskan tujuan terapi, cara kerja alat, serta hal-hal yang akan dirasakan selama menjalani perawatan.
Pada kunjungan pertama, dilakukan proses pemetaan untuk menentukan titik rangsangan yang paling sesuai di kepala serta kekuatan energi magnet yang dibutuhkan. Dokter akan menggerakkan koil di beberapa area kepala hingga ditemukan respons gerakan kecil pada jari atau tangan sebagai tanda bahwa lokasi dan intensitas sudah tepat. Proses awal ini biasanya memakan waktu lebih lama dibanding sesi berikutnya.
2. Saat Sesi Terapi
Terapi TMS dilakukan dalam posisi duduk di kursi yang dapat disandarkan dan pasien tetap dalam kondisi sadar selama prosedur berlangsung. Koil elektromagnetik ditempatkan pada area kepala yang telah ditentukan saat pemetaan awal. Selama sesi berlangsung, pasien dapat merasakan dan mendengar beberapa hal berikut:
-
Suara ketukan berulang dari mesin sehingga perlu menggunakan pelindung telinga.
-
Sensasi seperti ketukan ringan di kulit kepala.
-
Pola rangsangan beberapa detik yang diikuti jeda singkat.
3. Sesudah Sesi Terapi
Setelah sesi terapi selesai, alat dilepas dan pasien dapat langsung melanjutkan aktivitas harian karena tidak ada masa pemulihan khusus. Beberapa orang mungkin merasakan efek ringan, seperti sakit kepala atau rasa tidak nyaman di kulit kepala, tetapi keluhan ini biasanya cepat mereda.
Terapi TMS dilakukan dalam beberapa sesi sesuai rencana dokter. Durasi umumnya berlangsung selama 30–60 menit, tergantung jenis stimulasi yang diberikan. Perubahan atau peningkatan fungsi tidak dapat terjadi seketika dan mulai terlihat setelah beberapa minggu menjalani rangkaian terapi secara rutin.
Kapan Waktu Terbaik untuk TMS?
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Immunology (2023) menyebutkan bahwa waktu pemberian rTMS berperan penting dalam hasil rehabilitasi pascastroke. Terapi ini memberikan dampak paling besar saat dilakukan pada fase akut, yaitu periode awal setelah stroke ketika kondisi medis pasien sudah stabil.
Kemudian, manfaatnya masih dapat terlihat pada fase subakut (seminggu hingga beberapa bulan setelah stroke), terutama dalam bentuk perbaikan fungsi motorik tangan. Namun, ketika terapi baru dimulai pada fase kronis, efek yang muncul biasanya tidak sebesar jika diberikan lebih awal. Karena itu, rTMS lebih dianjurkan untuk dipertimbangkan sejak fase akut hingga subakut, saat proses pemulihan otak masih berlangsung aktif dan respons terhadap stimulasi cenderung lebih optimal.
Demikian pembahasan mengenai TMS untuk stroke, mulai dari manfaat, cara kerja, prosedur terapi, hingga waktu terbaik pemberiannya dalam proses rehabilitasi. Perlu dipahami bahwa informasi ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun rekomendasi medis langsung dari dokter.
Jika Anda atau anggota keluarga sedang menjalani pemulihan pascastroke dan mengalami gangguan gerak yang belum membaik, sebaiknya berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi (Otak dan Saraf) di Siloam Hospitals terdekat. Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi neurologis, fase pemulihan, serta menentukan apakah rTMS dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari program rehabilitasi.
Setiap pasien stroke memiliki kondisi yang berbeda, baik dari sisi lokasi kerusakan otak, tingkat gangguan fungsi, maupun respons terhadap terapi. Tenaga medis akan menyesuaikan rencana perawatan agar tetap aman dan mendukung pemulihan secara optimal.
Untuk mempermudah akses layanan kesehatan, Anda dapat menggunakan aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda dapat melihat jadwal praktik dokter, membuat janji konsultasi, serta mengakses hasil pemeriksaan medis secara online. Unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Mayo Clinic. Transcranial magnetic stimulation. Diakses pada 2026 | Cleveland Clinic. Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). Diakses pada 2026 | Healthline. What You Need to Know About Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) Therapy. Diakses pada 2026 | Frontier in Immunology. Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation for Stroke Rehabilitation: Insights Into The Molecular and Cellular Mechanisms of Neuroinflammation. Diakses pada 2026 | Journal of Clinical Medicine. Benefits from Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation in Post-Stroke Rehabilitation. Diakses pada 2026 | Palmier TMS & Behavioral Health. TMS: A Powerful First Line of Defense for Stroke Victims. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Skrining Kesehatan Otak Basic
Skrining Pria & Wanita
14 Service/Item
Rp1.500.000
Skrining Kesehatan Otak
2 Service/Item
Rp3.000.000
TERPOPULER
Paket Skrining Stroke Basic
Skrining Stroke
11 Service/Item
Rp1.400.000
TERPOPULER
Paket Skrining Stroke Advance
Skrining Stroke
16 Service/Item
Rp2.400.000
TERPOPULER
Paket Skrining Stroke Complete
Skrining Stroke
20 Service/Item
Rp4.500.000






